
Menikmati jalan-jalan di Kota Seoul memang asik bagi Gwen yang sudah hampir habis masa liburannya. Ia mengajak Agam kembali ke apartemen untuk bersiap pulang ke Jogja.
"Masih ada waktu sekitar 3 jam, sebaiknya kita pulang dan istirahat. Ayo, takutnya kamu akan kelelahan, Dek. Mas juga sudah lelah berjalan-jalan," ajak Agam dengan lembut.
"Hm, baiklah~" jawab Gwen dengan wajah lesunya. Gwen masih ingin berlibur di sana.
Melihat istrinya yang terlihat lesu, Agam pun menggapai tangannya, kemudian menggenggamnya erat-erat. Membujuknya untuk mengajak liburan lagi lain kali. Hanya saja, untuk saat itu, jika dirinya berlibur lebih lama lagi, tidak bisa. Masih ada pekerjaan yang menunggunya di Jogja.
******
Tiba di mana waktunya semuanya harus pulang. Asisten Dishi dan Aisyah mengantar semuanya sampai ke Bandara. Mereka berpisah di sana.
"Lain kali, kalian harus datang lagi, ya. Jika belajar ku sudah selesai, nanti giliran aku yang datang menemui kalian!" seru Aisyah senang.
"Baik, baik. Aku akan tunggu sampai kamu lulus belajarnya. Semangat dalam belajar, ya. Aku dan yang lainnya pamit dulu," ucap Chen membelai kepala adiknya dengan lembut. Tak lupa ia juga berpamktan dengan Gwen. Sebab, mereka tetap pulang tidak dengan pesawat yang sama.
"Gwen, penerbangan kami berangkat lebih dulu. Sampai jumpa lain waktu. Kita akan rencanakan untuk menjenguk adik kita nanti, bagaimana?" usul Chen dengan senyuman terpaksa. Dirinya pun juga belum mau liburan itu selesai.
"Tenang saja, aku akan selalu siap menunggu kalian senggang dan menjenguk adik kita. Pergilah kalian, penerbangan kalian sebentar lagi," sahut Gwen. "Ko Feng, jagain kakakku!" imbuhnya dengan melambaikan tangan kepada Feng.
"Kakakmu aman bersamaku. Ayo, Chen. Kita segera berangkat. Aku pamit semuanya, Gwen, Ustad, mari," pamit Feng dengan senyum dan lambaian tangan juga.
Berpisahlah mereka. Kini, hanya tinggal Asisten Dishi yang bersama Aisyah. Mereka segera kembali untuk bersiap mengajak Ilkay jalan-jalan lagi.
"Mari, kita bahagiakan putra kita. Ada banyak tempat yang ingin aku perlihatkan padamu. Kita belum sempat jalan-jalan, bukan?" ajak Aisyah.
"Mail, kenapa kamu begitu bersemangat? Ingat, tujuan kita hanya membuat Ilkay senang. Jika pemikiran kamu lain, itu jatuhnya akan dosa!" Asisten Dishi menyentil pelipis Aisyah. Saat itu masih terbalut jilbab, jadi Aisyah tidak mempermasalahkan itu.
"Aw, sakit tau!" sulut Aisyah.
Wanita mana yang tidak senang jika orang terkasihnya akan lebih lama tinggal bersama di dekatnya. "Malam nanti, kita akan menyuruh irang untuk membereskan apartemen sebelah. Lalu, sebelumnya kamu mau tidur dimana?" tanya Aisyah dengan menyenggol lengan Asisten Dishi.
Asisten Dishi berpikir. "Yang pasti aku tidak ingin jauh darimu. Jadi, malam nanti aku akan tidur di kamar tamu apartemenmu, bagaimana?" jawab Asisten Dishi dengan menaik-turunkan alisnya.
"Hish, nggak boleh tau! Belum jadi mahram juga, nggak boleh satu atap. Apalagi nggak ada orang tua di rumah," sahut Aisyah.
"Terus, aku harus tidur dimana? Bagaimana jika aku tidurnya bersama Ilkay?" usul Asisten Dishi sembari memasang wajah memelas. "Aku tidak boleh jauh-jauh dari mereka. Hotel bukan pilihan, lalu aku harus tidur dimana?" gumam Asisten Dishi dalam hati.
Ketika keduanya hendak masuk ke mobil, ada seseorang yang memanggil nama Aisyah dari jauh. "Ai, Aisyah!" teriaknya.
Aisyah dan Asisten Dishi menoleh bersamaan. Sadar bahwa seorang pria yang memanggil calon istrinya, Asisten Dishi pun menggodanya dengan dilandasi kecemburuan.
"Oho, seorang pria? Hm, siapa dia? Terlihat begitu akrab memanggil nama calon istriku secara langsung?" sindir Asisten Dishi sembari melirik kearah Aisyah.
"Nggak usah nyindir! Dia ini Kak Leo, yang sering aku ceritakan itu. Jaga sikap!" tegas Aisyah dengan mencubit lengan Asisten Dishi.
Mendekat lah Leo, dengan girangnya, ia memberikan sesuatu kepada Aisyah yang kebetulan ia jumpai di Bandara.
"Ai, kamu di sini? Huft, aku pikir tadi, itu bukan kamu. Huh huh~" tanyanya dengan napas terengah-engah. "Aku ada sesuatu untukmu, terimalah!" sambungnya dengan mengulurkan benda yang ada di tangannya.
"Mail, kalau kamu menerima, aku akan marah padamu!" dengus Asisten Dishi dalam hati.
"Em, nanti saja, ya. Kalau begitu, Kak Leo bisa pulang bareng denganku dan Ayahnya Ilkay, mari. Masuk lah!" ajak Aisyah dengan senyum terpaksa.
"Ayahnya Ilkay? Hahaha, mamam tuh. Sok dekat banget, sih! Nggak tau apa, kalau Ilkay punya ayah," batin Asisten Dishi merasa menang.
Dengan sedikit ragu-ragu, Leo masuk ke mobil di kursi ke dua. Sedangkan Aisyah duduk di depan di samping kemudi. "Aisyah jarang sekali mau duduk di depan ketika bersamaku. Kenapa ini mau, ya? Dan pria ini … Ayahnya Ilkay?" gumam Leo dalam hati.
"Huh, canggung sekali. Nggak enak banget deh," gerutu Aisyah dengan lirih.
"Kamu bicara sesuatu?" tanya Asisten Dishi dan Leo bersamaan.
"Hm, tidak. Kalian salah mendengar, hehe~" jawab Aisyah menggibaskan tangannya.
Kembali suasana menjadi hening dan canggung. Leo menggunakan kesempatan itu dengan bertanya, mengapa dirinya ke Bandara.
"Oh, aku dan Ayahnya Ilkay mengantar saudara yang baru saja berlibur," jawab Aisyah dengan hati-hati.
"Iyakah? Wah, pasti seru liburan kalian. Setiap hari, aku merindukan kalian. Bisakah nanti aku makan malam di rumahmu, Ai? Seperti biasa, aku merindukan kopi racikanmu," Leo menunjukkan seolah-olah dirinya selalu bersama dengan Aisyah.
"Menyebalkan! Tapi harus tenang, jaga harga diri! Dasar pria tua yang tak tau malu! Ai-ku sudah ada yang memiliki, masih saja di goda!" Asisten Dishi terpaksa mengumpat dalam hati.
Sesampainya di apartemen, Leo mengucapkan terima kasih kepada Asisten Dishi sudah diberi tumpangan sampai ke rumah. Selesai memberi kasih, Asisten Dishi langsung memalingkan wajahnya dan masuk terlebih dulu ke apartemen Aisyah.
"Lah, dia tahu password rumahmu?" tanya Leo heran.
"Hehe, dia Ayahnya Ilkay. Kenapa tidak boleh? Jika ada hal darurat, maka tidak perlu ada yang di repotkan, bukan?" Aisyah mencoba menjawab dengan tenang.
"Tapi Ai, apa kamu tidak takut jika nanti dia akan macam-macam? Meski dia Ayahnya Ilkay, buka kah kalian belum menikah?" pertanyaan itu mengandung sebuah harapan untuk menjauhkan Aisyah dengan Asisten Dishi.
Aisyah tersenyum, "Aku percaya padanya. Baiklah, aku akan segera masuk. Sampai berjumpa lagi, Kak Leo," ucap Aisyah meninggalkan Leo yang masih memiliki tanda besar masalah siapa Asisten Dishi yang sebenarnya.
Sebelumnya, Leo belum tahu jika Asisten Dishi itu adalah seseorang yang selalu disebut oleh Raza ketika bercanda dengan Aisyah. Tapi mendengar bahwa Asisten Dishi adalah Ayah Ilkay, membuatnya tidak tenang.
"Semoga saja, ini hanya pemikiran burukku. Tidak mungkin jika Aisyah mau kembali bersama dengan orang yang telah mencampakkannya, 'kan?" gerutunya.
Dalam pikiran Leo, Asisten Dishi adalah Ayah kandung dari Ilkay. Padahal, sejak awal dia sudah diberi tahu jika Ilkay hanyalah anak angkat yang ternyata adalah anaknya kakaknya sendiri dari Aisyah.
Namun, pemikiran Leo tidak seluas itu. Ia hanya memikirkan, jika Asisten Dishi telah mencampakkan Aisyah setelah memiliki Ilkay dan pergi keluar negri seperti novel dan komik yang telah ia baca.