
Sesampainya di rumah sakit, Dishi mengantar Tuan Jin untuk periksa. Lalu Aisyah. asih terus mondar-mandir di depan unit gawat darurat. Berharap, putranya selamat dari racun tersebut.
Di sisi lain, Chaterine terus saja diam saat diinterogasi oleh pihak yang berwajib. Ia malah mengigit racun yang ada di bibirnya, yang sudah Cindy taruh dengan baik di sana.
Setelah mengigit racun tersebut, tak lama kemudian, Chaterine lemas tidak berdaya. Segera polisi membawa Chaterine ke rumah sakit dan dinyatakan meninggal dunia.
"Apa? Tersangka meninggal dunia? Bagaimana bisa?" Dishi masih tak percaya. Sebab, kejadian sebelumnya, Chaterine ini sudah memalsukan kematiannya dan merubah wajah serta identitasnya.
"Ada apa, Tuan?" tanya Tuan Jin.
"Chaterine meninggal. Dia menelan racun yang ternyata telah terpasang dalam mulutnya," jawab Dishi.
"Lalu, apa perlu kita mencari dalangnya? Jika tidak ada orang yang menyuruhnya, saya rasa itu tidak mungkin, Tuan," ujar Tuan Jin.
Dishi berkata hal itu tidak perlu dilakukan karena dirinya telah mengetahui siapa yang ada dibalik semuanya. Dishi hanya berharap, semuanya akan baik-baik saja. Segera Dishi berlari menemui Aisyah dan mengatakan kenyataan itu.
"Assalamu'alaikum. Sayang, ada sesuatu yang harus aku katakan," Dishi menyentuh kedua lengan Aisyah. Menatap matanya dengan tatapan tak tega.
"Il …,"
Belum juga Dishi menyatakannya, Dokter sudah keluar dan memberitahukan hasil pemeriksaan. Membuat Dishi menunda memberitahukan tentang kematian Chaterine.
"Dokter?"
"Dokter, bagaimana keadaan anak saya?" tanya Aisyah panik.
Dokter terdiam. Ilkay sudah tiada, racun itu menyebar sangat cepat ke tubuhnya. Racun yang sama yang ditelan oleh Chaterine hasil racikan Xia, yang dicuri oleh Cindy beberapa waktu lalu.
"Tidak, putraku tidak mungkin sejahat ini padaku. Dia tidak mungkin meninggalkan aku!" Aisyah mulai histeris.
"Innalillahi wainnailaihi roji'un, Ilkay …," Dishi berusaha tetap tenang, menenangkan sangat istri yang sudah tak sabar ingin bertemu dengan Ilkay.
Jenazah Ilkay dibawa keluar oleh beberapa perawat. Wajah manis anak itu terlihat tersenyum, seperti sedang tidur nyenyak. Isak tangis Aisyah pecah, tak terima dengan kenyataan itu.
"Ilkay, Mama di sini, Nak. Kenapa kamu tidur, Mama di sini,"
"Ilkay bilang mau mondok, 'kan? Ayo, kita pulang dan Mama akan mewujudkan itu, Nak. Bangun, Ilkay! Bangun!" Aisyah terus mengguncang tubuh kecil Ilkay.
"Sayang, jangan seperti ini. Ilkay akan kesakitan, tenanglah--"
"Tenang apa? Bagaimana aku bisa tenang melihat anakku terkapar tak bernapas seperti ini! Aku merawatnya sepenuh hati, kukorbankan waktu bermainku hanya untuk membuatnya bahagia, merasakan kasih sayang seorang Ibu. Dan dia meninggalkan aku? Ilkay bangun, Nak!"
Tuan Jin merasa sesak kala melihat hal itu. Bagaimana tidak? Kisahnya Ilkay hampir mirip dengannya waktu dulu. Tuan Jin membantu Dishi dan Aisyah untuk mengurus semuanya, termasuk membawa pulang Ilkay ke Jogja.
"Ai, tolong tenanglah. Istighfar, jangan seperti ini," Dishi bingung sendiri harus bagaimana.
Pekerjaannya sangat banyak. Tanggung jawabnya semakin besar, apalagi sejak menjadi mualaf, cobaannya terus saja datang menerpanya.
"Sayang, sebaiknya ki … Ai, Aisyah! Astaghfirullah hal'adzim, dia pingsan? Dokter tolong!" Dishi terus berusaha membangunkan Aisyah yang saat itu pingsan.
"Tuan, sebaiknya Tuan rawat saja dulu Nyonya Aisyah. Ilkay, biar saya yang mengurusnya. Ini adalah pukulan berat bagi Nyonya Aisyah, makanya dia sampai pingsan," ujar Tuan Jin.
"Tak ada cara lain, Tuan Muda harus tau hal ini. Aisyah masih pingsan, aku harus segera memberikan kabar ini kepada Tuan," gumam Dishi.
Tanpa menunggu waktu lagi, Dishi meraih ponselnya dan segera menelpon Tuannya. Beruntung saat itu Chen langsung mengangkatnya. Tanpa basa-basi lagi, Dishi mengungkapkan jika Ilkay telah tiada karena diracuni oleh Chaterine.
"Maaf, Tuan. Saya tidak bisa menjaga putraku dengan baik, ini sungguh membuatku sangat sakit. Apalagi melihat kondisi Aisyah yang syok seperti ini,"
"Apa kau bilang? Ilkay meninggal? Dishi, jika kau bicara yang bukan-bukan, maka aku tidak akan segan untuk membunuhmu!" suara Chen mulai gemetar.
"Aku tidak berbohong, Tuan. Putraku meninggal karena diracuni oleh Chaterine. Racun itu di racik oleh Xia dan di curi oleh Cindy. Tuan … Aku akan menutup teleponnya. Aisyah harus pindah ke ruang inap. Assalamu'alaikum," Dishi menutup telponnya.
Sementara Tuan Jin mengurus jenazah Ilkay, Dishi masih selalu setia menjaga Aisyah hingga ia tertidur di sampingnya. Masih dalam posisi duduk, hati dan pikirannya terlalu lelah, ia juga menyalahkan dirinya sendiri atas musibah yang telah terjadi dan dirinya hanya bisa diam saja.
"Ilkay … Ilkay,"
Aisyah bermimpi. Ia berada di sebuah tempat yang semuanya serba putih. Tempat itu pernah ia kunjungi saat dirinya mengalami kecelakaan tempo lalu.
"Tempat ini …,"
Di sana, ia melihat Aisyah, Rifky, Zahra (anak angkat Airy) yang sedang bermain dengan Ilkay. Aisyah, sang nenek tersenyum melambaikan tangannya kepada Aisyah yang sekarang.
"Nenek, jangan bawa Ilkay. Aku menyayanginya, aku mencintaimu seperti anakku sendiri meski aku belum pernah punya anak. Tolong, kembalikan Ilkay padaku," mohon Aisyah sampai ia berlutut.
Ilkay tersenyum manis saat itu, menjabat tangan Zahra dan berlari ke arah cahaya yang membuat matanya silau. Aisyah terus memanggil nama Ilkay, namun Ilkay tak mendengarnya dan terus berlari ke arah cahaya sampai cahayanya bersinar sangat terang.
"Ilkay … Ilkay jangan tinggalin Mama. Ilkay, Mama di sini,"
"Ilkay!"
Dishi terkejut kala mendengar teriakan Aisyah. Aisyah melihat ke sekitar, terdiam sejenak, kemudian menangis kembali.
"Ini bukan mimpi. Ilkay beneran pergi meninggalkan aku, Dishi. Apakah Ilkay tidak bahagia hidup bersamaku, jadi dia memilih pulang?"
Tak tega melihat sang istri begitu rapuh, Dishi oun memeluknya dengan erat. "Sayang, istighfar dan tetap tenang. Berdoa untuk putra kita, agar ia diberikan tempat terindah di sisi Allah," tutur Dishi menepuk-nepuk kepala Aisyah dengan lembut.
"Aku ingat sekali, dia meraih tanganku ketika aku mengulurkan tangan. Dia memelukku, menciumku dan mengatakan jangan pernah meninggalkannya. Tapi, kenapa dia meninggalkan aku, Dishi. Aku nggak mau dia pergi,"
"Ilkay bilang, dia mau mondok. Harusnya aku turuti waktu itu, pasti Ilkay masih ada diantara kita saat ini." napas Aisyah mulai tersendat-sendat lagi.
Hati Dishi sangat terluka. Ia juga merasa bersalah karena dirinya lah yang mengekang Aisyah dan Ilkay pulang ke Jogja. "Maafkan aku, Ai,"
"Maafkan aku. Andai saja waktu itu aku tidak keras kepala. Maafkan aku," sesal Dishi.
Meski keduanya saling menyalahkan diri sendiri. Namun keduanya juga tidak bisa melihat pasangannya terluka. Aisyah menutupi bibir Dishi. "Jangan katakan itu," ucapnya dengan tangan masih di bibir suaminya.
"Jangan menyalahkan diri lagi, aku tidak bisa melihatmu merasa bersalah seperti ini, Dishi." ucap Aisyah dengan suaranya yang lirih.
Pelukan adalah cara yang tepat untuk menghilangkan kesedihan. Tak dapat dipungkiri jika akan sedih dan menangis ketika kehilangan seseorang untuk selama-lamanya. Namun, Dishi mencoba untuk tidak menjatuhkan air mata lagi, atau takut jika arwah Ilkay tidak akan pernah tenang, karena terhambat jalannya menuju alam lain.
Um, sabar ye. Memang begini jalan ceritanya. Kalau enggak, bakal end cepet hahaha. Sedih, ya? Tenang, Ilkay sudah ketemu sama buyutnya. Ilkay anak sholeh, jadi dipanggilnya cepet daripada kesiksa batin mulu sama si Chaterine.