Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Kewajiban Terlaksana



Ciuman itu tak berlangsung lama. Dishi kembali menghadapkan tubuh Aisyah ke depan. Menyelimuti dengan selimut besar, dan Dishi mulai membuka pakaian tidur Aisyah secara perlahan.


Dicuimnya bahu Aisyah. "Shh…," tangan Aisyah mencengkram erat tangan Dishi. Dishi tahu jika Aisyah memang sudah mulai panas. Diturunkan lah lagi pakaian Aisyah dengan perlahan, hingga kini hanya tertiggal dalaman dan juga pakaian bawahnya. Masih dengan berbalut selimut, tubuh Aisyah hanya bisa dilihat oleh Dishi.


"Apakah aku boleh, Ai?" kembali Dishi berbisik meminta izin untuk mendaki di bukit saljunya. 


Secara perlahan, Aisyah pun mengangguk. 


Sebelum melakukan itu, Dishi pun berdoa. Ia sudah menghafalkan doanya terlebih dulu melalui ajaran dari Kabir yang tinggal di sebelahnya. Tangannya mulai mendaki bukit salju hangat dan bibirnya mulai mengecap ke seluruh leher serta wajah istrinya yang begitu pasrah. 


Posisi duduk memang sangat tidak nyaman. Dishi menggendong Aisyah ke ranjang supaya bisa leluasa untuk berolahraga malam itu. Belaian demi belaian dari tangan Dishi mampu membuat Aisyah tak lagi merasakan hangatnya ranjang, yang ia rasakan hanyalah terbang melayang di awan dengan bisikan cinta dari Dishi. 


Sudah satu bulan lebih lamanya mereka menikah dan baru kali itu mereka melakukan kewajiban batinnya. Aisyah benar-benar telah memberikan sepenuhnya hak Dishi kepadanya. Menyatulah mereka dalam alunan nada cinta rumah tangga dan mengharap sesuatu yang lebih dari malam itu. 


Tak hanya sekali saja, mereka juga melakukan untuk ke sekian kaliannya sebelum salat subuh memanggil. "Terima kasih, Ai." bisik Dishi. 


Beberapa menit kemudian, mereka mandi bersama juga sebelum melaksanakan salat subuh. Mandi bersama, saling menyabunyi dan berpelukan meski keduanya masih berbalut mengenakan handuk. (Hadeh, aku lagi haid ini) 


🍃🍃🍃🍃🍃


Pagi hari, setelah salat subuh berjamaah, memasak berdua dan sarapan berdua. Keduanya sengaja bermalas-malasan dengan menonton di ruang tengah. Aisyah bersandar di bahu Dishi dan mereka menonton drama romantis, menambah keromantisan yang sedang terjadi diantara mereka. 


"Ini sampai kapan aku memanggilmu dengan menyebut nama, Dishi? Bukankah itu, terdengar tidak baik, jika langsung memanggil dengan nama?" tanya Aisyah. 


"Aku saja tidak keberatan, kenapa harus tidak baik? Dimananya menjadi tidak baik?" Dishi telah dibutakan cinta, maka apa yang dilakukan istrinya pasti akan terlihat baik dimatanya. 


"Ck, itu kurang baik. Ayo, kita pikirkan panggilan apa yang cocok untuk kita gunakan. Sebelumnya ada Ilkay, jadi kita manggil masing-masing dengan Ayah dan Mama Ilkay, tapi sekarang, anak kita sudah istirahat, Dishi. Jadi, aku tidak ingin menyebutnya lagi, atau aku akan teringat terus dengannya." Aisyah mulai murung lagi jika mengingat Ilkay.


Dishi tersenyum, kemudian memeluk erat istrinya. Baginya, tak harus memanggilnya dengan panggilan sayang, Dishi tahu bagaimana perasaan Aisyah kepadanya. 


"Bagaimana kalau kupanggil kamu dengan sebutan Bao Bei?" tanya Dishi. 


"Apa? Boba? Kamu pikir aku bulat, pendek, gemuk, gitu?" protes Aisyah. 


Memang pengucapannya seperti mengatakan boba. Dishi pun tertawa mendengar istrinya protes. "Hahaha, Bao Bei, Sayangku. Artinya, kesayanganku. Ejaannya Bao Bei  bukan Boba," jelas Dishi menyentil hidung Aisyah. 


"Kupikir kamu menyebutku boba karena aku gemuk, pendek dan bulat. Jika iya, jahat sekali Anda!" 


Dishi kembali tertawa, mengatakan bahwa tidak mungkin istri cantiknya terlihat seperti boba. Dishi tak peduli Aisyah hendak memanggilnya apa. Baginya, cukup saling melengkapi, percaya dan mencintai itu sudah cukup. 


Pagi itu, mereka kedatangan Rona dan Tuan Jin. Keduanya datang untuk mengajak Aisyah dan Dishi datang ke panti asuhan sesuai dengan pembicaraan semalam. 


"Hm, bagaimana aku mau bilang. Setelah aku pulang, kamu tidak mengizinkan aku bicara hal lain, malah membuatku harus olahraga malam," dengus Aisyah memalingkan wajahnya. 


Dishi terdiam. Tuan Jin dan Rona yang tak paham pun juga ikutan bingung. Akhirnya, Dishi ikut serta dengan mereka mendatangi panti asuhan dimana Tuan Jin pernah tinggal dulu.


"Kalian … apakah sedang berdebat kecil?" tanya Rona. 


"Apa Nona Aisyah belum izin kepada Anda, Tuan Dishi?" timpal Tuan Jin. 


Dishi dan Aisyah saling menatap, kemudian tertawa kecil. "Haha, tidak. Kami malah sedang berdiskusi," jawab keduanya kompak. "Mari masuk, kita sarapan dulu," ajak Dishi. 


Tuan Jin dan Rona tersenyum. Memang keduanya tidak paham apa yang dibisikkan Dishi dan Aisyah sebelumnya. Sebelum berangkat, mereka sarapan bersama. Beruntung, pagi itu Dishi memasak lumayan banyak, tak tahunya memang akan ada tamu yang datang. 


*****


 Berangkatlah mereka ke luar kota menggunakan mobil milik Aisyah. Selama di Korea, meskipun Dishi selalu ada untuk Aisyah, tetap saja Dishi masih menjalankan pekerjaannya dengan baik yang diberikan oleh Chen. 


Libur tiga bulan, bukan berati Dishi bisa hidup tenang selama itu. Raganya memang selalu di sisi Aisyah, tapi pikirannya bersama dengan Chen. Apalagi, perusahaan yang baru saja di retas sistemnya kembali bermasalah. 


"Sejak kapan kamu dan Jovan menjadi akrab?" tanya Aisyah. 


"Sejak dia kembali dari luar negri dan menjadi rekan kerja. Kenapa? Apa kau suka padanya?" 


Aisyah tak jadi bertanya lagi. Sering kali Aisyah menanyakan Jovan, selalu saja Dishi merasa kesal karena cemburu. Apa sebabnya? 


Beberapa waktu lalu, Jovan dan Dishi ketika masih dalam satu project, selalu membicarakan Aisyah dan mengatakan jika dirinya menyukai Aisyah.  Tentu saja hal itu membuat Dishi cemburu. 


Padahal, di waktu itu Jovan telah dimiliki hatinya oleh Lin Jiang, kakak dari Lin Aurora. Jovan, Feng dan Ayden senang menggoda Dishi dengan menyangkut pautkan Aisyah di dalam candaan mereka. 


Seorang Dishi, yang belum pernah jatuh cinta, sekali jatuh cinta menjadi posesif seperti Chen. Semua orang di cemburui meski dirinya selalu diam saja. 


Suasana di dalam mobil menjadi hening. Tuan Jin hang tadinya fokus menyetir jadi mengantuk. "Kenapa diam saja? Ayolah, kita mengobrol!" serunya memecah keheningan. 


"Mau bahas apa? Kita semua tidak se frekuensi ya, 'kan? Oppa, seorang seniman, Dishi Oppa pembisnis, aku dan Aisyah juga seorang calon Dokter spesialis. Apa yang akan kita bicarakan? Otopsi mayat?" celetuk Rona. 


"Apa yang kamu katakan memang benar, Rona. Tapi terdengar … terdengar aneh penempatan katanya," sahut Tuan Jin. 


"Oh, ya? Aku rasa aku sudah benar. Dan wanita selalu benar, bukan begitu, Aisyah?" jawab Rona membanggakan diri. 


Aisyah pun tertawa. Di perjalanan, jika tidak mengobrol memang membuat jenuh suasana hati. Akhirnya, mereka pun mendengarkan musik dan terlelap semuanya termasuk Dishi. Hanya Tuan Jin yang masih terjaga karena harus fokus menyetir.