Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Rindu



Menjelang sore, Gwen dan Agam hadir ke Pesantren. Begitu juga dengan sepupu lainnya kecuali Feng yang memang masih dalam tahap pemulihan di rumah keluarga Wang. Feng sendiri juga telah masuk kerja seperti biasa. Itu sebabnya, Dia tidak bisa ambil cuti semaunya di saat Aisyah melaksanakan akad.


“Assallamu’alaikum. Eh, kalian juga baru datang, toh?”  salam Tama yang juga baru datang. Tama bertemu dengan Agam dan Gwen di depan gerbang Pesantren.


“Wa’alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab keduanya.


“Iya, Mas. Apa kabar? Sudah lama tidak bertemu,” Tanya Agam dengan ramah.


“Alhamdulillah baik. Bagaimana kabar kalian juga?” jawab Tama bertanya balik.


Mereka membahas bisnis mereka masing-masing. Agam dan Tama cocok di saat bertemu selalu membahas tentang pekerjaan. Membuat Gwen bosan mendengarnya. Sebab, mereka hanya membahas bisnis, tidak beserta hasilnya.


“Hey,kalian membahas bisnis tanpa hasil, kah? Sungguh sangat membosankan!” desis Gwen.


“MasyaAllah,nggak boleh gitu, Dek. Kamu tau tidak, kalau bisnis Mas Tama ini sedang berkembang pesat. Sekarang ekspornya sampai ke luar negri, loh!” ungkap Agam. “Cuannya banyak_” bisik Agam.


Mendengar tentang uang membuat mata dan pikiran Gwen menjadi cemerlang, bersinar dan berbinar ria. “Wuih, serius? Roman-roman bakal nambah nih uang jajan!” seru Gwen tanpa malu.


“Allahu Ya Rabb, kamu ini, Dek,” sahut Agam menyenggol lengan istrinya yang sedang dibinarkan matanya oleh cuan.


Tama pun tertawa. Dia tahu jika adiknya itu gila uang. Maka,detik itu juga Tama memberikan uang jajannya seperti biasa dengan menambah nominalnya dari bulan lalu. Agam merasa tidak enak hati kala melihat istrinya masih selalu diberi uang jajan oleh keluarganya. Bukan hanya Tama saja yang memberinya uang jajan. Bahkan, Aisyah dan sepupunya yang lain juga selalu memberi Gwen uang jajan setiap bulannya.


“Ayo, kita masuk!” ajak Tama.


Ketika Gwen hendak melangkah, Agam menghentikannya. Dia memberikan penuturan kepada sang istri untuk tidak lagi meminta uang jajan kepada keluarganya. “Ya kenapa? Sudah kebiasaan begitu, Mas_” jawab Gwen.


“Ya nggak papa, sih. Tidak ada haramnya. Hanya saja, kurang baik saja gitu. Kan kamu sudah ada aku yang memberi. Lain kali, kalau kakak-kakak kamu belum ngasih, jangan diingatkan, ya. Biarkan mereka ingat sendiri,” tutur Agam dengan lembut.


Gwen menundukkan kepala. Dia paham apa yang dituturkan oleh suaminya. Dirinya tetap berusaha tetap polos, agar suaminya tidak tersinggung. “Lalu, bolehkah aku menyimpan uangku sendiri atau membelanjakan uangku sendiri tanpa sepengetahuan, Mas?” Tanya Gwen.


“Kamu belum tau?” Tanya Agam balik. Gwen menggeleng, sejak kecil yang ada dibenaknya hanya main dan bermain saja. Lalu, ketika remaja, dirinya disibukkan ikut Paman Chris dan Willy, Ayah angkatnya ke dunia hitam. Jadi, Gwen tidak menyempatkan waktu untuk belajar, meski Aisyah dan Yusuf sudah tegas padanya.


“Boleh-boleh saja, kok. ‘Kan itu uang kamu, hak kamu, hasil kamu sendiri. Mau diapakan juga tidak akan berdosa jika tidak meminta izin dengan Mas. Hanya saja, alangkah baiknya jika kita harus saling jujur. Jujur itu juga bukti kepercayaan pada hubungan yang kita jalani saat ini,” jelas Agam.


“Oh, gitu. Baiklah, terima kasih suamiku. Nanti, aku akan kasih tau isi rekening aku. Biar kita tidak ada salah paham masalah keuangan yang rada sepele ini, oke? Ayo, sekarang kita masuk!”


Gwen menggandeng tangan suaminya menuju Pesantren. Mereka memang pasangan termanis yang di jaman keturunan Pesantren yang saat ini. Membuat setiap orang yang melihatnya pasti akan iri dengan keromantisan mereka.


Sesampainya di rumah Airy, Gwen langsung menanyakan dimana kedua kakaknya. Ia begitu tidak sabaran ingin berjumpa dengan kedua saudari dan saudara kembarnya yang sudah seminggu lebih tidak bertemu.


“Assallamu’alaikum, di mana Kak Aisyah dan Kak Chen?” tanyanya.


“Wa’alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh,”


“Kamu belum masuk, belum duduk juga … langsung menanyakan dimana Aisyah dan Chen? Situ sehat?” ejek Ayyana.


“Ay, kamu ini kenapa, sih? Jarang juga Gwen bertemu dengan kedua saudaranya, kamu ini selalu saja menggodanya,” sahut Airy membela keponakannya yang nakal.


Airy membelai  Gwen dan mengatakan bahwa kedua kakaknya ada di rumah lama. Tanpa basa-basi lagi, Gwen berlari keluar dan menuju rumah lama milik buyutnya itu.


“Dih, nggak salam, mana ninggalin suaminya sendiri pula! Nih anak masih aja begitu!” komentar Ayyana.


“Ck, lemes amat sih tuh mulut. Biarin saja ngapa! Lagian juga di sini ada aku, Ustadz Agam nggak sendiri lah! Sana cari suami, makin lama kek Bibi Airy dulu deh! Sono nikah, kak!” gilian Tama meledek Ayyan.


“Memangnya nikah segampang itu? Kalau ada calon mah oke,oke saja. Bukan begitu, Ma?” celetuk Ayyana.


Mereka sudah sering bercanda bersama. Tak ada sedikitpun kata-kata Tama yang membuat Ayyana sakit hati. Pada kenyataannya, memang dirinya seorang janda saat itu juga. Terlepas dari seorang janda, Ayyana ini sudah banyak yang melamarnya. Hanya saja, Ayyana sendiri yang belum ingin menikah kembali sampai putranya besar nanti.


******


Di rumah lama, Gwen melihat Aisyah masih di teras sedang mengobrol dengan Raihan. Gwen pun memanggilnya sembari melambaikan tangannya. “Kak Aisyah!” teriaknya.


Berlari secepat mungkin. Dari jauh, Gwen sudah mengucapkan salam terlebih dahulu. “Assallamu’alaikum!” salamnya dengan napas terengah-engah.


“Wa’alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh,”


“Salam itu yang baik. Kenapa harus teriak-teriak begitu, sih?” tegur Aisyah.


Tanpa mengatakan sepatah katapun, Gwen datang langsung memeluk saudari perempuannya dengan erat. Seperti seseorang yang bertahun-tahun tidak bersua. “Eh, ada apa?” tanya Aisyah.


“Rindu_” jawab Gwen dengan lirih.


Raihan terharu kala melihat Gwen memeluk Aisyah. Apalagi,


Aisyah juga membelai kepala Gwen dengan belaian kasih sayang. Membuat Raihan bertanya-tanya, mengapa adik dan adik iparnya belum juga kembali dari tempat mereka berada saat itu.


“Yusuf, Rere, kamu ada di mana? Apa kamu tidak ingin memeluk keempat putra putrimu? Mereka di sini sangat membutuhkan kalian. Apalagi, Chen sangat terpukul karena kalian menghilang. Belum lagi Rifky yang masih membutuhkan asi-mu, Re.” ucap Raihan dalam hati.


Usai keduanya melepas rindu, Raihan meminta Aisyah dan Gwen untuk bicara dengan Chen. Bagaimanapun juga, hanya mereka berdua yang mampu meluluhkan kerasnya hati seorang Chen yang sedang kesal.


“Ada apa dengan Kak Chen?” Tanya Gwen belum paham.


“Aku rasa, dia merasa tertekan dengan takdirnya. Bagaimana bisa tidak tertekan? Sejak kecil Kak Chen sudah tahu bahwa keluarga yang membesarkannya bukanlah keluarga kandungnya. Lalu, dia mengetahui juga jika Ibu angkatnya adalah dalang di balik penculikan dirinya untuk dipisahkan dengan kita,” jelas Aisyah.


“Belum ini, kita sudah mulai berkumpul. Eh,waktunya bersaman denganmu sangat singkat karena kamu memutuskan untuk menikah. Lalu, penculikan Ilkay dan Rifky mengingatkan masa lalunya kembali. Di tambah, Ayah dan Ibu menghilang, aku mau menikah juga. Bagaimana dia tidak sedih dengan takdirnya?” tukas Aisyah menyapu air matanya yang sedari tadi sudah membasahi pipinya.


Gwen sangat mengerti. Ketiganya mengalami ketidakadilan di masa kecilnya. Ketiganya dipisahkan oleh keegoisan Cindy dan itu membuat Gwen dendam kepada Cindy sampai saat itu.