Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Token?



Setelah kebersamaan di pagi hari, kini Dishi harus mengantar Ilkay ke sekolah. Aisyah memberinya pesan untuk menyiapkan sarapannya dengan baik, dan Dishi melakukan itu dengan sepenuh hati. "Ayah, kenapa kita naik kereta? Jika bersama Mama, pasti kita naik mobil," tanya Ilkay.


"Mobil Ayah belum datang. Semalam dibawa oleh teman Ayah. Ilkay tidak suka naik kereta?"


"Suka!"


"Ilkay suka naik kereta, Ayah. Pokoknya, jika Ayah di sini, Mama pasti akan selalu bersama dengan Ilkay nantinya," celetuk Ilkay. 


"Loh, memangnya kenapa? Apakah Mama jarang bersama dengan Ilkay?" tanya Dishi. 


"Mama sibuk dengan belajarnya. Mama sering tidur larut malam. Bahkan, Mama jarang makan, Ayah. Kay takut, Mama sakit. Kay bingung mau bagaimana lagi. Urusan orang tua, Kay tidak berani ikut campur," ungkap Ilkay murung. 


Dishi terharu dengan putranya. Dipaksa dewasa oleh keadaan. Mau bagaimana lagi, orang tua yang mengadopsi dirinya masih sangat muda dan sibuk menggapai mimpi. 


Namun, jika Ilkay ikut dengan Chen di keluarga Wang, maka Ilkay akan selalu dalam bahaya karena bisa menjadi target melemahkan keluarga Wang. Di sisi lain, Chen tak ingin putranya salah asuh, ia ingin putranya mampu memiliki ilmu agama yang bagus seperti keluarga besarnya.


🐰🐰🐰🐰🐰🐰


Di sisi lain, Aisyah rupanya tidak datang ke rumah Ayden. Ia datang ke rumah Bora, ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan sepupu Bora, yang sebagai guru musik Ilkay hang pertama. 


"Bagaimana? Apa kau mendapatkan informasi tentang sepupumu?" tanya Aisyah. 


"Aigoo, kemarin aku bertemu dengannya. Apakah kau tau apa yang dia katakan padaku?" ujar Bora. 


"Apa?" Aisyah semakin penasaran. 


"Dia menyuruhku untuk menjauh dari dirimu, Ai. Bagaimana ini? Dia berkata, kalau latar belakang dirimu, bukanlah sederhana," ungkap Bora dengan berbisik. 


Aisyah menjadi diam. Dirinya tidak merasa berlatar keluarga yang rumit. Namun, terlihat dari penjelasan Bora, jika sepupunya menduga keluarganya adalah kelurahan yang seperti itu. 


"Keluargaku tidak serumit itu, Bora. Aku ini anak dari keluarga biasa sana, bagaimana sepupumu mengatakan hal itu?" protes Aisyah. 


"Ahh, sudahlah. Aku tetap akan menjadi sahabatmu. Mari, kita berangkat menemui dia. Aku sudah katakan padanya, jika kita akan bertemu dengannya pagi ini," ucap Bora merangkul Aisyah. 


"Baiklah, terima kasih." Aisyah hanya bisa mengatakan itu. 


Berangkatlah mereka menuju rumah guru pertama Ilkay. Sepanjang perjalanan, Aisyah terus bersalawat dalam hati, berdoa agar gurunya Ilkay mampu memberikan kejelasan mengapa dirinya diganti oleh guru lain, tapi tidak ada konfirmasi untuknya. 


Perjalanan tidak memakan banyak waktu. Mereka pergi mengendarai mobil sendiri, jalanan juga tidak ramai, membuat semuanya berjalan dengan baik. 


"Ini rumahnya?" tanya Aisyah. 


"Benar! Ayo, kita segera masuk," jawab Bora, turun dari mobil. 


Rumah yang lumayan mewah itu berdiri tepat di pinggir jalanan perumahan elit yang ada di Kota. Aisyah yakin, jika sepupu dari sahabatnya ini bukan orang biasa.


Setelah masuk gerbang, Aisyah melihat guru Ilkay ada di taman kecil yang ada di rumahnya.. Sedang menyirami tanaman dengan berpakaian sederhana. 


"Selamat pagi, Tuan Jin," sapa Aisyah. 


"Selamat pagi juga, Nyonya Aisyah. SIlahkan masuk, pagi-pagi sekali sudah berkunjung. Ada hal apa? Semuanya, baik-baik saja, 'kan?" sambut Tuan Jin dengan hangat.


Aisyah dipersilahkan duduk, kemudian Tuan Jin meminta asisten rumah tangannya untuk menyiapkan jamuan. 


"Dia bahkan memiliki asisten rumah tangga. Benar bukan orang biasa, tapi kenapa di … Astaghfirullah, kenapa aku jadi su'udzon begini?" 


"Nyonya, sebenarnya saya tidak ingin ikut campur dalam masalah oang lain. Tapi ada baiknya, Ilkay dipindahkan tempat saja jika masih ingin berlatih di bidang seni musik ini," saran Tuan Jin. 


"Apakah Tuan bisa memberi saya alasan mengapa saya harus membawa Ilkay pindah?" tanya Aisyah. 


Tuan Jin menghela napas. Kemudian mengambil sesuatu yang ada di laci meja, lalu memberikan kepada Aisyah. "Semoga ini mampu menjawab semua pertanyaan Nyonya Aisyah," kata Tuan Jin. 


Setelah menerima benda tersebut, Aisyah masih tidak paham. Tapi, ia akan membawa barang itu pulang dan menanyakannya kepada Dishi, suaminya. 


"Benda apa ini? Mengapa bentuknya tidak asing, ya?" gumam Aisyah. "Um, bolehkah saya bawa pulang, Tuan Jin?" Aisyah meminta izin. 


"Tentu!"


"Tentu saja boleh. Agar Nyonya bisa tahu mengapa saya berhenti menjadi guru musiknya Ilkay, dan juga mengapa saya berkata demikian," jawab Tuan Jin masih ramah. 


Setelah berbincang-bincang sebentar, Aisyah memohon undur diri. Ia mengajak Bora untuk segera pulang. Tak enak hati bagi Aisyah pergi berlama-lama, selagi suaminya ada di rumah. 


"Hish, kenapa terburu-buru mau pulang? Bagaimana jika kita jalan-jalan dulu. Misalnya, naik ke bukit itu," usul Bora, sembari menunjuk bukit yang ada di belakang pinggiran Kota. 


"Ah tidak. Aku tidak bisa pergi terlalu lama selagi suamiku ada di rumah. Itu hanya akan membuatku merasa canggung saat pulang nanti," tolak Aisyah dengan lembut. 


"Oh, suamimu pulang. Baiklah, aku me …," ucapan Bora terhenti. Bora sedikit nge-lag dengan mendengar suami dari sahabatnya itu telah pulang. 


"Wait, suami? Suamimu pulang? Kapan kau menikahnya Ai?" lanjut Bora setelah otaknya kembali normal. 


"Aku menikah, sudah sekitar sebulan lang lalu,"  jawab Aisyah. 


"Apa? Sebulan yang lalu? Hish, kau kejam Ai! Kenapa kau menikah tidak memberitahu diriku, hah!" kesal Bora. 


"Semuanya terjadi begitu cepat. Aku tak sempat memberitahu kamu, Bora. Maafkan aku," ucap Aisyah. 


Bora diam dengan bibirnya yang bisa di kuncir dia belas. Kemudian memalingkan wajahnya dan melipat tangannya. "Kita musuhan!" dengusnya. 


"Hey, jangan seperti ini. Jika kamu benar sahabatku, seharusnya kamu mendukungku, bukan?" harap Aisyah. 


"Mengapa? Mengapa aku harus mendukungmu? Aku tidak diberi kabar bahwa kau akan menikah. Bagaimana jika pernikahan kalian ada di atas kesalahan, apakah aku harus mendukung? Mimpi!" Bora masih kesal. 


Aisyah memeluk sahabatnya. Menjelaskan dengan lembut mengapa dirinya terburu-buru menikah. Setelah mengetahui alasan itu, Bora pun meminta maaf dan meminta Aisyah untuk tidak menyembunyikan apapun lagi darinya. 


Pertemanan mereka terselamatkan. Usai Aisyah mengantar Bora pulang, Aisyah berniat untuk menjemput Ilkay dan Dishi di sekolah. Sebab tidak ada pekerjaan lain, akhirnya Dishi memutuskan untuk menunggu putranya di sekolah. 


"Assalamu'alaikum," salam Aisyah, menyapa Dishi yang sedang melamun sendirian di taman bermain sekolah. 


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh, Ai?" jawab Dishi. "Kamu, menyusulku? Apakah urusanmu dengan Tuan Lee sudah selesai?" tanyanya. 


"Sebenarnya, aku tidak bertemu dengan Ayden Oppa," jawab Aisyah ragu-ragu. 


"Lalu?" meski Aisyah berbohong, Dishi tidak langsung marah padanya. 


"Aku bertemu dengan guru musiknya Ilkay yang tiba-tiba keluar dan tidak memberitahuku. Aku merasakan kejanggalan dan menemuinya pagi tadi," jelas Aisyah dengan menunduk, tanda bahwa dirinya benar-benar tak enak hati karena telah berbohong. 


Dishi membelai kepala Aisyah. Ia tidak mempermasalahkan mengapa istrinya berbohong padanya. Hanya saja, Dishi meminta penjelasan mengapa Aisyah membohonginya, jika semua itu tentang anak mereka. 


Aisyah pasti jujur dong.