Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Ratu Dalam Goodmood



"Apa kamu sudah makan? Di sana sudah siang, bukan? Jangan lupa makan, jagain putra kita. Aku mungkin akan pulang sangat lama sekali, kita mungkin akan bertemu 1-2 tahun lagi, Mama Ilkay,"  


Asisten Dishi mengatakan, bahwa dirinya tidak tahu alasan Chen mengirimnya ke luar negri. Namun, usaha Chen yang ada di sana memang sedang mengalami masalah. Kemungkinan memang Asisten Dishi tak mampu menemui gadisnya dalam waktu dekat.


"Setelah sampai di Bandara, Tuan memintaku untuk mengurus masalah di sini. Jadi, aku tidak sempat berpamitan denganmu. Maafkan aku, Mama Ilkay. Ini saja, aku baru bisa istirahat,"


"Ayah Ilkay… mengertilah, rindu ini menyiksaku. Aku telah jatuh cinta padamu. Kumohon, jangan kecewakan aku, Ayah Ilkay," 


Aisyah memberanikan diri menyatakan perasaannya. Ia tak ingin merasakan sakit cinta dalam diam. Meski memang itu jauh lebih baik daripada menyatakan cinta kepada laki-laki. 


"Mama Ilkay, biarlah kita berpisah seperti ini untuk beberapa waktu. Tuhanmu, melarang umatnya pacaran, bukan? Jadi, mari kita berkomitmen untuk menjaga perasaan kita satu sama lain. Mama Ilkay… Aku juga mencintaimu. Sudah sejak awal kita bertemu, aku sudah mencintaimu. Bisakah kita berkomitmen?"


"Apa kita bisa?" tanya Aisyah. 


"Demi Ilkay. Dia anak kita, bukan? Demi dia, dan demi masa depan kita. Aku akan menuntaskan pekerjaanku ini. Setelah tabungan cukup, mari kita buka usaha sendiri dan hidup bahagia. Apa kau mampu hidup sederhana denganku?" 


Akhirnya, Dishi juga mampu mengeluarkan rasa dalam hatinya. Aisyah merasa lega, cinta terbalas dan mereka akan menjaga komitmen bersama. 


"Kau pergilah ke Korea, aku akan menyusul mu nanti. 3 tahun lagi, kita akan bertemu kembali, Mama Ilkay. Apa kau sanggup? Jika kau sanggup, aku akan memperjuangkan dirimu dan Ilkay. Aku akan belajar agamamu dan mulai mencari tahu, semua tentang Tuhanmu. Kucintai dulu Tuhanmu, lalu akan dengan mudah, nanti aku bisa mencintai dirimu,"


"Apa kamu mengatakan ini dengan sadar, Ayah Ilkay? Kamu mengetahui rencanaku yang akan ke Korea?" tanya Aisyah seakan tidak percaya. 


"Apa yang tidak kuketahui, Mama Ilkay? Aku ingin kehidupan yang sederhana denganmu. Jauh dari dunia hitam dan hanya kita bertiga bersama Ilkay. Jika suatu hari kita diberi kesempatan, kita akan memberikan Ilkay seorang adik perempuan yang mirip dengan Mamanya, bagaimana?"


Dishi benar-benar membuat suasana hati Aisyah terharu. Tidak mudah bisa berkomitmen selama itu. 3 tahun bukan waktu yang singkat. Apalagi, selama itu juga Aisyah harus merawat Ilkay sendirian. 


Saat itu Aisyah dan Dishi mengobrol banyak hal sebelum Dishi melakukan pekerjaan pentingnya kembali. Dishi juga mengatakan bahwa dirinya akan mengirim pesan setiap dirinya ingin melakukan aktivitas apapun. 


"Tapi, Mama Ilkay. Aku memiliki sifat buruk yang perlu kamu ketahui,"


"Apa itu, Ayah Ilkay?"


"Aku memiliki keposesifan terhadap apa yang telah aku miliki. Apa kamu keberatan akan itu?"


"Tidak, aku juga memilki sifat buruk juga. Ayah Ilkay, bisakah kita saling melengkapi? Tak masalah dengan sifat buruk kita, dengan sifat buruk itu … Aku ingin kita semakin mempererat hubungan kita, bagaimana?"


"Iya, Mail. Aku akan selalu merindukanmu. Selalu!"


"Mail?"


"Iya, Mail. Mama Ilkay, apa lagi? Itu akan menjadi unik untuk hubungan kita, bukan?"


"Oh, begitulah Ail? Ayah Ilkay? Hahaha…." 


Canda tawa menyelimuti keduanya. Hingga Aisyah lupa jika dirinya harus segera pulang bertemu dengan sepupunya dan mengunjungi Gwen ke rumah suaminya. 


"Ini dimana, Ai. Lama sekali, timbang izin doang!" seru Faaz sudah tidak sabar. 


"Ck, sabar ngapa. Dia pakai mobil ke sana. Macet kali!" seru Tama. 


"Mas Tama, dia itu pergi dengan marah-marah tadi. Aku takut kalau dia anuu …," 


"Anuu apa, Bang Faaz? Nggak usah ngada-ngada, deh! Assalamu'alaikum," Aisyah akhirnya datang. 


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh,"


Semuanya lega kala Aisyah datang. Ilkay langsung memeluk Mamanya itu dengan penuh kasih sayang. "Mama, apa Mama tau? Empat pria dewasa itu terus membuat Kay pusing!" ucap Ilkay. 


"Loh, kenapa? Apa yang mereka perbuat, sehingga membuat anak Mama pusing?" tanya Aisyah berlutut di depan Ilkay. 


"Mereka terus saja berdebat tentang Ayah baru untuk, Kay. Mereka memiliki masing-masing calon untuk Mama. Kay tidak suka! Kay hanya mau Ayah Dishi saja!" 


Cring! 


Seperti suara samurai digoreskan ke besi. Tatapan Aisyah mematikan kala Menatap keempat saudara sepupunya. 


"Haduh, tuh anak ngadu!" desis Ayden. 


"Apa kubilang, makanya jangan pernah bicarakan ini dengan anak kecil itu! Dia anaknya Chen, dia tak akan sepolos itu, epribadeh!" sahut Feng. 


"Hey, pendusta! Kau juga menyiapkan calon untuk, Ai, 'kan? Kau sama saja dengan kita!" Faaz merasa tidak terima.


"Kenapa kalian seperti bocah, sih? Ingat, umur sudah 22, harus mikir dewasa, dong!" timpal Tama tak ingin kalah juga. 


"Oh, rupanya kalian sudah dewasa? Begitu dewasanya hingga sudah berani menyiapkan aku calon suami? Ayo, tunjukkan dimana para jagoan kalian kepadaku," desis Aisyah sudah ada di belakang mereka. 


"Wey!" semuanya terkejut melihat Aisyah dengan tatapan membunuh itu. 


Faaz yang memang selalu bisa mencairkan suasana, langsung mengajak mereka ke mobil dan segera berangkat ke rumah suami adik bungsu mereka. 


Situasi dalam mobil saja terasa ada bongkahan es batu yang sangat besar. Menjadi dingin karena Aisyah terus saja menatap sinis keempat saudaranya. 


"Em, dingin, ya. Seperti di pucuk gunung Everest. Pucuk, pucuk, pucuk ...," celetuk Faaz. 


"Bicara lagi, kau akan mendapat tinjuan bebas dariku. Mau?" desis Aisyah. 


"Haduh, Ratuku. Hamba tidak berani, Ratu. Maafkan hamba," jawab Faaz. 


Mengingat kembali beberapa waktu lalu ketika Aisyah mendapat telpon dari Dishi. Membuatnya kembali tersenyum dengan segala ungkapan yang Dishi katakan.