Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Vibes Cinta



"Maaf, Tuan. Kenapa anda membawa saya ke sini? Bukankah ini gudang?" tanya Puspa. 


"Panggil saja Pelayan Mo, seperti Tuan memanggil saya seperti itu. Tuan ingin Nona melakukan pekerjaan putri saya, jadi saya membawa Nona ke sini. Tolong bersihkan gudang ini, setelah selesai, nanti Nona segera sarapan bersama dengan keluarga Wang, permisi …," 


Pelayan Mo tidak tega dengan Puspa yang harus bekerja, apalagi Puspa juga tidak di bayar tenaganya. Pelayan Mo enggan memberikan pekerjaan putrinya kepada Puspa. Pelayan Mo hanya akan memberikan Puspa satu pekerjaan saja dan segera minta maaf kepada Chen untuk tidak lagi menerima hukuman. 


"Hukuman apa coba? Minta maaf untuk apa? Aku kan tidak membuat kesalahan apapun. Tuan Chen ini kenapa, sih? Sepertinya dia selalu sensi kepadaku," gerutu Puspa memulai pekerjaannya. 


Meninggalkan Puspa yang terus aja dikerjai oleh Chen, Aisyah sedang sibuk menyiapkan beberapa materi untu melanjutkan pendidikannya di Korea nanti. Ia juga mengutus orang pesantren untuk membuatkan visa Ilkay kala nanti tinggal di Korea. Butuh waktu lama visa Ilkay keluar karena memiliki kewarganegaraan ganda. Itu sebabnya, Aisyah meminta orang pesantren untuk mengurus sedini mungkin. 


"Ai, persyaratan yang harus dibawa sudahkah punya si Ilkay? Dia juga masih butuh identitas Ayahnya, loh?" Tama mengingatkan Aisyah kepada Asisten Dishi. 


"Iya aku tau, sudah terbawa semuanya. Dia meninggalkan beberapa copyan dokumen di sini untuk Ilkay," sulut Aisyah. 


"Biasa aja kali, Ai. Kenapa, kamu? Kangen sama Asisten itu? Kalau kangen … Buruan minta di kawinin!" ketus Tama masuk ke dapur lagi. 


"Siapa juga yang kangen? Mas Tama nanya kayak gitu kan aku jadi kesel! Sudah tahu kalau aku sama Asisten Dishi itu nggak ada apa-apa, cuman sebatas orang tua angkat aja. Kenapa juga masih kayak gitu nadanya, kayak ngejekin banget gitu! Bukannya situ juga jomblo!" umpat Aisyah dengan mulut yang bisa di kuncir 10.


"Kok jadi nyaut ke jomblo, sih? Bukannya memang keluarga kita tidak ada pacar-pacaran, ya?" sahut Tama. "Kamu kenapa, sih, Ai?" sambungnya. 


"Kesel sama Mas Tama! Dah sono ke dapur lagi! Aku mau izin dulu ke puskesmas. Pinjem mobilnya!" Aisyah masih saja marah-marah.


Tama menggaruk kepalanya, heran dengan sepupu perempuannya itu yang sedari pagi sudah sensitif. Sementara itu, Aisyah pergi ke puskesmas untuk izin cuti, karena hari itu, Aisyah dan sepupu lainnya akan berkunjung ke rumah Gwen dan Agam.


"Kenapa aku marah? Ya jelas aku marah lah! Si Dishi ini nggak ada kabar, nggak ada pamitan apapun, main pergi aja ke Amerika!" kesal Aisyah di belakang kemudi. 


"Lihat saja, aku juga bisa pergi tanpa pamitan denganmu! Ihh … Keselnya!" 


"Astaghfirullah hal'adzim, kenapa aku jadi kesal gini, sih? Ada apa denganku? Ini rasa yang sama saat aku dengar pernikahan Ustadz Khalid dulu,"


"Apa benar aku jatuh cinta padanya? Tapi ini sangat dini untuk jatuh cinta … Ya Allah, aku harus banyak mendekatkan diri kepada Engkau. Dosa ini, dosa, Aisyah!" 


"Bersabarlah, Aisyah. Kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan, jika kamu tidak melanggar aturan Allah,"


"Oke, lupakan cintamu, fokuslah pada masa depanmu dan juga Ilkay. Kamu seorang Ibu sekarang, Aisyah. Ingat, buyut Uti juga mengurus anak dari kakaknya?" 


"Kamu bisa seperti dirinya nanti. Bersabarlah …." 


Jika Aisyah sedang bergelut dengan batinnya, Puspa malah masih sibuk dengan pekerjaan di gudang mansion keluarga Wang. Dengan perut keroncongan, Puspa yang sebelumnya memang seorang gadis yang lemah lembut menjadi seperti Gwen yang perkasa. 


"Alhamdulillah, beres juga! Untung aku pernah latihan silat bersama dengan Gwen. Jika tidak, almari sebesar ini, sulit untuk aku pindahkan," celotehnya dengan menghela napas panjang. 


Krukk … kruk …. 


"Haduh, kenapa juga kudu bunyi? Haha, cacing, cacing di perutku sudah demo, ya? Baik, ayo kita cari makan! Sekalian kulineran di kota ini,"


Puspa segera pergi ke kamar dan bersiap pergi ke luar. Ia bahkan tidak berpikiran untuk sarapan bersama dengan Chen dan keluarganya. Usai mandi, Puspa memakai pakaian yang seperti biasa ia pakai, baju syar'i dengan warna polos tanpa ada renda maupun bordiran bunga. 


"Di negara ini, berpakaian seperti ini bakal kena rasis nggak, ya?" gumamnya. 


"Tapi, bukankah banyak muslim juga di sini?" 


"Tidak! Aku akan ganti saja. Pakai celana kulot, biar lebih longgar. Harus sesuaikan diri! Baiklah, kita cari kulot punya Aisyah dan hoodienya. Dia paling suka pakai hoodie, bukan?"


"Eh, harus tanya dulu kepadanya. Di sana jam berapa, ya? Lebih baik aku kirim pesan saja, takut ganggu aktivitasnya," Puspa terus saja bergumam.


Aisyah langsung merespon pesan Puspa. Memperbolehkan pakaiannya di pakai oleh sahabatnya. Keduanya memiliki hubungan yang sangat baik sejak kecil. Jadi, Aisyah dan Puspa selalu berbagi apapun yang mereka miliki.


"Aisyah ini, memang baik. Untung saja dia ninggalin banyak bajunya di sini. Um, hoodie biru muda ini bagus banget, aku akan pakai ini saja!"


Puspa bersiap keluar mencari makanan dan jalan-jalan sebentar baru akan pulang. Saat turun, Nyonya kedua memanggilnya untuk ikut sarapan. 


"Puspa, mari kita sarapan bersama. Tuan Wang, Ayahnya Tuan Muda sudah menunggumu untuk sarapan bersama," ajak Nyonya kedua. 


"Tuan Wang? Tapi, benarkah saya boleh ikut sarapan?" tanya Puspa menoleh ke atas. 


"Tentu saja, memangnya kenapa? Apa Puspa tidak bersedia?" Nyonya kedua bertanya dengan nada kecewa. 


"Oh, bukan masalah itu, Nyonya. Tapi … Taun Chen, pasti tidak akan setuju saya ikut makan satu meja dengan Nyonya dan Tuan di sana," tutur Puspa dengan lemah lembut. 


"Tuan Wang yang meminta, pasti Tuan Muda akan menerimanya. Ayo, pagi ini … Kamu cantik sekali, saya jadi teringat dengan Ai," Nyonya kedua bahkan menuntun Puspa untuk ikut serta sarapan bersama. 


Tuan Wang menyambut hangat kedatangan Puspa yang mendadak. Mereka saling berkenalan dan saling menebar senyum satu sama lain. Meski Tuan Wang adalah seorang mafia, tetap sana ia selalu menghormati keluarga kandung Chen, hingga ke orang terdekat keluarga Chen. 


"Kamu manis sekali, tapi putriku, Ai ... jauh lebih cantik. Maaf, apa kamu tersinggung?" tanya Tuan Wang. 


"MasyaAllah, Ai memang cantik, Tuan. Untuk apa saya tersinggung. Tuan mengatakan kebenaran. Selain cantik, Ai memang sangat baik dan cerdas, Tuan!" seru Puspa. 


"Iya, putriku--" Tuan Wang merasa bangga putrinya di sanjung. 


Tak lama kemudian, turunlah Chen dengan memakai hoodie yang serupa. Rupanya, Hoodie itu awalnya milik Aisyah dan Asisten Dishi yang dibeli saat pulang dari fun far. Tapi, karena Chen marah dengan couple hoodie tersebut, ia merebut hoodie milik Asisten Dishi dan ingin memakainya saat santai. 


"Kalian mau jalan bersama, ya? Hoodie kalian, couple?" tanya Nyonya kedua. 


Bagaimana reaksi Chen dan Puspa?