Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
3 Bulan Berlalu .....



"Benar," 


"Kau benar, aku memiliki dua orang Ayah yang sangat hebat. Yang satunya penyabar, dan yang satunya lagi sangat murah hati. Tapi aku sendiri yang selalu kurang dengan kasih sayang mereka. Itu semua karena wanita itu," desis Chen. 


"Aku sangat membencinya. Bagaimana pun juga, semua kekacauan didasari oleh wanita itu. Aku akan membunuhnya suatu saat nanti. Dia juga telah membuat putraku meninggal, membuat Ibu Rere cacat wajah. Dia juga membuat Ai-ku memiliki trauma dengan namanya perpisahan, sampai-sampai Ai-ku belum mau program memiliki momongan karena wanita itu," lanjut Chen mengepalkan tangannya. 


"Dia memisahkan keluargaku dulu. Baik aku, Gwen dan Ai sama-sama tidak memiliki waktu bersama saat kecil. Aku benar-benar membencinya!" 


"Ternyata, dendam yang dimiliki oleh Chen begitu besar kepada ibu angkatnya. Bagaimana caranya, aku bisa menjelaskan jika dendam itu  begitu tidak baik baginya?" gumam Lin Aurora dalam hati. 


Mereka pun melanjutkan jalan-jalannya dan memberi beberapa pakaian untuk Lin Aurora. Ketika Chen mengantar Lin Aurora membeli pakaian, ia mengingat ketika dirinya berbelanja pakaian juga bersama dengan Puspa waktu itu.


"Kamu cobalah yang ini. Dulu ada seorang wanita yang mengatakan, jika perempuan selalu menyukai warna-warna yang terang dan netral," Chen memilihkan satu pakaian yang cantik saat itu. 


"Aku tahu wanita itu siapa. Di adalah orang yang telah meninggalkanmu waktu itu, 'kan? Ternyata dia masih ada tempatnya di hati dan pikiran kamu, ya? Hm, aku jadi iri dengannya," celetuk Lin Aurora.


Chen memalingkan muka. Kemudian memilih kembali baju untuk Lin Aurora. "Jika kau mau ada di hatiku, maka jangan pernah lagi berhubungan dengan Ayahmu," ucap Chen berlalu meninggalkan Lin Aurora di depan kamar pass. 


Menunggu istrinya sedang mencoba baju, Chen duduk diantara para pria yang mungkin itu adalah suami atau kekasih dari wanita-wanita yang sedang berbelanja. Dari sana, ada seorang pria yang mengatakan jika dirinya baru saja menikah dengan istrinya dua minggu lalu. 


"setelah melihat apa yang dilakukan istriku semenjak kami menikah, aku jadi semakin mencintainya. Entah kenapa,  dia lain dari mantan kekasihku dulu. Jika aku tidak menikahinya, aku mungkin tidak akan seberuntung ini di masa depan," celetuk pria itu. 


"Wah, hebat! Apa kau di jodohkan, Tuan?" tanya pria yang di sebelahnya. 


"Iya, terkadang memang pilihan orang tua kita,  belum tentu salah. Meski saat ini aku belum mencintainya, tapi aku akan berusaha mencintainya dengan sepenuh hatiku!" 


Mereka pun tertawa mendengar kisah dari pria tersebut. Chen jadi teringat sesuatu akan itu. Dirinya juga menikahi Lin Aurora tanpa ada perasaan cinta. Pernikahan itu di dasari atas dendam antara Chen dengan Tuan Natt. "Apa aku dan Lin bisa bisa saling mencintai seperti yang dikatakan pria itu?" gumam Chen dalam hai. 


"Apa nanti aku akan dihadapkan dengan yang dinamakan antara belas kasih dan Tuan Natt karena telah jatuh cinta kepada Lin?" lanjut Chen.


Di saat Chen sibuk dengan pikirannya, Lin Aurora sudah selesai mencoba baju-baju yang di pilihkan olehnya. Lin Aurora mengatakan jika semua baju yang dipilih Chen bagus dan pas. Tidak tanggung-tanggung lagi, Chen menambah jumlah baju dengan ukuran yang sama. Kemudian pergi membayar tanpa mendapat persetujuan dari Lin Aurora apakah ia suka atau tidak dengan baju yang dipilih Chen. 


Di jalan, Lin Aurora baru berani bertanya mengapa Chen memberikan baju banyak untuknya. 


"Bajuku sudah banyak loh, Chen? Hm, jadi baju-baju baru itu harus aku pakai ke mana lagi?" tanya Lin Aurora.


"Maka kau harus pakai di saat kau bersamaku. Mudah, 'kan?"jawab Chen. "Sudahlah jangan mengganggu konsentrasiku di saat aku menyetir!" sambung Chen dengan ketus.


"Hish, dia ini orang yang seperti apa, sih? Terkadang dia begitu baik dan sweet, tapi seketika berubah menjadi monster ice lagi. Ya Tuhan, bagaimana cara mencairkan si monster ice ini?" gerutu Lin Aurora dalam hati. 


3 bulan berlalu,  hari-hari yang dilalui triplets bersama pasangannya banyak mengalami perubahan. Kandungan Gwen saat itu sudah masuk ke trimester ke 3. Yakni, masuk di bulan tujuh. Dimana harus di jaga dengan sebaik mungkin, karena Gwen memiliki riwayat hipertensi. 


Dishi mendengar jika dua penjahat itu kembali ke Tiongkok. Sementara dirinya bisa lebih tenang sedikit saat menemani istrinya menuntut ilmu. 


Di Tiongkok, hubungan Chen dan juga Lin Aurora masih sedikit rumit meski keduanya sudah lebih baik dari sebelumnya. Namun, Chen masih saja suka berkata ketus kepada istrinya.


Hari dimana Lin Aurora bekerja di perusahaan milik suaminya. Chen baru tahu jika istrinya bekerja sebagai office girl. Chen jarang sekali ke perusahaan teknologi miliknya. Dia juga tidak menanyakan isterinya bekerja sebagai apa di sana. 


Siang itu, Chen mengadakan kunjungan ke perusahaan teknologi miliknya. Identitas Lin Aurora tidak pernah diketahui oleh siapapun karena Lin Aurora melamar pekerjaan dibantu oleh Jovan supaya tidak ada yang mengetahuinya. 


"Kalian tau, Tuan Muda Wang akan datang hari ini. Sebelum ke lapangan, Tuan Muda Wang akan berkunjung dulu ke office. Apa kalian sudah siap untuk melihat Tuan Muda Wang?" 


"CEO yang masih sangat muda dan tampan. Tapi aku dengar, dia sudah memiliki pasangan. Hubungan apa yang mereka miliki, ya?"


"Jangan-jangan Tuan Muda Wang sudah menikah? Aduh, patah hati pastinya kita semua,"


Banyak sekali yang menggosip tentang Chen. Meski begitu, Lin Aurora tetap bersikap tenang supaya semua orang tidak mengetahui identitasnya. 


"Lin, ada apa?" tanya teman baru Lin Aurora ketika bekerja di sana. Namanya Sachi. 


"Mereka sedang membicarakan siapa?" tanya Lin Aurora.


"Astaga! Apa kamu tidak pernah dengar siapa pemilik dari perusahaan ini? CEO muda yang terkenal itu, loh! Tuan Muda Wang!" seru Sachi.


"Setahu aku, Tuan Muda Wang itu ada tiga orang. Lalu, siapa di antara mereka yang akan datang?" tanya Lin Aurora.


"Tuan Muda Chen, putra dari garis besar Tuan Wang. Siapa lagi? Jika yang kau pikir Tuan Jovan, dia tidak mungkin menjadi pemilik perusahaan ini," jelas Sachi. 


Lin Aurora menganggukkan kepala. Dia paham apa yang dikatakan oleh temannya. Seketika pikiran Lin Aurora bug, makanya dia tidak tahu jika yang dibicarakan oleh orang kantor adalah suaminya sendiri. 


"Pasti dia orang yang hebat. Usianya masih 23 tahun susah mampu menguasai ilmu bisnis. Padahal, Tuan Wang dulu menjadi pembisnis ya berusia 30 tahun," celetuk Sachi.


"Oh, bagus lah. Mungkin karena hanya tinggal menjalankan. Jadi si Tuan Muda Chen ini di usianya yang masih muda, mampu menjalankan bisnis keluarga," sahut Lin Aurora.


"Tunggu, apa? Siapa? Tuan Muda Chen? Chen Yuan Wang?" tanya Lin Aurora baru tersadar. 


"Iya, kenapa? Apa kau baru sadar jika kita sedang membicarakan dia?" Sachi masih memperjelas dengan menunjukkan foto Chen.


Apa yang akan terjadi? Buset di Chen bininya kerja jadi OG kagak tau dia.