Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Berdebat



"Mulai bulan depan, jika direktur perempuan itu tidak memberi gaji untukmu, kau datang sendiri ke bendahara. Aku sudah mengurusnya untuk membayar gajimu selama tiga bulan terakhir ini," ucap Chen, sibuk makan.


"Jadi, bulan depan, kau mendapatkan gaji selama 4 bulan kau kerja di sana," sambungnya.


Jari Lin Aurora yang saat itu sedang mengupas jeruk untuk Chen menjadi terhenti. Memandang suaminya dengan penuh haru. Selama itu, tak ada kepikiran baginya untuk meminta bantuan suaminya. Dan pada akhirnya, memang Lin Aurora harus mendapatkan bantuan dari tangan suaminya sendiri.


"Hentikan tatapanmu itu. Membuatku takut saja!" ketus Chen mengetuk kening istrinya.


"Shh, tapi aku beneran terharu. Bisakah aku memelukmu?" Lin Aurora merentangkan tangannya.


"Dalam mimpimu!" Chen mengetuk kening Lin Aurora dengan telur rebus.


"Aw, sakit … tapi serius aku ingin memelukmu. Bukan kah tadi kau ingin kita melakukan itu. Baiklah, aku sudah siap," Lin Aurora mencoba memaksa Chen dengan memeluknya. Bibirnya monyong mengarah ke wajah Chen sampai membuat Chen takut.


"Kenapa aku takut jika dia yang berinisiatif?" batin Chen semakin tersiksa. "Aku hanya bercanda dengannya tadi," lanjutnya dengan berteriak dalam hati.


Sebelumnya, Chen sudah memberitahu Jovan jika dirinya ada di kamar dengan nomor yang diberikan oleh penjaga penginapan. Ia masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu lebih dulu dan mengacaukan imajinasi liar Lin Aurora.


"Chen, aku membawakan semua makanan ini. Kuharap kau suk … lagi-lagi aku melihat adegan ini," sebelumnya, tingkat suara Jovan sangat bersenjata. Ketika melihat sepupunya dan istrinya, membuat suaranya melempem seperti kerupuk di celup ke kuah bakso.


"Apa kalian tidak kasihan padaku? Aku ini masih terluka karena putus cinta. Kenapa kalian terus bermesraan di depanku, apa kalian ingin aku perlahan mati karena cemburu, hah!" kesal Jovan. "Tolong jaga tingkah laku kalian!" lanjutnya dengan menghentakkan kaki seperti anak kecil.


Perlahan, Chen dan Lin Aurora menjauh satu sama lain. Jovan melangkah ke arah mereka dan duduk diantara mereka.


"Apa kau ingin mati?" desis Chen dan Lin Aurora bersamaan.


Jovan menatap keduanya secara bergantian. Wajahnya begitu sengit ketika melihat dua insan yang berada di kanan kirinya. "Lihatlah, kalian tidak menginginkan aku lagi?" dengus Jovan meletakkan makanannya, kemudian melipat tangannya.


PLAK!


Satu pukulan dari Chen. Kesal karena Jovan bertingkah aneh lagi kepadanya. Tidak seperti biasanya, Jovan sangat sensitif saat itu. Biasanya, Jovan selalu terlihat dingin dan tenang.


"Apa kau sedang datang bulan? Kenapa tingkah lakumu seperti itu? Hanya putus cinta saja, kenapa harus seheboh ini?" hardik Chen.


"Kau menghardikku? Astaga, kau bilang apa? Hanya putus cinta? Hanya? Ini sangat menyakitkan dari pada kelaparan, Chen__" Jovan begitu merasa pria yang paling tersakiti di seluruh dunia.


"Aku di bohongi oleh Ibu angkatku, aku di khianati oleh cinta pertamaku, lalu aku di jauhi oleh kedua saudariku sekarang. Apa aku termasuk pria paling bahagia? Katakan padaku, apa aku pria paling bahagia di dunia ini?" jelas Chen dengan tegas.


"Dunia ini tidak akan pernah berhenti untuk menangisimu meski kau mati, Jovan. Berhentilah seperti anak remaja dan bersikaplah seperti biasanya!"


"Tapi hatiku terasa sakit …," sahut Jovan masih manja.


"Aku akan membuang semua daging pig-mu ini jika kau masih manja seperti ini, Jovan!" bentak Chen dengan mengambil kotak makanan yang berisikan daging pig.


"Jangan! Kau sungguh kejam, Chen Yuan Wang!" sentak Jovan kembali.


"Jovanca Wang, apa kau ingin--"


"HENTIKAN!" teriak Lin Aurora menghentikan perdebatan antara dua sepupu itu.


"Apa kalian tidak malu dengan terus berdebat seperti ini? Apa kalian tidak menganggap diriku ini ada di sini?" protes Lin Aurora.


Chen dan Jovan langsung mengambil piringnya masing-masing. Kemudian, Lin Aurora membuka makanan yang dibawa oleh Jovan tersebut. "Kau hanya masak segini untuk kami? Ini daging pig-mu, 'kan?" tanyanya.


Jovan menggaruk-garuk kepalanya. "Hehe, aku pikir hanya ada Chen dan kau masih bersama dengan tuan Zi. Maaf__" ucap Jovan.


"Sudahlah, kau saja yang makan. Aku akan makan makanan yang pria itu berikan. Lagipula, kau pasti belum makan, 'kan? Tadi aku dan Jovan sudah makan di lokasi syuting juga," Chen memberikan piringnya dan mengambilkan sayur juga lauknya.


Jovan menatap Chen dengan heran. Terkejut melihat Chen bisa mengalah. Biasanya,Chen paling susah untuknya. Jangankan hanya makanan yang sepele. Perbedaan pendapat warna cat bangunan saja, keputusan Chen tidak bisa di ganggu gugat.


"Kita bagi dua saja. Jovan sudah memiliki makanannya sendiri, jadi yang ini milik kita," Lin Aurora membagi makanannya.


"Camilan itu banyak sekali. Serius kalian hanya akan memakannya berdua? Apakah tidak ada yang kalian sukai gitu? Aku masih bisa menampungnya, kok!" seru Johan.


Tanpa mempedulikan Jovan, Chen dan Lin Aurora saling bertukar makanan. Meski tidak dianggap, Jovan senang melihat Chen bisa baik kepada istrinya. Hal itu yang jelas Jovan inginkan. Melihat Lin Aurora membuat Jovan teringat dengan Lin Jiang.


Mereka telah lama bersama. Jovan merasa tidak terima begitu saja jika Lin Jiang tiba-tiba memutuskan hubungannya. Dia pun meminta mata-mata di keluarga Tuan Natt untuk memberitahu apa yang terjadi dengan Lin Jiang di sana.


[Tuan, kami mendengar jika Nona Lin Jiang sebentar lagi akan menikah. Pernikahannya akan digelar tiga hari sebelum pernikahan Nona terakhir, Nona Lin Aurora.] -, pesan dari orang yang di suruh Jovan untuk menjadi mata-mata di sana.


[Kabari jika ada perkembangan lainnya.]


[Baik, Tuan]


Seketika, selera makan Jovan hilang. "Aku akan makan di kamarku saja. Aku akan pesan kamar sekarang. Chen, aku pakai kartumu dulu, ya. Permisi__" tanpa mendengar izin dari Chen, Jovan langsung pergi.


Chen dan Lin Aurora saling menatap. Mereka saling bertanya dengan mengangkat kepalanya. Kemudian bersama menjawab dengan gelengan kepala. Lalu, mereka pun melanjutkan makannya lagi.


Setelah kenyang, Chen baru teringat jika Jovan sedang patah hati karena cintanya kandas. Dia pun menanyakan hal itu kepada Lin Aurora mengenai kakaknya.


"Apa kau tau, apa yang terjadi pada kakakmu? Aku rasa, ada yang tidak beres dengannya. Dia memutuskan hubungan mereka secara tiba-tiba. Padahal, hubungan mereka sudah terbangun cukup lama,"


Lin Aurora menunduk. "Sebenarnya aku juga tidak tahu. Kau sendiri yang melarangku untuk tidak lagi berhubungan dengan keluargaku," jawabnya dengan lirih.


"Serius kamu mematuhi perkataanku?" tanya Chen heran.


Lin Aurora mengangguk.


"Sama sekali tidak pernah berkabar?" tanya Chen kembali.


Kembali Lin Aurora hanya mengangguk.


"Kenapa?" lanjut Chen.


"Karena sejatinya, wanita yang sudah menikah itu surganya ada pada suaminya. Jika aku saja sulit mencari ridhomu karena kau selalu menjauhiku, ya hanya dengan mematuhi perkataanmu untuk aku mendapatkan ridho itu. Lagipula, aku juga tidak akan berdosa jika tidak bertemu dengan mereka," jawab dan jelas Lin Aurora.


Chen menjadi lemas. Dia tidak menyangka jika istrinya benar-benar mematuhi aturannya, tapi malah membohonginya dengan pergi bersama pria lain dan tidak jujur padanya. "Kalau kata Gwen, minta di sleding ini orang. Bisa-bisanya dia pergi bersama dengan pria lain. Bhazhingan itu, akan aku beri pelajaran nantinya!" umpat Chen dalam hati.