
"Hey, mana permintaan maafmu! Kau yang menyebabkan kerusuhan ini, bukan?" sulut Gwen.
"Permintaan maaf apa? Untuk apa? Apakah aku berbuat salah? Tidak, 'kan?" sulit Xia.
"Waanjer, lu--"
"Gwen, apa sih? Bahasanya di jaga ngapa!" seru Aisyah sebelum Gwen mengumpat lebih buruk.
Aisyah menyentil kepada Xia dengan sedikit keras. Sehingga membuat Xia hampir saja terjatuh. Gwen tertawa melihat pertahan Xia yang buruk.
"Haha, di sentil gitu aja udah tumbang dia, Kak," tawa mengejek Gwen membuat Xia emosi.
"Kalian bisa tidak bicara pakai bahasa yang aku pahami! Misalnya Inggris gitu, kenapa sih kalian ini kampungan sekali!" hina Xia.
Aisyah yang biasanya bisa mengayomi anak-anak hingga remaja, kini malah seperti anak kecil yang sedang berebutan permen dengan Xia.
"Asal kalian tau, Kak Chen hanya milikku! Kalian ini siapa? Datang-datang main ambil saja kakakku!" seru Xia dengan nada tinggi.
"Astaghfirullah hal'adzim, nadanya sampai di do paling tinggi. Kenapa harus berteriak, sih?" sahut Aisyah. "Dia kakak kami, aku dan Gwen adalah adik kandungnya, kau siapa bakpao?" lanjut Aisyah.
"Kau panggil aku apa? Bakpao? Dasar cumi goreng, aku tidak akan pernah mengampunimu!" teriak Xia.
Gwen menyumpal mulut Xia menggunakan sawi putih yang ada di mejanya. Xia semakin kesal dan mengatakan jika dirinya yang berhak memiliki Chen.
"Aku telah bersamanya selama 13 tahun. Lantas, selama itu kalian dimana? Adakah bersama dirinya? Kak Chen hanya milikku!" dengus Xia.
"Berisik!" Aisyah menyumpal mulut Xia menggunakan sosis kali ini. Aisyah sudah sangat geram dengan sifat Xia yang menunjukkan tak memiliki etika yang baik.
"Dengar, ya. Kami adalah adik kandungnya. Kami telah bersama dari berenang menuju sel telur, lalu terbentuk menjadi embrio dan sela 9 bulan tumbuh menjelajahi dunia mimpi bertiga," tegas Aisyah.
"Iya, dan kami dengar … Selama 13 tahun terakhir, Kak Chen tinggal di Amerika. Kau siapanya kalau begitu? Anak haram!" kesal Gwen.
Aisyah langsung mencubit Gwen ketika sang adik menyebut Xia anak haram. Mungkin dalam dunia hitam dan di Tiongkok, anak haram bukanlah hal yang buruk di sebut. Namun, bagi Aisyah dan agamanya, tak baik jika menyebut seseorang dengan sebutan anak haram.
"Hey, tidak baik kalau nyebut dia begitu. Tak ada anak di dunia ini dengan status begitu. Etika harus di jaga, oke?" tegur Aisyah.
"Heleh, iya deh!" seru Gwen menurut.
"Hey, Kak Chen itu hanya milik kami. Kamu dan Kak Chen hanya memiliki marga yang sama, tapi tak ada ikatan saudara diantara kalian. Kamu harusnya jangan bermimpi mendapatkan kasih sayang darinya," ketus Aisyah.
"Hey!" teriak Xia berdiri dan menggebrak meja.
Aisyah dan Gwen melipat tangannya, menatap Xia dengan tatapan sinis. Keduanya seperti anak kecil mempertahankan kedudukannya sebagai adiknya Chen. Sampai Xia mengambil bir yang ada meja orang lain dan menuangkannya di baju Aisyah. Beruntung Chen datang dan segera menyeret lengan Xia membawanya keluar.
"Kakak, kenapa kau menyakitiku? Aku ini adalah adikmu, kenapa kau membela mereka yang baru saja kau kenal?" Xia terus saja meronta, berharap jika Chen akan membelanya.
Namun, apa yang Xia dapat. Sebuah tamparan keras dari Chen. Bukan bermaksud kasar kepada perempuan, hal itu Chen lakukan agar Xia terdidik dengan baik. Gadis 13 tahun tidak semestinya berbuat seperti itu.
"Kenapa kakak menamparku?" tanya Xia mulai menangis.
Aisyah dan Gwen keluar dari restoran dan melerai keduanya. Aisyah dan Gwen hanya ingin menggoda Xia saja, tak menyangka jika Xia akan berbuat lebih jauh dengan keburukannya.
"Kak, sudahlah. Jangan seperti ini, kami hanya menggodanya saja," Aisyah menggenggam tangan Chen.
"Kami hanya bercanda dengannya. Tak kusangka dia akan berbuat seperti itu," sahut Gwen.
"Kalian puas? Kakakku belum pernah menamparku, dan dia menamparku karena kalian. Aku akan mengadukan ini kepada Ayah!" Xia menangis dan berlari memanggil taksi.
"Kak, kamu terlalu posesif dengan kami," ucap Aisyah meredam amarah sang kakak.
"Bedakan antara posesif dan protektif Aisyah. Aku hanya bisa mempertaruhkan nyawa untuk kalian daripada Xia. Ayo, masuk dan kita nikmati makan malam kita." Chen berubah menjadi dingin kembali, aura diwajahnya juga berubah seketika menjadi masam.
"Sudahlah, kita ikuti saja alur yang ada." bisik Gwen.
Suasana kembali hangat ketika semuanya menikmati makanan. Raza juga membahas dirinya yang mungkin untuk terakhir kalinya ikut berkumpul bersama mereka. Ia akan pergi ke luar negri membawa sang Ibu karena baginya sudah tak aman lagi tinggal di Kota yang sama dengan Gwen dan Aisyah.
"Kenapa? Apa kau memiliki masalah, Tuan pembimbing?" tanya Chen.
"Ini hanya masalah keluarga, Tuan Chen. Saya hanya berharap, jika kita bertemu dijalan … kita tetap akan saling menyapa layaknya keluarga." ucap Raza.
_
Sesampainya di rumah, Tuan Wang rupanya telah menunggu triplets dan juga Raza. Tuan Wang memasang wajah yang tidak mengenakkan hati. Membuat Aisyah dan Gwen berpikir jika Tuan Wang memarahi mereka atau kakaknya. Namun ternyata, semuanya lain dengan apa yang mereka pikirkan.
"Anak-anakku, kalian dari mana saja?" tanya Tuan Wang dengan nada dingin. Di sana juga ada Nyonya pertama dan Nyonya kedua, serta Xia juga berada di sana.
Xia sendiri sudah siap tersenyum sinis, berharap jika Aisyah dan Gwen akan di usir dari rumah itu juga. Namun, dugaan Xia salah besar. Tuan Wang begitu menyayangi Chen, sehingga beliau pun juga akan menyayangi kedua saudari kembarnya.
"Kalian duduk dulu, Ayah akan bertanya sesuatu," perintah Tuan Wang.
Semuanya duduk dan mulai mendengar apa yang hendak Tuan Wang katakan. "Chen, dimana kau menampar Xia?" tanya Tuan Wang.
"Di kedua pipinya," jawab Chen jujur.
"Apa alasannya?" lanjut Tuan Wang.
"Gadis ini hendak menyiram bir di pakaian adikku," jawab Chen dengan tatapan menusuk lagi kepada Xia.
"Aisyah, apakah bir itu haram bagimu?" tanya Tuan Wang.
"Menjawab Tuan Wang. Bir itu tidak haram, tapi memang saya tidak suka dengan jenis minuman itu ... apa lagi sampai mengenai pakaian saya. Itu tidak sah untuk dipakai salat, atau bisa disebut dengan sembahyang." jawab Aisyah.
Tuan Wang sebenarnya sudah mengetahui jika Xia juga berniat mencelakai Aisyah dengan kuah panas. Beliau berdiri dan segera memanggil Xia untuk mendekat, "Xia, kemarilah!" panggilnya.
"Iya, Ayah." lirih Xia.
Xia berjalan perlahan mendekati Tuan Wang. Dalam hitungan detik, Xia diberi hadiah satu tamparan keras dari tangan Tuan Wang hingga dirinya terjatuh.
"Tuan, apa yang anda lakukan! Dia adalah putrimu!" teriak Cindy mendekati Xia. "Nak, kamu tidak apa-apa?"
"Tuan, Xia adalah putrimu. Chen sudah menghukumnya, kenapa anda juga ikut menghukumnya? Aku tidak terima!" protes Cindy.
Tuan Wang tertawa mendengar Xia disebut sebagai putrinya. Sekali lagi, Tuan Wang menegakkan bahwa Xia bukanlah putrinya, melainkan putri dari adiknya, yang saat entah ada di mana.
"Xia, bukanlah putriku! Saat ini, aku hanya memiliki dua putri. Yakni, Aisyah dan Nona Lim. Jadi, sebaiknya kau ajari putrimu itu sopan santun, Cindy!" tegas Tuan Wang pergi meninggalkan ruangan itu.
"Noh, mamam tuh! Ngadi-ngadi, sih!" seru Aisyah dalam hati.
"Hoh, kalau saja aku sedang tidak bahagia, sudah kulenyapkan nih bocil kampret." umpat Gwen dalam hati.
Malam itu semakin menegangkan ketika Cindy terus mengancam Aisyah dan juga Gwen di rumah itu. Meski kedua gadis kembar ini tak pernah menghiraukannya, tetap saja Cindy terus berusaha menabur racun di hubungan keduanya.