
Paginya, Chen sudah bersiap ingin mengajak Aisyah jalan-jalan sebentar keliling desa sembari membicarakan tentang datangnya Asisten Dishi siang nanti.
"Pagi Ai, kamu sudah siap?" sambut Chen.
Aisyah mengangguk semangat. "Mau sarapan dulu? Biar aku membuatkan sesuatu untukmu," Chen sangat menginginkan Aisyah cepat sembuh.
"Tidak, kita beli bubur saja dan di makan di bawah pohon besar di taman desa, bagaimana?" usul Aisyah.
"Ikut!" sorak Gwen.
"Ya sudahlah, ayo segera berangkat. Sebelum matahari mulai terik. Ayo Gwen, pakai penutup kepalamu," tegur Chen.
"Hijab, kak. Tapi aku pakai hoodie aja, biar estentik!" jawab Gwen dengan mengangkat kedua jempolnya.
Mereka bertiga keluar bertiga. Bahagianya Rebecca ketiga anaknya sudah bersama kembali, meski itu sudah sangat terlambat. Jalan-jalan pagi itu, Chen berada di tengah, dan di apit kedua saudarinya. Bercanda bersama, dan saling melontarkan candaan yang membuat mereka bahagia bersama.
"Eh, Kak Chen," panggil Aisyah.
"Hm?"
"Istri seperti apa idamanmu?" tanya Aisyah.
"Iya, istri seperti apa idamanmu?" sahut Gwen ikut penasaran.
Chen terdiam, kemudian mengajak kedua saudarinya duduk di pinggiran jalan yang terdapat pohon besar di sana. Chen menghela nafas panjang, meraih tangan kedua saudarinya seraya berkata, "Istri idamanku seperti kalian. Rendah hatinya, lembutnya dan juga tutur katanya seperti Aisyah. Lalu, memiliki keberanian, ceria juga menyenangkan seperti Gwen."
"Apakah ada yang seperti itu?" tanya Gwen. "Yang kau sebutkan itu sifat dua orang. Bagaimana kau dapat menemukan sifat seperti itu dalam 1 orang, Kak Chen?" imbuhnya.
"Jika seperti itu … aku tidak akan menikah. Masa tuaku akan aku habiskan bersama anak-anak kalian nantinya, bagaimana?" celetuk Chen.
"Aku tidak setuju. Selamanya kami tidak bisa bersama denganmu, kak. Aku yakin wanita idaman kakak itu pasti ada, kok. Tinggal kak Chen saja yang perlu memperbaiki diri, bisa?"
Ucapan Aisyah sangat menyentuh palung hati sang Mafia muda itu. Ia tertampar dengan perkataan saudarinya yang tak bisa selamanya disampingnya. Disadarkan juga bahwa satu diantara kedua saudarinya akan segera menjadi milik pria lain.
"Aku tidak ingin kebersamaan ini cepat pudar. Jadi, sebelum Gwen menikah … aku ingin kita bertiga menghabiskan waktu bersama, bagaimana?" usul Chen.
Chen sangat berharap jika ia mampu menebus waktu 22 tahunnya terpisah dengan keluarga kandungnya. Meski waktu senggang yang ia miliki sangat sedikit, namun ia tak ingin waktu berharga itu terbuang sia-sia.
Gambaran masa lalu terulang lagi. Persaudaraan Aisyah, Akbar, Syakir dan juga Kabir pada masanya. Lalu, persaudaraan antara Yusuf, Hamdan dan juga Falih. Meski Chen tak tumbuh besar bersama kedua saudarinya, kasihnya begitu tulus kepada meraka.
Siang hari, Chen dan Gwen menemani Aisyah melakukan pemeriksaan. Kesehatan Aisyah sudah semakin membaik. Hanya saja, ingatannya masih belum pulih dengan sempurna. Saat mereka berjalan di lorong rumah sakit, tepat di depan ruangan dokter anak, langkah Aisyah terhenti. Ia menatap papan nama itu dengan hati yang berdesir.
"Ada apa?" tanya Gwen. "Apa ada yang sakit?" imbuh Chen.
"Tidak,aku hanya teringat sesuatu," jawab Aisyah.
"Apa itu? Apakah tentangku?" harap Chen.
"Bukan," Aisyah melanjutkan langkahnya.
Sesampainya di rumah, Aisyah meminta saudari dan saudaranya untuk membiarkannya sendirian di kamar. Rebecca menanyakan mengapa Aisyah terlihat lesu dan sedih. Chen dan Gwen menjawab, jika mereka juga tidka tahu, sebab Aisyah sudah begitu sejak keluar dari ruangan dokter.
Chen berpamitan untuk ke rumah Adam sebentar. Sementara Gwen masih ada hal yang harus diurus sebelum pernikahan diadakan. Ia hendak mengurus beberapa surat untuk mengurus surat syarat nikahnya.
Di kamar, Aisyah membuka semua album fotonya, membaca semua arsip yang ia miliki saat menempuh pendidikan. Berharap ada hal yang ia ingat di kala dirinya menjadi dokter dan juga kenangan lainnya. Alhasil, ia malah merasakan sakit di kepalanya dan menangis sendirinya. Merasa kesal karena tak bisa mengingat apapun kejadian beberapa bulan terakhir dan juga kehilangan kecerdasannya.
"Kak," suara lembut memanggilnya. Rebecca hancur hatinya melihat putrinya dengan keadaan seperti itu.
"Ibu ...."
"Jadi, aku dan Gwen itu, bicaranya lebih dulu Gwen? Dan Gwen sudah bisa membaca dengan lancar pas masuk sekolah dasar?" tanya Aisyah.
"Iya, meskipun Ibu tidak melihat bayi perempuan Ibu belajar membaca, namun semuanya Ibu mengetahui dari Ayahmu. Kamu sangat cerdas dan itu semua karena gen keluarga Ayahmu cerdas-cerdas, Nak. Jadi, jangan berkecil hati jika saat ini kamu masih belum mengingat pencapaianmu selama ini, hm?"
Aisyah terdiam, memeluk Ibunya kembali. Berharap jika ada seseorang yang mampu membuat ingatannya kembali pulih. Ketika mereka sedang asyik bercengkrama, sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah. Rebecca dan Aisyah penasaran siapa yang datang mengendarai taksi itu.
"Siapa, Bu?" tanya Aisyah.
"Ibu juga tidak tau. Belum turun juga penumpangnya," jawab Rebecca mengintip dari balik jendela.
Tak diduga, tamu itu adalah Asisten Dishi. Ia datang setelah hampir satu minggu kembali ke Tiongkok. Apalagi, ia juga kembali tepat dimana Aisyah sedang melakukan penanganan di rumah sakit usai kecelakaan malam itu. Asisten Dishi juga sudah mendengar kabar kondisi Aisyah dari Chen tentunya.
"Asisten Dishi?" gumam Aisyah.
"Kamu mengingatnya?" tanya Rebecca heran.
"Salam Nyonya, salam dokter Aisyah," sapa Asisten Dishi dengan senyumannya.
Rebecca menyambut kedatangan Asisten Dishi dengan baik. Dan di saat bersamaan, Raza juga datang. Dia tak sempat menjenguk Aisyah karena sibuk dengan pekerjaannya yang harus bolak balik luar negri. "Assallamu'alaikum, Bu Ali, Aisyah," salamnya
"Pak Raza dan Dishi bisa memanggil saya dengan sebutan Ibu juga. Kalian kan sudah seperti keluarga sendiri. Jadi jangan sungkan, ya. Mari masuk!" sanggah Rebecca.
Keduanya duduk juga bersamaan, membuat Aisyah bingung sendiri. Ia juga duduk dan menatap Raza dan Asisten Dishi secara bergantian.
"Mas ini siapa, ya?" tanya Aisyah.
"Hah?" ucap Asisten Dishi dan Rasa bersamaan, mereka juga saling menatap satu sama lain.
"Bukan kamu, aku tau kamu Asisten Dishi, Asisten pribadinya Kak Chen. Tapi, Mas yang ini siapa, gitu?" tunjuk Aisyah dengan sopan.
"Dokter Aisyah tidak ingat dengan saya? Apa kecelakaan yang begitu parah?" Raza mulai bingung.
Asisten Dishi menjelaskan kondisi Aisyah saat itu. Raza merasa sedih mendengarnya. Saat ini, orang lain yang diingatnya hanya Asisten Dishi. Dimana orang yang selalu membuat Aisyah menjadi dirinya sendiri, membuatnya tertawa menikmati hidup. Semua itu karena ketulusan Asisten Dishi kepadanya. Mampu menanam kebaikan yang selalu diingat oleh Aisyah.
Keluarga juga tulus, itu sebabnya Aisyah tetap mengingatnya. Namun, dengan Chen? Aisyah ingat jika Chen adalah kakak kandungnya yang hilang. Akan tetapi, ia tak ingat kenangan yang telah ia habiskan bersama sewaktu di Bangkok dan juga Tiongkok beberapa waktu lalu.
Apakah Asisten Dishi yang dimaksud oleh Aisyah yang mampu membuat ingatannya pulih, atau Raza yang selalu memperlakukannya dengan lembut?