Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Perdebatan Lucu Chen dan Pak Darwin



"Kamu masuk Islam karena apa? Apa karena putriku yang cantik manis ini?" tanya Abi Darwin dengan ketus. 


"Hilih, siapa bilang? Saya masuk islam ya karena saya terlahir islam dari keluarga kedua orang tua saya yang islam. Nggak usah sok yes deh!" tepis Chen memutar pandangan matanya. 


Puspa dan Abi Darwin terheran-heran dengan jawaban yang Chen katakan. Bagaikan tidak, Chen juga tidak meninggalkan wajah angkuhnya saat menjawab pertanyaan dari Abi Darwin.


"Jadi, kapan kamu mau mengucap syahadat?" tanya Abi Darwin lagi. 


"Oh, maunya kapan? Sekarang? Ayolah!"


Kembali, Abi Darwin dan Puspa dibuat terdiam dengan sikap Chen. Abi Darwin merasa, jika Chen memang orang yang baik, hanya saja memiliki adab yang kurang baik kala bicara dengan orang tua. 


"Apa karena dia … Ah sudahlah, aku berpikir terlalu banyak. Dia masih butuh bimbingan, dalam segi lain, dia oke!" gumam Abi Darwin dalam hati. 


Ketika Abi Darwin sedang membicarakan banyak hal, Chen mendapat telpon dari Asisten Dishi. Segera ia menghentikan Abi Darwin bicara dan keluar menerima telpon tersebut. "Maaf, saya harus mengangkat telpon ini, permisi." 


"Nduk, kamu yakin mau menikah dengan dia?" tanya Abi Darwin kepada putrinya. 


Puspa menatap Chen, lalu mengangguk dengan sedikit ragu. "Jika masih ragu, bagaimana jika kamu juga dekat dengan Mas Ijal?" usul Abi Darwin. 


"Nggak!" tolak Puspa. 


"Aku nggak mau memberi harapan palsu kepada seorang lelaki, Bi. Ngeri tau!" jawab Puspa.


"Heleh, ngomong saja kalau kamu sudah ada perasaan sama anaknya Mas Yusuf. Iya, 'kan? Nggak usah ngeles karena itu terlihat dari matamu. Berbinar-binar saat melihat Chen, dosa tau!" tegur Abi Darwin. 


Puspa hanya tersenyum dengan manja kepada Abi-nya. Sejak kecil memang Abi Darwin sendiri yang merawat Puspa. Membawanya kesana kemari ketika bekerja, sama hal nya Yusuf saat membawa Aisyah kemana ia pergi. Itu mengapa Aisyah dan Puspa sudah layaknya seperti saudara, memanggil masing-masing Ayahnya dengan sebutan yang sama. 


"Jika kamu benar mau menikah dengan dia … Abi setuju saja. Mungkin latar belakang dari Chen ini Abi belum tahu betul. Tapi dia anaknya Ayah Yusuf-mu. Abi yakin, sikapnya akan sama dengan kedua orang tua kandungnya," tutur Abi Darwin. 


"Tapi, biarlah Abi main-main dulu dengannya, bagaimana?" imbuh Abi Darwin.


"Jangan usil deh--"


Di sisi luar, Chen sedang sibuk menerima telpon dari Asisten Dishi. Ada info penting yang Asisten Dishi katakan. Asisten Dishi mendapat informasi jika Cindy selalu ibu angkat Chen masih ada di sekitar Kota di Amerika. 


"Dia ada di sana? Lalu, dimana doa tinggal?" tanya Chen. 


"Beliau tentu saja tinggal bersama Tuan Jackson Lim. Mungkin ada sesuatu yang mereka rencanakan, Tuan. Itu dugaan saya karena ada informasi lagi yang buruk bagi kita," 


"Apa itu?" tanya Chen. 


"Ibunya Ilkay masih hidup. Dia ada dibawah kendali Nyonya Pertama dan memalsukan kematiannya, agar bisa membeli identitas baru," 


"Apa?" Chen menyeritkan dahinya. "Kamu ngomong apa, Asisten Dishi? Apa yang kamu katakan ini  … Kamu sedang tidak mabuk, 'kan?" Chen masih tidak percaya jika Ibunya Ilkay masih hidup. 


"Iya saya bicara sesuai fakta, Tuan. Ibunya Ilkay mengganti namanya menjadi Christine. Usianya lebih muda dua tahun dari usia aslinya, dia baru saja lulus dari fakultas seni," terang Asisten Dishi. 


"Baik, kau perintahkan bagian sisi kiri untuk menyelidiki wanita itu. Aku tidak akan mengampuni dirinya, jika dia ada niat merebut Ilkay," perintah Chen. 


"Tuan tenang saja. Ilkay juga adalah putra saya, saya tidak akan pernah membiarkan Ibu kandungnya memanfaatkan Ilkay untuk mengacaukan kita semua. Saya sendiri yang akan turun tangan dalam masalah ini, Tuan!" Asisten Dishi menutup telponnya. 


Chen sangat berterima kasih karena Asisten Dishi tulus menganggap Ilkay seperti anaknya sendiri. Tak lama setelah Chen mengakhiri telponnya, Puspa datang mengajaknya untuk makan bersama Abi Darwin yang sudah lama menunggu di dalam. 


"Sudah aku katakan berhenti memanggilku dengan sebutan itu! Apa kau sudah pikun, hah?" kesal Chen. 


"Lah, kok ngamok? Ya maaf, lupa aku--" 


"… ayolah, Abi sudah menunggu di dalam," ajak Puspa. 


Chen melangkah lebih dulu masuk ke rumah. Baru dua langkah, langkahnya terhenti karena ada sesuatu yang ingin ia ungkapkan kepada Puspa. "Ada apa? Kenapa berhenti?" tanya Puspa. 


Chen menoleh. "Apa kamu sangat lapar?" tanya Chen kembali. 


"Um, tidak terlalu. Tapi orang yang ada di dalam terus saja mengomel karena cacing di perutnya sudah demo," jawab Puspa. 


"Haih sudahlah. Kita temani Ayahmu makan dulu. Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu dan ini sangat penting," ujar Chen dengan berbisik. 


Puspa mengangguk-angguk. "Baiklah, mari masuk!" 


Makanan yang dihidangkan oleh Puspa dan Abi Darwin membuat Chen merindukan orang tuanya serta Aisyah yang kini sudah ada di luar negri. Ia sangat menikmati makanan yang di masak Abi Darwin dengan santai. 


"Masakanku memang lezat. Jika kamu mau nambah, jangan sungkan. Ambilah sebanyak kamu mau sampai perutmu kenyang!" seru Abi Darwin menawarkan sayur krecek kesukaan Puspa. 


"Aku tidak bertanya," ketus Chen. 


"Allahu, setidaknya aku hanya menebak dari raut wajahmu yang terlihat begitu nikmat makan masakanku, bocah!" Abi Darwin tidak mau kalah. 


"Haduh, susah sekali ngomong dengan orang tua. Iya, makanan Anda lezat sekali, puas?" sulut Chen. 


"Jika putriku tidak menyukai dirimu, aku sudah menukammu sejak kamu masuk ke rumah tadi," desis Abi Darwin. 


"Jika saya tidak mencintai putri Anda … saya sudah membuat Anda menyusul Ayah saya ke Australia dan menjadikan Anda sebagai pelayannya, mau?" sahut Chen tidak mau kalah. 


Alhasil, mereka bertengkar dengan bahasa Abi Darwin yang tak mau mengalah dan juga balasan Chen yang terkesan angkuh dan sombong. Namun, keduanya masih sibuk mengunyah. Membuat Puspa kesal di buatnya. 


"Diam!" teriak Puspa menggebrak meja. Tentu saja menggebrak meja, tidak mungkin Puspa sampai smackdown Abi dan juga pria yang mulai ia sukainya. Yang ada malah Chen takut padanya. 


Abi Darwin dan Chen seketika diam sembari menatap Puspa dengan seolah keluar tanduk di kepalanya. 


"Tak bisakah Abi tidak mengkritik Chen terus?" kesal Puspa. 


"Benar!" sahut Chen semangat karena mendapat pembelaan. 


"Kamu juga! Bisakah kamu bicara dengan sedikit lembut kepada Abi-ku?" sulut Puspa menunjuk Chen. 


"Nah!" sahut Abi Darwin merasa puas. 


"Abi! Chen! Bisakah kalian bersikap sewajarnya orang dewasa? Kenapa sejak kalian bertemu, saling beradu mulut seperti Gwen dan Bibi Airy saja? Kesal deh!" 


Puspa pergi meninggalkan meja. Abi Darwin pikir, putrinya marah dan berhenti makan, rupanya Puspa kembali lagi membawa dua kerupuk dan air putih untuk dua pria yang terus berdebat itu. 


"Jangan menyentuh sayur dan lauk ini. Semuanya milikku! Sebagai hukuman, siang ini jatah makan kalian hanya dengan kerupuk, kuah dan minum air putih. No protes, No negosiasi!" tegas Puspa. 


Awalnya, Chen ragu untuk makan dengan kerupuk. Sebab, dirinya jarang sekali hanya makan nasi dengan kerupuk. Namun, demi Puspa, Chen mau memakannya dengan tatapan sinis kepada Abi Darwin. Begitu juga dengan Abi Darwin yang terlihat masih memilki dendam kepada calon menantu tampannya itu.