
"Jadi ingatannya ada yang hilang? Tidak apa-apa, Dokter. Kita bisa membantumu mengingat beberapa ingatan yang hilang itu,"
"Oh, terima kasih. Tapi panggil saja Aisyah atau Ai. Aku bukan dokter lagi soalnya, hm?" celetuk Aisyah.
Asisten Dishi dan Raza sedih mendengar kenyataan Aisyah tak lagi menjadi dokter. Seperti yang mereka ketahui, bahwa itu adalah cita-cita yang Aisyah dambakan sejak kecil.
"Oh, iya. Aku baru ingat, Mas ini kan … entah deh, lupa lagi akunya,"
Tak ingin membuat Aisyah sedih, Asisten Dishi dan Raza tertawa. Mereka berdua, perlahan menjelaskan ingatan Aisyah yang hilang itu. Mendengar dari ruang tengah, Rebecca memiliki solusi yang bagus untuk memulihkan ingatan Aisyah dengan cepat.
"Aku harus bicara dengan Ayahnya Aisyah dan juga Chen," gumam Rebecca pasti.
3 jam lebih Aisyah ditemani dengan dua pria itu bercanda bersama. Banyak hal yang mulai Aisyah ingat meski tidak detail. Namun, Aisyah mampu mengingat Chen ketika di Bangkok berkat Asisten Dishi dan juga Raza.
"Baiklah kalau begitu, bagaimana kalau kita berangkat ke Tiongkok kapan-kapan? Ingin rasanya aku pergi ke rumah singgah itu," kelakar Aisyah.
Ucapan Aisyah itu kembali membuat Asisten Dishi dan juga Raza tertawa. Bukan mengolok, tapi bagaimana mungkin Aisyah mengingatkan kisah kecil itu dibandingkan dengan pengorbanannya tertembak dua kali ketika di Bangkok.
"Kenapa kalian tertawa? Ada yang lucu? Lagi pula, kita kan akan berangkat bertiga aja," imbuh Aisyah masih berharap kedua pria itu menyetujui keinginannya.
"Bertiga aja? Kenapa?" tanya Raza.
"Iya kita kamu nggak boleh berdua-duaan. Tentunya kita bertiga, dong. Kalian kan teman aku, bukan begitu?" ungkap Aisyah dengan wajah sumringah.
"Teman?" kata Asisten Dishi dan Raza bersamaan.
Aisyah mengangguk dengan senyum manisnya. Sementara Asisten Dishi dan juga Raza saling memandang dengan tatapan kecewa. Rebecca tertawa sendiri mendengar kenyataan yang lucu itu.
"Kukira lebih dari itu," gumam Asisten Dishi menggunakan bahasa Mandarin.
"Gimana?" tanya Aisyah.
"Ah tidak, hanya saja … Aku mulai belajar bahasa Indonesia dengan benar. Agar aku bisa berkomunikasi dengan baik nantinya, itu aja, hehe …." jelas Asisten Dishi.
Mereka bertiga seru sendiri sampai akhirnya Gwen pulang bersamaan dengan Chen. Melihat ada Asisten Dishi dan juga Raza di ruang tamu, Gwen dan Chen ikut bergabung duduk di sana.
"Ada apa ini? Siapa kalian?" catus Chen duduk di samping Aisyah.
"Tuan, saya datang ke sini membawa beberapa berkas dari kantor. Ada berkas yang harus Tuan tanda tangan," Asisten Dishi menyerahkan tas hitamnya yang ia jinjing sedari tadi. (Padahal juga duduk, tuh tas masih aja dipegang)
Setelah menggoda Chen yang cemburu dengan Asisten Dishi, Aisyah berbalik menggoda Gwen yang sebentar lagi hendak menikah. Semua orang juga ikut bahagia dengan pernikahannya, namun tidak dengan Chen yang sedari tadi memasang wajah muramnya.
Sejatinya, Chen memang belum setuju jika Gwen menikah dahulu. Baginya, itu terlalu terburu-buru karena dirinya masih ingin menghabiskan waktu bersama dengan kedua saudarinya.
Malam telah tiba, Yusuf, Rebecca dan juga Chen sedang berbincang di teras rumah. Sementara Asisten Dishi sedang menemani Gwen dan Aisyah bermain game di ruang tengah. Rebecca meluruskan niatnya untuk menyerahkan penyembuhan ingatan Aisyah kepada Asisten Dishi dan juga Raza.
"Apa? Tidak, Bu!" Chen menolak usulan Ibunya mentah-mentah. "Aku dan Ayah ada di sini, kenapa harus orang lain yang mengurus Aisyah?" kesalnya.
"Chen, duduk dulu. Kita dengarkan alasan Ibumu, mengapa dia mau Asisten Dishi dan Pak Raza yang mengambil alih mengatasi Aisyah, duduk dulu, ya …,"
Dengan pipi yang menggebu, Chen duduk dengan memalingkan wajahnya. Persis seperti anak kecil yang tengah marah tidak dibelikan mainan oleh Ibunya.
"Ibu melihat dari siang tadi, Aisyah banyak sekali mengingat semua yang sempat iya lupakan, termasuk pertemuannya denganmu ketika di Bangkok sekitar empat bulan lalu," ungkap Rebecca.
"Benarkah, itu … lalu, apa lagi yang Aisyah ingat, Bu?" Chen mulai tidak sabar.
"Sebaiknya, hal itu kamu tanyakan saja padanya. Tapi, Ibu tetap ingin Asisten Dishi dan Pak Raza yang membantu Aisyah!" tegas Rebecca.
"Tidak! Aku cemburu! Aisyah adikku, kenapa juga harus mereka berdua yang merawat adikku! Adik-adikku hanya milikku, mereka juga tak harus menikah dan dimiliki pria lain!" Chen sampai menggebrak meja, membuat Yusuf dan Rebecca terdiam.
Kemudian, Chen pergi begitu saja. Ia berjalan menuju gang depan. Yusuf dan Rebecca tak dapat menahan langkah putranya itu. Bagaimanapun juga, Chen tak salah jika dirinya marah dengan usul Ibunya.
"Kita tidak merawatnya dari kecil, Bu. Jadi kita belum tahu sifat yang sebenarnya anak itu," celetuk Yusuf.
"Sepertinya, aku melihat dia seperti kamu yang memiliki sifat keras kepala, ingin menang sendiri dan susah untuk diatur, karena Dia memiliki prinsip sendiri. Sebaiknya, memang kita jangan pernah mengusik hatinya lagi, Bu."
"Sial, lihat saja nanti. Aku akan membuat Asisten Dishi membayar mahal karena telah merebut adikku dariku!"
"Apa dia tidak sadar diri? Aku ini atasannya, kenapa dia berani mendahuluiku?"
"Tunggu, apa mungkin Ai-ku dan Asisten Dishi … ah itu tidak mungkin! Ai-ku tidak mungkin menyukainya, bukan?"
"Sial!"
Umpatan-umpatan itu Chen lontarkan seraya minum soda dingin di jalan. Dilemparnya kaleng bekas soda itu ke udara, hingga berbunyi, "Aduh!"
Langkah Chen terhenti. "Heh, kaleng pun bunyinya, aduh?" gumamnya.
Ia menoleh ke arah kaleng dilempar. Ternyata ada seorang gadis sedang memungut kaleng tersebut. Gadis itu nampak menoleh ke sana-kemari untuk memastikan pemilik dari kaleng tersebut.
Melihat ada Chen saja di sebrang jalan, gadis itu pun berjalan mendekat dengan langkah yang terburu-buru. Wajahnya begitu teduh di pandangan Chen, bahkan langkah kakinya saja seperti tak dengar di telinganya. Namun, langkah kaki itu malah terdengar seperti ketukan ritme dalam lagu cinta.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabbarokatuh, ya akhy?" salam gadis itu dengan tutur sapa yang lembut.
"Wa'alaikumsallam," jawab Chen masih sedikit kaku.
"Ingin bertanya, boleh?" lanjut gadis itu.
Chen mengangguk, memalingkan pandangannya. Berusaha untuk tidak melihat siapa gadis itu. "Apa ini milik Anda?" gadis itu menunjukkan kaleng soda miliknya.
Sementara Chen hanya meliriknya, gadis itu kembali menanyakan pertanyaan yang sama. Chen menatap gadis itu dan membalikkan pertanyaannya.
"Apa aku boleh bertanya?" suara Chen juga terdengar berbeda dari biasanya. Jika biasanya tegas, kali ini, ia malah lembut dan lirih sekali.
"Ya, tafadhol. Kalau saya tau, pasti saya jawab," gadis itu malah berbalik memandang Chen.
Malah Chen sendiri yang jadi salah tingkah. Masih dengan angkuhnya, Chen malah membentak gadis itu dan membalikkan kesalahannya kepada gadis itu.
"Sudahlah! Aku lelah, aku mau pulang. Ambil saja kaleng itu!" seru Chen menggunakan bahasa Mandarin.
"MasyaAllah, apa yang Akhy itu katakan? Yang salah siapa … yang disalahkan siapa. Allahu Akbar."
Gadis itu juga berlalu membawa kaleng soda itu pulang ditangannya. Namun, ketika hendak berbalik, gadis itu menemukan cincin dengan ter-ukirkan bentuk hati, kemudian ada inisal nama di dalam cincin itu.
"AG?"
"Apakah ini inisial namanya?" gumamnya.