
Malam semakin larut, Adam masih berada di rumah Yusuf mengajaknya bicara masalah apa yang menggangu pikirannya. Tentang seorang anak kecil yang memakai gelang dengan liontin yang sama dengan yang ia berikan kepada semua keponakan laki-lakinya.
"Mungkin mirip aja kali, Mas," ucap Yusuf meletakkan teh hangat untuk Adam.
"Ini bukan mirip lagi, Ucup. Aku yang buat, aku yang mengukir setiap detail bentuk di liontin itu. Dan aku hanya membuatkan untuk keponakan lelakiku aja. Mana mungkin ada yang mirip,"
"Bukan itu saja, aku merasa jika anak itu memakai softlens. Diameternya berbeda dengan pupil normal anak-anak. Aku rasa jika anak itu adalah anakmu yang diculik, Cup!" seru Adam yakin.
Yusuf terdiam, ia hanya bertemu dengan putranya ketika mengadzani sana. Itu juga sangat sebentar karena Aisyah dan Gwen lahir, kemudian Rebecca membutuhkannya. Jadi, ia belum tahu persis bagaimana wajah putranya, apalagi ini sudah sembilan tahun berlalu, Yusuf mengira jika wajah putranya pasti akan berubah.
"Cup, aku yakin. Anak itu mencarimu, aku lihat anak itu juga di restoran malam ini. Dia juga bertengkar dengan Aisyah dan Gwen saat kamu manggil tadi," jelas Adam.
"Mas yakin? Aku tidak ingin kecewa lagi, Mas." ujar Yusuf.
Datanglah Aisyah dan Gwen membawakan camilan yang baru saja ia goreng untuk Ayah dan Pak Dhe-nya. Aisyah juga pandai membuat makanan, seperti kue, puding, dan kreasi lainnya. Tapi, ia tidak bisa memasak sayur seperti Yusuf.
"Ayah dan Pak Dhe cerita tentang siapa?" tanya Aisyah.
"Aku dengar, kalian sedang membicarakan Kakak kami ya? Dia dimana? Udah ketemu?" sahut Gwen.
"Hey, anak kecil jangan ikut-ikutan. Ini masalah orang dewasa," tegur Yusuf.
Gwen menunjukan uang yang diberikan Chen kepadanya. Uang itu sangat jelas Yuan, bukan Rupiah. Yusuf pun menanyakan siapa anak lelaki yang memberikannya uang itu.
"Dia anak lelaki yang sejak tadi berdiri di depan restoran, aku rasa memang dia ada hubungannya dengan aku. Sehingga aku mampu memalak dia tanpa melukainya. Andai saja semua orang yang aku palak seperti dia tanpa protes, cepat kaya aku ini--" jawab Gwen mengibaskan uangnya.
"Sok tau kamu! Kita kan baru saja bertemu juga dengannya," timpal Aisyah menepuk bahu Gwen sedikit keras.
"Pundak juga aset berhargaku, sista. Kali ini kau aku maafkan Aisyah, tapi tidak ada kata lain kali. Jika kau ulangi lagi, aku akan meminta ganti lebih kepadamu. Ingat itu!" hardik Gwen.
Aisyah juga menceritakan tentang liontin yang dipakai oleh Chen. Kemudian, Aisyah juga cerita jika anak itu terlihat mirip sekilas dengan Gwen.
"Nggak usah ngelucu, aku mirip sama anak tengil itu? Cih, mimpi! Aku rasa dia anak mafia, karena dia memiliki belati langka seperti milikku dan Mami," celetuk Gwen sambil sibuk menghitung uangnya yang telah ia dapat selama tiga hari di sana sebagai anak kandung Yusuf yang dibawa pergi oleh Rebecca.
"Ayah aku tidak bohong. Sekilas anak lelaki itu memang mirip dengan Gwen. Dia memiliki liontin yang sama dengan Feng dan sepupu lainnya. Percaya kepadaku!" Aisyah ngotot jika dirinya memiliki rasa kepada anak lelaki itu. Yang memang adalah saudara kandungnya.
"Cup, dengarkan? Aisyah saja merasa begitu," ujar Adam.
"Tapi dia anak mafia, aku yakin itu. Dia pasti keturunan dari keluarga Wang. Aku, Paman Chris dan Ayah Willy pernah ke Tiongkok dan di serang oleh Tuan Muda dari keluarga itu, bentuk permata hijau di belatinya aja sama persis dengan belati milik anak lelaki itu."
Meski sibuk dengan uangnya, namun informasi yang diberikan oleh Gwen itu sangat jelas. Beberapa hari lalu, Yue juga mengatakan jika Cindy ada di Tiongkok dan tinggal bersama orang yang penting karena mobilnya di jaga ketat oleh beberapa orang yang berjas hitam dan kaca mata hitam.
"Kalian tau? Ah, mana mungkin kalian tau karena kalian jauh dari kehidupan orang-orang jahat itu. Ada tiga klan atau keluarga yang sangat berkuasa dalam dunia hitam di daerah tempat tinggal Mami di Tiongkok," jelas Gwen.
"Ceritakan saja, Nak. Itu akan menjadi informasi penting supaya kami bisa menemukan kakak kalian berdua," sahut Yusuf.
"Baik, sebelumnya kalian harus membayarku masing-masing 150ribu, dengan begitu aku dengan mudahnya bisa memberikan perbedaan dari tiga klan itu kepada Ayah dan Paman Adam." celetuk Gwen dengan wajah tanpa dosa.
Yusuf dan Adam menepuk keningnya. Aisyah saja sampai geleng-geleng kepala, heran dengan sifat saudarinya yang apapun harus dibayar menggunakan uang sampai tidak melihat situasi.
"Tabunglah! Apa lagi? Masa gitu aja nggak tau, kan aku bisa kaya nanti," jawab Gwen sinis.
"Kamu akan punya segalanya kalau nurut dengan orang tua, Gwen. Uang jajan kamu kan di tarik karena kamu tidak mau nurut sama Mami kamu," sahut Adam.
"Paman, diam! Aku sedang sibuk saat ini. Jika kalian ingin tau informasi, ayo cepat berikan aku masing-masing 150 ribu, setelah itu aku akan cari petunjuk baru tentang anak lelaki tengil tadi!" seru Gwen menyodorkan tangannya.
Gwen memang begitu, apapun dinilai menggunakan uang. Meski orang tuanya semuanya berada, Rebecca tetap tidak memberikan uang jajan karena Gwen tidak mau belajar dengan sungguh-sungguh. Dibandingkan dengan Aisyah yang malah selalu menghasilkan uang sendiri lewat dirinya yang mengajar anak-anak usia dini belajar iqra'.
Gwen malah lebih memilih untuk memalak. Otaknya didik menjadi mafia oleh Chris dan juga Willy. Gwen juga tidak pandai sama sekali tentang pelajaran sekolah. Itu semua karena Rebecca sudah kewalahan dengan tingkahnya jika sekolah di sekolahan. Selama setengah setahun, Rebecca selalu di panggil oleh kepala sekolah sudah sebanyak 177x hanya untuk mengeluhkan kelakuan Gwen di sekolah yang selalu mengganggu teman sekelasnya.
Terpaksa, Yusuf dan Adam memberikan apa yang diingkan Gwen hanya untuk informasi secuil saja darinya.
"Baiklah, terima kasih. Harus tersenyum dan ikhlas, ayo tersenyum!" seru Gwen menerima uang tersebut.
"Astaghfirullah, jika Ayah dan Pak Dhe tidak ikhlas, maka kamu akan berdosa, Gwen," tutur Aisyah.
"Hey, kamu tau apa tentang bisnis? Sudahlah, sebaiknya kamu diam dulu, oke?" jawab Gwen memasukkan uangnya ke dalam dompet.
"Ehem!" Gwen pun mendehem.
"Jadi, tiga keluarga itu adalah, keluarga Wang, yakni keluar anak lelaki tengil itu. Keluarga itu memiliki simbol keluarga yang di tunjukkan di ganggang belatinya dengan permata warna hijau, tanda jika keluarga Wang adalah keluarga yang subur dan makmur,"
"Kedua, keluarga Lim. Yah, Ayah pasti sudah tahu keluarga ini adalah keluarga istrimu. Belati di ujung ganggangnya berwarna kuning cerah. Itu melambangkan keberanian dan kesucian, keluarga Lim paling di takuti sebelum di bubarkan oleh Mami dulu," ekspresi Gwen seketika berubah datar dengan mata di sipitkan.
"Last, keluarga Hao dan keluarga Jiang. Sama-sama pakar racun. Jika keluarga Hao memiliki permata berwana biru muda, keluarga Jiang memiliki permata biru tua. Itu perbedaan belati yang dimiliki setiap keluarga." tukas Gwen mengeluarkan belatinya yang memiliki permata kecil berwarna kuning di ganggangnya.
Plak!
"Aduh!" teriak Gwen.
Aisyah menepuk kening Gwen dan menyita belati milik saudarinya itu. Ia tidak ingin ada orang yang terluka ketika berada di dekat Gwen yang memiliki tempramen buruk.
"Kenapa kamu ambil?" tanya Gwen sewot.
"Sini, biar Ayah yang menyimpannya," pinta Yusuf kepada Aisyah. Dan Aisyah pun memberikan belati tersebut.
"Anak kecil tidak boleh membawa sajam, paham?" sahut Adam dengan senyuman puas.
"Tapi itu jati diriku … ayah ayolah berikan kepadaku, atau--" ucapan Gwen terputus.
"Atau apa?"
"Nak, kamu ini sekarang ikut Ayah. Jadi belati ini tidak berfungsi di sini. Jika kamu tinggal bersama dengan Ayah dan Aisyah di sini, kamu harus mentaati peraturan yang kami buat di rumah ini, paham?" tutur Yusuf dengan lembut.
Gwen hanya diam saja dan menatap yusuf dengan lekat. Ia sangat marah tentunya. Namun, ketika melihat wajah ayahnya yang bisa membuat hatinya damai, ia pun menyetujuinya dan meminta uang per harinya untuk bayaran belatinya selama di sita oleh Yusuf.
Mau tidak mau, demi keselamatan Gwen, Yusuf menyetujui persyaratan dari putrinya yang mata duitan itu. Malam itu, berakhir dengan sebuah rencana Adam untuk pergi menari tahu tentang siapa anak lelaki yang ia temui hari itu.