
"Chen?"
Betapa terkejutnya Lin Aurora, suaminya tiba-tiba menerobos masuk. "Kau di sini?" tanyanya masih gugup.
"Kamu berani menipuku?" desis Chen. "Kau bilang, kau mau menemani temanmu menghabiskan hari untuk ulang tahunnya. Lalu, kenapa kau sampai di sini?" lanjutnya dengan ketus.
"I-itu, aku hanya__"
"Aku tidak--"
Lin Aurora menunduk. Dia bingung hendak memberi alasan lebih lanjut lagi. Sebab, memang dirinya telah melanggar waktu yang di berikan oleh suaminya. Saat tegang-tegangnya, suara pintu di ketuk dan suara pria memanggil nama Lin Aurora.
"Nona Lin, baju yang aku pesan sudah datang. Silahkan kamu berganti pakaian dulu," ucapnya.
Lin Aurora terkejut mendengar suara Tuan Zi yang berada di luar. "Haduh, bagaimana ini? Pasti Chen sangat marah kalau tahu aku perginya dengan pria lain," batinnya.
"Oh, Lin Aurora. Sudah tahu kau ini wanita bersuami. Kenapa kamu juga tidak berpikir panjang sebelum mengiyakan janji?" lanjutnya dengan wajah memelas.
Chen memberi kode mata kepada istrinya untuk membuka pintu dan menjawab ucapan Tuan Zi. Dengan wajah yang serius, Chen pun berdiri di sisi istrinya, memastikan jika Tuan Zi tidak masuk ke kamar.
"Iya, ada apa Kak Zi?" tanya Lin Aurora dengan membuka setengah pintu kamarnya.
"Hoo, Kak Zi? Sungguh akrab sekali," batin Chen cemburu.
"Kamu sedang apa?" Tuan Zi sampai melihat sisi pintu karena di buka hanya separuh saja oleh Lin Aurora.
"Oh, aku sedang menanggalkan pakaianku. Hahaha ternyata basah--" alasan Lin Aurora.
"Maaf jika aku mengganggumu. Ini, aku membawakan pakaian baru untukmu. Semoga kamu tidak masuk angin setelah kehujanan. Setelah ini, mari kita makan bersama," Tuan Zi masih berusaha untuk menarik hati Lin Aurora.
Lin Aurora melirik ke arah suaminya. Wajahnya sudah begitu masam. Sehingga, Lin Aurora tidak mungkin membuat kesalahan lagi. Dia pun menolak ajakan Tuan Zi dan memilih untuk memesan makanan sendiri. Dengan alasan tidak bisa sembarang makan makanan, Lin Aurora pun meminta Tuan Zi untuk tidak kecewa karena penolakan itu.
"Maaf Kakak Zi. Aku bukan bermaksud menolak, hanya saja aku memang tidak bisa sembarangan makan," jelas Lin Aurora. "Dan sepertinya aku lelah, jadi mau langsung tidur saja," lanjutnya dengan wajah menyesal.
"Tidak masalah. Aku paham, kok. Baiklah kalau begitu, selamat istirahat, ya--" Tuan Zi akhirnya pergi.
Setelah memastikan Tuan Zi pergi, Lin Aurora masih belum juga menutup pintunya. Chen yang sudah sangat kesal pun menutup pintu dan menyudutkan tubuh istrinya ke pintu tersebut. Tangan kanan Chen berada di sisi sambung wajah istrinya. Begitu dekat tubuh mereka sampai Lin Aurora saja merasakan jantungnya mulai berdebar hebat.
"Kakak Zi? Oh, sungguh panggilan yang sangat akrab. Kau bisa bersikap manis dengannya, kenapa denganku tidak?" ketus Chen.
"Um, suamiku__"
"Jangan merayuku!" Chen masih saja kesal.
"Ada apa dengannya? Dia sendiri yang ingin di panggil dengan panggilan akrab. Saat aku panggil dengan sebutan suami, kenapa dia marah? Apakah dia baru saja terjatuh dan kepalanya terbentur, ha?" batin Lin Aurora, dia bingung dengan sikap suaminya.
Mereka saling menatap. Masing-masing saling bertanya kepada hati mereka dengan perasaan yang ada saat itu. Lin Aurora memang merasa jika suaminya sedikit demi sedikit berubah lebih protektif kepadanya.
Dahulu, Chen hanya melarang Lin Aurora pulang ke rumah karena jika pulang, dia selalu diperlakukan buruk oleh Ayahnya. Ketika kerja lembur, Chen juga tidak pernah menanyakan sedatail apapun kepadanya.
"Aku lapar, kau buatkan aku makanan sana!" Chen melepaskan tubuh istrinya dan duduk di ranjang.
"Kita mau makan apa? Di sini jauh juga dari toko, bagaimana kita bisa menemukan makanan?" tanya Lin Aurora duduk di sebelah Chen.
"Kalau begitu, aku akan memakanmu saja, bagaimana?" Chen mulai menggoda istrinya.
Chen merangkul istrinya dan menyentuh bahunya. Seketika Lin Aurora yang belum pernah di sentuh oleh Chen, merasa terkejut. Darahnya berdesir setiap pembuluhnya. Jantungnya berdebar hebat kembali.
"Sudah lama kita menikah, tapi kita belum melakukan itu. Berhubung kita di sini, maukah kamu melakukannya denganku?" Chen terus saja menggoda Lin Aurora dengan berbisik ke telinganya. Membuat pipi istrinya memerah karena malu.
"Chen, jangan seperti ini__"
"Kenapa? Kita suami istri, bukan? Kenapa tidak boleh seperti ini?" bisik Chen lagi.
"Aku, a-aku belum siap," jawab Lin Aurora gugup.
"Rileks saja, ikuti arahanku, maka kamu akan menikmati setiap permainan yang aku mainkan," suara Chen seperti menembus jantungnya. Mampu membuat Lin Aurora tak bisa bernapas.
Ketika Chen merebahkan tubuh istrinya, teleponnya berdering. Seketika suasana menjadi berubah. "Hash, sialan. Siapa yang telpon, mengganggu saja!" umpatnya.
Lin Aurora segera bangkit dan mengancingkan kancingnya yang sebelumnya di lepas oleh Chen. Kemudian, dia berpamitan ingin ganti baju terlebih dahulu.
"Ada apa?" tanya Chen ketus kepada Jovan.
"Kau dimana? Aku sudah mendapatkan kontrak dengan agensi itu. Jika ada hal lain, katakan sekarang sebelum aku datang padamu, dan kau memerintahkan ini itu padaku,"
"Bagus, bonusnya akan aku transfer nanti. Kau belikan saja aku bahan makanan. Kau masak di mobil, ada alat masak portabel di sana. Setelah itu, kau antar ke penginapan Xu. Hanya ada satu penginapan di desa ini," perintah Chen.
"Baiklah, aku tutup dulu. Sebelum gelap, aku akan mengantarkan makanannya padamu."
Jovan menutup telponnya. Bukan memperalat sepupunya sendiri. Chen lakukan itu karen Jovan memang bekerja padanya. Selama bekerja, Chen bekerja dengan kecerdasan otaknya, kemudian Jovan menjalankan dengan tenaganya. Mereka juga saling membantu satu sama lain.
Kembali ponsel Chen berdering. Jovan menelponnya kembali. "Ada apa lagi?" tanya Chen dengan ketus.
"Bolehkan aku membeli daging pig dan alkohol? Aku akan memasak di wadah yang berbeda. Tenang saja, aku akan memasak sesuai yang pernah kau ajarkan padaku," Jovan sampai meminta izin.
"Belilah sesuka hatimu dan segera datang kemari," sahut Chen. "Astaga, kau memang baik, Chen. Baiklah, aku akan segera membeli sayuran dulu. Tidak ada daging, dan hanya sayuran untukmu. Akan kubelikan makanan lain jika ada yang boleh dimakan olehmu nanti, Chen!"
Setelah menutup telepon, Lin Aurora keluar dari balik tirai dan sudah berganti pakaian. Melihat pakaian yang dipakai oleh istrinya begitu pas dan cocok, membuat Chen kesal. Mengingat, baju tersebut adalah pemberian dari pria lain.
"Sebenarnya aku benci kamu memakai baju dari pria lain. Tapi jika kita keluar membeli baju, aku takut kita tidak punya cukup waktu dan kamu akan sakit karena bajumu basah," protes Chen.
"Jika kamu tidak suka, aku akan melepaskannya," ucap Lin Aurora. Saat Chen menatapnya dengan sinis lagi, "Baiklah, tidak akan aku lepas," lanjut Lin Aurora kembali.
Chen meminta Lin Aurora untuk duduk bersamanya. Setelah itu, Chen sibuk dengan ponselnya dan pekerjaan yang sempat dia tinggalkan hari itu demi mengintai istrinya.
Oh, bapak Chen. Kalau cemburu bilang, cus lah ngapa di anu. Kesel aku sama cowo gengsinya gede begini.