
"Tuan, maaf mengganggu," ucap Puspa dengan lirih.
"Hm, apa kamu sudah lapar? Aku akan membuatkan makanan untukmu. Fei belum kembali, jadi aku yang a--" ucapan Chen terhenti kata
"Tidak … Um, anu itu, saya mau …," ucapan Puspa terhenti ketika Fei datang membawa beberapa belanjaan yang isinya baju untuk Puspa.
"Saya kembali, Tuan Muda. Ini beberapa baju yang Tuan perintahkan. Maaf, jika saya melakukan tugas ini dengan waktu yang lama," ucap Fei memberikan tas berisikan baju tersebut.
Fei Lieni ini menyukai Chen sejak dahulu. Mereka tumbuh bersama dari kecil sampai usianya 9 tahun sebelum Chen ke Amerika. Fei menyukai semua yang dilakukan oleh Chen, hanya saja, ia takut untuk mengungkapkan perasaannya.
"Kamu bisa masak, 'kan?" tanya Chen.
"Bisa, Tuan!" jawab Puspa dan Fei bersamaan.
Mereka saling menatap satu sama lain. "Aku meminta Fei untuk memasak. Kau, ikut aku ke ruang baca!" tegas Chen.
"Baik, Tuan Muda. Makanan siap nanti, saya akan memberitahu Tuan dan Nona ini," jawab Fei menunduk.
"Nona Muda. Jangan salah sebut lagi, kau harus memanggilnya dengan sebutan Nona Muda, mengerti?" terang Chen menarik lengan Puspa ke ruang baca.
"Baik, Tuan Muda … Chen," ucap Fei.
"Setelah kekasih lamanya meninggal, aku pikir kau tidak memiliki matahari lagi dalam hidupmu, Tuan Muda. Bagaimana mungkin, aku yang hanya anak pelayan seperti ini bisa mendapatkan perhatianmu," gumam Fei dalam hati.
Fei bukanlah anak Pelayan Mo. Fei ini salah satu putri dari sahabat orang tua Asisten Dishi dahulu. Mereka sama-sama bekerja dengan Tuan Huang sejak lama. Namun, karena Chen lebih menyukai dibantu sesama lelaki, maka ia lebih memilih Asisten Dishi dibandingkan dengan Fei.
**
Siang tadi, pertemuan antara Aisyah, keempat sepupu laki-laki dan juga Ilkay ke rumah Gwen berjalan dengan lancar. Mereka berbincang-bincang banyak hal dan Gwen juga mengajak kakak-kakaknya keliling pesantren.
Ilkay juga panen banyak rupiah dari semua paman dan bibi kesayangannya, yaitu Gwen. Aisyah mulai membuatkan rekening tabungan untuk Ilkay.
"Aku sudah keluar banyak untuk anak ini. Dia, apa-apa di nilai dari uang. Anak siapa sebenarnya dia? Anak Gwen, atau anaknya Ai, sih?" gerutu Faaz.
"Bukan hanya kau saja yang kehilangan banyak uang. Aku juga begitu. Jadi lebih baik kita hati-hati saja dengan itu," sahut Feng.
"Benar! Anak itu jangan sampai mengetahui rahasia apapun dari kita dan jangan sampai kita ini meminta informasi apapun dari dia. Atau kita akan benar-benar bangkrut!" timpal Ayden.
"Apa, sih? Kalian ngeluh saja dari tadi. Buat keponakan satu-satunya, kenapa kalian perhitungan begini?" sela Tama duduk manis di bangku kecil si depan rumah Aisyah.
Seketika, tatapan tiga pemuda 22 tahun yang baru saja merasa dirampok oleh Ilkay menjadi tatapan tajam kepada Tama.
"Ck, kau pengusaha, uangmu mengalir terus. Sedangkan kita ...? Kita hanya mengandalkan gaji bulanan, Bro!" seru Faaz.
"MasyaAllah, Faaz. Kamu lupa, Tuan Muda Hao dan Tuan Lee kita kan ada di sini. Mereka banyak uang, kenapa harus pusing?" celetuk Tama merangkul Faaz.
"Masalahnya, ini anak lebih cerdik daripada Gwen. Dia cerdas juga, kenapa juga Chen punya anak seperti itu, sih?" keluh Feng dengan mengusap-usap dompetnya.
"Aku baik hati buatin kalian coklat hangat. Tapi, kalian mengumpat tentang anakku? Apa kalian mau di sianida, hah!"
Suara yang terdengar galak itu, adalah suara Aisyah. Ia baru saja selesai membuatkan keempat sepupunya coklat hangat dan membawa beberapa camilan untuk mereka.
"Ai? Kenapa kamu selalu berjalan tidak mengeluarkan suara? Kau membuat jantungku senam tau!" keluh Faaz.
"Jangan alihkan pembicaraan! Apa maksud kalian dengan mengatai putraku seperti itu? Nggak ikhlas kasih uang buat keponakan sendiri?" sulut Aisyah.
Malam itu, Aisyah membicarakan masalah dirinya hendak Korea untuk melanjutkan belajarnya. Aisyah juga akan membawa Ilkay bersamanya, dan akan menyekolahkan Ilkay di sana.
"Jadi, rumah ini akan kosong?" tanya Tama.
Aisyah mengangguk. "Ayah dan Ibuku bilang, mereka tetap akan ke Australia. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan oleh Ibuku, dan Ayah harus ikut," jelas Aisyah.
"Jadi, kalau aku disini ... aku bakal kesepian. Maka dari itu, lebih baik aku akan merantau sekalian ke Korea," imbuhnya dengan menghirup aroma coklat hangat yang menenangkan.
"Tapi kan ada Mas Taman di sini. Mas akan sering-sering datang, deh. Untuk apa kamu ke Korea? Jauh amat hanya untuk kuliah aja sampai sana," sahut Tama tidak terima di tinggal.
"Heh, adeknya mau berkembang itu di dukung. Bukan malah buat dia ragu lagi. Parah nih si tukang kayu!" tampik Feng sembari memukul lengan Tama.
"Iya, lagian biarin saja Ai ke Korea. Cinta dia pergi dengan menikahi wanita lain. Lalu, cinta dia yg baru juga pergi ke Amerika. Untuk apa ka--" ucapan Faaz terhenti kala melihat aura mematikan terpancar dari mata Aisyah.
"Maksudnya apa? Bahwa kisah cintaku paling ngenes gitu, hah? Bang Faaz, katakan kau mau aku pukul di bagian mana!" teriak Aisyah kesal.
"Ampun!"
"Ampuni aku, Ratu!"
"Mas Tama, Ko Feng, Hyeong, help me please ... huaa...."
"Oppa! Sekali lagi kau membantu Bang Faaz, aku pastikan lencana Oppa ini aku akan ganti dengan sebutan Eonni, mau?" sulut Aisyah.
"Nggak mau, lanjutkan!"
Pada dasarnya, kelima anak ini memang masih kecil dimana orang tuanya. Meski berusia 22 tahun dan sudah memiliki pekerjaan masing-masing, mereka masih saja sering bermain dan bertingkah seperti anak taman kanak-kanak ketika bertemu dan berkumpul.
Malam itu, masih belum malam indah bagi pengantin baru. Gwen masih enggan untuk melakukan hubungan itu, karena dirinya merasa belum siap. Begitu juga dengan Agam yang tidak ingin memaksanya.
Keduanya, sedang berbincang masalah keluarga besar Gwen di atas ranjang yang empuk dan hangat itu. (Uwu)
"Jadi, yang sipit dan putih itu ... orang asli Korea?" tanya Agam.
"Sipit dan putih, yang mana? Aku punya 3 kakak laki-laki yang seperti itu, loh, Mas," jawab Gwen menunjukkan foto bersama siang tadi.
"Yang ini," tunjuk Agam.
"Oh, ini Ayden Oppa. Dia anaknya kakaknya neneknya Ko Feng. Mudeng, nggak? Kisah keluargaku memang bikin pusing soalnya," Gwen malah bingung sendiri menjelaskannya.
"Um, jadi dia satu nenek buyut?" tanya Agam.
"Cerdas! Haih, untung suamiku cerdas. Tidak seperti author Suami Akhiratku, yang mana dengan tokohnya sendiri saja banyak yang terlupakan," ucap Gwen menghela napas.
"Author Suami Akhiratku? Yang mana, sih?" tanya Agam penasaran.
"Oh, itu. Penulis kisah Buyutku, Ustadz Ruchan dan istrinya, Leah. Tapi masih banyak typo di novelnya. Bahkan belum di revisi, jadi hancur banget tulisannya," jelas Gwen dengan mata memutar, meremehkan.
"Astaghfirullah, jangan seperti itu. Siapa tau, karya berikutnya tulisannya jauh lebih rapi. Tapi, memang ada kisahnya, to?"
Mereka pun membahas kisah Ustadz Ruchan dan Leah juga karena kisah hidup mereka sangat bersejarah dalam hidup di pesantren. Hingga tak terasa, Gwen pun terlelap karena lelah terus bicara tentang silsilah keluarga besarnya.