Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Iseng



"Katakan, apa yang kamu pilih terdahulu untuk aku jelaskan. Caraku membencimu, atau caraku mencintaimu?" Aisyah bertanya.


Dishi malah terpesona dengan wajah istrinya. Dia tidak dengar apa pertanyaan Aisyah. Tatapannya malah membuat Aisyah meleleh sampai dirinya kembali salah tingkah.


"Jika kau tidak mau dengar, maka jangan dengar. Aku akan pergi!" Aisyah merajuk.


Tangan yang masih digenggam itu kembali ditahan. "Segera mungkin, kita pasti akan seperti dulu." bisik Dishi, melepaskan genggaman tangannya. Pergi meninggalkan Aisyah yang masih terdiam di meja makan.


***


Tak ada yang dilakukan, keduanya hanya saling diam mengurung diri di kamar yang berbeda. Sampai malam tiba, ketika Aisyah hendak tidur setelah shalat isya, tiba-tiba saja Dishi masuk dan naik ke ranjang.


"Hei, mengapa kau … hei, apa yang kau lakukan?" Aisyah bertanya, terkejut melihat suaminya tiba-tiba naik begitu saja ke ranjangnya.


"Bukankah kita suami istri? Apakah salah jika kita tidur di atas ranjang yang sama?" sahut Dishi. " Kenapa? Apakah aku salah dalam berkata?" lanjutnya tanpa menatap sang istri.


"Iya … Tapi, ya benar, tapi salah!" seru Aisyah.


"Kembalilah rebahkan kepalamu. Pejamkan mata, tidurlah dengan tenang. Aku hanya ingin tidur di sisimu malam ini," ucap Dishi, menekan kening Aisyah.


Setelah itu, jempol tangan Dishi mengusap-usap kening Aisyah secara perlahan. Sehingga membuat wanita berusia 23 tahun yaitu tertidur. Rasa nyaman yang didapatkan oleh Aisyah adalah rasa yang telah Ia rindukan selama dua bulan perpisahan. Aisyah memang merasa nyaman dan bahagia bisa berkumpul kembali bersama suaminya. Tapi di bagian perasaan Dishi, ia merasa hatinya begitu sakit setelah bohong istrinya.


"Sayang, Aku ingin sekali hari-hari samamu cepat berlalu. Sehingga, segera bertemu dengan hari dimana aku bisa kembali memeluk dengan erat sebagai suami yang telah ingat semua kenangan bersamamu," kata Dishi dalam hati.


Keduanya, berharap malam itu berlalu dengan lambat. Rasa yang berkecamuk membuat mereka berdua tak bisa menahan lagi jarak yang ada. Aisyah maupun Dishi, suka ingat menatap masa depan setelah apa yang telah mereka lalui bersama berlalu.


Harapan dari mereka berdua rupanya tidak sesuai. Malam berlalu dengan cepat, hingga alarm jam shalat subuh terdengar dari dering ponsel Aisyah. Nada dering yang Aisyah pasang memang tidak kencang. Namun tetap saja itu mampu membuat Dishi terbangun.


"Untuk apa kamu bangun juga, Tuan Dishi?" tanya Aisyah.


"Apakah aku harus menjelaskan?" jawab Dishi menunjuk ponsel milik Aisyah.


Aisyah menoleh. "Oh, maafkan aku. Ini memang sudah rutinitas aku bangun jam segini," terang Aisyah.


"Kau aneh!" ucap Dishi. Dia langsung menutupi dirinya menggunakan selimut dan tidur kembali.


Memang benar bagi Aisyah suaminya saat itu masih hilang ingatan. Tapi Aisyah tahu betul, Dishi telah menjadi seorang muslim sebelum menikah dengannya. Jadi, meskipun hilang ingatan, tetap saja Aisyah memaksa suaminya tersebut untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Yakni, shalat subuh.


"Apa? Aku harus melakukannya juga?" Dishi bersandiwara.


"Tuan Dishi, aku akan memberitahumu sesuatu. Kamu mungkin hilang ingatan, Tapi itu tidak berarti membuatmu harus melupakan Tuhanmu. Bagaimana jika aku membimbingmu dalam melaksanakan kewajiban ibadah ini?" Tutur Aisyah.


Memang itu yang Dishi harapkan. Bisa melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim hai juga bisa jauh lebih dekat dengan istrinya. Dari niat wudhu, wudhu, doa setelah wudhu, dengan telaten, Aisyah mengajarinya. Tak hanya itu saja, bahkan bacaan shalat saja, Aisyah mampu membuat Dishi semakin bangga kepada istrinya itu.


"Haih, aku masih mengantuk. Jika tidak ada yang ingin kamu katakan, Aku ingin sekali melanjutkan tidurku. Apakah boleh?" ucapan Dishi ini berhasil memecahkan kecanggungan diantara keduanya.


"Tidur lagi?" ketus Aisyah. "Tak nampak kah ini sudah jam berapa?" imbuhnya dengan berkacak pinggang.


"Astaga, aku pengangguran. Untuk apa bangun lebih awal? Sudahlah, jangan menggangguku!" Dishi memang pandai bersandiwara.


"Terserah kau sajalah__" Aisyah bersiap untuk berangkat ke rumah sakit.


Sebelum menyentuh dapur, Aisyah lebih dulu masuk ke kamar mandi. Melihat sang istri masuk ke kamar mandi, barulah Dishi beranjak dari ranjang. Ia keluar dari kamar dan pergi ke dapur menyiapkan sarapan untuk istrinya.


Waktu yang paling dirindukan oleh Dishi menyiapkan sarapan, makan siang dan makan malam untuk Aisyah. Belum lagi Dishi juga yang selalu mengatur waktu istirahat Aisyah. Dua bulan bagi Dishi sangatlah lama, sampai tangannya gugup kala hendak memasak.


Selesai mandi, Aisyah mengintip dari dalam kamar mandi. Memastikan Dishi sudah keluar atau masih terbaring di atas ranjang. Tetap saja meski suami istri, Aisyah merasa canggung karena perpisahan yang terjadi diantara mereka meski sementara.


"Di mana dia?" gumam Aisyah.


"Eh, di mana orang ini? Kenapa tidak ada di sana?"


"Tunggu!"


"Ini memudahkan aku untuk mengganti pakaianku. Ayo, Aisyah! Semangat!"


Dengan berdendang ria, Aisyah memakai pakaiannya dengan bebas di kamar. Jika di pikir pikir, ada atau tidaknya Dishi di kamar itu sama saja. Tetapi, kecanggungan itu masih mereka miliki satu sama lain.


Klek!


Suara ganggang pintu di putar. Dishi membuka pintu tepat Aisyah hanya mengenakan pakaian dalam di balut dengan handuk saja. Rambut yang baru saja kering karena di hairdryer membuat Aisyah terlihat semakin manis di mata Dishi.


"Aaaaaaaa…."


Teriakan Aisyah membuat Dishi panik. Begitu Aisyah teriak, Dishi spontan menutup pintu dan berteriak, "Aku tidak sengaja!" setelah itu lari kembali ke dapur.


Aisyah hanya melongo saja. Sebab, dirinya hanya merasa aneh jika hanya mengenakan pakaian dalam, tapi malah berteriak kala suaminya melihatnya.


"Apakah aku harus membenturkan kepalanya? Canggung, memang. Tapi kan aku dan dia suami istri. Kenapa aku teriak dan kenapa Dishi malah kabur?"


Saat itu juga, Aisyah meminta konsultasi dari Agam tentang masalahnya itu. Sayangnya, rupanya Agam sudah tahu jika Dishi hanya pura-pura hilang ingatan. Agam malah membantu dan memberi saran Aisyah supaya lebih dekat lagi dengan Dishi.


Sebelum berangkat ke Korea, Dishi mempertanyakan dulu bagaimana tentang kabar Agam dan putri kecilnya. Itu karen Dishi tahu dari Tama dan Feng jika Gwen sudah pergi untuk selama-lamanya. Atas pemberitahuan dari Dishi jika dirinya hanya bersandiwara, Agam hanya bisa membantunya supaya pasangan aneh ini supaya tidak menjadi jauh selama sandiwara itu berakhir.


Agam berhasil meyakinkan Aisyah untuk tetap tinggal bersama dengan Dishi. Kemudian, Agam juga yang meminta Aisyah untuk memberitahunya jika perpisahan sementara mereka tidak harus melakukan ijab qobul kembali. Di sisi lain, memang keduanya tak harus melakukan hal tersebut.