Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Sambutan Istimewa



Sesampainya di Korea, Aisyah dan Ilkay menempati apartemen lama milik Ayahnya. Di setiap sudut ruangan apartemen itu masih terawat dengan rapi. Setiap hari, baik Ceasy maupun Yoona selalu bergantian membersihkan apartemen tersebut. 


Banyak kenangan dari Yusuf dan beberapa barang berharga almarhum Aisyah dan Rifky juga ada di sana. Yoona, selalu sahabat Rifky selalu menyimpannya dengan baik. 


"Nenek!" seru Aisyah kala melihat Ceasy dan Yoona duduk santai di sofa. 


"Aisyah? Nak, kamu sudah sampai? Mari duduk dengan nenek di sini," sambut Ceasy dengan merentangkan tangannya. 


"Kamu manggilnya nenek, kenapa terdengar begitu Tua, ya?" celetuk Yoona. 


"Lalu, aku harus memanggil kalian apa? Urutannya kan memang begitu, nenek-nenekku yang cantik," puji Aisyah sembari mencubit pipi Ceasy dan Yoona yang terlihat masih kencang itu. (Perawatan orang Korea kalian pasti tau ye kan) 


Yoona melihat ada Aisyah sahabatnya dalam wajah Aisyah yang saat ini. Ia juga melihat perilaku Rifky dalam sikap yang Aisyah tunjukkan setiap pertemuan. 


"Kamu itu mirip sekali dengan nenek Ais. Baik, lembut, juga penyayang. Di sisi lain, memiliki sifat yang pekerja keras seperti kakek Kiki-mu," ungkap Yoona membelai wajah manis Aisyah. 


"Mama! Lihatlah yang Paman ini lakukan! Dia mengatakan kalau aku sangat buruk, huaa…." teriak Ilkay kalau di ganggu oleh Leo, putra kedua Yoona dan Jamil yang sepantaran dengan Ayyana dan Anthea, berusia 29 tahunan. 


"Leo!" sebut Yoona dengan tegas. 


"Mama, dia aja yang cengeng, masa hanya dibilang mirip Ibunya yang menyebalkan saja, dia langsung marah, sih?" goda Leo. 


"Hish, Ahjeossi! Kau bilang apa? Mirip Ibunya yang menyebalkan? Aku Ibunya, kau mau apa? Katakan, kau ingin aku menyumpal mulutmu pakai apa!" kesal Aisyah melipat tangannya siap ingin meninju Leo. 


"Lihatlah bocah. Ibumu ini memang sangat menyebalkan. Dia bahkan berani mengajakku berkelahi. Dan lagi aaa…," Leo di jewer oleh kakaknya yang baru saja kembali dari luar kota bersama suaminya. 


"Noona, sakit!" rengek Leo. 


"Mampus!" seru Aisyah tertawa jahat. 


"Dengar kalian, dia berkata kasar. Kenapa hanya aku yang di tarik telinganya?" Leo berusaha membela dirinya sendiri.


Semua tertawa menyambut kedatangan Aisyah dan juga Ilkay. Yoona sangat bahagia bisa melihat Ilkay hadir dalam hidupnya. Cicit Aisyah ini mengingatkan waktu kecil Rifky ketika ia baru saja bertemu dengan Rifky kecil. 


"Nenek, kenapa kamu menangis? Apa karena Kay tidak sopan tadi?" tanya Ilkay polos. 


"Hm, pasti Paman Leo nakal, ya? Jangan dimasukin hati, ya. Dia memang seperti itu. Tapi, dia sangat menyayangi anak-anak sepertimu ini," ujar Yoona dengan senyuman tulus yang terukir dibibirnya. 


Leo adalah anak kedua dari Yoona dan Jamil. Lahirnya memang sangat terlambat, sehingga bisa seumuran dengan cucu dari sahabatnya, Rifky. Meski begitu, pria yang berusia 29 tahun ini tidak pernah malu memiliki orang tua yang seharusnya sudah menjadi nenek itu. 


Yoona masih terlihat lebih muda dari usianya. Sehingga tidak terlihat bahwa dirinya sudah berumur. Makan malam bersama di adakan di apartemen yang ditempati oleh Aisyah dan Ilkay. Semua makanan dipesan dari restoran kakeknya dan juga milik Jamil sendiri. 


"Alhamdulillah, Ayah sehat wal'afiat, Nek. Ayah dan Ibu memutuskan untuk tinggal di Australia sampai adikku lahir. Jadi, karena aku tidak ingin sendirian, maka aku mengajak Ilkay untuk tinggal di sini," ungkap Aisyah. 


"Ayah Ilkay juga mau menyusul. Jadi, nanti pasti akan ramai rumah itu. Bukan begitu, Mama?" celoteh Ilkay membuat semua orang terkejut. 


"Kenapa kamu mengungkit Ayahmu di sini, Ilkay! Kamu sengaja membuat Mama menjelaskan hubungan yang belum jelas dengan Ayahmu, hah!" desis Aisyah kepada Ilkay. 


Selain Leo, semuanya hanya tersenyum. Tidak ada rahasia dalam keluarga besar itu. Hal sekecil apapun, akan diketahui seluruh keluarga kecuali memang itu privasi sendiri. Meski bukan rahasia, keluarga hanya tahu bahwa Aisyah memiliki anak angkat saja dengan Asisten  pribadi Chen, bukan hal lain lagi. 


"Ilkay, urusan Ayahmu, itu pribadi Mama-mu. Ayahmu itu tidak akan kemana-mana, kau kan putranya! Jangan diungkit lagi, atau Mamamu akan merasa terbakar. Lihatlah pipinya, sudah memerah begitu," goda Ayden. 


"Ayden, kenapa kamu terus menggoda adikmu, sih?" sahut Mayshita. 


"Aku akan mencekikmu nanti. Lihat saja!" cetus Aisyah menambah nasinya dengan porsi banyak. 


"Ketika Ayahnya Ilkay datang nanti, dia akan terkejut melihatmu, Aisyah. Porsi makanmu ini sangat istimewa sekali," kembali Gu menggoda keponakan kesayangannya itu. 


"Paman, Anda masuk dalam daftar hitamku. Awas saja nanti, Paman hanya tinggal menunggu giliran dari Ayden Oppa!" seru Aisyah melahap ayam goreng kesukaannya. 


Seluruh keluarga pun dibuat tertawa dengan kehadiran Aisyah dan Ilkay malam itu. Aisyah dan Gwen memang selalu membuat keceriaan sebelum Aisyah berubah menjadi pendiam sebelumnya. Namun, Aisyah lama telah kembali, semenjak bersama Asisten Dishi, Aisyah memang selalu menjadi dirinya sendiri yang aslinya begitu ceria. 


Di sisi lain, Leo tidak menyukai jika Aisyah memiliki hubungan dengan pria lain. Sebab, dirinya sudah mencintai Aisyah sejak Aisyah masuk ke sekolah menengah pertama. Leo jatuh cinta pada pandangan pertama kala dirinya baru kembali ke asrama waktu itu. 


"Aisyah, andai kamu tau ... jika diriku ini masih melajang karenamu. Apakah kamu akan meninggalkan pria itu?" batin Leo tersiksa dengan kerinduan selama lima tahun lalu sudah tak lagi bertemu dengan Aisyah. 


"Kamu tumbuh dengan baik. Kini, kamu menjadi gadis yang cantik dan bijak. Ini sudah lima tahun setelah terakhir kita bertemu, tapi mengapa hati ini masih menyimpan perasaan yang sama dengan perasaan lima tahun lalu?" imbuhnya dnegan mencuri pandang Aisyah ketika makan. 


Usai makan bersama, merapikan kembali peralatan makan, semuanya kembali ke rumahnya masing-masing. Tinggallah Leo yang saat itu masih ingin mengobrol dengan Aisyah. Namun, Aisyah menolaknya dengan alasan lelah.


"Ahjussi, aku sudah lelah, bisakah kamu pulang dulu? Besok kamu kesini lagi menjemputku dan mengantarku ke kampus, bisa?" ucap Aisyah dengan lembut. 


"Oppa! Aku bukan paman atau kakak sepupumu, Ai. Jadi, jangan panggil aku dengan sebutan Ahjussi, paham?" ujar Leo. 


Aisyah menghela napas, ia paham apa yang dikatakan oleh Leo. "Tapi, Ai? Kamu memanggilku dengan sebutan .. Ai? Kenapa?" tanya Aisyah memastikan, bahwa Leo tidak salah menyebut namanya. Sebab, yang Aisyah tahu, sebutan Ai itu hanya kakak dan kakak sepupunya yang memakainya. 


Leo pun bertanya, "Apa aku tidak pantas memanggilmu dengan nama panggilan yang sama dengan para sepupumu?"


"Ah, tidak. Hanya saja, jika kakakku di sini, pasti dia akan mengomel nama kesayangan yang diberikannya padaku, di plagiat orang lain, hahaha. Bukankah akan lucu jika membuat kakakku yang posesif, protektif dan tif-tif lainnya menjadi emosi?" 


Tawa Aisyah mampu mengalihkan dunia Leo malam itu. Hanya saja, ia teringat bahwa hati wanita pujaannya itu telah terikat dengan seorang pria yang telah menjadi Ayah bagi anak angkatnya.