Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Perpisahan Dengan Awal Pertemuan



Cemburu adalah perasaan natural yang pernah muncul di setiap diri manusia. Memiliki rasa cemburu sesekali memang wajar, namun tidak baik jika dirasakan secara terus-menerus.


Cemburu harus dibatasi dan rasa percaya harus ditingkatkan. Rasa cemburu bisa dirasakan semua orang dari berbagai usia, jenis kelamin, dan latar belakang.


Kecemburuan sering dikaitkan dengan bukti cinta. Rasa cemburu bermula dari ketakukan saat orang yang kita dicintai berada dekat dengan lawan jenisnya, apalagi menurut Gwen, lawan jenisnya adalah saudarinya sendiri. 


"Ada apa denganku, kenapa aku merasa iri hati ketika Pak Raza dekat dengan kakakku sendiri?" 


Hati Gwen selalu bertanya-tanya dengan keadaan apa yang saat ini ia alami. Selama menyukai lelaki, Gwen tak pernah merasakan hal yang saat itu ia rasakan. 


"Nona, Tuan muda Wang meminta anda untuk datang kepadanya," kata Asisten Dishi dengan sopan. 


"Terima kasih." 


Senakal-nakalnya Gwen, ia tak pernah melupakan kata sederhana dengan makna yang mendalam yang selalu orang tuanya ajarkan. Yakni, kata tolong, maaf dan terima kasih. 


"Ada apa?" ketua Gwen. 


"Kamu ini kenapa? Apakah saldo rekeningmu kosong?" tebak Chen berniat bercanda dengan saudarinya itu. 


Gwen hanya menyipitkan matanya. Dengan perlahan, ia mengeluarkan buku tabungannya dengan nomor rekeningnya sekalian. Sejatinya, Gwen memang tak mudah serius menanggapi suatu hal. 


Kecemburuannya memang nyata adanya. Ia jatuh hati dengan Pak Raza, namun tidak menyadari perasaannya itu. 


"Gwen …," suara lembut Chen terdengar lagi. Membuat Gwen luluh dan semakin memperlihatkan asetnya yang telah usang (ponsel) 


"Aw, suaranya jadi pengen ajak berkasih sayang, Kakak Chen!" serunya memperlihatkan ponselnya. 


"Kecemburuan adalah dosa yang paling tidak disengaja. Kau suka dengan guru pembimbingmu itu, 'kan?" tebak Chen. 


"Eh, sembarangan! Siapa bilang? Aku juga tidak cemburu, kok. Apa itu cemburu?" elak Gwen mempalingkan matanya.


"Kamu hanya bisa cemburu pada seseorang yang memiliki sesuatu yang menurutmu harus kamu miliki sendiri. Itu yang dinamakan cemburu."


Chen memberi saran kepada adiknya itu, untuk tidak pernah memperebutkan apapun dengan Aisyah. Mengalah salah satu adalah keputusan yang tepat. Bukan Chen berpihak kepada Aisyah, namun Chen memiliki harapan tinggi dengan Gwen. 


Chen ingin sekali membawa Gwen ke Tiongkok dan mengembangkan usahanya bersamanya. Aisyah telah memutuskan menjadi dokter, dan itu tidak mungkin Chen akan memaksa ikut dengannya. 


"Aku tidak berpihak dengan Aisyah. Tapi, aku menaruh harapan tinggi kepadamu, Gwen," ucap Chen mengelus rambut saudarinya itu. 


"Kenapa aku? Bukankah kau lebih sayang dengan adik sholehamu itu?" sulut Gwen. 


"Sudah berapa kali aku katakan. Kasih sayangku kepada kalian sama besarnya. Kau ini kenapa, Gwen?"


Gwen masih saja mempertanyakan itu. Kesepian sejak kecil membuatnya protektif dengan siapapun. Sejak kecil, ia hanya hidup sendirian, Rebecca sibuk bekerja. Willy, selaku ayah sambung juga sering sibuk dengan pekerjaannya. 


Meskipun di rumahnya ada Chris, sebagai pengurus segalanya, tetap saja Gwen tumbuh tanpa teman maupun orang yang mampu membuat hatinya terisi. 


Lalu, sejak pertemuannya dengan keluarga kandungnya, Gwen yang biasanya mandiri serta dingin dengan siapapun, ia menjadi lebih manja dan riang dengan harapan, jika dirinya akan menjadi kesayangan semua orang. Itu sebabnya, Gwen selalu merasa orag lain dan keluarga lain, tak pernah cukup memberikan kasihnya kepadanya. 


***


Tiba waktunya pulang ke tanah air. Chen yang awalnya akan ikut pulang mengejutkan orang tuanya, ia tidak jadi pulang. Ada pekerjaan mendadak baginya. 


"Maaf, aku ada pekerjaan mendadak. Jangan kalian ceritakan pertemuan ini dengan Ibu dan Ayah, atau kalian akan merusak kejutanku," ujar Chen.


"Hm, baiklah. Kamu baik-baik di sana, ya. Jangan lupa, setelah selesai pekerjaannya, segera datang ke rumah," sahut Aisyah.


"Jangan mendadak, kami juga ingin ikut andil dalam kejutan itu, Kak," timpal Gwen masih dengan kekesalannya dengan Aisyah. 


"Pasti. Kalian jaga diri, oke? Jaga orang tua kita, masing-masing juga sudah menyimpan nomorku, 'kan? Kita berpisah sekarang, sampai jumpa." ucap Chen mengusap kepala kedua saudari kembarnya. 


Mereka juga berpelukan sebentar, hingga perpisahan itu akhirnya terjadi. Dalam pesawat, Gwen masih saja diam kepada Aisyah. Rupanya ia masih kesal kepada saudarinya itu, karena Pak Raza masih saja suka membantu Aisyah. 


Namun, ada kejadian yang membuat Gwen tak lagi marah kepada Aisyah. Kala itu, Aisyah ingin ke toilet dan meminta Gwen mengantarnya. 


"Wae? Kenapa harus aku? Noh, ada Pak Raza, ada pramugari juga. Ngapain minta tolong denganku?" ketus Gwen.


"Kamu kan adikku, jika ada kamu … kenapa aku harus minta bantuan dengan yang lainnya?" AIsyah menyentuh bahu Gwen.


"Ck, baiklah ayo. Tapi jangan minta aku melepaskan celana dalammu. Males liatnya, nggak ada corak sedikitpun. Lihat dong punyaku ada gambar kelincinya." celetuk Gwen membuat AIsyah tertawa kecil. 


Setelah beberapa menit, Aisyah keluar dari toilet. Ia masih menemukan Gwen yang menunggunya di sana sambil melamun. Aisyah menyenggol bahunya dengan perlahan. Bertanya apakah ia menyukai Pak Raza atau tidak. 


"Heh, aku? Suka sama Pak Raza? Ya nggak lah!" jawab Gwen dengan ketus.


"Masa? Kalau tidak ada perasaan kepadanya, kenapa kamu cemburu melihat Pak Raza membantuku?" tanya Aisyah.


"Ngaku aja, kamu suka dengannya, bukan? Sudah semingguan lebih kalian selalu bersama, pasti ada sesuatu, nih …." goda Aisyah. 


"Nggak, aku nggak ada perasaan apapun dengannya. Kenapa, sih kakak maksa terus buat aku mengiayakan," Gwen mengucapkan itu dengan pipi yang sudah merah merona. 


"Misal dia jadi jodoh kakak, apa kamu tetap rela?" Aisyah kembali menggoda saudarinya itu. 


Gwen terdiam sejenak, kemudian menjawab jika ia tidak keberatan Pak Raza menjadi kakak iparnya. Banyak yang berkata jika ucapan itu adalah doa. Pak Raza memang cocok saja jika disandingkan oleh Gwen maupun Aisyah. Namun, kisah Pak Raza sendiri masih menjadi misteri sampai saat ini. 


Jati diri dari pria berusia 26 tahun ini belum ada yang mengetahui dengan pasti. Seperti apa latar belakangnya dan bagaimana dengan sifat aslinya. Selama Gwen mengenal Pak Raza, memang dia adalah pria yang sabar dan selalu berbudi luhur. Namun, mengingat hal mengatakan bahwa dirinya sedang waspada kepada Ayahnya, membuat Gwen penasaran dengan guru pembimbingnya itu. 


Sesampainya di Bandara, Pak Raza meminta maaf karena tidak bisa mengantar Aisyah dan Gwen pulang. Wajahnya nampak begitu cemas, ia mencemaskan Ibunya yang sudah seminggu ditinggalkan sendirian di rumah. 


"Iya, salam untuk Ibu Nur, ya, Pak Raza," ucap Aisyah. 


"Alhamdulillah, dokter. Nanti saya sampaikan," jawab Pak Raza dengan senyum manisnya. "Gwen, saya pamit dulu, ya. Maaf tidak mengantarmu pulang. Dua hari lagi, kita akan bertemu membahas materi yang akan datang, permisi, assallamu'alaikum," pamit Pak Raza. 


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh, hati-hati, Pak Raza."


Perpisahan kembali terjadi lagi, baik Aisyah maupun Gwen juga sudah lelah. Mereka ingin segera pulan dan beristirahat. Pertemuan dengan kakak laki-lakinya membuat mereka bahagia. Meski misi membawa Chen kembali belum terselesaikan, namun Aisyah dan Gwen terus berusaha agar kelurganya kembali utuh seperti seharusnya.