Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Kembalinya Yusuf dan Rebecca



"Mengapa harus pinjam ponselku?" tanya Chen dengan ketus. 


"Aiya, nomor ponselku bukan area sini. Bagaimana bisa aku menggunakannya?" jawab Lin Aurora menunjukkan sinyal ponselnya yang zonk. 


Chen menolak. Ia akan meminta Jovan untuk mengatakan kepada Tuan Besar Natt soal dirinya membawa Lin Aurora pulang ke tempat ia dilahirkan. 


"Pelit!" ketus Lin Aurora. 


Perjalanan  mereka benar-benar tidak singkat. Keduanya sampai di rumah hampir tengah malam. Beruntung, Rebecca dan Yusuf belum tidur, mereka sedang duduk santai bersama Adam dan Airy sembari berbincang. 


"Ayah, Ibu!" teriak Chen dari luar. 


Rebecca dan Yusuf tahu jika itu adalah suaranya putra sulungnya. Mereka pun beranjak dari tempat duduknya, hendak menyambut putranya pulang. 


"Chen?"


Chen berhenti sejenak di depan pintu. Hatinya seperti disirami air kala melihat kedua orang tuanya sudah ada di depan matanya. 


"Nak, kamu datang ke--"


Rebecca belum selesai bertanya, Chen sudah datang dan memeluknya. Namun, Chen mendapati beberapa bekas luka pada tubuh dan wajah Ibu yang melahirkannya itu. 


"Ibu, kau terluka?" tanya Chen khawatir. 


"Chen, duduklah. Ayah akan ceritakan semuanya kepadamu," ucap Yusuf sembari menepuk bahu putranya. 


Chen menoleh kearah pria yang selalu memberinya petuah itu. "Ayah," kemudian memeluknya dengan erat. Kehangatan itulah yang selama itu ia cari. 


Sejak kecil, Chen memang tidak pernah kekurangan uang dan kemewahannya. Namun, ia sangat kekurangan kasih sayang dari keluarga yang membesarkannya. Sebab itulah, Chen selalu bermanja dengan keluarga kandungnya. 


"Ayah, kau juga terluka? Katakan, siapa yang melukai kalian?" 


"Chen, duduklah. Ayah dan Ibumu pasti akan menceritakan semuanya padamu nanti," sahut Adam. 


"Dasar anak ini, manja sekali jika sudah bertemu dengan orang tua dan adik-adiknya," timpal Airy. 


Tubuh Chen berbalik, ia baru tahu jika Paman Bibinya juga ada di ruangan itu. "Paman, Bibi, kalian juga ada di sini? Kenapa aku tidak melihat kalian saat aku masuk?" ujarnya. 


"Dasar anak nakal!" seru Airy menarik telinga Chen.


Saking asiknya melepas rindu, Chen sampai melupakan Lin Aurora yang masih di luar. Sampai gadis berusia 22 tahun itu bersin karena dingin, dan Chen baru tersadar jika ada yang masih tertinggal di luar. 


"Kenapa Chen lama sekali? Aku sudah sangat ngantuk dan lelah," gumam Lin Aurora. 


"Mana kepalaku masih pusing lagi,"


"Hatchu …,"


Semua yang ada di dalam rumah terkejut mendengar ada yang bersin. Mereka jadi saling menatap. "Ada yang bersin?" tanya Airy lirih. 


Chen menepuk keningnya. Membuat para orang tua heran dan menanyakan mengapa Chen terlihat panik. 


"Aku datang ke sini tidak sendirian. Tunggu sebentar, aku hampir melupakan dia," Chen keluar terburu-buru. 


"Dia?" kata Rebecca penasaran. 


Di luar, Lin Aurora duduk dengan tangan dimasukkan ke sakunya. Pergantian cuaca antara Tiongkok dan Indonesia membuat suhu tubuhnya terkejut. Sehingga membuatnya sedikit demam. 


"Kau, kedinginan?" tanya Chen. 


Lin Aurora beranjak,  dengan wajah pucatnya, ia masih memiliki tenaga untuk protes kepada Chen yang saat itu memang bersalah. 


"Kau--"


Tanpa Chen ketahui, pandangan mata Lin Aurora sudah mulai kabur. Badannya mulai dingin dan pada akhirnya pingsan. Chen langsung menangkap tubuh mungil Lin Aurora dan berusaha membangunkannya. 


"Hey, Nona Lin!"


"Lin Aurora! Lin Aurora!"


"Ck, menyusahkan!"


Chen menggendong Lin Aurora dan membawanya masuk. Semua orang di dalam terkejut kala melihat Chen membawa masuk seorang gadis yang telah pingsan. 


"Chen, dia siapa?" tanya Rebecca. 


"Aku akan jelaskan nanti. Tolong Bibi Airy siapkan kamar Aisyah, biarkan dia istirahat di sana," jawab Chen panik. 


"Ibu, ah bukan! Paman, tolong buatkan teh hangat atau susu hangat untuknya,"


"Ayah, tolong panggil dokter ke mari. Jika tidak ada, Ayah bisa ambil koper kecil yang ada di lemari lama, disana banyak sekali peralatan Aisyah saat dia bertugas dulu," 


"Maaf aku memerintah kalian, tapi tolong cepatlah! Ibuku yang cantik, kau duduk manis saja, oke?" 


Meski semua sudah Chen mintai tolong, Chen sendiri lah yang paling sibuk. Ia menelpon Aisyah dan mengatakan bahwa dirinya telah bertemu dengan Ayah dan Ibunya. Kemudian, menanyakan bagaimana cara mengatasi orang yang sedang pingsan. 


"Apa? Kak Chen, kapan kau sampai? Bisa tolong arahkan kamera kepada Ibu dan Ayah?" ucap Aisyah. 


"Ai, nanti saja. Ini nyawa seseorang sedang dalam bahaya. Aku membawa Nona Lin kemari, dia pingsan," jawab Chen panik. 


"Allahu Akbar, Kak Chen. Kenapa dia bisa pingsan? Sebelum pingsan, apa yang dia makan, apa yang dia lakukan dan bagaimana keadaan tubuhnya sebelumnya?"


Chen mulai menjawab satu persatu pertanyaan adiknya. Terutama mengatakan bahwa Lin Aurora takut ketinggian dan juga ada trauma berhubungan dengan pesawat. 


Aisyah meberikan arahan secara perlahan kepada Chen. Semua itu Chen lakukan sendiri, karena tidak ingin merepotkan keluarganya lebih lanjut. Dari mengompres dan juga menjaga tubuh Lin Aurora tetap hangat. 


Dadi balik pintu, para orang tua menatap tingkah Chen yang sangat perhatian kepada Lin Aurora. 


"Apa dia sudah move ono dari Puspa?" tanya Rebecca. 


"Aku rasa iya. Lihatlah, bagaimana cara dia menjaga dan merawat gadis itu," jawab Airy. 


"Tapi, siapa gadis itu?" sahut Yusuf. 


"Mana aku tau, emang aku emaknya!" jawab Airy. 


"Hust, sebaiknya kita jangan ikut campur dan menduga-duga dulu sebelum Chen menjelaskan. Ayo, Ma, kita harus pulang juga. Ini sudah sangat larut," tutur dan ajak Adam kepada sang istri. 


Yusuf juga mengajak Rebecca untuk istirahat. Kondisi tubuhnya belum sepenuhnya sehat. Ditambah lagi, besok juga mereka harus menemui Rifky, putra bungsu mereka yang saat itu dirawat oleh Laila dan Raihan. 


Waktu terus berlanjut, Chen masih selalu mengganti kompres di dahi Lin Aurora dengan telaten. Tak seditikpun terlewat kala mengganti kompresannya. Sesuai dengan arahan Aisyah, Chen diminta untuk mengganti kompresannya setiap satu jam sekali, karena demam Lin Aurora sangat tinggi. 


"Dasar lemah! Kenapa juga kamu harus sakit ketika kita sampai?"


"Tak bisakah kau menunggu sebentar?"


Chen terus saja mengumpat dan menyalahkan Lin Aurora yang masih belum sadarkan diri. Tetap saja, Chen tidak mau menyalahkan dirinya sendiri. 


Aisyah berpesan, jika Lin Aurora belum juga sadar esok hari, harus dibawa ke rumah sakit agar ditindaklanjuti. Sepanjang malam, Chen begadang hanya untuk memastikan suhu tubuh Lin Aurora normal kembali. 


Tepat di jam empat pagi, Chen memeriksa tubuh Lin Aurora lagi dan akhirnya demamnya sudah turu. "Aih, akhirnya demamnya turun juga,"


"Huaaam, aku lelah sekali. Mana ngantuk juga," ujarnya merenggangkan otot-ototnya. 


Saking beratnya ngantuk dan lelah karena perjalanan jauh setahun begadang, Chen oun tertidur tepat di sisi Lin Aurora dengan tangan yang menggenggam tangan Lin Aurora. Padahal, dalam mimpinya, ia sedang menggenggam tangan Ibunya.