
"Aaaaaaaa ..,"
Gwen berteriak dalam hati, sembari memukul-mukul dinding kamar mandi. Membayangkan saat suaminya melihat dirinya tertidur di teras karena tidak bisa masuk ke rumah disebabkan dirinya terlupa membawa kunci rumah.
"Malu! Sumpah malu banget!" gumamnya.
"Bisa-bisanya kabur malah lupa bawa kunci,"
"Mau taruh dimana mukaku yang imut ini?"
Gwen terus menampar pipinya sendiri sampai memerah. Bahkan mencubit pipinya menggunakan dua tangannya. Berharap bisa menghilang sementara saat itu juga. Setelah beberapa menit, Gwen keluar dengan keadaan yang sudah tenang.
Tak ada cara lain selain memasang muka tebal. Ketika ia keluar dari kamar mandi, ia sudah melihat ada dua sajadah yang tergelar di samping ranjang. "Heh, Mas sampai menungguku salat jama'ah? Ya Allah, makin-makin dah ah!" batin Gwen dengan memsaang wajah meweknya.
Langkah kaki Gwen perlahan menuju sajadah dan segera memakai mukena yang sudah suaminya siapkan. Agam tidak mengatakan atau menanyakan apapun. Melihat terus sang istri kala memakai mukena. Rupanya, tatapan Agam itu membuat Gwen risih dan kembali sinis. "Ih, apaan sih lihat-lihat gitu?" tegurnya.
"Maaf," ucap Agam memutar badanya menghadap kiblat.
Saking gugupnya, Gwen sampai kesusahan kala memakai rok mukenanya. Terus saja salah masuk, padahal jelas jika lubangnya hanya satu. "Hih, ini juga kenapa,sih? Segala pakai salah mulu dah!" kesalnya.
Meski suasana hati sedang tidak baik-baik saja, mereka menjalani ibadah dengan tenang dan khusuk. Usai salat, seperti biasa Agam meminta Gwen mengaji meski hanya beberpa ayat saja. Setelah itu, mereka melakukan aktivitasnya masing-masing.
Agam sangat sabar dalam mengayomi istrinya. Ia keluar sebentar untuk membeli nasi dan sayur untuk sarapan. tanpa malu, Gwen malah mengirim pesan kepada suaminya jika diirnya menginginkan bubur ayam kesukaan Ayahnya yang ada di depan gang masuk tepi jalan raya.
[Assallamu'alaikum. Aku pingin bubur Ayam biasanya. Beli!] -,pesan singkat dari Gwen.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabbarakatuh,"
"Kok, tiba-tiba minta gini? Bukannya masih marah, ya? Ada apa dengan istriku ini sebenarnya?" bahkan Agam saja sampai heran dengan tingkah istrinya.
Sembari menunggu suaminya pulang, Gwen berinisiatif membersihkan seluruh ruangan. Bahkan dengan semangatnya, baju miliknya yang sudah rapi dan masih bersih saja di cuci kembali. Pekerjaan rumah sudah selesai, Gwen mulai bosan kembali.
"Haih, ini Mas kemana pula! Lama banget dah perasaan!"
"Laper banget, perutku udah keroncongan gini_"
"Assallamu'alaikum,"salam Agam.
"Wa'alaikumsallam!"
"Makasih," ucap Gwen memutar matanya kembali dengan wajah sinisnya.
"Di makan,ya. Mas buatin teh hangat dulu," bahkan Agam masih mengusap lembut kepala Gwen.
Gwen memanyunkan bibirnya. Ia merasa sangat tidak enak hati jika terus bersikap dingin kepada suaminya yang baik. "Aaa, perlakuan Mas Agam mana lembut lagi. 'Kan aku jadi mleyot, malu ih!" gumamnya dala hati.
Sesaat kemudian, Agam kembali membawakan teh hangat untuk istrinya. Baru satu suapan, Gwen sudah mual dengan bau kuah kuning dari bubur tersebut. "Huek,"
"Loh, Dek--"
"Huek, ih bau kunyitnya nyengat banget. Mas beli dimana, sih?" tanya Gwen meletakkan sendoknya dan tidak jadi makan buburnya.
"Ya, Mas beli di tempat biasa. Langganan keluarga kamu," jawab Agam.
"Bohong! Baunya nggak enak gini! Nggak mau makan ah!"
Gwen bahkan mengomentari pakaian yang suaminya pakai. Ia menilai pakaian suaminya terlihat konyol dan tidak menyukainya sampai memintanya untuk berganti pakaian. Pagi itu, Gwen sudah marah-marah saja. Apapun yang dilakukan suaminya selalu salah dimatanya, sampai ia selalu membentak sang suami.
Di sisi lain, Agam sendiri masih bisa sangat sabar memperlakukan Gwen. Merasa ada yang janggal, Agam pun menanyakannya kembali. "Dek, sebenarnya salah Mas aa, sih? Kenapa kamu selalu marah sama Mas gini sejak kemarin?" tanyanya.
"Jika ada kata-kata Mas yang membuat kamu sakit hati. Mas minta maaf, tapi beri Mas penjelasan kenapa kamu bersikap seperti ini?" lanjutnya dengan nada suara yang syahdu.
Gwen menundukkan kepala. Tak lama kemudian, ia mendongakkan kepala dan menatap wajah teduh suaminya. Mewek,mengumpulkan sejumlah air mata, hingga pada akhirnya menangis dipelukan suami.
"Loh, kok ...?" Agam semakin bingung dengan sikap istrinya.
"Huaaa ... aku bahkan tidak tau mengapa diriku seperti ini, Mas. Apa aku sudah gila? Apa aku akan gila? Kenapa rasanya campur aduk gini,hua ...,"
Mengingat sesuatu dalam ingatan Agam. Beberapa waktu lalu, sahabatnya juga baru menceritakan tingkah istrinya yang berbeda dari biasanya. Bahkan, ciri-ciri sikap aneh tersebut sama persis dengan tingkah Gwen malam kemarin sampai pagi itu. Agam tersenyum, ia memaluk istrinya, sesekali mencium kepalanya dengan kasihnya.
"Jika benar, alhamdulillah. Akhirnya doa kami di kabulkan," Agam masih menduga-duga.
"Maafkan Mas ya kalau Mas salah ngomong. Sehingga tak sengaja mmebuat hati kamu terluka, Dek. Nanti kita jalan-jalan,yuk! Bagaimana,kamu mau?"
Agam hendak membawa Gwen periksa kandungan, dengan doa jika dugaannya adalah suatu kebenaran yang selama ini sudah mereka harapkan. Agam mempererat pelukannya, menanyakan makanan apa yang hendak Gwen makan pagi itu.
Stok suami kek Agam dimana nyarinya,woy!