Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
ohhh



Di kampus. 


"Hey, ada apa? Sejak tadi, aku melihatmu tidak fokus. Masih kepikiran sepupuku, kah?" tanya Bora. "Biasanya kau tidak seperti ini saat di kelas, bisa-bisanya kau tidak fokus dengan Profesor tampan kita!" serunya.


"Entahlah, aku sedang pusing saja," jawab Aisyah. 


"Aigo …,"


"Oke, aku masih ada satu mata pelajaran lagi. Kau pulang saja dulu, aku tinggal dulu, ya. Bye bye, sampai bertemu lagi besok," pamit Bora. 


Tak ada hal lain yang akan Aisyah kerjakan. Ia pun berupaya menjemput Ilkay di kelas musiknya. Tak sengaja, rupanya Ilkay sudah ada di depan kelasnya sedang duduk sendirian di sana. 


"Apa dia sudah selesai? Baiklah ka--" belum juga Aisyah melangkah, Chaterine sudah lebih dulu mendekati Ilkay. 


"Chaterine?"


Chaterine memberikan coklat kepada Ilkay. Namun, Ilkay menolaknya. Ilkay juga menjelaskan jika Mamanya tidak mengizinkan dirinya makan coklat terlalu sering karena terakhir kali, Ilkay selalu mengeluh sakit gigi. 


"Lihatlah, Mamamu tidak menyayangimu. Anak-anak suka dengan cokelat, kenapa kamu dilarang?" ujar Chaterine. "Jika kamu ikut Mami, pasti Mami akan berikan semuanya yang kamu mau," lanjutnya dengan penuh harap. 


"Tidak! Kau bukan Mamiku, aku hanya memiliki satu Mama, yakni Mama Aisyah! Menjauhlah dariku!" Ilkay mendorong Chaterine, kemudian berlari ke luar. 


Aisyah langsung bersembunyi, tak ingin putranya tahu, jika dirinya sudah lama berdiri di sana. "Ilkay!" teriak Chaterine menyusul anak berusia 6 tahun itu. 


Namun, langkah Chaterine di hadang oleh Aisyah. Itu kali pertama Chaterine dan Aisyah bertemu secara langsung. 


Deg! 


Meski keduanya saling menahan emosi, tetap bisa menahan emosinya karena masih di tempat kursus. 


"Waktu belajar musik sudah habis. Tolong jangan kejar putra saya lagi. Perkenalkan, saya Aisyah, Mamanya Ilkay," ucap Aisyah mengulurkan tangannya. 


Nampak jelas jika senyum Chaterine begitu terpaksa kala mendengar Aisyah menyebut Ilkay sebagai putranya. Dengan tangan dinginnya, Chaterine menjabat tangan Aisyah yang sedari tadi sudah mengulurkan tangannya. 


"Selamat sore, Mama Ilkay," sapanya dengan senyuman palsu. 


"Selamat sore, permisi!" Aisyah meninggalkan tempat itu dengan segera. 


Melihat Ilkay sudah berada di depan, membuat emosi Aisyah seketika luntur. Memang belum genap satu tahun Aisyah menjadi Ibunya Ilkay, namun ikatan batin keduanya sudah sangat erat karena memang saling menyayangi. 


"Assalamu'alaikum, anak ganteng," sapa Aisyah. 


"Wa'alaikumsallam, Mama? Kok, Mama dari dalam sana, sih?"


"Um, Mama ada urusan dengan pengelola tempat kurus kamu ini. Sudah selesai, 'kan? Mari pulang." Aisyah memberikan tangannya, supaya Ilkay menggandengnya. 


"GO!"


Dari balik jendela ruangannya, Chaterine melihat keharmonisan antara Aisyah dengan putranya. Ia tentu saja menjadi cemburu dan tidak terima jika anak kandungnya lebih menyayangi orang lain daripada dirinya. "Tak lama lagi, kau akan pulang padaku, Ilkay. Mami berjanji, akan memberikan kamu keadilan,"


"Chen menelantarkan anaknya sendiri dan malah diadopsi oleh orang lain. Chen, kamu pasti akan menyesal suatu saat nanti." lanjutnya dengan tangan mencengkram roknya, dan tatapannya yang penuh dengan dendam. 


Sebelum pulang, Aisyah membawa Ilkay jalan-jalan sebentar dan menikmati kuliner di Kota itu. Mereka memang terlihat seperti Anak dan Ibu kandung meski lebih terlihat seperti adik kakak di mata orang lain. 



Sementara itu, Dishi sedang menyelidiki masalah Tuan Besar Natt yang hendak membunuh Ibu mertuanya satu bulan lalu. Dishi juga memberikan taktik untuk membuat satu perusahaan besar milik Tuan Besar Natt bangkrut. 



"Tuan Jovan, saya sudah mengirim dokumen penting. Anda bisa mengandalkan dokumen itu untuk membuat perusahaan Tuan Besar Natt mengalami kerugian besar. Setelah itu, kita beli grup Natt itu dengan harga yang sedang, dengan begitu …," ucapan Dishi terhenti. 



"Grup Natt yang itu tidak akan mendapatkan hasil, Asisten Dishi, bagaimana mungkin kita membelinya?" sela Jovan. 



"Tuan, percayalah padaku. Mintalah pihak kita untuk melakukan apa yang sudah saya siapkan ini. Dijamin, perlahan pasti kita akan membuat perusahaan itu bangkrut. Usahakan, setelah bangkrut, harus langsung membelinya. Jika tidak, maka puluhan karyawan akan ikut imbasnya, kasihan mereka memiiki keluarga," lanjut Dishi. 



Chen sangat mempercayai semua tindakan Dishi meski memiliki resiko yang besar. Hanya saja, keraguannya membuatnya panik lebih dulu sebelum bertindak. Meski begitu, Jovan tetap melakukan apa yang dikatakan Dishi, karena Chen mempercayainya. 



"Tuan, percayalah padaku …," pinta Dishi dengan tulus. 




\*\*\*\*\*\*\*\*


Di kediaman Wang. Jovan hadir membawa kabar Chen ingin menikahi Lin Aurora di Jogja kepada Tuan dan Nyoya Wang. Dengan sedikit kegugupan, Jovan akhirnya mampu melaksanakan permintaan dari sepupunya itu. 



"Apa ide gila ini dari, Chen?" tanya Tuan Wang. 



"Benar, Paman," jawab Jovan. 



Brak! 



Suara yang begitu keras dan kasar di meja ruang tamu. "Kurang ajar! Siapa yang mengizinkannya seenaknya seperti ini!"



Jovan langsung menunduk. "Paman, ini telah menjadi keputusannya. Bagaimana lagi? Saya sendiri juga tidak bisa ikut campuri hal peribadinya," ucapnya sedikit ketar-ketir. 



Tuan Wang hanya tidak ingin Chen terburu-buru dalam menikah. Apalagi dengan Lin Aurora, putri dari Tuan Besar Natt. Tuan Wang diam dan mengikuti alur karena sedang memikirkan cara agar Chen tidak jadi mewujudkan perjodohan itu. 



"Konyol! Konyol sekali!" sentaknya. 



"Chen bukanlah orang yang bodoh, kenapa dia terjebak seperti ini? Padahal aku sudah memikirkan cara untuk membuat perjodohan konyol itu batal," kesal Tuan Wang. 



Jovan pun menjelaskan kepada Tuan Wang, tentang kecurigaan Chen terhadap Tuan Besar Natt. Dengan menikahi Lin Aurora, itu akan mempermudahkan Chen untuk bergerak. 



"Apa mak--" hampir saja Tuan Wang tegang lagi, sudah di sela oleh Nyonya Wang. 



"Suamiku, tenanglah. Dengarkan apa yang ingin Jovan katakan, dan pahamilah apa maksudnya," tutur Nyonya Wang. 



"Baiklah, katakan!"



Jovan kembali menceritakan soal perusahaan milik Chen yang ada di Amerika. Beberapa waktu lalu, perusahaan itu mengalami kemerosotan diagram penjualan, itu semua ada campur tangan antara Jackson Lim dan juga Tuan Besar Natt. 



"Lagi, markas di perbatasan terbakar, dan mengakibatkan kekayaan keluarga kita hangus begitu saja  … juga adanya campur tangan dari Tuan Besar Natt," lanjut Jovan. 



"Chen, sudah hampir setengah jalan untuk mengambil kembali harta yang terbakar itu. Maka dari itu, mohon Tuan dan Nyonya bekerja sama dalam hal ini," tukas Jovan dengan jantung deg degan, tangan gemetar dan mulai keringat dingin. 



"Chen, awas saja kau! Aku akan membunuhmu jika Ayahmu tidak menyetujui hal ini. Bisa-bisa, kepalaku di penggal oleh Ayahku sendiri!" batinnya mulai gusar. 



Tuan Wang terdiam. Sepasang mata yang tajam, dahi yang mengerut dan juga alis yang ditinggikan itu pertanda bahwa pria yang masih gagah meski berusia sudah memasuki kepala lima itu gelisah. 



Setelah lima belas menit, akhirnya Tuan Wang menjawab, "Baiklah, siapkan segala sesuatunya. Aku dan istriku akan berangkat kapan pun yang kalian mau!"