
Tiba dimana Aisyah, Yusuf, Tuan Jin dan juga Feng sampai ke Jogja. Mereka tiba malam hari. Perjalanan memang ditempuh tidak sebentar. Aisyah masih terus diam dan tidak mau bicara dengan siapapun. Padahal sebelumnya, dia masih mau bicara dengan Tuan Jin.
Sampai di rumah Yusuf, seluruh keluarga sudah berkumpul di sana, termasuk Gwen dan Agam. Dimana Gwen meminta paksa pulang, sedangkan sebelumnya dirinya masih opname di rumah sakit.
"Kak Aisyah, katakan padaku, siapa yang merencanakan ini semua, hah?" Gwen langsung berlari menanyai Aisyah. "Jenazah mereka akan tiba besok pagi, kenapa Kak Aisyah hanya diam. Katakan apa yang sebenarnya terjadi?"
"Kak, Kak Aisyah!"
"Kenapa kau hanya diam saja! Jawab aku!"
Gwen terus saja mendesak Aisyah untuk menjawab. Yusuf duduk lemas dan terus menyentuh keningnya karena sang istri, yang sangat ia cintai meninggal dunia karena ledakan gedung tersebut.
"Kak Aisyah, jawab aku!"
"Tak bisakah kau menyelamatkan Kak Chen dan Mami juga? Kenapa kau sangat egois? Kenapa kau hanya menyelamatkan Ayah saja?" Gwen terus menangis.
Tak peduli bagaimana suaminya menenangkannya, tetap saja Gwen menyalahkan Aisyah malam itu.
"Jangan kamu pikir, kamu yang tumbuh bersama dengan Ayah, lalu memilih tidak menyelamatkan Mami dan juga Kak Chen. Kenapa kamu egois, Kak!" teriak Gwen.
Aisyah bahkan tidak berekspresi apapun saat Gwen terus menuduhnya yang bukan-bukan. Emosi, orang jika sedang emosi, pasti akan mengatakan hal di luar batas pikiran mereka.
"Aku besar bersama Mami, Kak Chen orang yang paling menyayangimu. Kenapa kamu tidak menyelamatkan mereka, malah menyelamatkan orang lain, suami dari Puspa, hah!" sambung Gwen.
"Gwen, sudahlah!" tegas Feng.
"Gwen, jangan seperti ini. Tidak baik jika terus menyalahkan kakakmu seperti ini. Kita semua juga pasti tahu, Aisyah tidak mau hal ini terjadi juga. Apalagi, suaminya masih belum ada kabar," Laila mencoba menenangkan keponakannya itu.
"Itu karma baginya! Itu karma karena dia tidak menyelamatkan Ibu yang terlah melahirkannya, dan kakak yang sudah berjuang untuknya!" ketus Gwen.
"Sayang, sudahlah. Ini bukan waktu yang tepat untuk saling menyalahkan," tutur Agam.
"Mas! Mas Agam kenapa, sih, malah belain dia? Apakah karena kalian pernah memiliki cita-cita ingin menikah dan hidup bersama jadi Mas Agam membela dia?" Gwen semakin salah paham.
"Dia? Kamu nyebut kakak kamu dengan sebutan dia? Dimana sopan santun kamu, Gwen!" timpal Tama.
Gwen menatap mata Tama. Biasanya, apapun yang terjadi, Tama selalu membelanya. Namun kali itu, emosi Gwen memang terkesan berlebihan jika menyalahkan Aisyah. Apalagi sampai menyebut kakaknya sendiri dengan sebutan 'dia'.
"Mas Tama, bentak aku?" mata Gwen mulai berkaca-kaca. "Semuanya belain Kak Aisyah, kenapa nggak ada sayang sama aku. Hanya Mami dan Kak Chen yang sayang sama aku, kalian jahat!" teriak Gwen, kemudian masuk ke kamar.
"Gwen,"
"Ustadz, tolong kamu tenangkan Gwen dan beri pengarahan, ya ….," lanjut Tama.
"Aisyah, kamu jangan dengarkan kata-kata Gwen tadi, ya. Dia sedang emosi, kamu tahu sendiri kan, jika dia sudah emosi bagaimana?" tutur Airy.
"Lalu, apakah aku tidak boleh emosi? Aku juga memiliki perasaan seperti Gwen. Kenapa Gwen menyalahkan aku dengan segala tuduhannya itu? Bibi, tidak ada yang mau kehilangan orang yang kita cintai. Apalagi aku sama sekali belum mendengar kabar tentang suamiku. Apakah aku tidak boleh emosi? Apakah hanya Gwen yang boleh emosi?"
Aisyah mengatakan hal itu bahkan masih dengan tatapan datarnya. Kemudian beranjak dari sofa dan pergi ke kamar lamanya. Pintu di tutup rapat-rapat dan dia pun mulai menangis. Suara tangisannya sampai terdengar dari luar.
"Aisyah sangat terpukul. Aku yakin, dia juga merasa bersalah saat ini," gumam Adam lirih.
"Tadi dia masih mau bicara dengan Tuan Jin. Tapi sekarang, sama siapapun tidak respon. Baru aja dia membuka mulut," timpal Feng.
"Oh, iya. Tuan Jin, silahkan masuk. Saya akan perkenalkan dengan keluarga Aisyah yang lainnya," lanjut Feng.
Malam itu, malam yang membuat Aisyah semakin terluka. Dia pulang ke rumah setelah sekian lama. Pernah memiliki cita-cita pulang bersama suami dan jalan-jalan berdua. Namun, aemua itu sirna karena tak ada kabar dari suaminya dimana.
"Aku tidak tahu kamu masih hidup atau sudah pergi meninggalkan aku. Tapi aku yakin, kamu pasti masih hidup, Dishi,"
"Pulanglah, aku membutuhkanmu, aku merindukanmu,"
"Ibu, Kak Chen, Lin Aurora, Puspa, maaf kan aku. Aku meninggalkan kalian di dalam sana, maafkan aku. Semua ini salahku, maafkan aku--"
Aisyah duduk di kegelapan kamarnya. Dia sampai tidak ingin menghidupkan lampu karena tidak ingin melihat kekosongan kamarnya tanpa seorang suami.
Sementara itu, di kamar sebelah, Agam masih membujuk Gwen untuk tetap tenang dan mulai ikhlas dengan takdir yang sudah ada. Membelai rambut istrinya dan mulai bershalawat, berharap hati sang istri mampu lebih tenang dan bisa bicara dengan kepala dingin.
"Banyak orang mengatakan jika takdir itu indah. Lalu, bagaimana cara aku bisa meraih takdir indah itu? Sejak bayi, aku di besarkan oleh Mamiku, hatiku sangat terluka karena Mami meninggal secepat itu, Mas," ucap Gwen.
"Kita mampu meraih takdir indah itu dengan cara ikhlas. Sabar, dan menerima semuanya apa yang ada dalam hidup kita saat ini," jawab Agam.
"Mas tidak akan menyalahkan kekecewaan kamu, itu manusiawi. Tapi, coba kamu posisikan diri di posisi Aisyah. Apakah yakin, jika dia ingin semhanya terjadi? Dia baru saja bertemu dengan kakaknya dan juga Ibunya, mana mungkin Aisyah akan tega meninggalkan mereka," tutur Agam.
"Lalu, soal mengapa hanya Ayah yang ditarik oleh Aisyah. Percayalah, Sayang. Ibu, suami Aisyah, Kak Chen dan juga Puspa, pasti yang menginginkan itu terjadi,"
"Agar apa? Ketika mereka semuanya pergi, kamu masih memiliki sosok Ayah, yang dimana kamu belum puas mendapatkan kasih sayang darinya sejak kecil,"
"Mereka baik, bukan? Rela mengorbankan nyawa, demi kamu Dan anak yang dikandung ini. Dia akan memiliki kakek dan bibi yang paham dengan agama,
"Dimana keduanya, akan membantu Mamanya mengajari bab agama bersama. Bukankah, selama ini kamu sangat menyayangi Aisyah juga? Coba deh, kamu pikirkan, ucapan kamu tadi itu, menyakiti hatinya atau tidak kira-kira,"
Gwen baru bisa berpikir jika suaminya yang menjelaskannya. Agam tidak menyalahkan emosinya, dan juga tidak menyalahkan tindakannya yang sebelumnya.
Tapi, dengan memikirkan kembali kata-kata yang keluar dari mulutnya, Gwen baru sadar. Memang itu bisa melukai hati Kakaknya.