
Rebecca mematikan ponselnya dan segera terbang ke Jogja menyusul Gwen. Sebelumnya, Rebecca terus menelpon Willy dan memintanya untuk segera menyusul.
"Apa kau bosan hidup, Willy? Kau mau mati kapan, hah?" bentak Rebecca lewat telpon.
Sekian lama akhirnya Willy mengangkat telpon dari Rebecca. Willy mengaku salah dan akan menyusul Gwen ke Jogja. Tapi, nasib Willy memang selalu apes, Rebecca sudah terlanjur berkemas dan mengambil penerbangan pagi ke Jogja.
Masih terus bergumam, Rebecca takut jika semua orang akan salah paham kepadanya. Terutama Aisyah dan Gwen yang belum mengerti mengapa orang tuanya harus berpisah.
Dilain tempat, Chen sedang bersiap pergi ke sekolah. Ia meminta pelayan untuk mencuci kotak makan yang ia bawa dari rumah Rebecca semalam. Hal itu diketahui oleh Cindy dan membuatnya marah.
"Kotak makan siapa itu, Chen?" tanya Cindy.
"Milikku!" jawab Chen singkat.
"Dapat dari mana? Mengapa ada inisial nama di kotak ini?" tanya Cindy semakin curiga.
"Ini Milikku. Sudahlah, aku akan berangkat saat ini juga. Aku tidak ingin terlambat hari ini," ketus Chen.
"Chen, aku ibumu,"
"Meski aku tidak melahirkanmu, tapi aku tetap ibumu yang sudah membesarkanmu. Tolong hormati aku sedikit saja!" bentak Cindy.
Chen menghela nafas panjang, kemudian merapikan kotak makannya dengan memasukkannya ke dalam tas. Tanpa berkata sedikitpun, Chen pergi begitu saja. Seperti itu sifat Chen yang selalu dingin kepada Cindy. Hal itu ia terapkan ketika mengetahui kenyataan bahwa dirinya bukanlah anak dari Cindy.
Sebelum ke rumah Rebecca mengembalikan kotak makan tersebut, Chen bertemu dengan Asisten pribadinya yang sudah diutus oleh Tuan Wang untuk mengantarnya tes DNA lebih dulu. Chen akan melakukan tes itu, guna mengetahui dirinya putra dari Tuan Wang atau tidaknya.
"Tuan Muda, apakah ini tindakan yang benar?" tanya Asistennya.
"Jangan banyak bertanya!" sulut Chen.
"Bagaimana jika hasilnya tidak sama dengan kenyataan, Tuan Muda?" tanya Asistennya lagi.
"Jika memang begitu, aku bisa lebih mudah mencari orang tua kandungku dan meninggalkan keluarga yang selalu ditakuti orang seperti ini. Sudahlah, sebaiknya kita segera ke rumah sakit dan jangan lagi banyak bertanya," jelas Chen.
"Baik, Tuan Muda."
Berangkatlah mereka ke rumah sakit. Di sana, Chen berpapasan dengan Jovan dan kakaknya yang sebagai dokter rumah sakit tersebut. Chen tidak tahu bahwa Jovan juga sedang uji DNA menggunakan rambut Rebecca dan rambut milik Chen.
"Hey, kau juga datang?" tanya Jovan.
"Kenapa kau ke sini?" tanya Chen.
"Tidak ada hal lain, aku bosan dengan kehidupanku. Jadi, aku pergi ke sini untuk melihat perawat yang cantik," celetuk Jovan.
Chen meminta Asistennya membawa masuk apa yang menjadi persiapan untuk tes DNA tersebut. Sementara Jovan tengah berbincang mengenai Rebecca kepada Chen.
"Apa kau kemari mau tes kembali?" tebak Jovan.
"Maksudmu?" tanya Chen.
"Aku pernah bilang bukan, kalau Paman Wang, bukanlah ayah kandungmu. Kenapa kamu tidak mempercayaiku?" bisik Jovan.
"Mungkin memang tidak ada bukti, tapi Koko-ku tahu segalanya. Ayolah, sebaiknya kita segera mencari orang tua kandungmu, Chen," lanjut Jovan.
"Diamlah!" seru Chen.
Sudah sejak lama Jovan juga mengatakan jika Chen bukanlah keturunan dari keluarga Wang. Namun, karena Tuan Wang adalah penerus klan miliknya, ia harus mengadopsi anak dari bayi yang di bawa oleh Cindy sembilan tahun yang lalu.
Chen sendiri juga sering mendengar desas-desus jika dirinya bukanlah keturunan langsung dari Tuan Wang. Tapi, ia belum percaya jika tidak ada bukti nyata untuk melandasi desas-desus tersebut.
Hasil DNA akan keluar esok hari di waktu yang sama. Chen akan segera kembali ke sekolahannya dan hidup layaknya anak-anak yang polos di usianya. Berbeda dengan Chen, Jovan malah tidak pernah pergi ke sekolah. Ia lebih suka mempelajari ilmu dalam pertahanan diri.
"Apa kamu tidak pernah sekolah selama ini, Rifky?" tanya Guru.
"Ayolah, Ibu Guru yang cantik. Sekolahanku beda dengan sekolah di sini. Jadi, aku mana ngerti pelajaran ini," jawab Gwen.
"Tapi, Rifky … ini sangat penting loh bagi masa depan kamu. Belajar itu sangat menyenangkan," ujar Ibu Guru.
"Heleh, menyenangkan apanya? Pusing iya, ini apa juga? Matematika paling aku benci, aku juga malas menghafalkan rumus!" seru Gwen menggebrak meja.
Sebelumnya Yusuf sudah mengatakan kepada Guru dan kepala sekolah jika putra (i) nya memang tidak besar bersamanya. Jadi, Yusuf meminta agar Guru sabar dalam membimbing dirinya. Benar, Ibu Guru itu sangat sabar membimbing Gwen, namun Gwen sendiri yang mempersulit hidupnya dengan terus meminta bayaran di setiap jawaban dari pertanyaan yang diberikan Ibu Guru.
"Aku akan menjawabnya, tapi Ibu Guru yang cantik ini harus membayarku. Satu jawaban 20 ribu saja. Bagaimana?" ujar Gwen menaikkan alisnya.
"Pertanyaan Ibu hanya 10, Rifky. Masa iya kamu ingin Ibu membayar 200 ribu?" ucap Ibu Guru.
"Em, kalau begitu 10 pertanyaan harganya 150 ribu, bagaimana?" Gwen masih saja bernegosiasi.
"Tidak!" tolak Ibu Guru.
"Dih, ya udah 80 ribu. Nggak ada lagi tawar menawar, atau aku keluar dari kelas!" sulut Gwen.
Mau bagaimana lagi, Yusuf terlihat memantau dari jendela kelas dan menganggukkan kepala. Ibu Guru membuka dompetnya dan memberikan lembaran 20 ribuan sebanyak 4 lembar. Dengan mudahnya, Gwen menjawab pertanyaan matematika tersebut.
"Dah," ucap Gwen memberikan bukunya kepada Ibu Guru.
"Cepat sekali?" tanya Ibu Guru.
"Cuma perkalian dengan huruf satuan, ya gampanglah!" sahut Gwen.
"Kamu mempermainkan Ibu?" tanya Ibu Guru.
"Nggak juga, ini namanya bisnis, Bu Guru cantik. Ingat, bisnis!" desis Gwen menggibaskan uang pemberian Ibu Guru tersebut.
Gwen ini sebenarnya memang bisa mengerjakan soalan. Namun, ia pemalas jika pelajaran tersebut tentang sekolah. Gwen lebih suka berlatih belati dan juga berlatih strategi bersama Chris di belakang rumahnya di Australia sana.
***
DI bandara, Rebecca menghubungi kembali Yusuf. Tanpa menyembunyikan apapun lagi, Yusuf memberitahukan kepada Rebecca bahwa Gwen ada di sekolah bersamanya. Rebecca langsung pergi ke sana setelah Yusuf mengirimkan alamat sekolah tersebut.
Saat itu jam istirahat, Yusuf sedang membawa Gwen dan Aisyah makan bersama di kantin sekolah. Kantin sekolah ada di depan sekolah itu, datanglah Rebecca langsung menjewer telinga Gwen yang sedang asik makan batagor.
"Gwen, ayo pulang! Hukuman apa yang pantas untuk anak pembangkang sepertimu ini, hah!" teriak Rebecca menarik telinga Gwen dan menyeretnya menjauh dari Yusuf dan juga Aisyah.
"Ibu--" suara lembut itu keluar dari mulut Aisyah.
Langkah kaki Rebecca terhenti. Kemudian menoleh kearah Aisyah. "Aisyah," sebutnya dengan lirih.
"Assallamu'alaikum, Ibu--"
"Ibu … Ibu, aku …."
Aisyah mundur dan memeluk Ayahnya. Rebecca melepas jewerannya kepada Gwen dan bersimpuh di depan Aisyah. Mengulurkan tangannya kepada Aisyah yang bersembunyi di balik tubuh Ayahnya.
Uluran tangan itu di tepis oleh Gwen sendiri seraya berkata, "Apa Mami tidak malu, hah? Beraninya kamu mau menyentuh saudariku setelah kamu memisahkannya denganku selama sembilan tahun ini?"
"Gwen--" sebut Yusuf dengan lembut.
Air mata Gwen menetes ketika Yusuf memanggil dengan nama aslinya. Gwen merasakan sesak dalam dadanya dan akhirnya bisa memanggil Yusuf dengan sebutan 'Ayah'.
"A-Ayah …."