Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Masih seputar Aisyah



Malam ketika makan siang, Aisyah di suapi oleh ketiga saudara sepupunya, Feng, Faaz dan juga Ayden. Belum lagi, kedatangan Tama, anak dari Raditya dan Aminah, ia juga turut memperhatikan Aisyah yang saat itu masih sakit. 


"Kenapa di suapi kalian nggak seenak di suapi, Kak Chen, ya?" ujar Aisyah. 


"Ai," sebut keempat saudara sepupunya. 


"Haha, kalian bahkan sekarang kompak memanggilku dengan sebutan itu. Bagus, bagus, haha. Ayo, suapi ratu kalian lagi!" celetuk Aisyah dengan tawa kecilnya.


Aisyah sangat mujur dalam hubungan keluarga, tapi tidak dengan hubungan asmaranya. Sering kali dirinya di tinggal menikah oleh pria yang dia diam-diam sukai. Tama, seorang kakak yang sangat menyayangi Aisyah. Jika saudara sepupu yang lain ada di luar negri, Tama selalu di dalam negri menyempatkan waktu bersama Aisyah dan Gwen sejak masa kecil. 


"Mas Tama, bagaimana usaha, Mas?" tanya Aisyah masih di suapi oleh Feng bergantian dengan Faaz dan Ayden. 


"Alhamdulillah masih lancar, besok kalau kamu mau ke Korea … kabari Mas ya, Mas juga pengen ikut, mau lihat tower yang terkenal itu, tower di mana orang tua Mas menyatakan perasaannya masing-masing," senyum Tama begitu mempesona, hingga Aisyah saja jatuh hati kepada kakak sepupunya itu. (sayang sebagai adik kakak)


"Mama, Kay mau menyuapi Mama, boleh?" Ilkay kecil menerobos duduk di samping Aisyah menyingkirkan Faaz. 


"Tentu saja, kamu kan cintanya Mama. Sini, suapi Mama," 


Melihat Aisyah yang terlihat bahagia ketika dekat dengan Ilkay, membuat para kakak sepupunya ikut senang. Memang Ilkay anak dari kakaknya, tapi terlihat sekali jika Ilkay bagaikan nyawa bagi Aisyah. 


"Hey, kau mendorongku, bocil?" sulut Faaz hampir saja terjengkang. 


"Ups, maaf Paman. Kay tidak melihat Paman. Di mata Kay hanya ada Mama saja, maaf, ya …," jawab Ilkay sembari menyuapi Mamanya. "Lihatlah, kaki Kay jadi kotor karena kuah sayur yang Paman tumpahkan, ayo ganti rugi!" seru Ilkay menadahkan tangannya.


Seketika, Tama, Aisyah, Feng, Faaz dan Ayden melihat Gwen dalam diri Ilkay. Sama persis gerak gerik kala memalak mereka. "Paman! Kenapa kau hanya diam saja? Mana kompensasi, Kay?" sambung Ilkay. 


"Gwen meninggalkan jejak pada anak ini," ucap Feng lirih. 


"Siap-siap dompet kita kosong," sahut Ayden. 


"Dia mata duitan seperti Gwen, ketus seperti Chen dan manja seperti Aisyah. Sudahlah, kita memang ditakdirkan untuk menyayangi mereka bertiga, bukan?" timpal Tama. 


Berkumpul seperti itu adalah waktu yang sangat langka bagi keluarga yang memang tinggalnya jauh di luar negeri sana. Aisyah terlihat sangat bahagia memiliki saudara sepupu yang semuanya laki-laki, juga mampu menjaganya dengan baik. 


"Gwen, berbahagialah sekarang. Kamu memiliki seorang suami yang kelak akan menjadikanmu ratu dalam hatinya. Maafkan aku, selama ini ... Aku hanya bisa menyayangmu seperti itu saja," ungkap Aisyah dalam hati. 


"Mama, di mana Ayah? Kenapa Ayah lama sekali perginya?" tanya Ilkay sibuk makan telur rebus. 


"Nah loh! Anakmu tanya bapaknya. Jawab sono!" seru Faaz. 


"Ilkay main aja dulu, atau belajar gitu sama Kakek buyut di pesantren. Bisa?" Aisyah meminta Ilkay untuk sibuk dengan pelajaran agama dan akhlaknya dengan Syakir. 


Mendengar nama Kakek buyut membuat Ilkay sangat semangat. Semua orang sangat menyayangi Ilkay, sehingga dirinya selalu manja dengan semua keluarga. Sesaat Ilkay pergi, Feng mempertanyakan kapan Aisyah dan Asisten Dishi akan menikah. Hal itu juga ditanyakan oleh Ayden juga Tama. 


"Aku belum mau menikah, aku masih punya impian, masih ingin bebas, aku akan fokus merawat Ilkay dan juga belajar ku, paham?" tegas Aisyah. 


"Saat kamu memutuskan untuk mengadopsi, Ilkay. Apa kamu tidak berpikir jika dia juga membutuhkan sosok ayah, Ai?" tanya Tama. 


"Kalian semua bersamaku, ada Kak Chen juga. Kalian juga bisa kan jadi Ayahnya?" Aisyah masih keras kepala. 


"Ai, apa yang membuat kamu belum siap menikah?" tanya Faaz. 


Aisyah diam saja. Ia juga tak bisa menatap keempat saudara sepupunya karena jawaban yang ia berikan hanya akan menyakiti hatinya sendiri. 


"Ai, katakan saja. Siapa tahu, kita bisa bantu kamu," sambung Ayden. 


"Jangan ditanya lagi. Dia tidak akan menjawab pertanyaan kita. Kita telah tersingkir oleh kedatangan kakak kandungnya. Bukan begitu, Ai?" Feng putus asa, cemburu karena Aisyah selalu saja memuji Chen. 


"Kalian mau tau? Ini bukan rahasia lagi, 'kan?" ujar Aisyah mulai berkaca-kaca matanya.


"Kita semua keluarga. Jadi kalian juga tahu, kalau aku trauma akan pernikahan. Meski aku belum pernah menikah,"


"Kalian tahu betul, bagaimana dengan rumah tangga ayah dan ibuku waktu itu. Lalu, setiap kali aku mencintai seorang laki-laki, seorang laki-laki itu meninggalkan aku dan menikah dengan wanita lain,"


"Dan rasanya sakit sekali. Aku tahu, mencintai itu juga mempunyai batas wajar. Tapi sangat sakit jika di pikirkan lagi," tangkas Aisyah menyeka air matanya. 


Tama menyeka air mata Aisyah menggunakan tisu. Kemudian, Feng juga bertanya tentang hubungan Aisyah dengan Asisten Dishi saat itu. 


"Ko, aku nggak bisa berharap lebih kepadanya. Kami berbeda ...," jelas Aisyah. 


"Ai, tapi bagaimana dengan Ilkay? Jika kamu ke Korea, bersamanya ... Bagaimana kamu akan menjawab, ketika dia tanya kenapa Ayahnya tidak ikut?" sahut Ayden. 


"Berat kali masalah ini. Kita juga nggak tau mau bantu apa lagi," timpal Faaz. 


"Sudahlah, kita akan pikirkan hal ini lain kali. Ratu kita kalau bisa jangan menikah dulu. Yang ada, nanti kita malah akan kehilangan dia. Bagaimana jika besok, kita kunjungi Gwen ke rumah suaminya? Aku belum ketemu dengannya soalnya," Tama memang sangat dewasa. Dengan sisi lembutnya, ia mampu mencairkan suasana yang sebelumnya kacau. 


"Mumpung kita juga masih ada di sini. Kita akan ikut ke rumah suami Gwen besok, bagaimana yang lain?" sahut Feng. 


"Setuju!"


"Iya, aku setuju!"


"Jadi, ratu kita tidak boleh menangis, oke? Senyum dong,"


Dari balik gorden kamar, Kabir mendengar kelima cucunya. Teringat puluhan tahun silam, kala Kabir, Syakir dan juga Akbar mencurahkan hatinya di taman kota dengan sang kakak, Aisyah Putri Handika. 


"Aisyah sama dengan Kak Ais dulu. Bijaksana, dewasa dan selalu mengorbankan diri untuk kebahagiaan keluarga," batin Kabir. 


"Kak Ais, andai saja kamu dapat melihat bagaimana dengan keturunanmu itu, kamu akan bangga. Aku masih sangat ingat saat kamu hendak menikah dengan Kak Rifky,"


"Di taman kota, kami, aku, Syakir dan Abang mencurahkan isi hati kami kepadamu. Hal itu terjadi lagi, kala melihat keturunan kami semua berkumpul,"


"Kak Ais, aku merindukan dirimu. Tapi, Aisyah yang saat ini memang mengingatkan akan dirimu," tukas Kabir meneteskan air matanya. 


Hubungan keluarga jika harmonis, maka rezeki akan dilancarkan dan segala urusan juga akan berjalan dengan lancar. Untuk itu, mari kita saling menjaga kerukunan keluarga, sekalipun ada keluarga yang tidak baik, jauhi untuk sementara, dan dekati kembali di saat yang sudah tepat. Mempertahankan tali silaturahmi itu sangat sulit.