Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Berubahnya Sikap Chen



Kembali dengan Chen di malam pertamanya. Ia mengajak Lin Aurora untuk tidur di kamarnya, karena memang mereka sudah bisa saling bersentuhan dan halal melakukan apapun. Namun, tatapan Chen berubah drastis dari sebelum melaksanakan akad sampai sesudah akad. 


"Chen, apakah kita akan_" 


"Jangan berharap!" sahut Chen dengan ketus sebelum Lin Aurora menanyakan pertanyaannya.


"Kenapa dia jadi dingin lagi? Apakah karena Ayah dan Ibunya bertengkar? Iya mungkin, aku harus pahami posisi dia," gumam Lin Aurora dalam hati. 


Malam itu, Chen membiarkan Lin aurora tidur sendiri. Sementara dirinya sibuk bersama laptopnya dan duduk sofa. Alhasil, Chen ketiduran di sofa sampai subuh menjelang. 


Suara adzan membangunkan orang  seluruh rumah. Lin Aurora terbangun melihat Chen tidur di sofa dengan alis yang menyerit. Itu tandanya, Chen tidur dalam keadaaan tidak nyenyak. Ada sesuatu yang Chen khawatirkan sampai terbawa tidur. 


Lin Aurora mengulurkan tangannya. Hendak menyentuh dahi Chen, namun ia urungkan karena Chen sudah terbangun. Sorot matanya yang tajam, kornea matanya yang biru itu membuat Lin Aurora terpana. Mereka saling menatap satu sama lain. Hingga suara ketukan  pintu memecahkan keheningan. 


Tok …tok … 


Suara ketukan pintu itu, ternyata Tama yang mengetuknya. "Chen, ayo kita ke masjid! sebentar lagi akan naik ini!" panggil Tama. 


"Aku datang!" sahut Chen. 


Chen mendorong pelan tubuh Lin Aurora. Masih dengan ketidak tahuan, Lin Aurora masih menganggap jika Chen hanya sedang khawatir kondisi Gwen yang saat itu masih di rumah sakit. 


"Apa akan siapkan bajumu," ucap Lin Aurora. 


"Tidak perlu!" ketus Chen, masuk ke kamar mandi. 


Tak lama setelah itu, Chen selesai mandi dan segera bersiap memakai baju koko dan sarungnya. Lin Aurora tetap menyiapkan pakaian untuk Chen, meski Chen menolaknya. 


"Aku tidak suka warna itu," kata Chen meninggalkan pakaian yang di siapkan oleh Lin Aurora. Tanpa berpamitan, Chen pergi begitu saja. Apa yang membuat Chen sedingin itu lagi?


Malam setelah Lin Aurora tidur, Tuan Natt mengirim email kepadanya. Jika dirinya harus memberikan saham perusahaannya yang ada di Amerika sebanyak 30%, kompensasi karena telah membawa Lin Aurora pergi selama lebih dari 12 hari. 


Dibalik rencana jahat Tuan Natt ingin menghancurkan keluarga Wang, ternyata Tuan Natt juga ingin menguasai seluruh kekayaan keluarga Wang sedikit demi sedikit. 


"Jovan, bagaimana keadaan Gwen saat ini?" tanya Chen. 


"Dia sudah baik-baik saja. Peluru itu meleset, sayatannya juga tidak terlalu dalam. Mungkin tidak lama lagi akan pulang. Hanya saja, memang adikmu membutuhkan waktu istirahat lebih lama, karena dia sedang hamil muda," jawab Jovan.


"Apa ada kabar terbaru, Chen?" tanya Jovan kembali. 


"Tuan Natt meminta saham 30% perusahaan yang ada di Amerika  untuk biaya kompensasi karena aku membawa putrinya selama 12 hari lebih," ungkap Chen. 


"Apa? Bukankah … kau sudah mengalihkan semua saham perusahaan itu atas nama Asisten pribadimu, Dishi?" sahut Jovan. 


"Aku tidak tahu harus menggantinya dengan apa. Hal yang sudah aku berikan, mana mungkin aku tarik kembali. Perusahaan itu juga masa depan Dishi dan adikku Ai," ucap Chen. 


Chen membahas itu sambil jalan ke masjid. Sementara Jovan juga baru saja terbangun, masih di rumah sakit menemani Tuan Wang. 


"Ada apa? Apa ada masalah?" tanya Tama. 


Chen tidak menjawab. Ia diam saja dan fokus pada jalannya yang memandang ke sekitar jalanan. "Chen, aku juga sepupumu. Jika kau ingin bertukar pikiran denganku … maka aku akan segat senang. Siapa tau aku bisa membantu kesulitanmu!" Tama menawarkan diri. 


"Aku akan ceritakan nanti setelah kita pulang." jawab Chen dengan wajah datarnya. 


"Semoga saja … mereka suka degan masakan yang aku buat!" gumamnya dalam hati. 


Setelah salat subuh, Lin Aurora begitu repot sendiri menyiapkan semuanya. Dari makanan sampai sarapan yang ia siapkan untuk Chen dan Tama. Lalu, koper kecil milik Gwen juga sudah ia siapkan di samping meja tamu.


"Aku akan mandi sebentar. Kemudian meminta Chen untuk mengantarku," gumamnya.


*****


***


Pukul enam pagi, Chen dan Tama sudah sampai di rumah. Chen berniat akan negosiasi dengan Gwen masalah perusahaan glory world yang sudah ia berikan kepada Gwen, untuk membeli sahamnya sebanyak 30%. 


"Kamu sudah yakin? Apa Gwen akan menjualnya padamu? Bukankah itu juga pemberianmu, Chen?" tanya Tama meyakinkan Chen lagi. 


"Tidak ada cara lain. Nanti aku diskusikan juga dengan Jovan dan Dishi. Masalahnya, Ayahnya Lin Aurora meminta sore ini segera di selesaikan. Aku hanya tidak ingin merusak kepercayaan orang lain yang ditanamkan padaku saja," jelas Chen berbohong. 


Chen hanya akan mengikuti alur dari Tuan Natt terlebih dahulu. Dengan begitu, ia akan tahu bagaimana akan bertidak kepada pria kejam yang kini telah menjadi mertuanya itu. 


"Assallamu'alaikum, Nona Lin! Kamu di mana?" salam Tama dengan ramah. "Wah, MasyaAllah … sudah ada makanan di sini. Pasti istrimu yang masa, Chen!" seru Tama. 


"Hm," jawab Chen. 


Masalah pribadi seperti urusan hati, Tama memang tidak ingin ikut campur. Ia lebih tertarik jika Chen membahas bisnis saja daripada masalah cinta. 


"Istrimu yang masak, jadi aku akan menghargainya dengan sarapan banyak pagi ini, sebelum aku pulang," celetuk Tama. 


"Makanlah, aku akan mengganti pakaian dulu. Hari ini, sepertinya aku juga harus kembali," sahut Chen dengan mengendorkan kancing lengannya dan segera masuk ke kamar. 


Belum terbiasa, masih merasa jika itu adalah kamarnya sendiri, Chen sama sekali tidak mengetuk pintu terlebih dahulu. Chen asal main buka dan mendapati istrinya sedang telanjang bulat karena handuknya terlepas. 


"Chen!" teriak Lin Aurora. 


Segera Chen membalikkan tubuhnya dan menghindari kontak mata pada tubuh istirnya itu. "Apa kau sedang menggodaku, Lin Aurora?" desis Chen, terdengar kesal. 


"Se-seharusnya ka-kamu ketuk pintu dulu," ujar Lin Aurora. 


"Ini kamarku," jelas Chen. 


"Tapi ini juga kamarku. Kau lupa, semalam kau mengatakan bahwa mulai saat ini kita akan tidur sekamar?" Lim Aurora sengaja menjelaskan kembali, supaya Chen tidak melupakan ucapannya sendiri. 


Chen masih kesal dengan sikap Tuan Natt, sehingga ia hanya bisa melampiaskan kekesalannya kepada putrinya, Lim Aurora, yang kini telah menjadi istrinya. 


"Aku akan ganti baju, kau pergilah!" usir Chen. 


"Kau mengusirku?" tanya Lin Aurora heran. 


"Kau ganti baju di kamar mandi. Apa susahnya, mengapa masih banyak bertanya, hah!" bentak Chen sembari membanting pintu almarinya. 


Lin Aurora tidak mengerti mengapa Chen berubah. Memang sebelumnya masih dingin sikapnya lepasan dirinya. Hanya saja, Lin Aurora tidak tahu jika Chen memiliki sifat yang lebih buruk itu. Rasa seperti apa yang dimiliki Chen yang sebenarnya?