
Waktunya salat subuh tiba, alarm yang dipasang Feng berbunyi. Ia segera bangun dan ingin mengajak Aisyah untuk salat bersama-sama. Tentunya dengan Syamsir juga.
"Lah, kamu sudah bangun, Syah?"
Feng melihat Aisyah tengah duduk dengan menyelimuti seluruh tubuhnya menggunakan selimut. Feng jadi ingat, saat mereka kecil, mereka pernah mengunjungi tempat yang angker. Aisyah melihat sesuatu dan pulangnya, ia menjadi demam tinggi.
Namun sebelum demam itu menyerang, Aisyah akan menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut terlebih dahulu.
"Syah, kamu kenapa?" tanya Feng lagi. "Apa kamu melihat penampakan?"
Aisyah mengangguk pelan. Meski ketakutan, Aisyah tetap tidak menunjukkan bahwa dirinya tengah takut, ia hanya menutupi seluruh tubuhnya dan diam saja.
"Lalu, dimana Syamsir?" tanya Feng kembali.
"Dia aku tinggalin di belakang, dan sampai sekarang belum kembali," jawab Aisyah membuka selimutnya.
"Belakang? Kalian dari belakang? Kenapa? Ini bukan tempat kalian dan kalian pergi ke tempat lain tanpa memberitahuku?" kesal Feng.
Aisyah malah jauh lebih galak, ia menyalahkan Feng karena dia tidak bangun ketika Aisyah membangunkannya. Aisyah mengatakan jika Syamsir ingin buang air, namun tak ada diantara Feng dan Aom yang bangun untuk mengantarnya.
"Koko tidur dengan sangat pulas, aku tak tega dengan Bang Syamsir. Makanya aku temani sendirian, sekarang Koko menyalahkan aku, hah?" pekik Aisyah.
"Ih, kok ngamok?" jawab Feng.
Aisyah mengajar Feng kebelakang untuk menjemput Syamsir. Sementara Aom masih tertidur, sebab dia tidak melaksanakan sholat subuh.
Ketika membuat pun belakang, Feng dan Aisyah terkejut bukan main. Syamsir tergeletak di pinggir sumur. Segera Feng berlari dan membangunkannya. Aisyah sendiri terus menerus dimana makhluk aneh itu. "Alhamdulillah, rupanya makhluk itus sudah pergi." batinnya dengan menarik napas lega.
"Bang, Bang Syamsir. Bangunlah!"
"Bang Syamsir, bangun!"
Feng terus saja membangunkan Syamsir. Namun, Syamsir tak kunjung bangun juga. Feng bahkan sampai menyipratkan air ke wajahnya, tetap saja Syamsir enggan untuk bangun.
"Kalau banguninnya seperti putri solo begitu, dia tidak akan mungkin bangun. Ingat aku yang dikatakan mantan kekasihnya kemarin?" kata Aisyah mengingatkan kejadian pagi tadi sebelum mereka datang ke desa itu.
"Oh, iya!" Feng mengingat sesuatu.
"Syamsir, bangunlah. Kekasihmu datang membawa parang, dia juga menuduhmu selingkuh lagi," bisik Feng ke telinga Syamsir.
"Tak mungkinlah! Macam mana pulak diorang datang kata sini?" Syamsir akhirnya terbangun.
Krik … krik … krik.
Aisyah dan Feng memasang wajah datar. Mereka kesal tentunya karena Syamsir jarang sekali untuk serius. "Kenapa kamu di sini?" tanya Feng membantu Syamsir berdiri.
"Stt … jangan di sini ceritanya. Mending kita cepat wudhu dan salat subuh. Sebelum waktunya habis. Lagian, kasihan juga Aom berada di dalam sendirian," sahut Aisyah, ia tak ingin Syamsir menceritakan sosok hitam itu di sana.
Aisyah tahu betul, jika Syamsir pasti pingsan karena melihat sosok hitam menjulang tinggi. Mereka bergantian wudhu, lalu masuk dan salat berjama'ah dengan Aom yang masih tidur.
Malam bagi Gwen dan Pak Raza. Mereka menginap di hotel yang dalamnya ada dua ranjang. Mereka terpaksa tinggal satu kamar karena tidak mungkin memesan dua kamar. Rupanya, ide itu datang dari Gwen sendiri.
"Kenapa juga kita memesan satu kamar, Gwen? Apakah kamu tidak takut sekamar dengan orang lain?" tanya Pak Raza.
"Pak Raza, jika kita pesan dua kamar ... maka pengeluaran kita akan double hanya untuk kamar saja. Lagipula, ini ranjang ada dua, kita tidur di ranjang yang berbeda, kenapa juga harus takut, sih?" jawan Gwen santai.
"Dalam agama kita ... bukan mahram itu tidak boleh tidur dalam satu ruangan, Gwen. Kenapa kamu tidak mengerti juga?" tutur Pak Raza. "Setelah salat isya', sebaiknya kita diskusikan tujuan kita datang kemari. Saya juga sudah menyiapkan materi untuk kamu belajar nanti," ucap Pak Raza membereskan sarung yang baru ia gunakan salat isya'.
"Sial, kenapa juga harus membahas pelajaran, sih? Aku akan membuatnya sibuk dengan urusanku mencari Aisyah dan juga Chen. Aku dengar dari Paman Chris jika Tuan muda Chen sedang ke negara ini," gumam Gwen mencari akal untuk menghindari pelajaran.
"Em, Pak Ra--"
"Stop, jangan menghindari pelajaran lagi. Kamu sudah berusia 22 tahun, dan itu pun masih menjadi beban keluarga. Apa kamu tidak ingin seperti Kakakmu? Bukan kah kamu dan Dokter Aisyah saudari kembar?" Pak Raza memutus ucapan Gwen, seakan ia sudah mengetahui jika Gwen ingin beralasan untuk tidak belajar.
Setelah mendengar penolakan Pak Raza, Gwen segera pergi salat isya' dengan keadaan terpaksa. Setelah itu, ia akan pergi belajar bersama Pak Raza.
Malam di negara orang membuat Gwen gelisah. Ia terus mencari keberadaan Chen dan Aisyah di kota itu. Usai belajar, ia terus mencari informasi tentang keberadaan mereka melalu laptopnya.
"Kenapa kamu belum tidur?" tanya Pak Raza.
"Aku sedang sibuk, kenapa? Apa kamu merindukan aku, Pak Raza?" jawab Gwen dengan pikiran nakalnya lagi.
"Sebenarnya, apa tujuanmu datang ke sini? Maksudnya, kita tidak mungkin terus tinggal di hotel dan mengeluarkan uang dengan cuma-cuma, bukan? Aku bukan orang kaya, jadi aku mana mungkin bisa menjamin kehidupan kita di sini," ucap Pak Raza.
"Tenanglah ... semua biaya hidup kita di sini, biarkan aku yang menanggungnya. Pak Raza cukup menemaniku saja, beres, 'kan?" jawab Gwen menggibaskan tangannya.
"Gwen, ini bukan hanya sekedar biaya hidup kita di sini. Tolong berpikirlah dewasa, kita harus memiliki tujuan datang ke mari. Kita bukanlah pasangan yang bebas kesana sini berdua saja, Gwen. Keluarga juga pasti bertanya-tanya mengapa kita datang ke sini. Sekarang katakan, apa tujuanmu mengajakku datang ke sini?"
Pak Raza terus mendesak agar Gwen mau jujur kepadanya tentang tujuannya datang ke Bangkok. Merasa bosan, Gwen mengajak Pak Raza keluar menghirup udara malam sambil menceritakan tujuannya.
Tak ada kecurigaan apapun, Pak Raza setuju saja diajak Gwen keluar jalan-jalan. Gwen mulai menceritakan tujuannya. Dengan kebetulan Aisyah juga ada di Bangkok, ia ingin sekali mempertemukannya dengan Chen.
Awal rencananya adalah mencari dimana Chen berada. Lalu, baru mencari keberadaan Aisyah dan mulai merencanakan pertemuannya. Gwen memastikan semua itu karena dirinya memiliki informasi dari orang kepercayaan di klan-nya.
Chris adalah orang yang sangat berperan penting dalam keluarganya. Jadi, ia tidak mungkin salah info mengenai Chen saat ini. Pak Raza mulai memahami masalah yang di alami oleh Gwen. Tujuannya suatu kebaikan, namun caranya salah jika Gwen tidak mau memberitahu orang tuanya.
"Dan iya, besok pagi kita chek out, kita tinggal di rumah Ayah angkatku. Tempat tinggalnya tak jauh dari daerah sini," lanjut Gwen.
"Kenapa tidak dari tadi kita ke rumah Ayah angkatmu? Itu akan jauh lebih baik daripada kita satu kamar di hotel," desis Pak Raza.
"Ya mau bagaimana lagi? Aku baru bisa menghubunginya ketika kita udah chek in. Kan sayang uangnya udah buat bayar tuh kamar, rugilah!" seru Gwen mengibaskan rambutnya.
"Otakmu hanya uang terus, apakah tidak ada yang lain?" tanya Pak Raza mengetuk kepala Gwen.
"Ada, makanan. Aku hanya tinggal mau rugi apa hidupmu di dunia. Selain agama, duit juga kebutuhan, bukan?" aja Gwen dengan senyum menyebalkan. Malam itu, mereka keliling kota dan menikmati kuliner di sana. Foto bersama dan juga bermain permainan bersama.