
"Kenapa bersama Tuan Jin? Di mana Ayden Oppa?" tanya Aisyah.
"Oh, dia mendadak ada meeting penting katanya bersama Ayahnya. Jadi ya, hanya Tuan Jin yang bisa meluangkan waktu. Bagaimana, apa kakak harus tetap tinggal, atau kau akan di rumah sendirian?" lanjut Ayyana.
Aisyah mengangguk saja. Kemudian mengucapkan kata hati-hati di jalan, lalu langsung masuk ke kamarnya lagi. Memang masih membutuhkan waktu bagi Aisyah menata hidupnya lagi.
***
Sudah satu bulan berlalu, kini Aisyah sudah mulai kembali seperti dulu lagi. Bersiap magang, dan menjalani hidupnya dengan berdamai dengan keadaan. Aisyah sudah mulai tersenyum lagi, adanya Ayyana dan Haidar di rumahnya, menambah suasana rumah menjadi ramai.
Setelah hari dimana Aisyah sangat hancur-hancuran, tidak lama kemudian Aisyah bangkit. Ia sudah pasrah dan hanya terus berdoa supaya suaminya segera ditemukan keberadaannya. Bahkan, Aisyah juga sudah ikhlas mendengar apapun kondisi suaminya jika nantinya ditemukan.
Sementara itu, Agam juga sudah kembali ke pesantrennya sendiri. Meninggalkan ayah mertua dan adik iparnya yang masih bayi. Bersama dengan putri kecilnya, Agam selalu bolak balik menjenguk sang ayah mertua yang kini hanya hidup sendirian.
Agam sebenarnya ingin sekali menetap bersama dengan ayah mertua. Hanya saja, dirinya masih memiliki tanggung jawab besar terhadap santri-santrinya yang masih menimba ilmu di pondok pesantrennya. Namun, ada rencana Ustadz Khalid akan kembali dan Agam bisa menemani ayah mertuanya, Yusuf, mendidik dan membesarkan bersama antara putri kecilnya dan juga baby Rifky.
Semua kembali berjalan seperti semula. Kepergian seseorang, hanya berakhirnya sebuah hubungan dan pertemuan di dunia. Namun, orang yang masih berjuang di dunia, bisa menyambung hubungan dengan doa-doa kepada orang yang sudah pergi lebih dulu. Kesakitan paling menyakitkan ialah sebuah perpisahan yang kekal, kematian.
Semua orang akan mengalami mati. Semua makhluk di bumi, akan berganti-gantian kembali dan hadir di dunia. Harta, pasangan, dan juga kekuasaan, bahkan kemolekan tubuh saja tidak akan berguna di akhirat nanti. Maka dari itu, selagi sehat, masih diberi napas oleh Sang Maha Agung, mari perbaiki amal ibadah masing-masing.
Di Tiongkok, Feng menemukan kabar lagi tentang keberadaan Dishi. Ditemani oleh Tama dan Xia, mereka datang ke sebuah desa kecil yang dimana katanya Dishi ada di sana.
"Weh, desa apa ini? Kenapa begini kondisinya?" tanya Tama.
"Aku juga baru tahu ada desa yang kondisinya seperti ini. Padahal negara kita negara maju," sahut Feng.
"Kita matamu. Kamu aja kali!" ketus Tama.
"Oh, aku bukan sepenuhnya produk negara ini. Jadi bukan aku saja, di belakangmu tuh__" sembari memanyunkan bibirnya, Feng menunjuk Xia.
Xia yang merasa dirinya di sindir, langsung kesal dan berteriak, "Apa kalian mau mencicipi racunku? Kenapa kalian bicara menggunakan bahasa yang tidak aku pahami, hah!"
"Aku tau, pasti kalian sedang membicarakanku yang buruk-buruk, 'kan?"
Seketika, wajah datar Tama dan Feng menjawab semuanya. Tapi, memang selama sebulan mereka tinggal bersama, Tama dan Feng selalu saja suka menggoda Xia, bahkan sampai menangis. Sebelum Xia menangis, pasti keduanya belum berhenti mengganggunya. Xia juga sudah mulai sekolah di sekolahan yang telah Sachi pilihkan. Dia juga ikut tinggal bersama Tama di apartemennya.
"Apa kita akan masuk sekarang? Atau masih mau bercanda dan membuang waktu saja?" tanya Tama.
"Cih, kau tidak asik!" ketus Feng. "Aku lebih suka bercanda dengan Chen. Huft, aku tidak menyangka dia tega meninggalkan aku!" sambungnya.
Mereka bertiga pun melangkah masuk ke gapura desa terpencil di sana. Baru dua langkah mereka masuk, banyak sekali bambu yang diruncingkan dengan ukuran kecil-kecil yang mengarah ke mereka.
"Jebakan!" teriak Feng.
Beruntung sekali ketiganya memiliki ilmu bela diri. Mereka segera menghindar, dan menampik beberapa bambu kecil yang diruncingkan itu. Setelah beberapa kali serangan, akhirnya ketiganya bisa menghindar..
"Xia, apa kau terluka?" tanya Feng dan Tama bersamaan.
Xia terkejut, dengan mata melototnya, Xia hanya mengangguk pelan, menjawab bahwa dirinya masih dalam kondisi yang baik-baik saja. Pada dasarnya, Tama dan Feng memang peduli kepada Xia.
"Kita harus berhati-hati, kupikir ini hanya desa terpencil dan kumuh saja. Rupanya, penduduknya sangat penuh dengan kewaspadaan," gumam Tama.
"Haduh, tahu seperti ini lebih baik aku duduk diam saja di kantor. Malah bisa asik memijat keyboard dan menghasilkan uang," keluh Tama.
"Mati sajalah kau!" ketus Feng.
Mereka tidak melangkah lagi, masih berdiri di tempat di mana mereka sudah melangkah sebanyak dua langkah sebelumnya. "Kakak, apakah kita akan masuk beneran?" bisik Xia.
"Kau harus waspada. Ingat, belati yang pernah aku berikan padamu, kau sudah menaruhnya di tempat yang gampang kami keluarkan, 'kan?" Feng berbisik kepada Xia, supaya penduduk desa tidak mendengar apa yang ia bicarakan.
Xia hanya mengangguk.
Tama pun meminta Feng untuk bicara, dia sangat yakin bahwa penduduk desa sedang mengawasi mereka. Awalnya, Feng malas untuk melanjutkan lagi dan akan meminta anak buahnya yang mengurusnya. Namun, nama Aisyah terlintas dalam ingatannya. Dia hanya ingin Aisyah bahagia saja. Jadi, diapun mau melakukan itu sendiri, tentu saja bersama dengan Tama.
"Selamat siang, semua penduduk desa ini. Kedatangan saya kemari, bukan ingin mencari perkara ataupun masalah. Saya hanya sedang mencari seseorang yang mungkin kalian tolong, atau masuk di desa ini sekitar 6-7 Minggu yang lalu. Kami datang bukan sebagai musuh. Hanya ingin bertanya saja," Feng mulai bicara dengan serius.
Tak ada jawaban apapun. Desa itu, gapura depannya memang ditumbuhi rumput yang menjalar panjang. Seolah, desa itu adalah desa yang sudah lama di tinggalkan, atau bisa di sebut dengan desa mati. Meski tidak mendapatkan jawaban, Tama dan Feng yakni, jika penduduk desa mendengar ucapan Feng.
"Sekali lagi, kami datang hanya ingin bertanya. Nama saya Fengying Haochun, saya adalah seorang dokter dari Kota besar. Ini adalah sepupu saya, seorang pengusaha dan ini adalah adik kecil saya. Kami hanya ingin mencari keberadaan saudara saya yang hilang 6-7 Minggu yang lalu. Orang kepercayaanku, mereka melihat saudara kami itu masuk ke gapura ini," lanjut Feng dengan yakin.
Meski sudah menjelaskan siapa dirinya dan maksud tujuannya, tetap saja tidak ada penduduk desa yang keluar, bahkan tidak menjawabnya. Sekali lagi, Feng akan berusaha meyakinkan penduduk desa di sana.
"Saudara saya yang hilang itu, memiliki seorang istri. Istrinya begitu sedih karena belum tahu kondisi suaminya sekarang. Dia baru saja kehilangan seorang putra, kedua saudaranya dan juga Ibunya. Dengan belum ditemukan keberadaan suaminya, dia begitu menderita." lanjut Feng dengan suara lebih lirih dari sebelumnya.
Apa yang dikatakannya adalah sebuah kebenaran. Aisyah ditinggal semua orang yang baru hadir dalam hidupnya. Feng dan Tama adalah saksi perjalan hidup Aisyah, jadi tahu benar bagaimana perasaan sepupunya itu.
Bagaimana dengan penduduk desa itu? Apakah desa itu benar desa mati, atau memang penduduk desa tidak mau kedatangan orang asing?