
"Hampir 20 hari ini, kita tidak berkomunikasi. Kamu kemana saja?" tanya Aisyah memecah keheningan.
"Aku berada di Amerika untuk mengurus perusahaan. Apakah Tuan Hao tidak mengatakannya kepadamu?" jawab Dishi, berbalik bertanya.
Aisyah mengangguk paham. "Dia mengajariku. Tapi, alangkah senangnya jika kamu sendiri yang mengatakannya kepadaku." katanya.
Selain diam, memang tidak ada hal lain lagi yang mereka bahas. Sampai dimana mereka telah sampai di rumah. Turun dari mobil, melihat ke sekeliling membuat Dishi merasa masih mengenal tempat tersebut.
"Hahaha, kenapa aku terlalu mendalami peran? Bukankah aku hanya pura-pura hilang ingatan saja? Ya tentu saja tempat ini tidak asing lagi bagiku dan aku mengenali tempat ini. Dishi, Dishi, semakin lama kau semakin--" belum juga Dishi menyelesaikan ekspetasinya, Aisyah mengajaknya segera masuk.
Dishi masih saja berakting dengan pura-pura bingung di gedung apartemen tersebut. Supaya tidak memberikan rasa kecurigaan kepada sang istri. "Kami tinggal di sini sudah berapa lama?" tanyanya.
"Apa kamu tidak ingat sesuatu?" Aisyah kembali bertanya.
"Maaf--"
"Tenang saja, aku akan membuatmu mengingat semuanya secara perlahan. Kamu jangan khawatir, ayo masuk, kita sudah sampai di rumah kita," sahut Aisyah tulus.
Melihat betapa tulusnya Aisyah kepadanya, membuat Dishi menjadi tidak tega untuk terus membohongi. Namun, jika saja saat itu Dishi langsung mengaku, waktunya pun belum tepat untuk jujur kepada istrinya. Dishi hanya terus beristighfar meminta kekuatan hati untuk menerima konsekuensinya karena sudah berlaku tidak jujur kepada sang istri.
Mereka pun masuk langsung disambut dengan foto mereka berdua usai melakukan ijab qobul hampir satu tahun yang lalu. Melihat ke sekeliling lagi, tak ada yang berubah di rumah tersebut meski dirinya sudah tak pulang selama dua bulan lamanya. Foto keluarga, foto kebersamaannya dengan Aisyah, masih tertata rapi di sana.
"Ini ….." Dishi takjub karena Aisyah begitu menjaga perasaannya.
"Kamu suamiku, dan selamanya akan menjadi suamiku. Kita sudah menikah, disaksikan di depan keluarga, dipersatukan oleh Allah. Jadi, sebagaimana mungkin, aku harus mempertahankannya meski kamu hilang dan tidak ada kabar waktu itu," sahut Aisyah.
"Sejak semuanya pergi, aku merasa sendirian di dunia ini. Ibu, kakak, kakak ipar Aurora, Gwen dan Puspa meninggalkanku secara bersamaan. Hatiku sangat terluka saat itu, Dishi. Ditambah lagi, kau hilang," sambung Aisyah berjalan di depan suaminya.
"Namun, Ayah, Rifky dan seluruh keluarga berhasil membuatku bangkit kembali. Keponakan kecil, putrinya Gwen juga telah lahir dan memberiku semangat hidup. Setelah memberanikan diri untuk kesini lagi, aku berusaha untuk selalu kuat meski tanpamu,"
"Aku pikir aku akan terbiasa tanpa dirimu. Adakah kak Ayyana dan juga Haidar di sini. Ada Tuan Jin dan Bora yang selalu menemani kami di sini. Tapi tidak kembalinya dirimu tetap saja membuat ruang kosong tidak pernah ada yang menghuni lagi," Aisyah menyentuh dadanya.
"Dishi, kamu memang hilang ingatan. Tidak bisa untuk tidak menganggapnya sebagai suamiku. Di dunia ini kau adalah surga bagiku,"
"Dishi, meski aku bisa menjalani hidup tanpamu, tetap saja kaki yang dulunya melangkah bersama, harus berjalan tertatih-tatih karena pincang. Kaki yang sebelahnya lagi hilang, dan itu tidak akan--"
"Stt, tolong jangan bersedih lagi. Stop menceritakan hal yang menyedihkan. Aku sudah di sini, aku akan segera mengingat segalanya. Tersenyumlah, aku sudah datang, jangan menangis lagi," tak kuasa melihat istrinya bersedih hati, Dishi langsung membuat Aisyah berhenti bicara.
Jantungnya berdebar dengan hebat. Sungguh seperti orang yang baru mengalami jatuh cinta. Dishi jatuh cinta lagi dan lagi terhadap istrinya. Bahkan, ketika hendak di rayu oleh karyawannya di Amerika saja, Dishi tidak tertarik akan itu.
"Boleh tidak, sih? Kita berpelukan? Tidak harus menunggu kamu kembali mengingat seperti apa hubungan kita?" tanya Aisyah lirih.
"Hah? Apa? Aku tidak mendengarnya, katakan sekali lagi!" goda Dishi.
"Lupakan! Selamat istirahat, aku akan ke kamar bersih-bersih dulu. Permisi!"
"Aaaa ... Aku ini kenapa? Kenapa aku salah tingkah seperti ini? Bukankah dia ini suamimu, Aisyah? Mengapa kamu bisa salah tingkah?"
"Tidak, tidak, tidak! Kamu harus tenang, Aisyah. Kamu harus tenang. Oke? Jangan seperti ini. Sekarang yang kamu perlukan berdiri di depan cermin yang mengontrol diri,"
Setelah berguling kesana-kemari di atas ranjang, Aisyah berdiri dan memandangi dirinya di cermin panjang nan besar di kamarnya. Pipinya yang merah sangat jelas menandakan jika hatinya sedang berbunga-bunga karena cinta.
"MasyaAllah, kalau seperti ini caranya ... Aku malah tidak bisa fokus. Aku terlalu bersemangat bertemu dengan Dishi, jadi aku tidak bisa mengontrol emosiku,"
"Kamu bisa, Aisyah. Yang kamu perlukan saat ini, keluar desa kan makanan untuk suamimu yang baru kembali. Buat makanan yang enak, makanan kesukaannya, dan jangan lupa selipkan doa supaya dia bisa ingat kembali sedikit demi sedikit memori bersamamu,"
"Iya, aku pasti bisa!"
Aisyah meyakinkan diri, ia keluar dari kamar dan segera ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk suaminya. Tak lagi gugup, Aisyah menyibukkan diri memasak sembari bersholawat di dapurnya.
Sementara itu, di kamar sebelahnya lagi, Dishi juga merasa tidak tenang perasaannya. Ia merasa bersalah karena telah membohongi istrinya. Berkali-kali Dishi menampar pipinya sendiri hingga memerah karena merasa perasaan bersalahnya itu.
"Istriku kenapa sangat imut? Aku merindukannya, aku memeluknya lebih lama dan erat lagi,"
"Betapa imutnya dia tadi--"
"Astaghfirullah hal'adzim, aku menyesal mengaku hilang ingatan. Cintaku berada di depanku, tapi aku tak bisa memeluknya,"
"Kau bodoh Dishi! Kau bodoh!"
Plak! Plak!
"Huh, rasakan ini! Sakit, bukan? Kau harus sadar Dishi!"
Setelah lelah menampakkan dirinya sendiri, Dishi pun merebahkan tubuhnya dengan menghentakkan keranjang dengan keras. Berharap supaya bisa segera mengakhiri sandiwaranya, karena tak tahan lagi ingin bersama sang istri.
"Hatiku sangat nyaman sudah sampai ke rumah ini lagi. Ai-ku terlihat kurus dan wajahnya pucat. Pasti dia mengalami hal yang buruk sendirian. Haih, rasanya ingin sekali aku memeluknya dan mengatakan kita semuanya sudah baik-baik saja,"
Ketika Dishi handak memejamkan matanya, ya aku mencium ada aroma lezat yang menusuk lubang hidungnya. Tak salah lagi jika rumah tersebut adalah wangi dari masakan Aisyah.
"Istriku memasak?" Dishi langsung bangkit.
"Biasanya juga dia sedang masak aku memeluknya dari belakang. Bukankah itu sungguh romantis? Tapi sekarang aku tidak bisa melakukan itu sampai ... sampai sandiwara ini berakhir,"
"Hash, aku bodoh, aku menyesal!"
"Aku harus pikirkan lagi, bagaimana supaya aku segera mengakhiri sandiwara gila ini! Aku merindukan istriku ya Allah, aku merindukannya,"
Dishi pun akhirnya terlelap begitu saja dengan menggenggam erat ponsel miliknya, yang dimana baru saja ia melihat wajah sang istri.