Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Kisah Cinta Dalam Diamnya Aisyah 2



Persiapan kondangan sudah selesai. Aisyah juga telah membungkus kado untuk pernikahan Ustadz Khalid dengan istrinya. Masih dalam hati yang terluka, Aisyah membungkus kado tersebut dengan melamun. 


"Jangan melamun, nanti bungkusnya jadi jelek. Sini, biarkan aku yang bungkus kado itu!" tegur Feng meminta kado itu dari tangan Aisyah. 


"Hm, jodoh itu tidak ada yang tau, Ko. Siapa yang mendamba, dan siapa yang mendapatkannya," ucap Aisyah dengan helaan napas panjang. 


"Iso nyawang tapi ra iso nduweni. Huft, ngenes ndes. Tresno pancen ra kudu duweni, sista. Sabar, ya." celetuk Gwen menepuk-nepuk pundak Aisyah. 


(Bisa memandang, tapi tidak bisa memiliki. Cinta memang tidak harus memiliki) 


Aisyah dan Feng menatap pakaian yang dipakai Gwen pagi itu. Terlihat rapi, dan anggun memakai gamis berwarna biru muda dengan sepatu berwarna putih. 


"Ngampus apa mau kondangan? Kenapa pakai gamis?" tanya Aisyah. 


"Ikut kondangan lah. Siapa tau ada yang butuh bahuku," jawab Gwen santai. 


Aisyah berdiri, kemudian meminta Gwen untuk pergi ke kampus. Namun, Gwen menolak pergi ke kampus karena ingin ikut dengannya. Aisyah menjadi kesal, ia pun mengurungkan niatnya untuk menghadiri pernikahan Ustadz Khalid. 


"Kok, gitu? Syah, aku udah siapa-siapa, loh. Masa nggak jadi pergi, sih?" protes Feng. 


"Kalau Koko mau pergi, pergi aja sana sendiri! Dan untukmu, kuliah!" bentak Aisyah dengan menunjuk wajah Gwen. 


Hatinya sedang kacau, dan Gwen menambah emosi dihatinya. Gwen juga ingin sekali bisa pergi bersama dengan saudara-saudaranya. Namun, situasi memang sedang tidak tepat bagi Gwen untuk ikut campur. 


"Gwen, ganti baju dan segera ke kampus," pinta Feng dengan lembut. 


"Iya, Ko."


Waktu memang mengubah semuanya. Semua orang pasti menua, tapi nggak semua orang menjadi dewasa pada saat bertambahnya usia.


Kedewasaan tidak dilihat dari segi usia, karena yang menjadikan tolak ukur sebuah kedewasaan adalah kemampuan untuk memiliki pola pikir yang matang. Namun, memang begitulah Aisyah, semakin tinggi ilmunya, ia akan semakin merendah dan lebih hati-hati dalam mengutarakan perasaannya. 


"Aku salah jika membentak Koko dan Gwen. Hatiku memang sedang sakit dengan pernikahan Ustadz Khalid, tapi--" 


"Ya Allah, waktu itu ... ingin sekali aku mengatakan perasaan ini. Namun apa daya, lidah seketika menjadi kelu, kaku tak bergerak. Malu juga adalah halangan terbesarku," gumam Aisyah dengan tangan yang tidak tenang. 


"Ustadz Khalid, jika memang memendam rasa kepadamu begitu sulit dan menyakitkan, tapi mengapa hatiku enggan menyerah hingga detik ini. Bahkan di hari pernikahanmu pula. Ada apa denganku?"


Aisyah terus gelisah dengan hatinya. Sisi kedewasaannya berhasil mengalahkan egonya. Ia pun keluar dari kamarnya dan menanyakan dimana Gwen berada. 


"Dimana Gwen?" tanya Aisyah kepada Feng. 


"Udah berangkat ke kampus, ada apa?" Feng masih sibuk membungkus kado tersebut. 


"Aku minta maaf telah membentakmu, Ko. Aku juga menyesal membentak Gwen. Haih, aku terlalu egois dengan rasaku," ucap Aisyah dengan wajah lesu. "Andai saja, aku berani menyatakan saat itu--"


Tiba-tiba Rebecca menyentuh kepada Aisyah dengan lembut. Kemudian memberi pengertian, jika memang tak seharusnya Aisyah bersedih karena cintanya. 


"Ustadz Khalid sudah ijab qobul semalam. Kenapa kamu masih memikirkannya? Dia sudah menjadi suami wanita lain, move on, Nak. Bukankah kamu sendiri yang memilih untuk diam?" 


Renungan bagi Aisyah, memang resikonya karena memilih diam selama ini. Rebecca juga memberi saran untuk tetap datang sebagai wakilnya. Lalu, segera berangkat ke Bangkok untuk melepas rasa sakitnya.