Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Jovan Patah Hati



Di Tiongkok.


Jovan sedang bertemu dengan Lin Jiang. Mereka sudah lama menjalin hubungan, tapi belum juga mempublikasikan hubungan mereka. 


"Apa ayahmu tahu, hari ini kamu keluar?" tanya Jovan.


"Sebenarnya ada hal yang ingin aku katakan kepadamu. Jadi ayah mengizinkan aku keluar," jawab Lin Jiang.


Jovan sudah senang bisa bertemu dengan kekasihnya. Namun, kedatangan Lin Jiang saat itu, untuk memutuskan hubungan mereka. Lin Jiang tidak bisa melanjutkan hubungan mereka lagi meski keduanya sudah menjalin hubungan itu begitu lama. 


"Mari, kita akhiri saja hubungan kita, Jovan," ucap Lin Jiang tanpa menatap mata Jovan. 


"Apa?" 


"Apa maksudmu? Putus? Kenapa?" tanya Jovan gelisah. 


Lin Jiang terdiam. Masih kelu bibirnya mengatakan perihal yang tidak bisa dia katakan dengan berlawanan dengan kemauan hati. 


"Lin Jiang, apa maksudnya? Kita sudah menjalin hubungan ini begitu lama dan kamu minta kita putus?" tanya Jovan kembali. 


Lin Jiang hanya mengangguk, membelakangi pria berusia 23 tahun itu. Tak terima, Jovan pun membalikkan tubuh Lin Jiang, berharap apa yang dikatakan kekasihnya itu tidak serius. 


"Apa kau bercanda?" tanya Jovan. 


Tak menjawab dengan ucapan, Lin Jiang hanya menggeleng kepala. 


"Katakan, apa alasan kamu ingin mengakhiri hubungan ini, Lin Jiang," Jovan masih berusaha meyakinkan. 


Namun, Lin Jiang tetap dalam pendiriannya. Dia memutuskan hubungannya secara sepihak. Cinta itu masih tetap ada, tapi Lin Jiang harus lakukan itu demi Ayahnya. 


"Apakah ini karena Ayahmu lagi?" Jovan menerka. Sudah sering kali Ayahnya mencoba memisahkan mereka sejak usia mereka remaja dulu. 


"Kita putus dan jangan pernah berhubungan lagi. Resepsi pernikahan Chen dan Lin Aurora sebentar lagi akan diadakan. Tolong kau waspada agar semuanya selamat. Aku permisi dulu," 


Saat Lin Jiang berjalan mundur, Jovan menahan tangannya. Kemudian, Lin Aurora pun menepisnya. "Jovan, tidak ada lagi yang tersisa diantara kita. Sebaiknya, kita jangan pernah berhubungan lagi. Jika ada waktu kita bertemu, tolong bersikaplah seolah-olah kita tidak pernah saling mengenal," 


Lin Jiang berlalu begitu saja meninggalkan luka pada hati Jovan. Penantiannya selama bertahun-tahun telah musnah hanya karena alasan yang tidak jelas. Merasa tidak adil, Jovan berlari menyusul Lin Jiang dan memeluknya dari belakang. 


"Aku sungguh mencintaimu. Bagaimana bisa kamu tidak adil begitu padaku? Katakan semua yang terjadi, kita pasti bisa melalui itu bersama-sama," ucap Jovan yakin. 


"Jika kamu ingin melihat aku tinggal jasad setelah kita bertemu, maka ayo kita lanjutkan hubungan kita," desis Lin Jiang. 


"Maksud kamu apa?" Jovan melepas pelukannya dan memutar tubuh Lin Jiang. 


Kini, mereka saling berhadapan. Lin Jiang masih kekeh dalam pendiriannya. Jika wanita lain akan menumpahkan air matanya ketika hubungan mereka kandas, tapi tidak dengan Lin Jiang yang sedari tadi memasang wajah datar. 


"Apa yang sudah terjadi? Mengapa kamu tiba-tiba ingin mengakhiri cinta kita, Lin Jiang?" tanya Jovan lagi. 


"Cinta? Sejak kapan kita saling mencintai Jovan? Kau yang hanya mencintaiku," ungkap Lin Jiang. 


"Apa? Bagaimana bisa kau mengatakan ini? Kenapa kau sekejam ini, Lin Jiang!" Jovan melepaskan cengkraman tangannya ke lengan Lin Jiang. 


Senyum sinis Lin Jiang membuat Jovan semakin tidak mengerti. Kembali Lin Jiang menegaskan jika hubungan mereka, hanya Jovan yang tergila-gila dengan hal yang namanya cinta. 


"Sudahlah, aku menemuimu hanya ingin mengatakan ini. Resepsi pernikahan sepupu dengan adikku akan berlangsung dramatis. Pasang mata, pasang telinga dan juga tetap waspada. Jangan sampai keluarga besarnya makan makanan yang ada di sana," jelas Lin Jiang. 


"Ah satu hal lagi. Aku tidak pernah mencintaimu, meski itu hanya satu detik, Jovan." tukas Lin Jiang berjalan pergi meninggalkan Jovan. 


"Jovan, bencilah aku. Ini adalah cara agar kita kita tidak saling terluka ketika nanti kita dihadapkan harus saling membunuh. Target utamaku adalah kau dan Chen, maka dari itu ... dengan mau membenciku, maka hati kita tidak akan saling terluka," batin Lin Jiang, masuk ke mobilnya. 


Jovan masih menatap Lin Jiang sampai tidak terlihat. Hatinya begitu terluka karena Lin Jiang memutuskan hubungan mereka. Apalagi, Lin Jiang juga mengatakan jika dirinya tidak pernah mencintai Jovan sedetikpun. 


"Apakah ini sudah waktunya? Untuk kita saling menyakiti, Lin Jiang?" 


"Aku sangat mencintaimu. Aku setia menunggumu pulang dari perbatasan. Apakah ini balasanmu?" 


Jovan kembali ke kantor dengan wajah murung. Tak sengaja, dia menabrak Sachi yang saat itu sedang membawa kopi untuk direktur Liu dan juga Tuan Zi. 


BRUK!!


Semua kopinya tumpah, nampannya juga terjatuh. Sachi sangat sedih karena itu milik direktur Liu. Dimana seorang direktur seperti direktur Liu sangat susah di layani. 


"Kopi direktur Liu--" lirih Sachi. 


"Apa kau tidak bisa melihat? Bagaimana kau bisa menabrakku dan ... Tuan Jovan? Maafkan saya, saya tidak melihat jika itu adalah Anda," Sachi menunduk dan langsung mengambil pecahan gelasnya. 


Jovan yang sebelumnya hanya diam menatap Sachi, ia pun juga jongkok untuk membantu Sachi membersihkan lantainya. Melintaslah Tuan Zi, yang kemudian menegur Jovan. 


"Tuan Jovan, kenapa anda begitu repot-repot? Biarkan Sachi yang membersihkannya. Tolong, anda jangan melakukan ini. Ini sudah menjadi pekerjaannya," ucap Tuan Zi. 


"Sachi, panggil yang lain. Minta mereka membantumu," perintah Tuan Zi kepada Sachi.


Saat Sachi hendak memanggil yang lain untuk membantunya, Sachi melihat dua hari Jovan mengeluarkan darah, terluka karena sayatan gelas kaca tersebut. 


"Tuan, anda terluka? Mari, saya akan mengobati anda!" Sachi menjadi panik sendiri. 


Jovan melihat jarinya yang terluka. "Ini hanya luka kecil. Nanti juga akan sembuh. Kau bisa lanjutkan kerjamu, maaf aku tidak membantu," ucapnya dengan nada datarnya, hatinya masih kecewa dengan kandasnya hubugannya dengan Lin Jiang. 


Tuan Zi mengantar Jovan ke ruangannya dan mulai mengobati luka di jari Jovan. Akan tetapi, laki-laki Jovan menolak mengobati lukanya. 


"Tuan, nanti malah infeksi bagaimana? Harus segara di obati. Lihatlah, darahnya semakin banyak yang keluar," ujar Tuan Zi. 


"Panggil saja office girl yang bernama Lin Aurora. Aku ingin dia yang mengobati jariku. Apakah bisa?" 


Tuan Zi terdiam sejenak. Lalu mengangguk dan menyanggupi apa yang Jovan inginkan. Tuan Zi pun keluar dan memanggil Lin Aurora supaya bisa mengobati luka Jovan. 


"Apa? Dimana dia? Apakah lukanya serius?" tanya Lin Aurora khawatir. 


"Dia? Kamu menyebut Tuan Jovan dengan sebutan Dia?" Tuan Zi mulai mencurigai kedekatan Lin Aurora dengan Jovan. 


"Um, tidak. Aku hanya panik saja. Jadi, terbawa suasana. Kalau boleh tahu, saya akan keruangan Tuan Jovan sekarang," pamit Lin Aurora meninggalkan Tuan Zi. 


Tuan Zi menatap Lin Aurora dan mencurigai gerak-gerik Lin Aurora yang dimana dia merasa sangat cemas ketika mendengar Jovan terluka. Padahal hanya luka kecil saja. 


*****************


Terima kasih yang ingatin aku typo. Sungguh membuatku malu. Bismillah, lain kali aku perhatikan lagi, kok. Tenang saja, bulan ini karya triplets aku end. Jadi jangan bosen dulu, ya. Hubbak tunda dulu, aku fokus dengan permintaan editor untuk karya baru. Supaya bisa ajukan reward karya tamat untuk karya ini. Terima kasih.