Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Rasa



"Xia …"


"Xia, bangun,"


"Apa kau pingsan?"


Tama terus mengguncang tubuh Xia dengan harapan gadis kecilnya baik-baik saja. Saking paniknya, Tama sampai ingin menelpon Feng untuk meminta solusi. Namun, ketika Tama mengeluarkan ponselnya, Xia mencegahnya. Dengan suaranya yang lemas, Xia hanya minta Tama membelikan makanan. "Tolong, beri saja aku makan dan minum. Aku sangat lapar__"


"Kau … hash, tunggu di sini!"


Segera Tama keluar dari mobil dan mencari toko serba terdekat dari tempat dirinya parkir. Tidak tahu apa makanan yang disukai oleh Xia, Tama pun hanya membeli roti sebiji saja dan air mineral. Setelah membayar, Tama berlari cepat ke mobilnya dan memberikan belanjaannya kepada Xia.


"Hanya ini?" protes Xia.


"Makan cepat, jangan banyak bertanya. Bersyukur saja kau masih bisa makan. Banyak di luaran sana orang yang tidak bisa makan setiap harinya," ketus Tama.


"Tapi aku sangat lapar. Hanya satu roti saja, tidak akan membuatku kenyang, kak--" rengek Xia.


"Lalu, kau mau makan apa?" tanya Tama sedikit membentak Xia.


Xia menjadi ciut nyali. Tanpa menjawab, Xia membuka rotinya, makan sedikit demi sedikit dan minum dengan baik. Melihat wajah Xia yang memelas itu membuat Tama tidak tega. Ia pun kembali menanyakan makanan apa yang diingkan gadis kecilnya.


"Aku ingin makan mie yang ada di perempatan itu," jawab Xia lirih.


Mengagalah mulut Tama. "Kau gila? Apakah tidak bisa ngelunjak lebih ngelunjak lagi?" ketus Tama.


"Memangnya apa salahku? Aku hanya ingin makan mie di restoran itu. Memangnya kenapa? Apakah mie itu terlalu mahal, sehingga membuat dompetmu kering?" Xia yang manis berubah menjadi galak.


Meong~


"Xia, jika kau minta makan ke restoran itu … maka aku juga tidak bisa makan. Apakah kau tega makan sendirian di depanku?" tutur Tama dengan lembut.


Xia termenung. Dia baru saja mengingat jika Tama sangat hati-hati memilih makanan di Negara tersebut. "Lalu, aku harus makan mie dimana? Aku ingin sekali makan mie, kak--" lanjut Xia dengan lemas, memakan roti ditangannya sedikit demi sedikit.


Memang Tama tidak memiliki restoran favorit atau langganan. Tama paling suka makan memasak sendiri. Akhirnya, Tama pun menawarkan diri untuk membuatkan makanan apa yang diinginkan oleh gadis kecilnya.


"Aku bisa memasak untukmu. Katakan saja mie seperti apa yang kau inginkan itu, maka aku akan memasak untukmu, bagaimana?" usul Tama.


"Tapi aku juga ingin sekali bicara denganmu berdua saja, kak," sahut Xia masih dengan wajahnya yang ditekuk.


"Bukankah di rumah juga kita ini berdua saja? Lantas, untuk apa kita mencari tempat untuk bicara empat mata, hah?"


"Xia!" bentak Tama mulai kesal lagi.


"Iya, aku ingin minta maaf tentang malam itu ketika kita kabur. Tidak seharusnya aku meminta hal itu kepadamu. Aku tahu aku salah, tapi setidaknya jangan kau diamkan aku seperti ini. Satu minggu ini kau terus menghindari aku, apakah kesalahanku sefatal itu? Aku juga tidak akan mau jika wakt itu nyawaku tidak terancam, apakah aku seburuk itu, sehingga semua orang menjauhiku?" tangis Xia mulai pecah.


"Aku juga ingin disayang, aku ingin dicintai semua orang. Sejak kecil semua orang membenciku, tidak menginginkan aku. Aku juga tidak ingin dilahirkan, aku juga tidak ingin di besarkan seperti ini. Hanya kau harapanku satu-satunya dalam hidupku, tapi kau juga malah memperlakukan aku, seakan aku tidak ada di dunia ini. Sakit tau!"


Xia pun keluar dari mobil dan menutup pintu mobil sedikit keras.


BLAM!


Suara bantingan pintu itu menyadarkan Tama akan sesuatu. Dirinya juga saat ini tidak sesuai dengan jalan keinginannya. Demi saudara dan kelancaran semuanya, dirinya rela membagi semua pekerjaannya untuk menyetabilkan perusahaan yang sebelumnya bukan bidangnya.


Tama sengaja tidak mengejar Xia, karena pada dasarnya, dirinya sendiri juga masih rapuh. Bingung karena semuanya berubah drastis setelah kepergian Gwen, Rebecca dan juga Chen.


"Kau pikir aku bahagia dengan hidupku yang sekarang? Tidak seperti itu, Xia. Aku adalah seorang introvert sebelumnya. Tapi karena demi kebahagiaan adikku, aku rela meninggalkan kenyamanan duniaku dan menjadi orang lain," gumam Tama menyentuh dadanya yang mulai sesak.


"Perjuangan Aisyah belum selesai. Dia belum menjadi dokter, maka kisah ini belum berakhir. Chen dan Gwen telah menemukan apa yang mereka inginkan. Berkumpul dengan keluarga, meninggalkan banyak harta untuk Paman Yusuf, Aisyah, Rifky dan juga Ailee. Mereka pergi karena tugas mereka telah terlampaui,"


"Tapi Aisyahku … dia belum mendapatkan kebahagiaan yang cukup. Tugasnya masih banyak dan panjang. Itu sebabnya aku di sini menggantikan posisinya supaya dia bisa fokus dengan cita-citanya,"


"Xia, kau pikir aku tidak pusing menjalani semua ini? Ditambah hadirnya dirimu, awalnya aku ingin menyerah dan melepasmu. Tapi, aku tidak melakukan itu." tukas Tama.


Sebelumnya, dengan persetujuan Feng, Tama memberikan kartu yang diberikan oleh Chen kepada Xia untuk Xia. Tama mengirim pesan, berisikan kode pin dari kartu tersebut. Ada sejumlah uang juga untuk Xia gunakan membeli makanan yang dia mau.


[Aku akan pulang lebih dulu. Gunakan kartu yang aku berikan kepadamu tempo hari untuk membeli makanan yang kamu mau. Pin ****" kamu bisa gunakan karena di dalam ada uang yang lumayan. Itu dari Chen. Jika kau anggap Chen tidak pernah menyayangimu, itu salah. Bagaimanapun juga, Chen memberikanmu kehidupan baru setelah dia pergi.] - pesan dari Tama.


Pesan tersebut memang belum di buka oleh Xia. Dia masih pergi dengan langkah kakinya yang cepat dan duduk di bangku taman olahraga. Sementara Tama, pulang lebih dulu. Tega? No, mereka hanya membutuhkan waktu untuk saling berpikir.


Meninggalkan kesalahpahaman diantara Tama dan Xia, Dishi berpura-pura mengirim stiker buket bunga mawar kepada Aisyah, dengan ucapan 'Semangat magang, jangan lupa makan'. Setelah membeli mobil yang baru untuk dirinya sendiri, Dishi langsung pulang ke apartemen milik Feng.


"7 minggu lagi kita akan bertemu, Sayang. Aku sangat merindukanmu. Dengan alasan kakiku sudah sembuh, 7 minggu memang cukup untuk proses penyembuhan. Dalam 7 minggu juga, maka aku bisa mengeluarkan perusahaan dari cengkraman Tuan Hao," gumam Dishi semangat.


Menerima pesan dari suaminya, membuat Aisyah senyum-senyum sendiri. Meski sepengetahuannya sang suami hilang ingatan, tapi perasaan yang dimiliki Aisyah tidak pernah pudar. Dia semakin mencintai pria yang dimana dulu juga berjuang demi menyembuhkan hilang ingatannya sementara pasca kecelakaan menjelang pernikahan Gwen.


[Stiker love berwarna merah muda] - balasan dari Aisyah.


"Aku mencintaimu, suamiku. Semoga kita disegerakan bertemu. Apapun kondisimu, insyAllah aku akan ikhlas menerimanya. Aku akan sabar dan sekarang akan semangat magangnya. 1 tahun juga bukan waktu yang lama jika di jalani dengan ikhlas, bukan?" gumam Aisyah hatinya tengah berbunga-bunga.