Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Wanita Chen?



Di Tiongkok, Puspa terpaksa bekerja dibawah naungan perusahaan milik Chen sebagai office girl. Dengan memasang wajah jutek, Puspa terlihat tidak terima jika dirinya menjadi office girl. 


"Huh," 


"Kenapa juga aku jadi begini? Andai saja, kartu debitku tidak di blokir. Aisyah pasti akan membantuku pulang," lenguh Puspa sembari menatap dirinya ke cermin. 


"Sudahlah, pasrah saja. Bismillah! Gaji sebulan, cukup lah untuk buat beli tiket pulang," gumamnya. 


Saat ia hendak beranjak, tak sengaja menabrak Fei yang baru saja masuk ke ruangan Chen. Membuat kopi panas yang Fei bawa untuk Chen tumpah mengenai tangan Puspa. 


"Aw, panas," rintih Puspa menggibaskan tangannya. 


Fei memutar bola matanya. Ia terlihat sekali tidak menyukai Puspa yang selalu bersama Chen ketika ia hadir.  


"Nona, kotak obat ada di dapur. Sekalian bawa cangkirnya, kan Anda yang menumpahkannya," ucap Fei dengan sinis.


Puspa terus menggibaskan tangannya sembari meniupnya. Kopi itu masih sangat panas karena Fei menuangkan air mendidih ke kopi tersebut. 


"Nona, ini hanya secangkir kopi. Bahkan tidak panas sekalipun saat saya menuangkan air, jangan seperti ini. Atau nanti, Tuan Chen akan beranggapan lain tentang saya!" cetus Fei.


"Kau sengaja mendekati Tuan. Aku tidak menyangka, jika kau adalah ******!" seru Fei dalam hati. 


Puspa tidak berkata apapun karena ia merasa jika tiada gunanya menjawab Fei. Puspa merasa jika Fei ini tidak menyukai dirinya. "Ada apa dengan Mbak Fei ini, ya? Awalnya dia menyambutku dengan baik. Tapi sekarang …," 


"Hey, tidak bisakah kau berdiri? Luka sekecil itu jangan dibuat manja. Tidak akan berguna, atau kau akan dipecat dari sini. Cepat berdiri!" sentak Fei. 


Kebetulan sekali Chen masuk. Melihat Puspa bersimpuh dilantai seperti itu membuat Chen kesal. Dengan kasar, Chen menarik lengan Puspa dan membentaknya. "Apa kau sudah gila?" 


"Heh, ternyata ****** ini hanya mainan Tuan saja. Sama seperti wanita murahan yang selalu datang padanya!" dengan senyuman sinis, Fei menduga jika Chen hanya mempermainkan Puspa saja. 


"Apa kau sudah gila dengan bersimpuh di lantai seperti itu, hah?" sambung Chen kesal.


"Aku membelikanmu baju mahal, memberimu pekerjaan ringan, tapi kau masih bisa ditindas seperti ini?" 


Beberapa menit lalu, ada salah satu karyawan yang melihat Fei memarahi Puspa. Kemudian, mengadukan kepada Chen yang baru saja keluar dari rapatnya. 


"Fei, aku memintamu untuk mengawasi Puspa bukan mengawasi karena dia adalah karyawan baru. Aku memintamu untuk mengawasinya karena dia adalah orangku, paham?" tegas Chen. 


"Nona bilang, dia tidak membutuhkan saya, Tuan. Bahkan dia baru saja marah tidak jelas saat saya hendak membantunya dan menumpahkan kopi yang saya bawa," Fei mulai berkilah. 


Chen meminta resepsionis untuk memanggil dokter wanita ke ruangannya saat itu juga. Lalu, meminta Fei untuk membersihkan cangkir dan noda kopi yang ada di lantai. 


"Dengarkan aku, jika buka karena Asisten Dishi sedang ada di Amerika dan orang tuamu adalah orangnya Ayahku, aku tidak akan segan menendangmu keluar dari hadapanku," gertak Chen. 


"Pergi dan jangan pernah mengganggu wanitaku lagi, mengerti!" tegasnya dengan sedikit membentak agar Fei tidak berani lagi memperlakukan buruk Puspa. 


"Mengerti, Tuan," jawab Puspa menundukkan kepalanya. 


"Keluar!" usir Chen.


Puspa tidak mengerti apa yang sedang Chen dan Fei katakan. Tapi ia tahu dan bisa menebak dari mimik wajah Chen yang sedang memarahi Fei karena alasan kopi panas yang membuat tangannya melepuh. 


"Tuan Chen terlihat emosi sekali. Apa Tuan marah karena tanganku melepuh karena Fei? Apakah dia sama seperti yang sedang aku pikirkan?" gumam Puspa dalam hati. 


"Astaghfirullah hal'adzim. Puspa, kamu kenapa berpikiran sampai sejauh itu, sih? Mana mungkin Tuan Chen seperti yang kamu pikirkan. Dia tidak mungkin suka denganmu yang sederhana ini," imbuhnya menyadarkan diri dari mimpi disiang bolongnya. 


"Tapi, Tuan. Rapat ini sudah di jadwalkan sejak dua bulan lalu. Bagaimana mungkin Anda ti--"


"Bosnya kamu atau aku? Jika kamu sudah tidak sanggup menjadi Asisten pribadiku, kamu bisa kok mengundurkan diri keluar dari perusahaan ini. Sejujurnya aku menyesal juga mengirim Asisten Dishi ke luar negeri," terang Chen dengan santai. 


"Tidak, saya akan meng-handle semuanya, Tuan. Permisi, saya mengundurkan diri lebih dulu."


Fei meninggalkan ruangan. Puspa masih meringis kesakitan. Tangannya memerah melepuh. "Jika mau nangis, nangis saja. Tidak ada orang lain lagi di sini," suruh Chen melirik kearah Puspa. 


"Saya tidak cengeng, melainkan ini terlalu panas dan mulai perih. Sepertinya hari ini saya tidak bisa melanjutkan pekerjaan saya, Tuan," lenguh Puspa dengan raut wajah sedih. 


"Terserah kamu. Menyusahkan saja! Aku malas meladenimu, sebaiknya kamu duduk di sana dan tunggu dokter datang," ucap Chen kembali ke mejanya. 


Tak lama kemudian, dokter yang diminta Chen telah tiba. Segera menyuruhnya untuk memeriksa keadaan tangan Puspa. Selama beberapa pemeriksaan, pandangan Chen tidak berpaling dari Puspa. Benar-benar terlihat mengkhawatirkan hadis berusia 21 tahun yang sudah mulai kelihatan kocak itu. 


"Apa kata dokter tadi?" tanyanya. 


" .... "


"Hey, kenapa diam saja? Bukankah kau bisa berbahasa Inggris? Bukannya dokter tadi mengatakan semuanya dalam bahasa yang kamu tau, ya?" 


"Puspa! Puspa!" 


Bentakan Chen membuat Puspa sedikit kesal. Ia pun beranjak dari sofa dan berdiri di samping pintu. Ingin mengatakan bahwa Fei telah berkata kasar padanya. Namun, ia tidak ingin membuat Fei dan dirinya bermasalah kedepannya. 


"Puspa!"


"Kau ini ... Ada apa? Bukankah aku juga tidak menyentuhmu? Kenapa kamu terus menghindar?" tanya Chen mulai emosi. 


"Puspa!" 


Setelah beberapa bentakan, akhirnya Puspa bersuara juga. "Tuan, tak bisakah Anda pinjamkan aku sedikit uang untuk pulang ke Jogja? Saya janji akan melunasi hutang itu nantinya," pintanya. 


Heng! 


Hening menyelimuti suasana ruang kerja sangat Direktur Utama. Membuat Puspa semakin yakin jika Chen benar-benar tidak ingin membantunya. 


"Aku akan mengantarmu pulang!" seru Chen menarik lengan Puspa. 


"Ke Jogja?" pertanyaan itu Puspa lontarkan dengan senyum sumringah. 


Tatapan Chen begitu tajam, membuat jantung Puspa kembali berdebar begitu kencang. Rasa yang belum pernah Puspa alami itu membuatnya tidak nyaman. 


"Ke Mansion," jawab Chen. 


"Tidak!" tolak Puspa. "Saya ingin  pulang ke Jogja, Tuan. Tolong bantu saya, saha mohon--" bahkan Puspa sampai menyatukan kedua tangannya memohon kepada Chen. 


Muak dengan permintaan Puspa, tanpa izin dari Puspa, Chen menggendong Puspa dan membawanya keluar dari ruang kerjanya. Mereka menuju lift pribadi, kemudian Chen menurut kan Puspa di sana karena Puspa terus meronta. 


Plak! 


Tamparan keras mendarat di pipi Chen hingga meninggalkan bekas berwarna merah, tanda tangan Puspa yang estetik.