
Meninggalkan ributnya Chen dengan calon mertuanya, di Korea, Aisyah sedang mengajak Ilkay jalan-jalan sebentar untuk membeli beberapa baju hangat. Tak sengaja mereka bertemu dengan Raza yang baru saja turun dari taksi menuju toko yang sama dengan mereka.
"Pak Raza?" gumam Aisyah dalam hati.
"Itu benar Pak Raza? Ngapain dia sampai sini?"
Aisyah mengajak Ilkay untuk memastikan bahwa pria yang baru saja turun dari taksi memang benar Raza. "Nak, ayo kita kesana dulu. Ada sesuatu yang Mama lihat tadi," ajak Aisyah.
"Tapi taksi kita--" ucapan Ilkay terputus saat Aisyah tiba-tiba menarik tangannya.
Apa yang dilihatnya memang benar. Pria yang turun dari mobil itu adalah Raza. Segera Aisyah menghampirinya dan menyapa. "Assalamu'alaikum. Pak Raza, Anda di sini?"
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh. Loh, dokter Aisyah juga tinggal di sekitar sini?" sambut Raza.
"Iya, kami tinggal di gedung itu," jawab Aisyah dengan menunjuk tempat tinggalnya.
"Kami?" tanya Raza heran.
Rupanya, Raza belum tahu jika Ilkay adalah anak angkat Aisyah yang ternyata adalah anaknya Chen. Mereka bertemu tidak secara kebetulan. Raza sengaja pergi ke Negara dan Kota yang sama dengan Aisyah untuk menghindari pernikahannya dengan wanita yang diatur oleh Ayahnya.
"Saya ke sini untuk mengelola saham Ayah saya. Sekaligus ...," ucapan Raza terhenti.
"Jika tidak ingin membicarakan, tidak masalah kok, Pak. Santai saja, malah senang kalau ada seseorang yang saya kenal di sini," sahut Aisyah merasa tak enak hati.
"Dokter, sebenarnya saya datang kemari untuk menghindari pernikahan dengan wanita itu. Mendengar dokter juga melanjutkan pendidikannya ke sini, maka saya juga inisiatif untuk ke sini juga. Kebetulan ada bisnis keluarga yang bisa saya kelola nantinya," jelas Raza.
"Mulai saat ini, Pak Raza panggil saya dengan nama saya saja. Soalnya, saya sudah tidak bertugas, bukan?"
"Baiklah, mulai saat ini ... kamu juga jangan memanggil saya dengan sebutan Pak. Saya sudah bukan guru pembimbingnya Gwen, bukan?"
Mereka tertawa bersama. Sampai Leo datang membuat keduanya menjadi canggung. Leo bahkan menyinggung Raza yang terlihat menyukai Aisyah dimatanya. "Apakah Tuan menyukai Ai? Saya merasakan hal tersebut," duga Leo.
Raza menjadi gagu saat menjawab. Takut Aisyah salah tangkap dan salah paham padanya. "Apa-apaan pria ini? Mengapa dia berkata hal seperti ini langsung di depan orangnya? Aku jadi bingung hendak menjawabnya," batin Raza.
"Heh, Oppa! Pertanyaan apa ini? Jangan berkata seperti itu. Apa aku akan marah padamu nanti!" cetus Aisyah kesal.
"Hm, aku rasa posisi Ayahku sedang terancam saat ini. Dua pria dewasa ini menyukai Mamaku yang baik hati ini. Aku harus mencuri waktu menelpon Ayah menggunakan ponsel Mama." batin Ilkay, ia juga kurang suka dengan hadirnya Leo dan juga Raza di sisi Aisyah.
Bagi Ilkay, seseorang yang pantas untuk Aisyah hanyalah Asisten Dishi, Ayah angkatnya yang telah memperjuangkan dirinya supaya bisa menjadi anak asuh Aisah. Ilkay selalu berharap jika Ayah angkatnya itu segera menyelesaikan pekerjaannya dan melamar Mamanya.
*
Di malam pertama tinggal di Negara lain, Ilkay mengetuk pintu kamar Aisyah dan membahas masalah Leo dan juga Raza padanya. Dengan polosnya, ia mengatakan, "Mama jangan terima salah satu dari Paman itu. Kay nggak suka! Kay hanya mau Ayah saja ...," rengeknya.
"Jangan dekat-dekat dengan Paman Leo dan Paman Raza. Kay nggak suka! Mama hanya milik Ayah dan Kay, kedua Paman itu harus menjauh sejauh mungkin dari Mama!" sulut Ilkay, sehingga membuat Aisyah tertawa karena saking lucunya.
Aisyah memberikan pengertian kepada Ilkay tentang pentingnya hubungan persahabatan tanpa membedakan jenis kelamin meski dalam islam juga memberikan peringatan kepada setiap kaum perempuan, untuk menghindari konteks dengan yang bukan mahramnya secara berlebihan, atau seterusnya.
Setelah berhasil menidurkan Ilkay, Aisyah menerima telpon dari Asisten Dishi. Memang jika seseorang memilki ikatan perasaan, akan tahu jika seseorang yang dicintainya sedang di incar dua pria yang akan menjadi saingannya. Apalagi, posisi Asisten Dishi jauh dari Aisyah.
"Assalamu'alaikum, kamu lagi apa?"
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh. Eh, pakai salam dong--"
"Hehe, iya. Rindu ini menyiksa, jadi ketika memencet namamu di ponselku, langsung reflek mengucapkan salam. Kamu sedang apa?" Asisten Dishi langsung mengalihkan pembicaraan.
"Oh, baru saja menidurkan Ilkay. Dia sedikit manja malam ini,"
"Apa dia sakit?" tanya Asisten Dishi khawatir.
"Tidak, hanya saja ... ada seseorang yang membuatnya tidak nyaman," jawab Aisyah.
"Mail, aku ada kabar yang tidak mengenakkan,"
"Apa itu?" tanya Aisyah penasaran.
"Ibunya Ilkay masih hidup,"
"Apa? Bagaimana bisa? Bukankah beritanya sudah meninggal karena pendarahan?" Aisyah mulai panik.
"Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan hal ini. Tapi ini sangat penting. Aku masih menyelidiki kasus ini. Tuan juga sudah aku kabari. Mail, aku sangat merindukanmu. Ingin rasanya aku menyusul kamu ke sana. Tapi ... pekerjaanku sangat banyak di sini," ungkap Asisten Dishi.
"Mail, aku merasa ada sesuatu yang mengharuskan aku menelponmu. Kamu baik-baik saja, 'kan? Eh, aku matikan dulu, aku masih bekerja ini. Nanti akan aku hubungi lagi, oke? Selamat tidur bidadari." tukas Asisten Dishi menutup telponnya.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh ...."
Aisyah paham apa yang dimaksud Asisten Dishi. Kedekatannya dengan Leo dan Raza memang tidak terlalu baik baginya. Tak ingin membuat Asisten Dishi merasa terluka, Aisyah mengirim pesan dan menjelaskan jika dirinya bertemu dengan Raza tadi siang. Aisyah juga menceritakan tentang Leo yang kerap mendekatinya.
"Aku percaya padamu. Kita sudah berkomitmen, apapun yang terjadi, kita akan saling setia dengan janji kita. Aku mencintaimu dan kamu mencintai aku. Mari sama-sama mencintai Tuhan yang sama dan membesarkan Ilkay bersama. Aku bekerja dan belajar agama di sini juga untuk masa depan kita, Mail. Selamat malam dan selamat istirahat." -, pesan balasan dari Asisten Dishi.
"Haih, Ail. Wanita mana yang tidak jatuh hati padamu. Kamu sungguh baik, aku tidak boleh mengecewakannya. Hanya Allah yang berhak mengatur takdirku, dan semoga takdirku adalah kamu," gumam Aisyah.
Pikiran Aisyah berbunga, tapi tidak dengan pikiran Asisten Dishi yang tentu saja cemburu Aisyah jujur tentang Leo dan Raza. Cemburu adalah hal wajar dalam sebuah hubungan. Semua itu mampu ia tahan demi masa depan yang sudah dia buat bersama dengan Aisyah untuk Ilkay juga.
Berharap bisa bersama, keduanya hanya bisa berusaha dan pasrahkan takdir kepada Sang Pencipta. Keduanya juga tidak terburu-buru menikah. Aisyah masih harus menyelesaikan pendidikannya. Begitu juga dengan Asisten Dishi yang sudah mulai menabung banyak untuk menjamin kehidupan bersamanya dengan Aisyah dan Ilkay dimasa depan.