
"Apa? Chen datang?"
"Oh, tidak! Aku tidak boleh terlihat. Dia pasti akan bereaksi ketika melihatku berpakaian office girl seperti ini,"
"Haduh, bagaimana ini? Apakah aku harus cuti hari ini?"
"Tidak! Aku harus apa? Chen tidak tahu jika aku bekerja sebagai office girl. Haduh, aku harus apa?"
Sementara yang lain siap menyambut kedatangan Chen, Lin Aurora malah sibuk sendiri mencari cara supaya dirinya tidak terlihat oleh suaminya.
Ketika Lin Aurora mengendap-endap berjalan, tak sebagai ia menabrak Chen yang saat itu berdiri mengobrol dengan Jovan dan beberapa karyawan lainnya.
BRUK!
"Maafkan saya, saya tidak melihat jika anda di depan saya," ucap Lin Aurora sampai membungkukkan badannya.
"Tidak masalah, kau bisa pergi," jawab Chen membenarkan jasnya.
"Hash, sial! Dia adalah Chen? Sepatu ini, bukankah tadi pagi aku yang membersihkannya?" gumam Lin Aurora menatap sepatu yang dipakai oleh suaminya.
Membuat Lin Aurora mengingat pagi tadi saat dirinya menyemir sepatu tersebut. Chen bingung kenapa perempuan yang baru saja menabraknya, tidak segera pergi dari hadapannya.
"Nona, apa kau baik-baik saja? Kenapa kau tidak berdiri. Berhenti menunduk seperti itu," ucap Chen kepada Lin Aurora.
"Um, tidak Tuan. Saya hanya--"
"Lin!"
"Sst … Lin! Lin Aurora, kenapa kau masih di situ!"
Sachi malah memanggil nama Lin Aurora. Meski Sachi hanya berbisik, tetapi Chen mendengar jika Sachi memanggil wanita yang di depannya itu dengan nama Lin Aurora.
"Ada apa dengan Office girl itu? Kenapa dia masih di sana?"
"Dasar caper!"
"Apakah dia ingin menggoda Tuan Muda Wang?"
"Dia baru bekerja di sini selama 3 bulan. Kenapa sudah berani menjalang saja!"
Semua karyawan kantor membicarakan keburukan tentang Lin Aurora di depan suaminya sendiri. Lin Aurora meminta Sachi untuk tidak memanggilnya lagi. Ketika Lin Aurora menoleh ke arah Sachi, Chen melihat dari kaca kantor, jika wanita yang di depannya adalah istrinya sendiri.
"Lin …?" gumam Chen dalam hati. Kemudian menatap Lin Aurora dengan tatapan mengerikan. "Dia bekerja di sini dan jadi … Astaga!"
Chen menghela napas panjang. Mencoba untuk tetap tenang agar semua karyawan tidak heboh ketika office girl yang ada di depannya itu adalah istrinya sendiri.
"Jovan, aku ingin bicara denganmu empat mata," desis Chen dengan suara yang di tekan, supaya gerakan bibirnya tidak ada yang tahu.
Jovan menoleh kearah yang sama dengan Chen melihat wajah Lin Aurora ke kaca besar di sampingnya. Melihat wajah Lin Aurora dengan jelas di sana, Jovan tertampar sendiri karena pasti Chen akan marah padanya.
"Astaga, mampus! Mati aku! Pasti dia akan marah besar karena istrinya bekerja di perusahaan ini dan menjadi office girl. RIP rekeningku," Jovan pasrah dengan keadaan.
Chen menegakkan tubuh Lin Aurora. Melihatnya dengan jelas jika office girl yang ada di depannya adalah istrinya sendiri. Kemudian, Chen menarik tangan Lin Aurora, membawanya masuk ke ruangannya dengan Jovan juga bersama mereka.
Semua karyawan menatap perlakuan Chen itu kepada Lin Aurora. Benar-benar saat itu, Lin Aurora tidak mirip dengan seorang istri dari pengusaha kaya raya maupun putri seorang Tuan Natt. Penampilan sederhana Lin Aurora itu sama persis dengan orang kalangan ke bawah dengan rambut di ikat bawah dan berantakan.
Genggaman tangan Chen, dilepas dan ia duduk di kursinya. Kemudian menatap istinya dan sepupunya secara bergantian. Selama tiga bulan bekerja, Lin Aurora tidak pernah mengatakan bahwa dirinya bekerja di perusahaan elektronik miliknya. Bahkan, Lin Aurora juga tidak cerita jika dirinya menjadi office girl di perusahaan tersebut.
"Jovan, apa kau sudah tidak ingin hidup?" tanya Chen masih dengan suara normal.
"Tuan, saya …,"
"Um, Tuan Muda Wang, saya yang meminta Asisten Jovan untuk mencarikan pekerjaan ini, saya juga memaksa dia. Jadi bukan sepenuhnya salah--"
"Tuan Muda Wang?" sela Chen, ketika Lin Aurora menjelaskan.
"Tuan Muda Wang? Hah …" Chen menyeringai. Dia masih tidak menyangka jika istrinya bekerja menjadi office girl.
Chen mencoba menenangkan diri. Dia menyangga kepalanya. Tak lama kemudian, mendekati Lin Aurora dan Jovan. Mengelilingi mereka dan kembali duduk di kursinya.
"Kau keluarlah lebih dulu. Di luar pasti sedang tidak baik-baik saja. Handle beberapa bagian yang harus aku kunjungi. Aku masih ingin bicara dengan Nonamu ini," tunjuk Chen kepada Lin Aurora. Chen meminta Jovan untuk keluar lebih dulu.
"Baik, Tuan!" Jovan langsung semangat saat Chen menyuruhnya untuk keluar lebih dulu.
"Semangat, Nona Lin," bisik Jovan sebelum pergi.
Selama tiga bulan memang Chen tidak pernah bertanya kemana istrinya kerja. Yang Chen tau, setiap pagi istrinya selalu berdandan ala sekertaris.
"Lin Aurora, istri dari Chen Yuan Wang. Chen Yuan Wang, pewaris seluruh kekayaan Tuan Wang. Apa kau ingin menambahkan lagi, identitasmu yang sebenarnya... Nona Lin Aurora Wang!" nada bicara Chen sudah meninggi bagaikan setinggi gunung Everest.
"Tuan Muda Wang, sebenarnya--" belum juga Lin Aurora menjawab, Chen sudah menyelanya lagi.
"Tuan Muda, Tuan Muda, Tuan Muda. Aku suamimu! Bagaimana jika ada orang yang tahu kalau kau istriku, Lin? Suamimu pemilik dari perusahaan ini, dan kau malah ... resign sekarang juga, atau kau aku_"
Kali itu, Chen yang diam ketika melihat wajah memelas istrinya. Tidak mungkin tidak ada rasa jika melihat wajah istrinya yang memelas saja sudah luluh.
"Baiklah, apa yang kamu mau, Lin Aurora?" tanya Chen dengan lembut.
"Sebenarnya waktu itu aku sudah melamar sebagai sekretaris. Tapi direktur Liu mengatakan kalau aku pantasnya menjadi office girl. Mau bagaimana lagi, kata direktur Liu dengan cv yang aku miliki, memang kualitas aku katanya udah disitu ... office girl," jelas Lin Aurora menjadi murung.
Chen menghela napas panjang. Istrinya memang tidak pernah sekolah tinggi. Selama diperbatasan, sekolah Lin Aurora hanya sampai di setara sekolah menengah atas saja. Jika ada ijazah lain, itu hanya sebagai formalitas, namun Lin Aurora benar-benar tidak pernah belajar.
"Lalu, kenapa selama kamu bekerja, kamu tidak pernah mentraktirku? Setidaknya gajian pertama kau mengatakan kepadaku, 'kan?" lanjut Chen bertanya.
Lin Aurora menggelengkan kepala.
"Apa ini? Apa maksud kamu menggelengkan kepala? Apa kamu tidak ingin berbagi hasil dengan suamimu sendiri?" tanya Chen.
Wajah Lin Aurora menjadi memerah, kemudian menangis karena ternyata selam tiga tahun bekerja, dirinya tidak pernah menerima gaji sepeser pun karena harus mengganti beberapa peralatan kantor yang ia rusak.
"Oh, astaga ... Aku memiliki istri yang bodoh sekali. Ck, sungguh bingung mau aku apakan ini wanita," Chen begitu frustasi mendengar alasan Lin Aurora kenapa selalu bekerja tapi tidak pernah mendapat gaji.
"Maaf, aku benar-benar tidak berguna. Aku pikir setelah aku lepas dari cengkraman Ayahku, aku bisa membantumu dengan menjadi istri yang ideal dengan bekerja seperti istri lainnya. Tapi ternyata aku malah tidak bisa apapun, hua ...."
"Hash, sudahlah. Jangan menangis, ini kantor. Jika yang lain dengar, nanti mereka akan berpikir yang tidak-tidak. Jangan menangis lagi,"
Chen mendekap istrinya, menenangkannya supaya tidak menangis lagi. Namun, hal itu ternyata dapat menyenangkan hati Chen. Kekonyolan yang dilakukan Lin Aurora, mampu membuat Chen tersenyum dan perlahan melunak hatinya.