Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Penantian Selama Lima Bulan



"Asisten Dishi, saya akan menerima lamaran kamu, ketika Aisyah juga menyatakan, iya. Kami akan menghargai setiap keputusan putri kami," ucap Yusuf. 


"Lagipula, kamu membuktikan sampai sejauh ini. Kami tidak akan menghalangi hubungan kalian. Sejujurnya, ini yang selalu kami harapkan, Dishi," timpal Rebecca.


"Jadi, Tuan dam Nyonya …," ucapan Asisten Dishi terhenti. 


"Kami menghormati kedatanganmu dengan niat baikmu itu. Tapi, semua keputusan ada pada Aisyah. Jika kamu ingin menikah dengannya, kami akan ikut bahagia. Bagaimanapun juga, kamu adalah Ayahnya Ilkay saat ini, 'kan?" tutur Yusuf dengan kelembutannya. 


Restu sudah ada di tangan, Yusuf menghargai keberanianan Asisten Dishi yang berani datang melamar Aisyah. Asisten Dishi mengatakan, bahwa dirinya tidak tahu bagaimana cara melamar yang benar. Ia mengatakan bahwa dirinya sudah tidak memiliki keluarga lagi. Jadi, tak ada yang bisa mendampingi dirinya di saat melamar. 


Yusuf tak pernah mempermasalahkan hal itu. Baginya, kebahagiaan putrinya adalah yang paling penting dari apapun. Dengan melihat kerja keras Asisten Dishi yang mampu belajar ilmu agama sembari bekerja, itu bukanlah suatu hal yang mudah. Apalagi, pekerjaan yang Chen berikan juga tidak lah mudah.


"Tiga hari lagi, Aisyah akan bertambah umur. Jadi, saya ingin memberikan kejutan untuknya dengan datang ke Korea, Tuan. Apakah ada hal yang ingin Tuan dan Nyonya titipkan?" tanya Asisten Dishi. 


Yusuf dan Rebecca saling menatap. Keduanya tidak ingin memberikan apapun kepada putra putrinya yang jauh di sana. Hanya, Rebecca akan mengirimnya sendiri nanti ketika waktunya sudah tiba. 


"Baiklah kalau begitu. Saya pamit pulang dulu. Masih ada pekerjaan yang akan saya kerjakan. Assallamu'alaikum," Asisten Dishi pamit. 


"Wa'alaikumsallam, Dishi!" Rebecca mencegah Asisten Dishi yang hendak beranjak dari sofa. 


"Iya, Nyonya. Ada hal yang bisa saya bantu?" tanya Asisten Dishi. 


"Tolong jaga Aisyah dan Chen. Hanya kamu yang selalu ada untuk mereka. Soal Gwen, sudah ada suaminya yang menjaganya. Jadi, jika kami tidak bisa datang di hari ulang tahun mereka, sampaikan permintaan maaf kami kepada mereka bertiga, ya …." 


Ucapan Rebecca membuat Asisten Dishi sedih. Rencananya, Asisten Dishi hendak membawa Gwen beserta suaminya juga untuk datang ke Korea. Begitu juga dengan Chen dan kedua orang tua mereka untuk makan bersama. "Gagal rencanaku," gumam Asisten Dishi dalam hati. 


Jauh di Korea sana, Aisyah tidak tahu jika Asisten Dishi sudah melamarnya. Sepulang dari kampus di malam hari, Aisyah dan salah satu temannya yang bernama Valent duduk berdua menikmati makanan mereka di depan toko. 


"Val, apa kamu sudah menerima file yang diberikan oleh kekasihmu?" tanya Aisyah. 


"Sudah. Sebentar, setelah aku menghabiskan makanan ini … langsung aku kirim kepadamu, oke?" sahut Valent. 


"Oke." 


Saat mereka asik mengobrol, datanglah Leo dan Raza. Masing-masing membawakan hadiah untuk Aisyah dengan ukuran sedang di tangannya. "Assallamu'alaikum, Aisyah," salam Raza dengan suaranya yang lembut. 


"Wa'alaikumsallam warahamatullahi wabarokatuh, Kak Raza, Kak Leo? Kalian datang kemari? Bukannya tempat kerja kalian berlawan arah dari tempat ini, ya?" 


"Aku ada sesuatu untukmu," ucap Leo memberikan hadiah untuk Aisyah. 


"Ini, aku juga ada sesuatu untukmu. Bukalah, aku harap kamu menyukai hadiah yang aku berikan ini," imbuh Raza memberikan bingkisan berwarna merah muda tersebut. 


"Ada acara apa? Kenapa kalian memberikan dia hadiah?" sahut Valent kebingungan. 


"Tiga hari lagi kamu ulang tahun, Aisyah. Aku ada pekerjaan di luar kota, jadi aku memberikan hadiah ini lebih awal. Apakah ini tidak apa-apa?" ujar Leo dengan raut wajah sedikit murung. 


"Aku juga memberikanmu hadiah lebih awal karena aku akan kembali ke Jogja dalam dua hari lagi. Maafkan aku yang tidak bisa menemanimu di hari ulang tahunmu, Aisyah," timpal Raza juga tidak mau kalah. 


Aisyah sangat berterima kasih kepada Leo dan Raza yang selalu baik hati dengannya. Hanya saja, hatinya sudah terisi oleh pria lain yang tak bisa membuatnya memilih salah satu diantara Leo maupun Raza. 


Di samping itu, jika Aisyah Pro kepada Leo, ia takut akan membuat Raza sakit hati. Begitu juga sebaliknya, jika Aisyah lebih memilih dekat dengan Raza, ia masih merasa ragu karena kurang jelasnya latar belakang keluarga Raza dimatanya. 


"Terima kasih. Aku senang dan sangat bahagia menerima hadiah dari kalian berdua. Ini mengingatkan aku akan ulang tahun kedua saudari dan saudara kembarku juga. Sekali lagi, aku ucapkan terima kasih," ucap Aisyah begitu terharu.


"Astaga, Ai. Jangan begini, aku jadi malu, ih!" seru Leo menutupi wajahnya yang memerah. 


Setelah memberikan masing-masing kadonya, keduanya pamit hendak bersiap diri untuk melakukan pekerjaannya. Aisyah bersyukur memiliki teman seperti Leo dan Raza. Terlintas dalam ingatannya, jika dirinya ingin membelikan sebuah hadiah untuk Gwen dan juga Chen. 


Jika Aisyah masih sibuk dengan kuliahnya dan sekolah Ilkay di Korea, Gwen malah sibuk sendiri dengan dirinya yang belum juga diberi amanah oleh Sang Pencipta. Ia merasa sedih di setiap kali melakukan tes urine selalu negatif hasilnya. 


"Bagaimana?" tanya Agam dengan santai, menyiapkan sarapan untuk sang istri. 


Gwen menghela napas. Membuat Agam sudah tahu apa hasil dari tes kehamilan pagi itu. Tak ingin melihat istrinya semakin sedih, Agam ingin memberikan waktu seharian penuh untuk menemani Gwen di rumah. 


"Em, Mas mau ajak kamu jalan saja, bagaimana? Kita akan pergi ke manapun kamu mau, setuju?" usul Agam.


Tapi Gwen masih saja murung. "Ini sudah bulan ke lima kita menikah. Tapi kenapa aku belum hamil juga, ya? Apa karena ada sesuatu pada diriku, Mas?" Gwen mulai panik. 


"Na'udzubillahimindzalik, semoga saja kamu sehat-sehat saja, Dek. Bersabarlah, Allah pasti sudah memiliki rencana untuk kita kedepannya," tutur Agam membelai kepala sang istri dengan kelembutan. 


"Tapi tetangga sebelah baru menikah satu bulan … kenapa bisa langsung hamil? Aku kan juga pengen," Gwen menundukkan kepalanya.


"Aku takut Mas Agam nikahi Syifa dan memiliki anak dengannya. Aku nggak mau!" imbuh Gwen dengan pipi menggebu seperti ikan buntal. Sehingga membuat Agam tertawa. 


"Apanya yang lucu!" sulut Gwen. 


"Oh, maaf. Habisnya pipi kau seperti ikan buntal. Jadi Mas pengen tertawa kalau lihat pipi kamu seperti itu. Maaf, ya, ya Zaujati," ucap Agam menoel-noel pipi istrinya. 


Rahasia lima bulan lalu dengan lampu gantung itu masih tertutup rapi. Gwen sama sekali tidak menceritakan kebenaran itu. Takut hanya akan membuat Agam marah saja. Apalagi, masalah uang pembangunan dan sertifikat tanah pesantren yang sudah ditebus oleh Gwen. Ustadz Khalid mampu diajak bekerja sama untuk tetap bungkam dengan masalah itu. 


Setiap kali Agam mengirim uang untuk Ustadz Khaldi yang kemudian di salurkan untuk membayar uang pembangunan selalu masuk kembali ke rekening pribadi Gwen yang dipegang oleh Gwen sendiri. Semua itu, mereka rahasiakan demi perasaan Agam. 


Lalu, apakah suatu saat Agam bisa mengetahui rahasia besar itu? Lalu, kado apa yang akan Agam berikan untuk ulang tahun istrinya yang pertama kalinya setelah mereka menikah? 


Ingatkan author kalau nulisnya nggak nyambung, oke? Terima kasih