
"Jahat, kejam, durjana!" Aisyah masih mengamuk.
Dishi tersenyum, menikmati setiap omelan dari sang istri yang sudah ia rindukan. Mereka kembali ke mobil, kali itu Aisyah yang menyetir dan membawa suaminya ke rumah sakit. Dishi terus menatap Aisyah tiada henti.
"Kamu bersabarlah dulu. Kita akan segera sampai ke rumah sakit. Pasti itu sangat sakit," ucap Aisyah khawatir sampai menangis.
"Hei, kenapa kamu menangis? Aku baik-baik saja. Lihatlah, aku masih bisa menatapmu dan membelai kepalamu, 'kan?" suara Dishi mulai melamah.
"Berhenti bicara, karena itu akan membuatmu terkuras tenaga. Aku akan mempercepat menyetirnya," tangan Aisyah sampai gemetar menyaksikan aksi penjahat itu.
"Sayang, selagi peluru dan belati belum di ambil, maka darahnya tidak akan keluar banyak. Tapi entah kenapa aku merasa sangat pusing. Kamu menjadi dua dan aku bingung akan--" ucapan Dishi mulai ngelantur.
"Jangan tidur! Jangan terpejam! Tetap terjaga dan terus lihat aku!" Teriak Aisyah.
"Hish, kenapa kami berisik sekali, Ai. Aku tidak tidur, lihatlah! Aku melihatmu, kurang apa lagi aku?" celetuk Dishi.
Membuat Dishi tetap terjaga, Aisyah kembali menanyakan sesuatu kepada Dishi. Darahnya mengalir begitu deras sampai wajah suaminya yang tampan itu menjadi pucat. Bahkan, ketika Aisyah memeriksa nadi Dishi, mulai melemah juga.
"Lihat aku, apakah aku cantik?" tanya Aisyah dengan kata-kata randomnya.
"Tentu saja! Kau sangat cantik, bidadariku, cintaku, sayangku, kau sangat cantik. Sebab, kau adalah istri dan wanita satu-satunya yang aku cintai," jawab Dishi lemas.
"Katakan lagi, apakah ada yang lain dariku selain aku adalah cintamu?" tanya Aisyah kembali. "Sebentar lagi kita akan sampai, kau harus jawab dulu pertanyaanku ini, Tuan Dishi!" Aisyah mulai gemas.
Dishi tidak menjawab, dia hanya menatap Aisyah dengan senyuman dan dahi yang mengkerut akibat menahan lukanya.
"Kenapa kami menatapku seperti itu? Jangan menyakitiku dan jawab pertanyaanku," desak Aisyah.
"Aku tidak perlu menjawab. Kau adalah segalanya bagiku. Sudahlah, kenapa kamu bawel sekali, Ai. Apakah begitu cintanya kamu kepadaku?" Dishi sempat-sempatnya menggoda sang istri sembari mencoleknya.
"Sudahlah, lebih baik aku fokus menyetir. Sebentar lagi juga sampai. Semoga saja tidak kehabisan banyak darah." Aisyah bergumam.
Selama hidup di Korea, Aisyah memang sering pulang pergi sendirian. Sebelum Dishi juga ikut tinggal di sana beberapa bulan yang lalu sebelum insiden ledakan gedung di salah satu kota di Tiongkok, Aisyah juga mandiri.
Sesekali Aisyah mengecek denyut nadi suaminya. Merasakan denyut nadi Dishi lemah, Aisyah tetap tenang supaya bisa konsentrasi menyetir. Jarak antara apartemen ke rumah sakit tidak begitu jauh, tapi juga tidak dekat. Jadi tidak langsung sampai dalam hitungan detik.
"Kita sampai,"
Aisyah turun lebih dulu dan memanggil rekannya yang berada di depan. Begitu mendapat informasi, seluruh tim langsung menuju IGD untuk memeriksa Dishi.
"Kita harus lakukan operasi, luka tusuk dan tembak sudah terjadi sekitar 15 menit yang lalu. Darahnya--" ucapan Aisyah terhenti.
"Anak magang, bisakah kau diam dulu? Kami sedang memeriksa!" sentak salah satu senior di sana.
"Kalian memeriksanya lambat, aku ingin cepat kalian menangani dia," Aisyah sampai memohon.
"Astaga, kenapa kau ini?" Senior itu kembali menyulut.
Datanglah tim Aisyah lainnya ke ruang IGD. Bora, sahabatnya meminta untuk keluar lebih dulu. Namun, Aisyah memberontak karena dirinya sudah yakin dengan kondisi suaminya.
"Bora, dia harus di operasi secepatnya. Pinggangnya tertembak, pahanya tertusuk dan di sisi yang sama. Aku khawatir dengan keselamatannya," Aisyah mulai menangis.
Bora yang bingung dengan sahabatnya itu menjadi ikutan panik. "Hei, pasien ini siapa? Mengapa kamu seperti ini, Ai? Aku jadi ikutan panik!" seru Bora.
"Anak magang! Bisakah kalian diam! Ada yang bekerja di sini. Terutama kau, gadis yang menutupi kepalanya menggunakan kain! Bisa diam tidak!" sentak senior itu lagi.
Mendengar dan menyaksikan istrinya dibentak, membuat Dishi tidak terima. Dia bangkit dan menarik kemeja dokter senior itu. "Kau sungguh tidak pantas menjadi dokter. Kau membentaknya, aku akan membunuhmu!"
Bug!
Dishi memukul dokter senior itu. Namanya Kang Yee Jun. Senior ini menyukai Aisyah, tapi sering memperlakukan Aisyah dengan buruk saat pertama kali Aisyah masuk ke timnya.
"Pasien gila! Sudah sekarat masih saja berani memukul orang," desis senior Kang.
Aisyah yang melihat suaminya memukul seniornya, langsung masuk dan menahannya untuk tidak emosi lagi. "Apa yang kamu lakukan?" bisik Aisyah.
"Dia membentakmu, aku tidak suka ada orang lain yang membentak dirimu. Bahkan jika Ayah saja membentakmu tanpa kamu melakukan kesalahan, aku pasti akan menentangnya," ucap Dishi memegang pipi istrinya dengan tangan yang berlumuran darah.
"Diamlah, sekarang kamu berbaring. Segera kau akan menjalankan operasi, oke?" tutur Aisyah lembut.
Senior Kang merasa kesal karena menyaksikan adegan menyentuh itu. Bora yang melihat Dishi dari kejauhan menjadi terkejut karena Aisyah belum cerita jika suaminya telah kembali.
"Dishi?" sebut Bora lirih.
"Apa kau mengenal pasien itu?" tanya salah satu rekannya.
Bora hanya mengangguk dengan mulut menganga karena masih tak percaya Dishi kembali setelah 2 bulan tiada kabar.
"Tolong senior, dia harus segera dioperasi. Tolong lakukan operasi untuknya. Kumohon--" Aisyah kembali menyatukan tangannya memohon kepada Senior Kang.
"Dia siapa? Mengapa anak magang ini sangat mengkhawatirkannya?" batin senior Kang.
"Aku tidak bisa," jawab senior Kang dengan memalingkan wajahnya. "Siapa yang akan mengoperasinya? Dokter bedah senior belum datang, aku tidak berani," imbuhnya.
Aisyah kembali mengeluarkan air matanya. Dishi semakin lemas dan menjadi hilang kesadarannya. Beberapa perawat kembali bergerak untuk membuat kondisi Dishi stabil.
"Tolong senior, tolonglah … Bukankah anda juga dokter bedah? Mengapa anda tidak melakukan itu kepadanya--" permohonan Aisyah itu membuat senior Kang semakin kesal.
"Siapa dia? Mengapa kau peduli sekali dengan pasien ini, anak magang!" sentak Senior Kang terlepas, sampai membuat beberapa orang menoleh ke arahnya.
Senior Kang mengontrol emosinya lagi. Kemudian menghela napas dan menanyakan mengapa Aisyah peduli terhadap Dishi. Bora pun mendekati mereka berdua dan berusaha membuat Aisyah tenang.
"Ai--" lirih Bora.
Aisyah mengangkat kepalanya. Dengan badan tegak, Aisyah mengatakan dengan lantang bahwa, "Dia adalah suamiku. Dia suamiku!"
Sontak, membuat beberapa rekan kerjanya kecuali Bora mendadak terkejut. Selama magang, memang Aisyah tidak pernah mengatakan bahwa suaminya juga ada di Korea. Hanya status saja yang ia miliki untuk formalitas mengisi dokumen.
"Dia suamiku, dia baru kembali dari luar negeri dan menerima serangan belati serta pistol. Harus di operasi, atau aku akan kehilangannya. Tolong senior, aku tidak ingin jauh kehilangan dia untuk yang kedua kalinya. Aku mohon padamu--"
Cinta mampu meluluhkan hati Senior Kang. Benar adanya jika Senior Kang sudah tahu status Aisyah adalah istri orang. Namun, dirinya tetap saja nekat mencintai istri orang dan saat ini dirinya sedang melakukan pembuktian cintanya. "Baiklah, aku akan berusaha hubungi dokter bedah yang lainnya." ucap senior Kang lirih.
Lalu, siapa dalang penembakan itu? Apakah musuh Aisyah? Atau bahkan musuh dari Dishi ketika masih menjadi asisten pribadi Chen?