Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Chaterine Tega!



"Hoih, syukurlah …," Jovan bisa menghela napas panjang. 


Tiga hari berlalu. Burung lucu milik Chen sudah kering dan sudah bisa memakai celana yang biasa ia pakai. Akad juga akan dilangsungkan lima hari lagi sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan. 


Selama itu juga, Chen dan Jovan sangat pintar mengelabui Tuan Besar Natt perihal mereka membawa putrinya ke luar negri. Bagi Tuan Besar Natt, ia malah menduga jika Chen sudah masuk ke perangkapnya. Namun kenyataannya, memang Chen sedang mengikuti alur yang di pikirkan oleh calon mertuanya yang kejam itu. 


Akad masih lima hari lagi. Aisyah malah disibukkan oleh perseteruan batin dengan Chaterine yang semakin lama semakin berani menunjukkan bahwa dirinya adalah Ibu kandung dari Ilkay. 


Selama tiga hari itu, dikala Dishi tidak bisa menjemput Ilkay ke tempat kursusnya. Kesempatan itu digunakan oleh Chaterine untuk selalu mengantar Ilkay sampai di depan bangunan apartemen. Sedangkan Aisyah sedang sibuk menghadapi ujian. 


Namun, tepat di saat Aisyah menjemput Ilkay ke tempat kursus, Aisyah tidak melihat Chaterine sedang menemani Ilkay duduk di depan kelasnya tengah memberi makanan. Saat itu, memang waktunya Ilkay sudah harus pulang. akan tetapi, Chaterine masih ingin bersama dengan Ilkay.


"Ini ada camilan untukmu. Ayo dimakan, Mami akan buatkan lagi jika kamu menyukainya," ucap Chaterine. 


"Tidak, aku tidak mau makan apapun darimu. Mama selalu bilang, jika aku hanya boleh memakan makanan yang orang aku kenal saja," tolak Ilkay. 


Chaterine hilang kesabaran. Selama beberapa hari, ia sudah mengalah dan tidak mempermasalahkan jika Ilkay menolaknya. Di detik itu, emosi Chaterine sudah memuncak. Ia sampai membentak Ilkay hingga Ilkay ketakutan. 


"Ilkay! Aku ini Mamimu, Ibu kandungmu! Kenapa hanya Aisyah, Aisyah, Aisyah saja yang ada dalam hatimu, hah!" bentaknya. 


"Aku yang mengandungmu, aku juga yang melahirkanmu. Lalu, salahkah aku jika mengharap kau juga menyayangiku, Ilkay?" 


"Tidak bisa! Kau harus pulang bersamaku, atau kau akan melihat Mama kesayangamu itu mati di tanganku. Mau!" ancam Chaterine kepada Ilkay. 


Ilkay berdiri dan segera berlari. Sayangnya, Chaterine langsung menahan lengannya dan menyeret Ilkay ke kelasnya kembali. 


"Mama, Mama…,"


"Tolong, Mama!"


Upaya Ilkay memanggil Ibunya dan meminta tolong hanya sia-sia saja. Chaterine membekap mulutnya dan menyeret Ilkay masuk dengan kasar. Bahkan, kaki Ilkay sampai menyangkut ke kursi tunggu saja, ditarik dengan kasar. 


"Anak tak tau di untung! Mati saja kau!" Chaterine menampar pipi Ilkay sampai beberapa kali. 


Hebatnya, Ilkay sama sekali tidak pingsan maupun lemas saat Chaterine menamparnya. Ilkay masih bertahan supaya bisa berteriak meminta tolong. 


"Diam!" bentak Chaterine. 


"Kamu tidak pantas di sebut Ibu! Kamu jahat! Aku membencimu!" teriak Ilkay. 


"Aaaaaa…," Chaterine berteriak seperti orang gila. 


Di saat yang bersamaan, rupanya Aisyah dan Dishi telah menjemputnya. 


"Ilkay," Aisyah memanggil.


"Nak, apa kamu masih di sini?" sahut Dishi. 


"Ayah! Mama! Aku di mmm…," kembali Chaterine membekap bibir Ilkay. 


Kali itu, Chaterine membekap Ilkay dengan memasukkan sebuah racun ke tubuhnya. Bekapan tangan Chaterine juga menutupi hidung Ilkay yang membuatnya sulit untuk bernapas. Akhirnya, Ilkay pingsan karena lemas kekurangan oksigen. 


"Sayang, kenapa tempat kursus ini sangat sepi?" tanya Dishi. 


"Ya, harusnya memang sudah pada pulang. Kita telat 15 menit. Orang Korea, selalu menghargai waktu, jadi tidak ada yang masih di tempat kecuali memang tugasnya belum selesai," jawab Aisyah. 


Tak disangka, Tuan Jin juga datang ke tempat kursus tersebut. "Mama Ilkay, Anda masih di sini?" tanyanya. 


"Tuan Jin, Anda kenapa ada di sini?" tanya Aisyah kembali. 


"Teriakan wanita? Teriakan seperti apa itu?" tanya Dishi penasaran. 


Brak! 


Suara keras, seperti benda terjatuh terdengar jelas dari kelas musik piano. Kelas tersebut, adalah kelasnya Ilkay. Aisyah, Dishi dan Tuan Jin saling menatap, kemudian berlari ke kelas itu dan melihat Ilkay terkapar di sana. 


"Ilkay!" teriak Aisyah. 


Chaterine masih ada di sana. Sebelumnya duduk samping Ilkay yang sudah lemas tak berdaya. Melihat kedatangan Aisyah, Chaterine seperti menghambat Aisyah untuk memastikan bahwa racun itu telah menyebar ke tubuh anak berusia 6 tahun itu. 


"Pergi!" usir Chaterine. 


"Nona Chaterine, apa yang anda lakukan kepada Ilkay?" sahut Tuan Jin. 


"Apa yang aku lakukan, sudah seharusnya aku lakukan sejak dulu. Jika aku tidak bisa memiliki putraku, maka kalian juga tidak bisa!" teriak Chaterine. 


"Dia putraku!" sentak Aisyah. "Aku menyayanginya seperti putraku sendiri. Aku memperjuangkan hak asuhnya demi keselamatannya dari musuh Ayah kandungnya, dan kau … apa yang kau lakukan padanya!" Aisyah menarik Ilkay, kemudian mendorong Chaterine sampai wanita jahat itu terjungkal. 


Aisyah segera memeriksa tubuh kemas Ilkay. Ia mencium aroma racun di mulut Ilkay. Kemudian, Aisyah juga menemukan tanda cubitan di lengan Ilkay, yang mungkin selama ini Ilkay sembunyikan darinya. 


"Aisyah, ayo kita segera bawa Ilkay kerumah sakit," ucap Dishi menggendong Ilkay. 


"Mama Ilkay, segeralah bawa Ilkay ke rumah sakit, aku akan menangani Nona Chaterine di sini," timpal Tuan Jin, beberapa detik lalu, ia sudah berhasil menghubungi polisi. 


Saat Dishi dan Aisyah hendak membawa Ilkay, ia mengeluarkan pisau, kemudian berlari ingin menusuk Aisyah. Sayangnya, Tuan Jin menghalanginya, dan melukai tangan Tuan Jin sendiri. 


"Aghr!" 


Tuan Jin merintih, Aisyah berbalik dan melihat tangan Tuan Jin yang berlumutan darah. Sebab, tusukan itu, Chaterine langsung melepasnya dengan cara menggores ke bawah. Sehingga, membuat tangan Tuan Jin terluka goresan. 


"Tuan Jin, anda terluka?" Aisyah merasa tak enak hati kala melihat Tuan Jin terluka demi dirinya. "Chaterine kamu sungguh gila!" 


"Mama Ilkay, cepat ke rumah sakit. Biarkan yang di sini menjadi urusanku. Cepatlah!" tegas Tuan Jin. 


"Tapi tangan Anda--" Aisyah masih saja menatap tangan Tuan Jin yang mulai mengeluarkan banyak darah. 


Dengan satu tendangan di kaki Chaterine, Aisyah mampu membuat Chaterine tak bisa berdiri. Saking emosinya, Aisyah memukul wajah Chaterine sampai memar. 


Bug! Bug! Bug! 


Begitu bunyinya. Sampai polisi datang melerai perkelahian itu. Chaterine yang tak sempat melarikan diri itu, akhirnya ditangkap dan segera membawa Tuan Jin keluar bersamanya.  


"Ai, kenapa kamu lama sekali? Polisi datang dan sudah membawa Ilkay ke rumah sakit. Ayo, kita susul mereka," Dishi yang sedari tadi sibuk membawa Ilkay keluar, malah tak tahu jika istrinya masih sibuk di dalam. 


"Chaterine melukai tangan Tuan Jin. Ayo, kita segera berangkat ke rumah sakit!" seru Aisyah. 


Segera mereka masuk ke mobil. Dishi juga meminta Aisyah untuk membalut luka di tangan Tuan Jin agar darahnya tidak terus mengalir, atau Tuan Jin akan kehilangan banyak darah. Aisyah awalnya ragu, sebab tak enak hati menyentuh pria lain didepan suaminya. 


"Aisyah, kenapa masih diam? Cepat balut luka Tuan Jin," tegas Dishi. 


"Tapi kamu …," Aisyah menunduk. 


"Kamu lupa? Kamu seroang dokter, sekarang juga sedang menempuh pendidikan sebagai nakes, bukan? Apakah aku harus cemburu dengan pasienmu?" 


Ucapan Dishi baru saja menyadarkannya, bahwa dirinya juga tenaga kesehatan. Segera Aisyah mengambil kotak p3k yang ada di dalam mobil, segera membalut luka Tuan Jin. Aisyah tak berani mengambil resiko, hanya bisa mencegah pendarahannya berhenti saja.