Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Drama Kolosal Tama



Rencana rapi itu baru mereka susun 7 menit yang lalu sebelum Dishi dan wanita tadi keluar menemui mereka kembali. Dishi memberi isyarat lagi kepada Feng, untuk kembali menasihati Xia supaya tidak salah bicara lagi. Meski wanita tadi tidak terlalu berbahaya, tapi jika sudah emosi, dia tidak peduli akan membunuh siapa saja yang ada di depan matanya. 


"Sebenarnya kalian ini siapa? Aku sudah memperingatkan kepada kalian untuk berhati-hati di sini. Jangan sampai kalian mengungkapkan identitas diri masing-masing. Tempat ini bukan lengkap orang biasa seperti kalian, ini …." ucapan Dishi terhenti. 


"Kalian ikutlah bersama mereka. Istirahat lebih dulu, barulah nanti kalian bisa kembali jika sudah lebih baik. Perjalanan ke kota, pasti akan membutuhkan waktu lama, bukan?" Wanita itu kembali. 


Feng, Tama dan Xia berdiri. Mereka hanya perlu mengikuti dulu permainan yang ada. Kemudian, setelah mereka lengah, barulah akan memulai aksinya. Melewati Dishi, Feng memberikan ponsel milik Dishi yang ia temukan di pinggir gedung yang meledak malam itu. Di mana ponsel itu yang membuat Feng yakin, jika Dishi masih hidup. Ponsel sudah dalam mode hening, Dishi langsung menyembunyikan ponselnya di kain yang ia gunakan untuk menutupi kakinya. 


***


Kamar yang disediakan, kamarnya menjadi satu dengan tiga ranjang yang terpisah. Feng dan Tama masih berdiskusi tentang bagaimana cara membawa Dishi keluar, sementara Xia sibuk dengan ponselnya dan menggerutu karena tidak ada jaringan. 


"Sialan! Ini sudah sebulan aku tinggal dengan kakak menyebalkan itu. Sudah begitu, dia selalu memasak makanan yang sedikit, aku selalu tidak kenyang," gerutu Xia. 


"Setiap hari, pasti selalu ajak berdebat. Aku di sekolah juga di bully, sering kali membuatnya dipanggil oleh guru, tapi dia tetap saja tidak mau datang untukku," ketusnya. 


"Hm, aku harus apa? Mengapa sulit sekali menyenangi hati kak Tama ini? Apakah dia sudah ada pacar di negaranya sana? Hum, pasti belum. Siapa juga yang mau dengan pria seperti itu?" 


Xia akhirnya tertidur karena lelah mengumpat tentang Tama. Usianya memang masih 15 tahun. Tapi gaya pikirannya masih seperti anak berusia 7 tahunan. Xia juga jarang sekali mendapatkan kasih sayang sejak kecil. Maka dari itu, mendapatkan perhatian sedikit dari Tama, dirinya mengekor terus dengan Tama. 


Sementara itu, Feng masih menggunakan akalnya untuk membawa Dishi ke luar. "Eh, kau sering menonton drama seperti itu, bukan? Katakan, bagaimana cara ampuh zaman kuno untuk melarikan diri tanpa harus berkelahi?" 


Mendengar pertanyaan dari Feng, membuat wajah Tama seketika menjadi datar, sedatar harapan Xia mendapatkan perhatiannya. 


"Mukamu bisa biasa saja, tidak? Hih, pengen aku tampol pakai cermin ini deh!" kesal Feng. 


"Ck, aku malas bicara tentang drama denganmu. Kau sejak kemarin mengejekku karena tontonanku adalah drama kolosal," Tama merajuk. 


"Astaga, di saat genting seperti ini masih sempat merajuk. Tama, kau ingin mati sekarang atau bagaimana?" Feng mulai geregetan. 


"Iya, bawel. Hah, sebentar aku tak mikir dulu!" Tama memalingkan wajahnya dari padangan Feng. 


10 menit berlalu. Tama belum juga selesai berpikir, Feng mulai resah. Waktu terus berjalan, tapi Tama belum juga memberi arahan bagaimana caranya kabur seperti drama kolosal yang selalu ditontonnya.


BRUAK! 


"Lama!" 


Feng kesal sampai menggebrak meja. "Mengapa lama sekali? Hanya katakan cara apa yang digunakan oleh tokoh dramamu itu dalam dramanya. Kenapa susah sekali harus berpikir?" ketusnya. 


Tama malah menguap.  Masih malas menanggapi Feng karena sebelumnya dia menertawakan Tama karena menyukai drama seperti itu. "Kau menertawakan aku kemarin. Mengapa sekarang begitu memaksa? Jika kau memang sangat cerdas,  mengapa kau tidak berpikir sendiri?" cetus Tama. 


Setelah berdebat lama, akhirnya mereka memutuskan untuk menonton satu episode drama yang sedang ditonton oleh Tama. Selama durasi 47 menit, akhirnya satu episode yang dimana memang scene penculikan, membuat Feng mendapatkan ide. 


"Oke, aku sudah menontonnya. Aku tidak menduga jika kau sampai harus mengunduh videonya," ujar Feng kembali meremehkan Tama sebagai pecinta drama. 


"Sekali lagai kau mengatakan itu … setelah pulang dari desa ini, aku akan pulang ke Indonesia dan tidak akan melanjutkan pekerjaan yang membingungkan itu!" ancam Tama, ia kesal karena terus saja digoda oleh Feng. 


Meski begitu, mereka tidak saling membenci. Apa yang dikatakannya hanya sebagai candaan saja karena pada dasarnya, keduanya memang kurang seperempat. 


"Xia, apa kau--" 


Feng menoleh dan melihat Xia sudah terlelap dengan posisi tengkurap dan mulutnya mengaga. Hal itu membuat Feng dan Tama tertawa. Tak ingin kehilangan momen penting, Tama memotret pose Xia yang sedang tidak cantik itu.  


"Untuk apa kau memotretnya?" tanya Feng berbisik. 


"Aku bisa gunakan ini untuk memerasnya.  Aku seharian membersihkan rumah, memasak dan segalanya. Tapi dia malah membawa beberapa temannya datang dan membuat rumah berantakan. Aku kesal sekali dengan sikap bocah tengik ini. Lumpia!" jawab Tama dengan bibirnya yang manyun. 


Ingin mencari udara segar, Tama hendak pergi ke luar sebentar melihat-lihat bangunan rumah kuno itu. Feng memperingatinya untuk tetap hati-hati karena itu bukan kawasan tempat tinggalnya. 


Meninggalkan Feng dan Xia di kamar, Tama keluar dengan kamera yang sudah siap ia gunakan untuk memotret bangunan kuno tersebut. Sebagai pengusaha kayu, Tama memang sangat tertarik dengan desain kayu yang ada di kediaman itu. 


"Bagus sekali ukirannya. Pasti harganya juga sangat mahal. Hum, apakah semua orang Tianghoa memang menyukai yang beginian? Bisa jadi kalau aku nambah profesi dan usaha baru seperti itu, pasti akan untung," gumamnya sembari mengusap lembut setiap ukiran kayu yang ada di dinding. 


Ketika langkahnya melewati dapur, Tama tidak sengaja melihat wanita yang sebelumnya selalu bersama Dishi, berada di dapur juga. Penasaran dengan apa yang sedang dilakukan oleh wanita itu, Tama pun hendak menyapanya. 


Sayang, sebelum langkahnya bertambah dua langkah, Tama melihat wanita itu menebas kepala seorang pelayan sampai darahnya muncrat di baju dan wajah wanita itu. Seketika, kaki Tama menjadi lemas. 


Beruntung saja Dishi datang lebih cepat dan langsung membungkam mulut Tama yang hampir mengeluarkan suara. Tama langsung di tarik sejauh mungkin dan di bawa ke bagian sudut lingkungan rumah itu yang jarang sekali di jamah orang. 


"Sudah tenang? Tenang, oke? Istighfar …  buat hatimu tenang," ucap Dishi berbisik. 


Tama mengangguk, perlahan Dishi melepaskan bungkamannya. 


"Astaghfirullah hal'adzim, Allahu Akbar. Ya Allah, astaghfirullah hal'adzim__" 


Dishi semakin tidak tega melibatkan Tama dalam bahaya. Dia pun mengusap lembut punggung saudara iparnya. "Apa kau sudah tenang?" tanyanya lagi, memastikan jika Tama benar harus sudah tenang sebelum ia mengatakan kebenarannya. 


"Barusan … kau menyuruhku istighfar? Dan kau bisa berdiri?" tanya Tama.