
4 Hari Yang Lalu.
Pagi setelah insiden goreng ikan berenang, Gwen telah bersiap-siap akan ke tujuan yang juga dikunjungi oleh Chen. Ia menerima info dari membaca kontrak kerja Ayah angkatnya dengan saudara kembarnya itu.
"Aku tak mau tahu, pokonya aku akan langsung cus kesana. Apapun itu, aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini!" gumamnya dalam hati.
Gwen terlalu bersemangat, sehingga beberes tasnya saja sampai Pak Raza dengar. Padahal kamar mereka masih ada dinding besar yang membatasi kamar tersebut.
"Gawat!"
"Gwen pasti mau pergi. Aku harus mencegahnya, atau aku akan mengalami kegagalan lagi!" seru Pak Raza. Ia berlari secepat mungkin dan menghentikan Gwen berkemas.
Dengan sedikit ketegasan, Pak Raza mencengkram tangan Gwen. Tentu saja mereka tak saling bersentuhan kulit. "Mau kemana?" desis Pak Raza.
"Asem, ketahuan!" kesal Gwen menepis tangannya.
"Kenapa kamu hanya bergumam? Apakah ada rencana baru yang hendak kau kunjungi?" tanya Pak Raza masih memegang tangan Gwen
"Aku hanya mengemas barangku biar tertata rapi saja, kok. Curigaan, deh!" elak Gwen.
Pak Raza hanya menyediakan alisnya. Lalu, segera mengajaknya belajar lagi. Gwen sudah muak dengan belajar dan belajar terus. Memang pada dasarnya, Gwen sangat tidak suka belajar.
"Sampai kapan harus terbelenggu dengan pelajaran ini? Berbisnis juga kan nggak harus kuliah!"
"Huft, sangat menyebalkan!" umpat Gwen dalam hati.
"Jika terus pandang, Gwen ini sangat manis. Rambut pirangnya membuatnya semakin manis dengan pipi bulatnya," gumam Pak Raza dalam hati.
Tatapannya begitu dalam. Di iringi dengan senyum terukir di bibirnya, Pak Raza berusaha mengalihkan pandangannya. "Aku tidak boleh jatuh hati dengan muridku lagi. Atau Gwen akan berkahir sama dengannya." batin Pak Raza.
Sebaliknya, Gwen juga mencuri-curi pandang dengan Pak Raza. Sesekali, ia berkedip ketika Pak Raza sadar akan tatapannya. Gwen merasa, pria yang berusia 27 tahun itu sangat tampan.
"MasyaAllah, ciptaan-Mu ya, Tuhanku! Seger bener dah, tapi sayang dia tidak kaya. Jadi, susah makan dan tidur gratisan dengannya." gumam Gwen.
Setahun Gwen, Pak Raza hanya pria sederhana dan tidak memiliki latar belakang yang kuat. Hatinya tak pernah memilih harus kata atau tidaknya pasangan yang ia idamkan. Namun, untuk saat itu, Gwen memang lebih memilih lelaki dengan uang banyak. Dia belum pernah jatuh cinta dengan pria manapun. Hanya saja, lelaki yang selalu menjadi kekasihnya hanya akan di manfaatkan uangnya saja.
"Ayah angkatmu kemana? Sejak kemarin beliau belum pulang," tanya Pak Raza.
"Entah, ngapain nanya aku? Aku sedang sibuk!" ketus Gwen.
"Haih, saya hanya merasa tidak nyaman saja tinggal berdua saja denganmu di sini," lanjut Pak Raza.
"Bodo!" jawab Gwen masih ketus.
Sementara Gwen sibuk dengan tugas yang diberikan olehnya, Pak Raza berjalan ke dapur dan membuatkan camilan untuk mereka sendiri.
Pak Raza mengelap apel yang baru ia keluarkan dari kulkas. "Bagaimana kabar Ibu? Aku harap … Ayah tidak datang ketika aku di sini. Sebaiknya aku tanyakan saja!" gumamnya.
Usai memotong apel, Pak Raza merogoh ponsel yang ada di sakunya, kemudian menelpon Ibunya. Baru saja Pak Raza mengaktifkan nomor baru di sana. Segera mungkin, ia menghubungi Ibunya, dan menanyakan kabarnya.