
Sesampainya di rumah sewa Rafa, sesegera mungkin Rafa merawat luka Aisyah dengan baik. Rafa juga memanggil dokter terdekat malam itu juga. Ia sangat khawatir dengan kondisi Aisyah kala itu.
"Semua ini salahku. Aku nggak bermaksud untuk meragukan kasih sayangnya," sesal Gwen mulai gelisah.
"Aku tahu dia lebih sayang denganku daripada yang lainnya. Pak Raza, Pak Raza ngertikan maksud aku itu gimana, 'kan? Hanya Pak Raza yang bisa menghamiliku, eh salah! Memahamiku maksudnya. Jadi tolong katakan kepada kakakku yang baik hati itu kalau aku tak pernah meragukan kasih sayangnya,"
"Pak Raza, tolong katakan!"
Gwen semakin tak bisa mengendalikan emosinya lagi. Reflek, Pak Raza memeluknya dan mencoba menenangkan Gwen dengan membawa Gwen duduk. Lalu, Pak Raza juga melantunkan sholawat yang merdu, sehingga membuat hati dan pikiran Gwen jauh lebih tenang.
"Aku merindukan Ayahku. Ayah selalu seperti ini ketika aku tak bisa mengontrol emosiku, Pak Raza …." lirih Gwen memejamkan matanya.
"Kamu harus tenang, ya. Kalau boleh tahu … laki-laki yang tinggi itu saudara kembar kalian, ya? Saya rasa, dia sangat baik, dia pasti juga menyayangimu, Gwen. Tapi, dia belum tahu bagaimana cara mengekspresikan kasih sayangnya kepadamu," tutur Pak Raza dengan lembut.
"Sudahlah, bagaimana kalau kita belajar malam ini?" sambung Pak Raza.
Seketika raut wajah Gwen berubah. Mendengar kata belajar membuatnya otaknya sudah pusing. Gwen tersenyum dengan senyum bodohnya dan mengatakan bahwa dirinya ingin libur dulu.
"Apa? Libur?" Pak Raza menyeritkan alisnya dan menatap Gwen dengan tatapan mencurigakan.
"Tidak jadi libur, ayo kita belajar. Tapi sebelumnya, aku mau lihat dulu kondisi Aisyah, oke? Aku juga harus mencuci belatiku dengan alkohol dulu, bagaimana?" kali itu, Gwen tersenyum memperlihatkan giginya.
"Alasan! Dokter Aisyah sudah ada yang merawat, pasti dia akan baik-baik saja. Lalu, belatimu ini … astaghfirullah hal'adzim, saya masih tak bisa percaya kamu membunuh orang, Gwen." Pak Raza bahkan menjaga jarak kepada Gwen ketika mengatakan itu.
Gwen sedih jika Pak Raza menjadi takut dengannya. Sebab, memang membunuh dalam agama juga tidak pernah di benarkan. Apa yang Gwen lakukan saat itu, mungkin suatu karma bagi Rebecca. Dua anaknya mengikuti jejaknya berbisnis dalam dunia hitam.
"Aku juga ingin sekali bisa berubah. Tidak membunuh orang lagi. Tapi belati ini--"
Belum juga Gwen melanjutkan ucapannya, Pak Raza langsung merebut belati tersebut dan hendak menyitanya. Pak Raza juga menjelaskan hukuman orang yang akan dituai di akhirat saat mereka membunuh di dunia.
Pada dasarnya tidak ada satupun agama di dunia ini yang menghalalkan pembunuhan, sebab tujuan agama adalah untuk perdamaian, menyebarkan kasih sayang, dan mengatur tatanan sosial agar lebih baik.
"Tapi kan aku membunuh mereka karena membela diri dari kejahatan yang akan mereka lakukan, Pak Raza. Jika aku diam saja, mungkin tidak hanya kakakku yang akan terluka malam ini," kata Gwen dengan ketus. "Sekarang kita pikir gini dah. Jika aku tidak membunuh salah satu dari mereka … bagaimana bisa aku tau dari mana asal usul mereka," imbuhnya.
"Saya tidak tau apapun tentang dunia hitam ini, Gwen. Tapi tolong … jika kamu memang seorang muslimah, jangan sesekali membunuh orang meski itu karena membela diri. Saya--" ucapan Pak Raza terputus saah Chen datang menghampiri mereka.
Pak Raza pamit pergi dulu, membiarkan Chen bicara dengan gwen berdua saat itu. Pak Raza duduk di samping para tukang yang dibawa oleh Rafa di rumah sewa tersebut. Sementara itu, Chen mencoba memahami saudari kembarnya itu dengan baik.
"Yang tadi itu--"
"Rasanya ingin sekali, saat aku tau siapa keluargaku sebenarnya … segera kembali dan berkumpul bersama kalian semua. Tapi, semua itu tak mungkin karena Ibu angkatku tak akan pernah membiarkan semua itu terwujud," jelas Chen.
"Urusan Ibu angkatmu itu dengan Mami dan Ayah. Mengapa harus kita juga yang ikut menanggungnya?" tanya Gwen dengan harap Chen memberikan jawaban yang memuaskan.
"Kau tau betul latar belakang dalam nama belakang kita saat ini. Tak bisakah kau berpikir lebih jernih seperti bicara? Apa kau selalu berteriak seperti ini ketika bicara, Nona Lim?" lagi-lagi Chen tak bisa menahan emoisnya.
"Kenapa kau emosi? Aku hanya bertanya saja. Apakah Ibu tirimu itu orang yang paling kau sayangi daripada keluarga kandungmu, Tuan Wang?" sulut Gwen membusungkan dadanya.
Tentu saja Chen langsung menepuk kening Gwen dengan keras. Meski itu dengan saudara kandungnya sendiri, memang tak seharusnya Gwen membusungkan dada seperti itu. Chen mengatakan, "Semua tak sesederhana itu, Gwen. Kau tau betul dunia hitam ini. Lihatlah, gara-gara aku saja, Aisyah jadi terluka,"
"Bagaimana mungkin kita bisa berkumpul? Itu sangat membahayakan kalian semua!" lanjut Chen mengusap wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.
"Maksudnya?" tanya Gwen.
"Aku belum bisa berkumpul dengan kalian sebelum Ibu angkatku menerima ganjarannya," desis Chen.
"Kapan itu akan terjadi?" lanjut Gwen masih bertanya.
"Aku tidak tahu, Gwen. Pastinya, jika aku mendekati kalian, takutnya dia akan semakin brutal dan menyakiti salah satu diantara kita. Aku tidak ingin itu terjadi." ungkap Chen menyentuh kepala Gwen. "Aku juga sayang denganmu, hanya saja aku belum tau cara mengungkapkannya. Maafkan aku!"
Gwen memeluk Chen dengan erat. Bukan Gwen yang dalam keadaan seperti itu terharu atau bahagia kakaknya menyayanginya. Ia malah berpikir, dirinya memiliki ATM berjalan tambahan lagi kecuali Feng dan Aisyah.
"Jika Kak Chen beneran masih Tuan Muda Wang, berarti kekayaannya sangat banyak. Aku jadi tidak khawatir lagi kalau Kak Aisyah dan Koh Feng tidak memberiku uang lagi. Hm, aku bisa minta dengannya. Terlebih, dia juga lebih kaya daripada mereka berdua! Asek!" sorak Gwen dalam hati.
Chen bertanya tentang siapa Pak Raza bagi Gwen. Kemudian, Gwen menjawab bahwa Pak Raza adalah guru pembimbing yang sudah dipilih oleh Bibi Airy agar bisa membimbing dirinya sampai lulus kuliah nanti.
"Apa dia suka menggertakmu? Aku lihat, tadi dia menggertakmu. Ya … meskipun aku belum paham benar apa yang dia katakan," tanya Chen.
"Tidak!"
"Aku tidak pernah merasa digertak olehnya, Kak Chen. Dia laki-laki yang baik sekali, dia ingin aku bisa menyegerakan lulus kuliah tahun ini. Kenapa memangnya kalau dia menggertakku? Itu wajar, bukan?" Gwen bertanya dengan mata berbinar-binar.
"Aku hanya tidak suka jika keluargaku ditindas. Katakan jika dia menggertakmu, aku akan langsung membunuhnya!" ujar Chen dengan kepeduliannya.
Gwen tertawa, ia mengatakan bahwa dirinya akan bertindak lebih dulu sebelum Chen membunuh guru pembimbing kesayangannya. Tawa Gwen didengar oleh Aisyah, membuatnya terbangun dari pingsannya.