Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Mengintai



"Lin Jiang, sebenarnya apa yang terjadi padamu?"


"Apakah Ayahmu akan membuat masalah baru? Rencana apa lagi yang Ayahmu akan lakukan?"


Dengan menenggak alkoholnya, Jovan juga makan daging panggang yang dibuat oleh Pelayan Mo untuknya. Melihat Chen dan Lin Aurora berciuman membuatnya semakin kesal dan memilih untuk tidur. 


Di bawah, Chen melepaskan ciumannya. Jantung Lin Aurora berdebar dan membuatnya gugup. "A-aku mau ke kamar dulu," ucapnya dengan wajah memerah. 


Chen menyeringai, kemudian menyusul istrinya masuk, namun bukan ke kamar. Melainkan kamar lama Aisyah. Dia sangat merindukan ketiga adiknya. Hanya saja, Rifky masih belum di ajak bicara, jadi Chen hanya merindukan saja. 


Sementara kedua saudarinya masih marah padanya dan belum membuka blokirannya. Chen belum bisa tidur, ia menjadi gelisah karena resepsi yang akan di laksanakan tinggal menunggu hari. Di sisi lain, dia juga perlu waspada dengan keluarga istrinya yang sewaktu-waktu bisa memanfaatkan keadaan untuk membuat suasana menjadi kacau. 


"Apakah aku harus melakukan resepsi ini? Aku hanya tidak ingin, ada konspirasi di balik resepsi ini,"


Chen belum juga tidur, sementara Lin Aurora sudah sampai ke alam mimpi dimana dia sedang bahagia menari dibawah gugurnya kelopak bunga. 


*****


 Keesokan harinya, Chen dan Lin Aurora hanya sarapan berdua. Tuan dan Nyonya Wang berangkat ke luar Negri untuk mengundang keluarga di sana ke resepsi pernikahan Chen nanti. 


"Dimana Jovan? Bukankah dia menginap di sini semalam?" tanya Chen. 


"Tuan Muda Jovan masih tidur, Tuan. Sepertinya, semalam beliau mabuk. Jadi, saat saya bangunkan tadi, Tuan tidak mau bangun," jawab Pelayan Mo.


"Ck, mati sajalah dia!" cetus Chen. 


"Oh, hari ini kamu terlihat rapi sekali. Seperti bukan mau bekerja. Apa kau mau pergi ke tempat lain?" tanya Chen kepada Lin Aurora, setalah menyadari jika istrinya mengenakan pakaian yang berbeda dari biasanya saat dia bekerja. 


Sedikit gugup, Lin Aurora menjawab, "Ha-hari ini, aku ada janji dengan temanku. Di-dia ... hari ini ulang tahun. Memintaku untuk menemaninya jalan-jalan," 


"Kenapa kau gugup?" tanya Chen kembali. 


"Aku hanya takut saat meminta izin kepadamu, suamiku__" jawab Lin Aurora sedikit gemetar. 


"Dia manggil aku apa? Suami? Huh, memang pandai sekali menggoda!" ketus Chen dalam hati. "Baiklah, kau pergi saja. Ingat, jangan pulang malam-malam! Aku berangkat dulu." 


Chen pun mengizinkan istrinya untuk cuti sehari. Lin Aurora heran, Chen mengizinkannya begitu saja. Terakhir, Chen marah besar ketika dirinya pergi bersama dengan Lin Jiang pulang ke rumahnya dan mendapatkan luka pada pergelangan tangannya. 


"Kau pikir aku bodoh? Selama dibesarkan diperbatasan, bukankah kau tidak memiliki sahabat atau teman? Merayakan ulang tahun? Cih, lihat saja nanti!" Chen menyeringai, kemudian masuk ke mobilnya untuk pura-pura keluar. 


Setelah selesai sarapan, Lin Aurora kembali mengganti pakaiannya dengan pakaian yang jauh lebih baik. Dia juga terlihat membawa tas besar di tangannya. Tanpa Lin Aurora sadari, Chen melihat dirinya dari dalam mobil lainnya yang tidak pernah Lin Aurora ketahui. 


Saat Chen melihat Lin Aurora naik ke bus Kota, Jovan masuk ke mobil dengan mengomel karena dirinya masih mengantuk, tapi dipaksa untuk ikut bersama dengan Chen mengintai Lin Aurora. 


"Apa kau gila? Jika kau tidak rela, kenapa mengizinkan Lin Aurora pergi?" protes Jovan. 


Pukulan Chen mendarat ke bahu Jovan. "Dia istriku, aku kakak sepupumu. Harusnya kau memanggil dia kakak ipar. Kenapa masih memanggil dengan menyebut namanya?" tegur Chen. 


"Ck, sejak kapan kau peduli dengan hubungan ini?" Jovan merebahkan tubuhnya.


Berangkatlah mereka mengikuti bus yang Lin Aurora tunggangi. Setelah melewati beberapa lampu merah dan halte bus, akhirnya Lin Aurora turun di sebuah halte yang dekat dengan pegunungan. 


"Mau kemana dia? Siapa temannya itu?" batin Chen mulai gelisah. 


Terlihat Lin Aurora duduk di halte itu sendirian. Tidak lama kemudian, datanglah mobil berwarna hitam di dekat halte. Lin Aurora melambaikan tangan ke mobil tersebut dan berjalan masuk ke mobil itu. 


"Kurang ajar! Dia pergi dengan siapa?" Chen menggerutu. Terus mengikuti mobil yang membawa istrinya. 


Sampai dimana, Chen mengikuti mereka berhenti di area pedesaan. Jovan terbangun dan menanyakan dimana mereka berada saat itu. "Dimana kita? Apa kita sudah sampai?" tanya Jovan. 


"Turun dan ikut bersamaku!" paksa Chen dengan memakaikan Jovan kaca mata dan masker. 


"Untuk apa ini? Kenapa kau ... tunggu, kita ada dimana? Pedesaan di pegunungan? Chen, kau mau menghabisku di sini, kemudian membuang jasadku, lalu kau akan menguasai harta keluarga Wang sendirian?" Jovan rupanya bawel sekali ketika dirinya sedang patah hati. 


Setelah beberapa langkah, akhirnya Chen mampu mengikuti jejak Lin Aurora. Jovan melihatnya, dan dia pun menebak, siapa yang sedang bersama istri sepupunya itu. 


"Hah, lihatlah, Chen! Istrimu sudah memiliki pria lain. Hebat sekali!" tunjuk Jovan. "Eh, bukankah itu wakil direktur?" lanjutnya dengan terus mengusap matanya. Memastikan jika apa yang dilihatnya adalah benar Tuan Zi.


"Kau mengenalnya?" tanya Chen. 


"Heh, benar. Dia adalah wakil direktur Liu. Namanya Tuan Zi. Aku dengar, memang Tuan Zi ini dekat dengan istrimu, Chen. Teman istrimu yang mengatakannya," 


"Sialan!" umpat Chen. 


Mereka terus membututi kemana Lin Aurora dan Tuan Zi pergi. Hingga sampai di sebuah festival yang mungkin memang menjadi perayaan di desa tersebut. Tatapan tajam Chen masih tertuju kepada istrinya yang bercengkrama dengan senyum lebarnya bersamanya pria lain. 


"Aku akan membunuh pria itu hari ini juga!" Chen sampai mengeluarkan belatinya. 


"Heeeh, tahan!" Jovan panik, dia langsung menahan tangan Chen. "Apa kau gila? Jika pria itu mati di sini, bukankah kita akan kena masalah? Sebaiknya kita ikuti saja kemana mereka pergi," lanjutnya dengan mengarahkan tangan Chen untuk menyimpan belatinya. 


"Aku emosi, dia mengajak istriku ke tempat terpencil seperti ini. Tidak tahu apa yang ingin dia perbuat pada istriku!" ketus Chen sampai air ludahnya muncrat ke wajah Jovan. 


"Astaga, jika kau cinta padanya ... Katakan, brother! Hah, ayo kita ikuti mereka!" Jovan sampai gemas sendiri dengan tingkah sepupunya yang masih gengsi dengan perasaannya. 


Mereka berdua, mengintai dengan banyak tingkah yang konyol. Dari memakai topeng monster, padahal mereka menggunakan masker dan kaca mata, sampai mengenakan baju wanita karena hampir saja Lin Aurora melihat mereka. 


Terkahir, mereka cosplay ala Kaisar dan Pangeran Cina dengan wig panjang sekali. Benar-benar totalitas dalam mengintai seseorang, yang padahal mereka tidak ada hubungan apapun.  


Sampailah Lin Aurora dan Tuan Zi ke tepi desa yang ada di bawah bukit. Mereka menikmati indahnya pemandangan Kota kecil dari sana. Duduk berdua dan berbincang. Sedangkan Chen dan Jovan masih kesusahan mencari tempat yang baik untuk mendengarkan pembicaraan mereka. Sebab, pakaian yang mereka kenakan memang sungguh merepotkan.