
Siapakah gadis itu? Bahkan mampu membuat Chen tak banyak bicara saat bersamanya.
Gadis itu terus mengikuti langkah Chen dari belakang. Tak terasa, sampailah di rumah Yusuf dan gadis itu rupanya mengenal pemilik rumah itu.
"Lah, kok, Akhy itu masuk ke rumahnya Aisyah, sih? Siapa dia?" gumamnya. "Hm, kalau mau tau, sepertinya aku memang harus masuk dan bertamu. Sebaiknya, aku membeli buah tangan dulu!" sambungnya dengan semangat.
Gadis itu ke warung membeli beberapa kebutuhan dapur. Sementara Chen pulang dengan kekesalannya, malah disambut dengan kedua saudarinya yang asik bermain game bersama Asisten Dishi.
"Asisten Dishi, apa kau menganggur?" tanya Chen dengan ketus.
"Oh, selamat datang, Tuan. Saya sudah menyelesaikan pekerjaan kantor sore ini. Silahkan, bisa Anda chek di email, Tuan."
Mendengar jawaban Asistennya membuat Chen semakin kesal. Chen merasa tersaingi dengan kedekatan antara kedua saudarinya dan juga Asisten pribadinya. Ia masuk ke kamar dan segera menyelesaikan pekerjaan yang sudah disiapkan oleh Asisten Dishi.
Sekitar setengah jam, gadis itu berkunjung ke rumah Rebecca dengan membawa oleh-oleh yang baru ia ambil dari rumah.
"Assalamu'alaikum," salamnya.
Pintunya memang terbuka, gadis itu juga mendengar tawa Gwen dan Aisyah. Namun, tak ada yang menjawab salamnya. Ia pun mengucapkan salam sekali lagi, dan akhirnya Rebecca-lah yang menjawabnya.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh. Anak-anak ini, kalau sudah main game nggak ingat waktu, nggak ingat umur deh!" gerutu Rebecca sembari membuka pintu.
Rebecca membuka pintu, berdirilah seorang gadis dengan gamis longgar berwarna merah muda. Terlihat anggun dengan bulu-bulu di telinga kirinya, seolah itu adalah anting-anting.
"Puspa? Kamu Puspa Kyai Zaky, 'kan?" tebak Rebecca.
"Assalamu'alaikum, Bibi Rere. Iya, ini saya Puspa, Puspa yang sering bermain di sini, yang selalu ngekor dengan Ko Feng ketika beliau datang," jawab gadis itu.
"MasyaAllah, sudah besar sekarang. Hm, jadi ini toh gadis Malaysia yang baru pulang itu. Silahkan masuk, Bibi tak panggil Aisyah dan Gwen-nya dulu,"
Puspa Ayu, gadis berusia 21 tahun ini adalah teman masa kecil Aisyah dan Gwen. Meski lebih muda satu tahun, namun mereka hanya selisih beberapa bulan saja. Jika Aisyah dan Gwen lahir di akhir bulan, Puspa lahir di awal bulan berikutnya.
Waktu kecil, mereka bertiga bak saudara kembar tiga. Kemana-mana selalu bertiga dan semuanya serba sama. Sampai pada akhirnya, Puspa harus ikut sang Ibu ke Malaysia karena orang tuanya berpisah.
Meski Ayah Puspa adalah seorang Ustadz, Ibunya hanya tidak bisa menerima apa itu poligami dalam hidupnya. Akhirnya, kedua orang tuanya harus berpisah di saat usianya menginjak 13 tahun.
"Bi, aku kesini hanya mau ketemu sama pria tadi yang masuk barusan, kok. Kelihatan Aisyah dan Gwen masih seru bermainnya, takut ganggu. Mohon maaf nggih," ucap Puspa dengan tutur sapa yang santun.
"Pria siapa?" tanya Rebecca bingung.
"Em, tinggi, putih, matanya biru seperti Bibi gini. Siapa nggih?" Puspa hanya bisa mengatakan ciri-ciri yang ia lihat sekilas waktu itu.
"Hoalah, Chen. Bentar Bibi panggilkan," Rebecca masuk dan segera memanggil Chen.
"Chen? Siapa nya AG, ya? Jauh banget nama sama inisialnya!" gumam Puspa dalam hati.
Tak lama kemudian, Chen pun keluar dengan membawa laptopnya sekalian. Ia juga masih memasang wajah muramnya. Duduk dengan sinis, dan mengamati Puspa dengan jarak dekat.
"Heh, jangan dekat-dekat, nggak boleh! Ibu ke belakang dulu, ya. Puspa, Bibi tinggal ke belakang, ya," Rebecca sampai harus menarik Chen karena Chen melihat Puspa sangat dekat sekali.
"Kamu cari aku, ada apa? Mempermasalahkan kaleng itu lagi?" ketus Chen.
"Astagfirullah hal'adzim. Bukan begitu, akhy. Saya da--"
"Em, perlu di jelaskan, mengapa saya memanggil Anda dengan sebutan akhy?" Puspa masih saja bertutur sapa lembut.
"Tidak perlu! Itu tidak penting, sangat membuang-buang waktu!" sungut Chen.
Puspa tersenyum seraya mengangguk pelan. Ia menyodorkan gelang yang sempat Chen jatuhkan di depannya beberapa waktu lalu. Dengan gesit, Chen langsung mengambilnya begitu saja dari tangan Puspa.
"Ini hadiah untukmu, karena sudah menemukan barang berharga milikku," ucap Chen sembari memberikan pecahan lima puluh ribuan sebanyak enam lembar.
"Em, saya …,"
"Kamu tidak mau? Ya sudahlah!" Chen kembali memasukkan uang itu kedalam dompetnya.
"Boleh tanya?" tanya Puspa.
"Hm," jawab Chen singkat.
Chen masih membuang muka dengan Puspa. Persis seperti anak kecil yang sedang ngambek. Tak lama kemudian, datanglah Rebecca membawakan camilan dan minuman untuk Puspa.
"Repot-repot, Bi. Puspa kan kesini cuma mau mengantar gelang itu, sebentar lagi juga sudah mau pulang, kok," ujar Puspa dengan lembut.
"Halah, ini sudah ada, kok. Kenapa juga harus terburu-buru. Aisyah dan Gwen juga belum keluar, mereka masih mau menamatkan game-nya dulu. Ayo di maem," Rebecca juga begitu ramah dengan Puspa.
"Oh, iya. Tadi kamu mau tanya apa?" Chen menyela keasikan Puspa dan Ibunya bicara.
"Inisial … yang ada di gelang itu, apakah nama istri atau kekasih, Tuan Muda?" tanya Puspa.
"Tuan Muda apaan, panggil Chen saja. Dia ini kan kakaknya Aisyah dan Gwen, bayi laki-laki Bibi yang hilang dulu!" sahut Rebecca.
"Ibu, jangan menyela pembicaraanku. Kebiasaan Gwen, kok, di tiru!" tegur Chen. Rebecca hanya bisa menahan tawa saja, sebab memang putranya sedang marah dengannya karena sudah mengusulkan Asisten pribadinya untuk merawat Aisyah.
"Kau ingin tau inisial ini, bukan?" Chen bertanya.
Puspa mengangguk pelan dengan harap.
"Ini inisial kekasih hatiku, hidupku, cintaku dan harapanku di dunia ini," jawab Chen dengan mencium gelang tersebut.
"Pacar?" tanya Puspa penasaran.
"Pacar? Apa itu pacar? Maksudmu acar?" penyataan Chen itu membuat Puspa dan Rebecca tertawa. Memang Chen belum menguasai banyak bahasa Indonesia.
Dari tawa itu, membuat Aisyah, Gwen dan juga Asisten Dishi keluar dari ruang tengah. Rebecca menjelaskan arti pacar kepada putranya dengan mengartikan yang dimaksud Puspa itu adalah girlfriend.
"Baiklah, sudahi tertawa kalian ini. Ya, benar. AG ini adalah inisial kedua saudariku, Aisyah dan Gwen. Mereka segalanya bagiku. Kenapa kau bertanya seperti itu? Ada masalah?" ketus Chen.
"Astaghfirullah hal'adzim, Aisyah. Apakah kakakmu memang seperti ini? Bahkan dia bicara sangat ketus sekali denganku. Apa salahku ini?" goda Puspa dengan candaan bersama Aisyah.
"Mood kakakku sedang hancur, Puspa. Kamu apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu."
Selain Chen, semua orang di ruang tamu tertawa karena kelucuan Chen. Chen sendiri masih kesal karena Aisyah sebentar lagi akan berangkat ke Tiongkok bersama dengan Asisten Dishi dengan tanpa mengajaknya ikut serta. Meski jadwal hanya beberapa hari saja, Chen sangat cemburu Aisyah akan pergi hanya bertiga saja bersama dengan Raza sekalian.