Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Fakta Yang Selama Ini Tersembunyi



"Kalian sudah tau latar belakang, Mas Agam?" tanya Gwen. 


"Lah, kamunya nggak tahu? Masa iya, sih, kamu belum tau? 'Kan yang mau nikah itu kamu dan Ustadz Agam, masa nggak tahu latar belakang calon suaminya, sih? Malah kami duluan yang tau," jawab Gehna.


"Jan ngadi-ngadi! Dia aja langsung lamar dan ajak nikah, mana sempat buat tau latar belakangnya dulu. Dah keburu mau dijadikan istri akunya," Gwen bicara seperti itu dengan menegakkan dadanya.


Ayyanna dan Gehna semakin tak kuasa menahan tawa. Beruntungnya Gwen mendapatkan lelaki seperti Agam. Dalam riwayat hidupnya, Agam adalah pria yang shaleh. 


Gelar Ustadz sudah ia dapatkan ketika dirinya berusia 17 tahun. Lulusan sekolah terbaik, serta pernah menjadi santri tauladan di tempat ia menganyam ilmu di pesantren. 


Agam juga memiliki Pabrik kayu seperti Raditya. Mereka berdua ternyata juga rekan bisnis sejak lima tahun silam, ketika Agam berusia 20 tahunan. 


"Apa? Jadi dia punya pabrik juga? Kek Om Radit?" tanya Gwen seolah tak percaya. 


"Mampus! Mati aku, aku berharap punya laki yang tidak kaya karena aku pengen hidup sederhana. Malah ini, dapat juragan kayu pula!" gerutu Gwen dalam hati, seraya mengetuk keningnya.


Ayyana  dan Gehna menemani Gwen sampai Puspa datang. Sebelum mereka pergi, Ayyana dan juga mengobrol dulu sebentar dengan Puspa.




Sementara di Tiongkok, Aisyah dengan di temani oleh Asisten Dishi datang ke gudang keluarga Hao, atau bisa dibilang keluarga besar Feng untuk menentukan jenis ramuan yang cocok. Selama dua hari tinggal di Tiongkok, sudah ada ingatan yang kembali. 



"Ko, ramuan yang itu sangat tidak enak. Apakah bisa ditambahi madu sedikit saja, itu membuatku ingin sekali nonjok dirimu ketika selesai meneguk ramuan itu," protes Aisyah. 



"Kamu ini, perasaan semenjak kamu ini hilang ingatan sementara, kamu tuh makin kesini makin cerigis, tau cerigis, 'kan?" sulut Feng. 



"Nggak usah ngegas gitu juga kali! Aku tau artinya lah, wong aku juga orang Jawa. Ngeselin!" Aisyah bangkan mengusap-usap wajah Feng menggunakan gingseng. 



"Keluar dulu sana!" usir Feng. "Ganggu aja orang lagi kerja," imbuhnya dengan ketus. 



"Biasa aja kali," seru Aisyah keluar dengan menggibaskan jilbabnya sampai mengenai wajah Feng. 



Feng hanya merasa jika Aisyah ini seperti Aisyah tujuh tahun yang lalu. Di mana saat itu Aisyah tengah berusia dua belas tahun. Kala itu, Aisyah masih sangat ceriwis dan juga selalu menjadi gadis periang sebelum dirinya lulus sekolah menengah pertama. 



"Andai saja, waktu itu Bibi tidak memasukkannya ke pesantren yang lebih jauh. Entah apa yang terjadi dengan Aisyah waktu itu, hingga membuat dirinya semakin dingin sikapnya," gumam Feng menggeleng kepalanya. 



Setelah lulus sekolah menengah pertama, sebelum masuk ke madrasah Aliyah, Aisyah terlebih dulu masuk di pesantren, dimana setalah setahun jadi santri, Aisyah menjadi gadis pendiam. 



Sementara Chen sedang pergi ke Amerika menyelidiki kasus kecelakaan yang menimpa dirinya lima tahun lalu di temani dengan orangnya. 



"Bagaimana hasilnya?" tanya Chen. 



"Tuan, kekasih anda meninggal lima tahun lalu, tepatnya delapan bulan setelah anda mengalami kecelakaan," jawab ajudannya. 



"Apa kau yakin?" tanya Chen lagi. "Apa kau sudah pastikan bahwa dia dan keluarganya sudah tiada?" sambungnya. 



"Tuan, menurut data yang sudah saya kumpulkan dari beberapa bulan lalu menyatakan, bahwa mantan kekasih Anda ini sempat melahirkan di salah satu rumah sakit terbesar di kota ini," ungkap ajudannya. 



"Melahirkan? Apa dia melahirkan anakku? Aku ingat sekali saat aku mabuk, aku terbangun di sisinya dengan tubuhnya yang tanpa busana. Dan aku ingat sekali, jika aku dan dia melakukan hubungan itu," gumam Chen dalam hati. 



Chen bertanya kembali, "Lalu, apa kau sudah menyelidiki tentang itu?"



"Sudah, Tuan, dan hasilnya ... dibalik semua ini, ada campur tangan dari ibu angkat, Tuan, Nyonya Cindy," jawab ajudannya. 




"Di mana anak itu?" Harusnya, dia sudah berusia sekitar 4 tahun lebih, bukan?" tanya Chen. 



"Itu ... anak itu ada ditangan, nyonya Cindy, Tuan," jawab ajudannya. 



Chen hanya diam dengan mata yang berapi-api. Mungkin jika kekasih masa lalunya masih hidup, dia akan jauh lebih menderita karena Cindy. Chen menduga, anak itu benar adalah anak kandungnya. Jika tidak, tak mungkin Cindy akan menyembunyikannya darinya. 



Selama ini, ia sudah salah paham dengan menuduh Ayah angkatnya lah yang menjadi dalang dibalik kejadian itu. Chen meminta ajudannya untuk kembali ke apartemen lamanya dan hendak menemukan fakta di sana, tentang kekasih lamanya yang sudah tiada itu. 



"Ayah, aku\_\_"



"Katakan, Nak. Ada apa?" suara Yusuf mampu meneduhkan hatinya. 



"Aku sudah menjadi seorang anak. Dosa besar itu, aku telah membuat seorang gadis hamil, Yah. Aku pria yang buruk, aku pria yang jahat, apakah aku pantas disebut sebagai kakak dari dua adik perempuan?" ucap Chen dengan hati yang gelisah. 



"Allah Maha Pengampun, kamu bisa memohon ampunan kepada-Nya. Cepat temukan anakmu, dan kembali ke sini, Ayah dan keluargamu yang lain, akan selalu ada untuk mendukungmu,"



"Fakta ini terlalu menyakitkan, Tuhan. Aku mencintai kedua saudariku, tapi disisi lain, aku menyakiti hati seorang perempuan,"



"Karma apa yang aku tuai ini, Tuhan? Sejak kecil, aku dijauhkan dengan keluarga kandungku, saat aku mengetahui siapa keluarga kandungku, tetap saja aku tidak bisa memeluk mereka,"



"Sekarang, Engkau memberiku dosa yang tak pernah aku lupakan. Seorang anak? Ini sangat sulit bagiku, Tuhan," batin Chen begitu tersiksa. 



Chen akhirnya kembali ke Tiongkok. Hari ke tiga Aisyah di sana, dialah orang kedua yang diberi tahu kenyataan pahit itu. Aisyah sendiri bahkan tidak menyangka jika Cindy bisa sekejam itu, apalagi dia juga adalah seorang wanita dan seorang ibu. 



"Astaghfirullah hal'adzim," sebut Aisyah.



"Kenapa Ibu angkatmu ini terlalu kejam, Kak. Dia seorang wanita, seorang Ibu, kenapa bisa sekejam itu?" sambung Aisyah.



"Dulu, dia memisahkanmu dengan kami. Sekarang, dia memisahkan kamu dengan anakmu sendiri, apa mau dia?" Aisyah masih tidak menyangka. 



Chen menundukkan kepalanya, antara malu dan sedih dengan kenyataan tersebut. Chen mengatakan bahwa yang dia lakukan saat itu karena terpengaruh alkohol. 



"Apa aku harus membunuh wanita tua itu, Kak? Dia menghancurkan hatimu, dia membuatmu menderita sejak kamu kecil, dia juga membuat Ibuku menangis setiap malam!" seru Aisyah dengan emosi yang tinggi.



"Semua akan baik-baik saja, ketika dia lenyap di dunia ini," desis Aisyah dengan mata berapa-api. 



"Aisyah, kamu kenapa jadi seperti ini? Matanya juga di penuhi rasa dendam. Apa selama ini Aisyah memiliki dendam dengan Ibunya Xia?" gumam Chen. 



Chen memanggil Asisten Dishi untuk masuk. Menanyakan mengapa Aisyah bersikap seperti Gwen. Marahnya seorang pendiam, itu akan jauh lebih menakutkan dibandingkan dengan marahnya marahnya orang yang gampang pemarah. Asisten Dishi menjelaskan, Aisyah baru saja meminum ramuan herbal, dan itu adalah efek sampingnya. 



Kakak-kakak jangan lupa, mampir di karya baruku jika berkenan. Judulnya "HUBBAK GHALI, YA HABIBU QOLBI" Terima kasih sebelumnya. Jangan lupa komen, like dan fav yaa....