
"Sepi?"
Chen menatap seluruh ruangan. Kamar VIP itu mengingatkan bahwa dirinya pingsan saat mendengar kematian anaknya.
"Ponselku?" Chen terus meraba sakunya, namun apa dikata? Bajunya telah berganti dengan seragam rumah sakit.
"Apa-apaan, ini? Jelek banget seragamnya! Seperti gamis punya si Gwen, deh!" umpatnya.
Saat ia hendak beranjak, tangannya tertahan karena infus. Tak sabar, Chen pun menarik infusnya sampai tangannya mengeluarkan darah. Baginya, cabut infus tak sesakit saat dirinya sunat. Ia terus berjalan, mencari dimana keluarganya.
"Mana ini semuanya. Aku akan pecat mereka jadi keluarga, tega-teganya meninggalkan aku sendirian!" ketus Chen berjalan cepat mencari keluarganya.
Sesampainya di kamar paling ujung, ia melewati kamar inap Gwen. Sekilas, Chen melihat Agam tengah berdiri di sana. Mungkin sedang menelepon, karena tangannya menggenggam ponsel.
Chen melangkah mundur, memastikan jika yang dilihatnya memang adik iparnya. "Aku melihat sesuatu!" Chen mengintip. "Wah, beneran suaminya Gwen. Ngapain dia ke sini?" Chen berharap bisa melihat apa yang dilakukan Agam di ruangan tersebut.
Terus mengintip dan mengintip. Sampai Chen melihat Agam mencium kening seorang pasien yang di rawat di sana.
"Woy, apa-apaan dia? Kenapa dia mencium orang berbaring di ranjang? Siapa itu? Lalu, kenapa suaminya Gwen juga di situ?"
Mulailah Chen berprasangka buruk. Ia menduga jika Agam telah melakukan perselingkuhan di belakang adiknya. Dengan keras, ia membanting pintu ruangan tersebut.
Blam!
"Astaghfirullah hal-adzim," ucap Agam terkejut. Begitu juga dengan Gwen yang baru saja bangun dari tidurnya.
"Bisa-bisanya kau--" emosi Chen tertunda.
"Kak Chen!" teriak Gwen.
"Lah, Gwen? Kamu, kamu, kamu, sakit? Kamu sakit apa? Kenapa diinfus juga? Kamu demam?" Chen panik sendiri. "Heh, kau apakan adikku, hah!" Chen menunjuk-nunjuk wajah Agam.
Dengan sabar, Agam menjelaskan apa yang terjadi. Setelah mendengar kabar meninggalnya Ilkay, Chen pingsan. Kemudian, Gwen juga merasa jika dirinya lemas, sehingga ikut pingsan dan sakit.
"Iya, anakku meninggal dan aku belum sempat membahagiakan dia," sesal Chen.
"Allah pasti memiliki rencana yang indah untuk Kak Chen. Jika dipikir, ilkay memang akan selalu dalam bahaya dalam hidupnya. Sebab, sepintar apapun kita semua merahasiakan identitasnya, pasti orang yang tidak menyukai Kak Chen, Ibu Rebecca dan juga Kak Aisyah, akan tetap menargetkan dia sebagai bentuk balas dendamnya, astaghfirullah hal-adzim," ujar Agam.
Apa yang dikatakan Agam memanglah kebenaran. Memang Ilkay adalah anak dari Chen dan masa lalunya. Namun, semenjak ilkay diketahui keberadaannya oleh Aisyah, Aisyah memiliki musuh tersendiri, yakni, Cindy.
Meski Cindy mendekam di penjara sekalipun, ia masih memiliki banyak sekali anak buah yang bisa ia kerjakan untuk mencelakai Aisyah, karena dinilai telah mencampuri urusannya.
"Aku jadi takut, deh! Nanti pas anakku lahir, apakah musuh-musuh dari masa lalu Mami juga akan menargetkan aku, anakku dan juga Mas Agam?" sahut Gwen.
"Ya Allah, jangan, dong! Bismillah saja, semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah," timpal Agam.
Saat mereka asik berbincang, terdengar teriakan perawat jika ada salah satu pasien yang kabur. Begitu juga di susul dengan kegaduhan di luar. Agam memeriksa ke luar dan menanyakannya.
"Ada apa, Mas?" tanya Gwen.
"Ada pasien yang kabur katanya. Semua keluarganya sedang mencarinya sekarang," jawabnya.
Gwen pun menanyakan ciri-ciri dari pasien tersebut. Agam mengatakan persis yang dikatakan oleh sang perawat dan memberikan nama serta alamat si pasien.
"Namanya kalau enggak salah tadi ... Chen Yuan Wang. Iya, Chen Yuan Wang!" seru Agam.
Seketika, wajah penasaran Gwen menjadi datar. Kemudian menoleh ke arah Chen yang sedang duduk bersamanya di atas ranjang pasien. "Kau kabur, Tuan Chen Yuan Wang?"
"Kembali ke kamar," pinta Gwen masih sabar.
"A-aku sendirian di kamar. Jenuh dan pengen di sini saja," jawab Chen memalingkan muka.
"Kembali ke kamarmu sendiri!" sentak Gwen.
Mata Gwen di pandangan Chen terlihat mengeluarkan api yang membara. Tak ingin berdebat lagi, Chen turun dari ranjang dan berjalan dengan wajah murung seperti benar-benar di usir dari rumah.
"Chen, kamu dari mana saja, sih? Kami semua mencarimu kemana-mana, tau?" Rebecca menghampiri putranya dan mengecek seluruh tubuhnya, memastikan tak ada suatu yang kurang dari tubuhnya.
"Habis jalan-jalan. Memangnya kenapa, Bu? Haih, aku lelah pengen tidur," jawab Chen lemas.
"Tadi ibu angkatmu datang kemari mau memberimu racun. Beruntung ada Lin Aurora yang memergokinya," ungkap Rebecca.
"Tunggu, ibu angkat? Cindy maksudnya?" tanya Chen.
Rebecca mengangguk.
"Dia mau meracuniku?" lanjut Chen.
Kembali, Rebecca hanya mengangguk.
"Lalu, sekarang dimana Nona Lin?" tanya Chen lagi. "Dia sedang dalam perawatan. Pahanya terluka karena tusukan, tapi tenang saja tidak dalam, kok. Dan ibu angkatmu se--"
Belum juga Rebecca menjelaskan Cindy dibawa kemana, Chen sudah kabur lagi darinya. Chen berlari menuju ruang gawat darurat. Memastikan jika Lin Aurora tidak kenapa-napa.
"Dimana pasien yang baru saja terluka karena penusukan?" tanya Chen.
"Tuan, anda masih menggunakan seragam rumah sakit. Apakah Anda adalah pasien yang kabur itu?" tanya perawat yang bertugas di sana.
"Jangan banyak tanya, dan jawab pertanyaanku. Di mana orang yang terluka karena penusukan itu? Ngeselin banget dah nih perempuan!" emosi Chen sudah tingkat tinggi.
Bentakan Chen itu sampai terdengar oleh Lin Aurora. Lin Aurora langung mengenali suara Chen, lalu menjawab bahwa dirinya ada di dalam sana juga. "Aku di sini, Chen," jawab Lin Aurora.
Rebecca sampai engap-engapan mengejar putranya ke UGD. Perawat yang sebelumnya bertanya kepada Chen, bertanya juga dengan Rebecca. Dengan anggukan, Rebecca menjawab jika Chen adalah pasien yang kabur itu.
Beberapa perawat langsung menyiapkan cairan infus dan segera melakukan tindakan kepada Chen. Sebab, Chen masih membutuhkan waktu untuk sembuh. Sementara perawat sibuk menyiapkan semuanya, Chen mendekati Lin Aurora dengan kepanikannya.
"Apa kau gila? Cindy bukanlah tandinganmu, kenapa kamu melawannya?" Chen sangat sulit untuk bicara manis kepada tunangannya.
"Apa kau mengkhawatirkan aku?" tanya Lin Aurora.
"Tidak! Aku hanya tidak mau hutang budi padamu. Itu hanya akan merugikan diriku saja!" jawab Chen ketus.
"Lalu, wajah panikmu ini untuk apa dan siapa?" Lin Aurora sudah berani menggoda Chen.
"Bukan urusanmu! Ini wajahku, bukan wajahmu!" jawab Chen.
Rebecca hanya bisa menepuk keningnya. Putranya tak bisa bicara manis dengan Lin Aurora, tapi selalu bicara manis dengan Ibunya, juga dengan Aisyah. Itu pertanda, Chen memang ada rasa dengan Lin Aurora. Hanya saja, Chen masih gengsi untuk mengakuinya.
Meski mereka melakukan kekonyolan di rumah sakit. Tetap saja mereka masih berduka atas perginya Ilkay. Ilkay memang tidak tubuh dalam lingkungan mereka, namun Ilkay tetap keturunan dari darah pesantren.
Rebecca mengurus Chen dan Lin Aurora, Airy pulang dan hendak mengurus jenazah Ilkay yang akan tiba. Sementara Yusuf dan Adam sedang memproses Cindy yang saat itu dibawa ke kantor polisi oleh mereka.