Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Tiongkok Ada Cerita



Memasuki mansion kediaman keluarga Wang membuat Puspa takjub dengan banyaknya karya seni yang tertampang di sana. Sampai tiba di sebuah ruangan yang sangat besar, dan kemungkinan adalah ruang pertemuan. 


"Selamat malam, Nyonya. Tamu Tuan muda sudah sampai," ucap penjaga itu menggunakan bahasa Mandarin yang tidak dimengerti oleh Puspa. 


Nyonya kedua membalikkan badan seraya meminta penjaga untuk pergi. "Pergilah dan kembali ditempat bekerjamu," ucapnya. "Baik, Nyonya kedua, permisi," pamit penjaga itu. 


Setelah penjaga pergi, Nyonya kedua meminta Puspa untuk duduk terlebih dahulu. Kemudian menanyakan tujuannya datang ke persinggahan keluarga Wang. 


"Saya adalah teman Aisyah, adiknya Tuan Chen. Aisyah meminta saya untuk mengambilkan beberapa dokumen penting yang sempat tertinggal di sini, karena terbawa kembali oleh Asisten Dishi, Nyonya," speak publik Puspa tidak perlu diragukan lagi. 


"Jadi, kamu mau bertemu dengan Tuan muda juga atau hanya akan mengambil dokumen milik putri kami lalu pergi?" tanya Nyonya Wang. 


"Um itu … sebenarnya, saya belum membeli tiket pulang dan mencari hotel. Apa boleh, satu malam saja, saya menginap di sini?" Puspa sangat berhati-hati saat bicara. 


"Itu artinya, kamu ingin bertemu dengan Tuan muda juga, bukan? Kenapa tidak berterus terang?" 


Ucapan Nyonya kedua tidak ada salahnya, hanya saja cara penyampaiannya saja yang salah. Harunya tidak menanyakan Puspa ingin bertemu dengan Chen atau tidak. Sejauh dalam hati Puspa, dirinya juga ingin bertemu dengan Chen. Tapi egonya, ia gengsi jika bertemu dengan pria yang angkuh baginya.  


"Di jam segini, Tuan muda kami sangat sulit di ganggu. Dia ada di ruang kerjanya, kamu datangi saja. Berjalan lurus dari sini, jika nanti kamu menemukan pintu berwarna sedikit cokelat tua, itulah ruang kerja, Tuan muda kami," jelas Nyonya kedua dengan ramah, berbeda dengan awal penyambutan tadi yang terlihat seperti orang yang galak. 


"Nanti, Tuan muda kami yang akan menyiapkan kamar untukmu. Selamat malam, Nona Puspa, saya permisi untuk istirahat terlebih dahulu," Nyonya kedua tiba-tiba pergi begitu saja meninggalkan Puspa.


"Lah, aku di tinggal? Jika aku tersesat bagaimana? Diamlah, Puspa! Lurus saja dan cari pintu dengan warna yg lebih cokelat, semangat!" ucap Puspa dalam hati. 


Puspa bejalan melawati lorong-lorong mansion yang terasa asing itu. Mengharap pintu dengan warna yang sedikit lebih coklat dari yang lain segera di temukan. 


Di dalam ruang kerjanya, Chen telah menghabiskan makanan dan minuman yang dibawakan oleh Xia beberapa menit lalu. Efek obat yang terkandung dalam makanan dan minuman itu mulai bereaksi dalam waktu yang ke 15 menit. 


"Ada apa denganku?" gumam Chen melepaskan hoodie-nya. 


"Apa AC di ruangan ini mati? Kenapa aku merasa kepanasan?"


"Tidak, AC nya tidak mati. Minuman dan makanan ini …," Chen mencium dengan teliti wadah makan dan minumannya. 


"Xia, kurang ajar!" Chen membanting gelas dan piring tersebut. 


Puspa telah sampai di depan pintu ruang kerja Chen dan mendengar suara seseorang membanting sesuatu dari dalam. Reflek, Puspa langsung membuka pintu dan menanyakan ada apa yang terjadi di dalam. 


"Ada apa?" tanya Puspa membanting pintunya. 


"Kau? Ulat ijo? Kenapa kau ada di sini?" Chen kembali bertanya.


"Kak Chen, aku datang membawa sesuatu untukmu …," Xia tiba-tiba datang dengan memakai pakaian dinas malam yang menembus bagian tubuhnya. (lingerie)


Sontak membuat Puspa dan Chen kompak saling menutupi matanya satu sama lain. Puspa menutup mata Chen, dan Chen menutup mata Puspa menggunakan kedua tangannya. 


"Pergi!" bentak Chen dan Puspa bersamaan. 


"Tapi, Kak Chen, aku hanya--"


Chen melepas tangannya dari menutupi mata Puspa dan menarik tangan Puspa keluar dari ruangan tersebut. Ternyata, di depan kamar sudah ada Nyonya kedua yang baru saja datang karena mendengar Chen membanting gelas dan piring. 


"Urus gadis sialan itu. Dia memberiku obat dalam makanan yang di bawa untukku dan datang lagi memakai pakaian seperti itu," tunjuk Chen dengan amarah yang tak bisa tertahankan lagi. 


"Ngomong apa, sih? Wang cing cing sing sing. Tanganku … sudah tidak perawan di sentuh oleh kakaknya Aisyah ini," gerutu Puspa menatap tangan Chen yang terus menggenggam pergelangan tangannya.


Setelah itu, Chen kembali menarik Puspa masuk ke kamarnya. Memintanya untuk tetap duduk tenang dan menunggu dirinya selesai mengatasi reaksi obat yang diberikan oleh Xia padanya. 


"Kau tunggu di sini, aku akan ke kamar mandi untuk berendam!" perintah Chen dengan mendorong tubuh Puspa sedikit kasar. 


"Kamu kenapa? Apa ada masalah dengan tubuhmu? Bisakah saya membantu?" Puspa terlihat cemas. 


"Jika kau membantuku, kau akan menyesalinya. Dan itu hanya akan menambah dosaku di dunia ini. Istirahatlah dan jangan ganggu aku!" tepis Chen menahan diri. 


Bruak! 


Begitu keras Chen membanting pintu kamar mandi. Tak lama kemudian, Puspa mendengar suara air mengalir. Chen mencoba menahannya dengan merendam tubuhnya di bathtub. 


"Pengaruh obat ini sangat kuat. Hampir saja aku … Kenapa dia datang di waktu yang tidak tepat seperti ini," kata Chen dalam hati. 


"Jika saja, aku melalukan itu kepadanya. Aku akan menjadi pria terbodoh saat itu juga. Di gadis yang baik, tidak pantas di rusak,"


Dua jam berlalu, Chen terlelap di bathtub karena obat itu sudah mulai hilang. Sementara Puspa masih belum bisa tenang karena Chen belum keluar juga selama di kamar mandi. 


"Sudah dua jam, dia belum keluar juga? Apa dia baik-baik saja?" gumam Puspa dengan terus memainkan tangannya karena tidak tenang. 


"Apa aku harus masuk? Tapi jika dia telanjang, bagaimana?"


"Tapi aku tidak tenang ini. Tadi setelah masuk langsung terdengar air, pasti dia masih memakai baju, 'kan?"


"Masuk, nggak ya? Masuk, nggak? Ahhh kenapa ini?" 


Puspa terus bergelut dengan hatinya. Ia memberanikan diri untuk mengecek masuk ke kamar mandi yang tidak terkunci itu.


"Tuan Chen_"


"Apa anda baik-baik saja?"


Melihat Chen menutup matanya membuat Puspa panik. Ingin sekali berteriak, tapi bingung ingin bagaimana. Sebab, tidak semua penghuni rumah bisa bahasa Inggris. Belum lagi, ia juga tidak tahu, kepada siapa harus minta tolong. 


"Biarkan aku sendiri, aku hero! Iya, Gwen bilang aku hero baginya, jadi aku harus menolong kakaknya juga!" serunya. 


"Tuan Chen, apa kau tertidur? Ini sudah dua jam, setidaknya ayo Anda harus beranjak dan ganti baju. Jika nanti sakit bagaimana?" ujar Puspa. 


"Tuan, ayo bangunlah! Saya akan membantu Anda--"


"Apa kau bisa diam? Kenapa kau berisik sekali, sih? Tarik aku!" sulut Chen terbangun karena Puspa bicara tepat di telinganya.


Menghindari sentuhan lagi, Puspa meraih handuk kecil yang ada di gantungan kamar mandi tersebut. Kemudian, meminta Chen untuk berpegangan dan akan menariknya. 


Namun, apa yang terjadi?