Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Rencana Masa Depan



Setelah menceritakan apa yang terjadi, Aisyah mengungkapkan ketakutannya akan perebutan hak asuh Ilkay dari Chaterine, jika memang benar Chaterine guru Ilkay adalah orang yang sama, Aisyah tak tahu lagi harus berbuat apa.


"Tenang, sebaiknya kita jangan berpikir apa yang belum terjadi,"ucap Dishi sembari membelai rambut Aisyah.


"Tapi--"


"Hust, istighfar dan jangan risau. Coba sini, boleh aku lihat token itu?" Dishi mengulurkan tangannya.


Tanpa ragu lagi, Aisyah memberikan token tersebut. Setelah Dishi mengamati, token itu memang milik Chaterine dari Jackson Lim. Token yang hampir mirip dengan token keluarga Lim yang dibawa oleh Rebecca.


"Jadi benar, ini milik Chaterine?" tanya Aisyah waspada.


Dishi membelai rambut Aisyah.Tanpa Dishi menjawab saja, Aisyah sudah tahu apa jawabannya. Aisyah semakin risau karena Chaterine sudah berani mendekati putranya. "Bagaimana jika dia ingin mengambil anakku? Aku tidak rela, Dishi!"


"Sayang, Ilkay adalah anak kita. Selamanya akan tetap menjadi anak kita. Kita orang tuanya yang sah saat ini, kamu juga harus ingat, Chaterine selamanya tidak akan pernah memiliki hak akan Ilkay meski dia memang ibu kandungnya," jelas Dishi.


"Apa karena nama Ibu kandung Ilkay telah meninggal? Jadi, meski tes DNA cocok sekalipun, Chaterine tidak akan pernah menjadi ibunya Ilkay, begitu?" tanya Aisyah.


Dishi mengangguk. "Dan lagi, Ayah kandung Ilkay masih hidup, selama Tuan Chen menjadi saksi kematian akan nama ibu kandung Ilkay, maka Chaterine akan kena tuntutan akan pemalsuan kematian selama ini. Dia akan di hukum," penjelasan Dishi membuat Aisyah menjadi lega.


Meninggalkan keharmonisan Aisyah dan Dishi yang baru bertemu, Chen juga akhirnya memutuskan tentang perjodohan itu. Sebelum diadakannya pesta, Chen dan Lin Aurora pergi bersama membeli perhiasan yang akan mereka kenakan sebagai bentuk pertunangan.


"Ck, kenapa repot sekali harus membeli perhiasan, sih?" protes Chen.


"Dan kenapa juga Tuan harus repot menyetujui perjodohan ini,hah? Bukankah kita sudah sepakat untuk saling membatalkannya?" ketus Lin Aurora.


"Ck, berisik!" seru Chen menyentil kening Lin Aurora.


"Aw,"


Selesai membeli perhiasan, mereka memutuskan untuk makan terlebih dahulu. Chen benar-benar sangat dingin memperlakukan Lin Aurora. Hanya sepatah kata saja kala Lin Aurora bertanya sesuatu. Hal itu membuat Lin Aurora merasa kesal.


"Hih, lihat saja. Jika nanti aku sudah menikah dengannya, aku akan membuatnya menyesal telah menikahi diriku!"


"Dasar pria jelek, menyebalkan, meresahkan!" umpat Lin Aurora dalam hati.


Di saat makanan tiba, Chen menerima telpon dari Gwen tentang kehamilannya. Tidak mungkin bagi Gwen menyembunyikan kabar baik itu. Atau Chen akan merajuk lagi.


"Benarkah? Kau hamil? Aku bahagia sekali mendengarnya, Gwen. Katakan, hadiah apa yang ingin kamu minta dariku?" kata Chen gembira.


"Tak banyak, cukup kau bahagia dengan kehidupanmu yang sekarang. Aku bahagia jika melihat kau bahagia, Kak Chen,"


"Cih, apa kau benar adikku? Ini bukan Gwen, bukan? Adikku yang satu ini, tidak mungkin akan mengucapkan hal seperti itu!" ketus Chen. "Tak banyak yang aku berikan, aku akan memberimu mentahannya saja. Kau beli sendiri apa yang kamu, bagaimana? Saat ini juga akan aku transfer," lanjutnya.


Tak lama kemudian, Chen memang memberikan sejumlah uang ke rekening Gwen sebagai hadiah. Lin Aurora tak mengerti apa yang Chen katakan di telepon. Namun, ia melihat senyum bahagia yang tulus setelah menerima telepon.


"Siapa yang menelponnya? Mengapa dia terlihat sangat senang setelah menerima telepon itu?" Lin Aurora bertanya dalam hati.


"Tuan, apakah kita juga akan menikah?" tanya Lin Aurora, kembali ke topik permasalahan.


Alis Chen sampai naik ke atas menanggapi pertanyaan Lin Aurora. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Lin Aurora dengan tatapan heran. "Apakah kau sungguh tidak sabar ingin menikah denganku?" bisiknya.


"Um, bu-bukan seperti itu. A-aku, eh sa-saya hanya_" Lin Aurora gugup karena Chen memandangnya dari dekat.


"Berhenti bicara formal padaku. Makan dan segera selesaikan masalah kekurangan untuk pertunangan nanti malam," sahut Chen kembali ke posisinya.


Jantung Lin Aurora berdebar hebat. Hatinya mendadak tidak tenang, tubuhnya seakan menjadi terbakar karena Chen. Lin Aurora, merasa jika ada yang salah pada dirinya. "Ada apa ini? Mengapa aku tidak merasakan pedas dalam makanan ini? Semuanya terasa manis seperti kembang gula di musim semi," gumamnya dalam hati.


"Aku akan ke kamar mandi sebentar," ucap Chen meninggalkan Lin Aurora di meja sendiri.


Setelah Chen beranjak, Lin Aurora terus menampar dan mencubit pipinya sendiri untuk sadar diri. Lin Aurora belum tahu jika Chen juga terlahir menjadi seorang muslim, jadi ia merasa pernikahan mereka tidak akan pernah sah.


Di saat Lin Aurora sibuk dengan mencubit dirinya, ponsel Chen berdering sebentar. "Sepertinya ada yang baru saja memanggil, kenapa mati lagi?"


Layar ponsel Chen masih menyala. Membuat Lin Aurora bisa melihat, wallpaper seperti apa yang dipasang oleh pria dingin nanti angkuh seperti Chen. Nampaknya, Lin Aurora sangat penasaran dengan itu.


"Ponselnya sudah menyala, jadi bukan salahku jika aku melihat seperti apa wallpaper yang dipasang oleh pria menyebalkan seperti Tuan Muda Wang ini. Maafkan kelancanganku ini, Tuan Muda ...,"


Memang sudah watak perempuan jika rasa penasaran malah akan membuat hatinya tidak tenang. Benar, Lin Aurora melihat wallpaper di ponsel Chen adalah foto Chen bersama kedua saudari kembarnya. Membuat Lin Aurora menebak-nebak siapa kedua wanita itu.


"Yang tidak berhijab sangat mirip dengannya. Apa itu adalah adiknya? Lalu, siapa gadis yang memakai jilbab itu? Mereka terlihat sangat intim kala berpoto," Lin Aurora mulai menduga-duga.


"Tapi kenapa yang memakai jilbab cantik. Apakah dia, wanita spesial yang pernah dikatakan tempo hari?"


"Ah, kenapa aku harus kecewa? Bukankah aku juga tidak menginginkan hubungan apapun dengannya?"


Kling!


Suara notifikasi pesan masuk. Hal itu membuat Lin Aurora semakin penasaran, siapa yang telah mengirim pesan kepada Chen.


"Ai? Ai itu, berarti kesayangan. Siapa dia?"


Perang batin dan pikirannya kabur saat Chen kembali dari belakang. Chen memeriksa ponselnya, dan membalas pesan dari Aisyah yang mengatakan kalau Dishi sudah kembali.


"Dia bisa tersenyum lagi? Dia kah orang istimewa itu?" gumam Lin Aurora dalam hati. Ia menggigit bibir bawahnya, merasa kesal tiada alasan.


Chen yang menyadari itu pun langsung bertanya, "Ada apa?"


"Tidak!" jawab Lin Aurora kesal.


Chen sangat acuh kepada Lin Aurora saat itu. Apalagi, dirinya usai menerima kabar bahagia dari kedua saudari kembarnya. Baginya, kebahagiaannya bukanlah hal penting lagi, jika melihat kedua saudarinya sedang dalam kebahagiaan.