Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Sebuah Kehangatan



Sementara di kamar, Agam masih sibuk dengan pekerjaan yang ia bawa. Gwen berusaha membujuk suaminya agar tidak marah lagi kepadanya.


"Mas,"


"Mas Agam,"


Setiap kali Gwen mendekati Agam, Agam terus saja menjauh dan memalingkan wajahnya. Gwen terus berusaha supaya suaminya mau memaafkan kesalahannya. 


Ia yang tidak bisa memasak, berusaha keras supaya bisa membuatkan sesuatu untuk suaminya. Agam tetap menghargai dengan memakan apapun yang Gwen masak, hanya saja dirinya belum bisa menatap wajah Gwen yang sudah mulai memelas.


Tetap saja, Agam tidak tergoda akan wajah memelas istrinya yang katanya imut itu. Tak bisa terus di cuekin, Gwen pun menangis seperti anak kecil, guna supaya Agam mau memaafkannya. 


"Huaa … Mas Agam nggak sayang lagi sama aku! Jangan cuekin aku begini, nggak enak tau di cuekin!"


"Aku udah minta maaf, Mas Agam nggak mau maafin aku--"


"Aku udah ngerasa bersalah, Mas Agam tetep nggak mau maafin aku,"


"Hua, aku sedih. Sakit tau di cuekin. Udah kubilang, aku akan terima segala hukuman, tapi jangan hukum aku dengan cara mengacuhkan gini, dong!"


"Mas Agam! Mas--" 


Gwen kembali menangis, ia mengatakan hal jika dirinya tak bisa menahan hati untuk berdiam diri. Dengan bertindak, itu akan membuatnya lega. "Mas nggak ada di posisiku, keponakan di culik, adik di culik, terus orang tuaku menghilang. Aku tak tahan, Mas. Maafkan aku, hua … pokoknya maafkan aku--"


Tangisan Gwen semakin menjadi. Agam hanya menatapnya dengan ketenangan. Marah, pasti. Tapi, Agam tak bisa melihat sang istri menangis seperti itu. Usai Gwen menangis, hatinya jauh lebih tenang, Agam baru mau bicara dengannya. 


"Sudah?" tanya Agam dengan kelembutan. 


"Apanya?" dengan polos Gwen malah kembali bertanya. 


"Nangisnya," jawab Agam. 


Gwen mengangguk. "Capek nangis," ucap Gwen menyeka air matanya. 


Tanpa mengatakan sepatah katapun, Agam tiba-tiba memeluk Gwen sembari mengusap lembut kepalanya. Menerima perlakuan lembut dari suaminya, membuat Gwen kembali menangis. Ia tahu bahwa dirinya salah dan suaminya tak bisa marah padanya. "Maaf," ucap Gwen lagi. 


Setelah Gwen kembali tenang, Agam melepaskan pelukannya. "Lain kali, jangan seperti ini lagi, ya?" ucapnya membelai pipi istrinya. 


"Mas hanya nggak mau kamu terluka. Mas juga nggak mau kamu kembali ke dunia hitam ini lagi. Kamu sudah susah payah keluar, sayang sekali jika kamu kembali terjebak, Dek," tutur Agam. 


"Kamu sayang kan sama, Mas? Mau kan ke surga bareng Mas? Pengen ketemu almarhum kakung kamu juga, 'kan? Jangan bantah Mas lagi, ya? Jika Mas bilang tidak, ya artinya tidak, bisa?" penuturan Agam begitu lembut, hingga membuat Gwen langsung paham. 


Gwen kembali meminta maaf. Cara Agam melunakkan ego istrinya hanya menggunakan kelembutan. Dengan begitu, Gwen tidak akan membatah semua yang dikatakan oleh suaminya. 


"Tidak ada salahnya jika kamu mau membantu keluargamu, Dek. Hanya saja, Mas tidak ingin kamu terlibat lagi, nanti Mas di tanyain sama Malaikat tentang ini, jawabnya bagaimana? Sedangkan kamu, sudah menjadi tanggung jawab Mas, loh!" lanjut Agam. 


"Maaf, tidak ada lain lagi. Aku janji--" ucapan Gwen terhenti kala Agam kembali memeluknya. 


Meski begitu, Gwen masih harus menerima hukuman dari suaminya. Ia harus menyalin beberapa gagasan tentang akidah sebanyak satu buku full. Gwen menerima hukuman itu dengan ikhlas, malam yang dingin itu membuat hubungan keduanya kembali hangat. 




Sementara itu, Asisten Dishi dan Aisyah sedang mengobrol di atas atap. Mereka memandangi langit sembari makan camilan berdua. 



"Dengan kejadian seperti ini. Aku mengetahui sesuatu hal yang sangat penting, Mail," ucap Asisten Dishi. 



"Apa itu?" tanya Aisyah. 



"Aku takut tak lagi bertemu denganmu. Aku takut Ilkay … Aku takut kalian berdua meninggalkan aku. Aku tau Allah selalu ada untukku, tapi di dunia ini, kalian berdua adalah sumber semangatku. Ai, aku bersedia menikah secara agama dulu bersamamu, kita bicarakan hal ini kepada keluarga besarmu di pesantren nanti, bagaimana?" ungkap Asisten Dishi penuh harap. 




"Aku janji, setelah semuanya beres, kita akan menikah resmi di kedua negara kita. Setelah itu, kita akan fokus dengan kehidupan kita, Ai," lanjut Asisten Dishi. 



"Tapi satu saksiku tidak ada. Aku nggak tau aku bisa kuat atau tidak jika menikah tanpa Ayah kandungku," jelas Aisyah. 



"Sejak Ibuku pergi, Bibi Airy bilang jika Ayahku merawatku seorang diri. Beliau tidak mau merepotkan orang lain, aku dibawa ke sana kemari. Aku nggak tau jika aku menikah tanpa cinta pertamaku itu harus bagaimana, Ail," 



"Aku tidak akan memaksa, Ai, Mail. Tapi saat kejadian kamu yang hampir jatuh ke jurang, itu membuatku merasa kalau aku tak bisa menjagamu dengan baik," sahut Asisten Dishi. 



"Saat kamu hendak jatuh di jurang siang tadi, aku harus menunda waktu untuk memakai sarung tangan. Memastikan supaya kita tidak bersentuhan. Bagaimana jika aku kehabisan waktu saat memakai sarung tangan?" lanjut Asisten Dishi. 



"Lalu, saat kamu ketakutan dan membutuhkan sebuah pelukan. Aku ingin melakukan itu, memberikanmu ketenangan, tapi aku tak bisa lakukan itu. Kita sedekat ini, tapi dinding pemisah kita begitu tebal dan tinggi, Ai," 



"Dengan kita menikah, aku bisa menjagamu, menggenggam tanganmu, memelukmu di saat kamu butuh ketenangan. Aku ingin menjagamu seperti apa yang Ayahmu katakan saat aku melamar dirimu waktu itu, Ai. Aku mencintaimu, karena Allah," tukas Asisten Dishi. 



Buliran air mata terus mengalir dari mata ke pipi Aisyah. Selama ia hidup, selama dirinya mencintai seseorang, hanya Asisten Dishi yang mau menikahi karena ingin melindunginya, mencintainya, dan ia belajar agama juga karena ingin mengenal Tuhan gadis yang dicintainya. 



"Kita belum lama mengenal, satu tahun kurang dan jarang bertemu. Apa kamu yakin ingin menikah denganku, Ail?" tanya Aisyah. 



"Jika aku ragu, aku tidak mungkin sampai sejauh ini. Bukan karena kamu adik dari Tuanku. Tapi, karena kamu, aku memiliki Tuhan dan tujuan hidup," jawab Asisten Dishi. 



"Kamu menuntunku, mengenal Tuhan. Memiliki sebuah keyakinan, memiliki pandangan masa depan dan hangatnya sebuah keluarga. Melalui Ilkay, aku bisa menjadi seorang Ayah. Dan tujuanku, ingin membangun kebahagiaan sampai di surga sana," sambung Asisten Dishi. 



"Allah memberi kita jalan Ai. Jika kamu bersedia, mari kita wujudkan mimpi kita membina rumah tangga, menyempurnakan iman dan membangun kerajaan cinta kita dalam wujud ibadah pernikahan," 



Aisyah tak tahu lagi harus bagaimana. Ia tentu bersedia, hanya saja masih bingung karena kedua orang tuanya masih hilang. Sebelum kejadian penculikan, memang pagi hari Yusuf sudah mengirim pesan kepada Aisyah dan Asisten Dishi untuk menikah agama lebih dulu. 



Malam itu, mereka berdua mendiskusikan akan pulang ke Jogja dan meminta saran kepada keluarga yang di sana. Sementara pendidikan Aisyah, ia pending dulu sampai semuanya kembali seperti sedia kala.



Yeaay 200 episode hahaha....


Qianzy jadi terabaikan karena fokus di novel ini.