Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Hal Mencurigakan



Tatapan mata suaminya juga sudah berbeda. Aisyah mulai panik dan khawatir dengan tanda itu. Ia pun mengentikan tangan suaminya yang saat itu tengah menyiapkan pakaian untuknya.


"Iya, Sayang. Ada apa?" tanya Dishi.


"Ada apa? Apa yang terjadi kepadamu hari ini? Apakah akan ada sesuatu di acara ini?" Aisyah sudah mulai paham dengan alur kehidupan suaminya dan kakaknya.


Dishi terdiam. Dia tertunduk, tak mungkin tega dirinya mengatakan akan ada apa yang sebenarnya terjadi malam itu. Tapi, memang sudah seharusnya Aisyah tahu, jika dibalik resepsi itu akan ada konspirasi besar.


"Konspirasi? Konspirasi seperti apa yang kamu maksud?" tanya Aisyah mulai waspada.


"Malam ini, mungkin ada banyak orangnya akan terluka. Sebagai jaga-jaga, aku mengutus Puspa untuk menjaga kamu, Mas Ijal dan juga Ayah," jawab Dishi dengan napas yang berat.


"Puspa?" Aisyah terkejut. "Puspa sahabat aku, kamu menyeret dia untuk melindungi aku, Ayah dan juga Mas Ijal? Sayang, Puspa memiliki seni bela diri yang bagus, aku percaya itu. Tapi dia tidak tahu dunia hitam seperti ini," lanjut Aisyah.


"Kamu salah, Sayang. Puspa tidak sepolos itu. Justru malah dia yang mengungkapkan adanya konspirasi dibalik resepsi ini. Tuan Chen dan juga Nona Lin belum tahu tentang apa yang akan terjadi malam nanti. Tapi Puspa akan berusaha untuk mencegah semuanya," ungkap Dishi.


"Tapi Puspa …," ucapan Aisyah terpotong.


"Sayang, tolong kamu jangan membuat hal yang diluar kendali dari orang yang ada di lingkungan keluarga Wang," sela Dishi.


"Maksud kamu apa? Maksud kamu, kamu anggap aku ini beban, sehingga aku tidak boleh ikut campur tentang masalah ini, hah?" desis Aisyah.


"Sayang, dengarkan aku. Ini semua permintaan dari Puspa. Kamu fokus melindungi Ayah saja. Aku mohon, jangan banyak bertanya lagi. Bekerja samalah dengan baik, dan lakukan tugas kamu sendiri. Aku akan melindungi kamu dari setiap sudut," ucap Dishi.


Yang ada di pikiran Aisyah saat itu hanya percaya kepada suaminya. Dia pun memeluk suaminya dengan erat. Dishi memberikan arahan untuk Aisyah saat itu. Dimana jika semua orang dari pihak keluarganya terluka, jalan satu-satunya adalah membawa Yusuf dan Mas Ijal keluar dari gedung itu dengan selamat.


"Kamu lihat peta ini. Ini aku dapatkan dari arsitekturnya langsung. Kamu bisa melewati jalan ini dan dengan mudah kamu akan keluar dari pintu samping. Pastikan ayah dan Mas Ijal sudah keluar, ketika kami benar-benar sedang berjuang di dalam," terang Dishi.


"Lalu, bagaimana dengan yang lainnya? Seperti Puspa, Ibuku, Nyonya Wang, Ayah Wang, Kakak dan kakak iparku? Dan … kamu," Aisyah tak mampu menahan air matanya lagi.


"Apapun yang terjadi, aku tetap akan selalu ada di sisimu. Aku mencintaimu, tapi ini sudah menjadi tugasku. Ingat, kita tidak bisa membuat semakin banyak orang yang terluka karena geng hitam seperti ini," tutur Dishi.


"Jika kamu sudah keluar nanti, bawa Ayah dan Mas Ijal pulang. Apapun yang terjadi, jangan pernah menoleh ke belakang lagi," lanjut Dishi


"Sayang, kamu pasti bisa. Aku meninggalkan banyak surat dan juga dokumen penting, serta yang dimiliki oleh Tuan Chen, di dalam koper kecil berwarna kuning. Bubarkan gengster Lim dan Wang secepatnya, sebelum Tuan Natt atau Jackson Lim merebut gengster itu,"


"Bagaimanapun caranya, Aku percaya kalau kamu pasti bisa. Kamu adalah wanita yang cerdas, jadilah dokter yang memiliki hati yang baik. Jaga ayah dan juga adik bungsu kita, sampaikan salamku kepada Nona Gwen juga. Katakan kepadanya, mungkin aku tidak bisa melihat keponakan lahir nantinya,"


Ucapan Dishi membuat Aisyah tak mampu berkaya apapun. Hanya air mata yang mengalir di pipinya. Dishi juga memperingatkan Aisyah untuk berhati-hati dengan wanita yang bernama Cindy.


"Saat kamu pulang ke Korea nanti, aku sudah meminta Tuan Jin untuk menjagamu. Aku yakin jika Cindy masih dendam kepadamu, Sayang. Aku yakin sekali, jika dia masih merencanakan sesuatu yang jahat kepadamu," lanjut Dishi.


"Sayang--" ucapan Dishi terhenti.


"Cukup," sela Aisyah.


"Sudah cukup. Sudah cukup mengatakan semuanya. Aku tidak tahu sejak kapan kamu rencanakan semua ini. Aku juga tidak tahu konspirasi besar seperti apa yang akan terjadi. Aku semakin bingung ketika kamu semuanya seolah-olah kamu tidak akan bertahan bersamaku," Aisyah mulai sesak dadanya.


"Allah tahu betapa besarnya cintaku padamu. Aku akan menuruti semua perkataanmu. Tapi tolong, sebisa mungkin kamu juga harus berjuang hidup demi aku,"


Dishi mengangguk. Mereka kembali berpelukan. Seolah akan menjadi pelukan yang terakhir, mereka mengungkapkan rasa cintanya mereka dengan berciuman.


***


Puspa.


Puspa menjadi terlibat dalam rencana malam itu karena dia mengetahui sesuatu yang sangat penting. Ketika dirinya sampai, dia tidak sengaja mendengar percakapan antara salah satu pelayan rumah keluarga Wang yang berkhianat dengan Tuan Natt.


Pelayan rumah itu mengatakan menggunakan bahasa Mandarin yang di rekam oleh Puspa saat Puspa mendengar nama Tuan Natt dan Jackson Lim di sebut. Saat itu, hanya Dishi yang mampu dia hubungi. Setelah menerima rekaman tersebut, Dishi segwra mengerahkan semua orang terkuat di gengsternya, dan meminta mereka bersiap untuk menghadapi itu.


Malam itu, Puspa duduk dengan tangan dan kaki yang tidak bisa tenang. Ia terus gugup menghadapi kenyataan yanga ada. Malam itu, Puspa juga terus menempel kepada suaminya. Tahu jika dirinya tidak akan selamat, Puspa ingin memberikan hatinya kepada suaminya malam itu.


"Kamu gugup?" tanya Mas Ijal.


"Enggak," jawab Puspa.


"Lah, ini apa?" tunjuk Mas Ijal. "Tangan dan kaki kamu dari tadi terus gemetar. Gugup, ya, karena mantan pacar ngadain resepsi?" Mas Ijal menggoda Puspa.


"Mas …," Puspa yang malu itu, mencubit pinggang Mas Ijal.


Dishi dan Aisyah keluar dari kamarnya. Mereka juga bersiap membaur. Sungguh sangat sweet yang dilakukan Dishi kepada Aisyah. Dia melengkapi tubuh istrinya dengan senjata supaya bisa menjaga diri dan keluar dari gedung itu secara hidup-hidup.


"Loh, Aisyah. Kamu ganti baju?" tanya Puspa.


"Um, iya. Yang tadi kotor, tidak sengaja kena coklat. Suamiku makan coklat belepotan," jawab Aisyah.


Puspa hanya tersenyum. Dia tahu jika Aisyah sedang berbohong. Baju tersebut, adalah buatannya sendiri untuk memudahkan Aisyah bergerak nantinya. Hanya butuh 1 jam Puspa menjahit baju tersebut.


Lima belas menit lagi acara akan mulai. Para tamu undangan juga sudah memenuhi aula gedung itu dengan memakai pakaian yang serba mewah. Aisyah, merasa asing ditempat seperti itu. Dia melihat banyak orang yang akan terluka hati itu juga. Membuatnya enggan mengikuti acara, meski itu adalah acara kakaknya sendiri.