Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Rasa Suka



"Kembalilah. Aku membu  … Kalian ada dimana,"


Lin Aurora mendekati Chen kembali. Chen mengigau dengan bahasa yang Lon Aurora pahami. Jadi, Lin Aurora hanya belum mengerti, mengapa Chen meminta kedua orang tuanya kembali. 


"Dia mengerutkan dahinya. Apakah ada yang tidak baik?" gumam Lin Aurora, menjadi simpati kepada Chen. 


Naluri seorang wanita baik tergugah. Lin Aurora mencoba menyentuh dahi Chen dan mencoba menenangkan Chen dari mimpi buruknya. Sayangnya, Chen terbangun dan langsung menggenggam pergelangan tangan gadis bermata kecil itu. 


"Apa kau tidak tau apa itu sopan santun?" ucap Chen. "Bagian mana yang ingin kau sentuh itu, hah?" lanjut Chen, membuka matanya dan duduk dengan tegak. 


Lin Aurora langsung menarik tangannya dan mencari alasan mengapa dirinya datang ke kantor. "A-aku sudah mengatakan padamu semalam, kalau aku ingin membicarakan sesuatu yang penting, 'kan?" jawabnya dengan sedikit gugup. 


"Oh, Apakah segitunya merindukan aku, kah? Sehingga kamu datang lebih awal?" 


"Berhenti omong kosong! Aku datang ke sini hanya ingin menanyakan tentang pernikahan saja denganmu. Kenapa? Apakah kamu memang hanya main-main denganku?" sulut Lin Aurora. 


Chen menaikkan alisnya lagi. Ia tak mengerti apa yang dimaksud oleh Lin Aurora. Chen pun menanyakan hal tersebut. 


"Aku seorang muslim, dan aku hanya bisa menikah dengan seorang muslim juga, paham?" lanjut Lin Aurora. 


"Aku muslim," sahut Chen. 


"Jangan menyelaku!" sentak Lin Aurora. 


"Kamu mungkin terlahir sebagai seorang muslim, tapi kamu tidak pernah mengakui hal itu sejak kau kecil. Bahkan, kamu tidak belajar lebih dalam lagi keyakinan kamu," sambung Lin Aurora sedikit kesal. 


Perkawinan wanita muslimah dengan laki-laki non muslim adalah haram hukumnya. Meski Chen terlahir dari kedua orang muslim, tetapi dirinya tidak pernah menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim. 


"Aku pernah mendengar ini dari Puspa," gumam Chen dalam hati. 


Lin Aurora bicara panjang lebar menjelaskan tentang haramnya wanita muslimah menikah dengan laki-laki yang keyakinannya belum jelas seperti Chen. Lin Aurora hanya tidak ingin mempersulit hidupnya lagi, karena ia takut Sang Maha Kuasa akan memberinya ganjaran. 


"Cukup!" tegas Chen. 


Lin Aurora seketika diam. 


"Jadi, bagaimana aku harus bertindak supaya kita bisa menikah sesuai dengan keyakinan itu?" tanya Chen. 


Lin Aurora merasa tertegun. Pikirnya, Chen tidak akan melanjutkan pertunangan itu setelah mengetahui tentang haram dan halalnya menikah secara hukum agama. 


"A-apa, kau se-serius dengan pertunangan ini?" tanya Lin Aurora. 


"Tentu saja. Jika aku tidak serius, untuk apa aku menggelar pertunangan kemarin? Sudahlah, aku sibuk, kau duduk di sana dan tulis semua apa yang seharusnya aku lakukan supaya bisa menikah denganmu," 


Kata-kata Chen membuat jantung Lin Aurora kembali berdebar. Tak percaya jika dirinya telah ditaklukkan oleh seorang putra Mafia yang terkenal angkuh itu. 


"Apa ini? Kenapa aku menurut dengannya? Bahkan terasa enggan untuk menolak perintahnya," gumam Lin Aurora dalam hati. 


Tak lama kemudian, Jovan datang membawa beberapa berkas yang harus di cek oleh Chen. Jovan terkejut melihat Lin Aurora ada di ruangan sepupunya itu. 


"Tuan Muda, ada beberapa ber … Nona Lin? Anda di sini?" 


"Ck, jangan menunda waktuku. Mana berkasnya!" tegas Chen. 


"Apa kau sudah bosan dengan matamu itu, Jovan? Katakan, bagaimana cara aku bisa mencongkel matamu itu!" tegas Chen. 


"Ah, permisi, Tuan." Jovan langsung lari keluar. 


Chen menatap Lin Aurora. Ia baru menyadari, jika Lin Aurora terlihat sangat manis di saat serius. Wajahnya yang kecil dan tubuhnya yang mungil membuatnya teringat akan Puspa. 


Namun, banyak perbedaan antara Puspa dan Lin Aurora. Jika Puspa masih sering hati-hati kalau bicara, lain dengan Lin Aurora yang selalu ketus padanya. 


"Jika dia jalan terbaik untukku melupakan masa lalu, mengapa aku menolaknya? Toh, aku menikahi gadis dengan keyakinan yang sama dengan keluargaku, 'kan?" gumam Chen dalam hati. Lalu, Chen melanjutkan pekerjaannya.


*****


Hari demi hari terlah berlalu. Dua minggu berlalu begitu cepat. Dari daftar yang Lin Aurora catat untuk Chen, semuanya telah terselesaikan dan tinggal Chen laksanakan. 


"Apa ini?"  tanya Chen kala Lin Aurora memberikan amplop besar untuknya. 


"Ya syarat agar kita bisa menikah. Apa lagi?" jawab Lin Aurora. 


"Selama ini? Kamu mencatat semua ini, membutuhkan waktu selama ini, dua minggu? Sungguh lamban!" ejek Chen. 


Lin Aurora duduk di depan meja kerjanya Chen. Menatap dengan jelas, wajah calon suaminya itu. Berharap, Chen memang akan menjadi jodohnya nanti. 


"Apa kau sudah puas menatapku?" ujar Chen. 


Segera Lin Aurora mengalihkan pandangannya. 


"Aku tahu, aku memang sangat tampan dan rupawan. Tapi apakah kamu tidak bisa menjaga matamu untuk tidak menatapku terus, hah?" lanjut Chen dengan rasa percaya dirinya. 


Lin Aurora hanya diam, sibuk memainkan pulpen milik Chen yang ada didepannya. Selama dua minggu, memang Lin Aurora selalu datang ke kantor Chen. Chen sendiri yang memintanya datang, untuk membawakan bekal makan siangnya. 


Di saat Lin Aurora sibuk main game di ponselnya, tiba-tiba Chen bertanya, "Apa kau tau, bagaimana rasanya menyukai sesuatu tanpa harus menyakiti hati yang lain?" tanyanya. 


"Kamu pernah mencintai seseorang. Kenapa masih bertanya tentang bagaimana rasanya menyukai sesuatu?" jawab Lin Aurora lirih. 


Chen terdiam. Selama bersama Lin Aurora, Chen baru menyadari, jika perasaannya kepada Puspa bukan lah cinta tulus. Hanya sebuah obsesinya karena ingin menjadi seorang mualaf. Chen telah nyaman bersama Puspa, dan ingin menjadikannya sebagai guru spiritualnya. 


"Aku masih belum yakin dengan perasaan itu. Ketika dia pergi, aku benar-benar terluka. Tapi, semakin ke sini, aku merasa memang aku hanya mengaguminya," Chen mengatakan itu tanpa melihat Lin Aurora. 


"Menyukai sesuatu itu adalah hal yang sulit ditebak. Suka banyak sekali artinya. Ada suka yang hanya suka, dan ada suka yang mengarah ke jatuh cinta," ucap Lin Aurora. 


"Aku akan mengambil sisi suka, karena mencintai. Di saat kamu melihat orang tang kamu sukai, maka jantungmu akan berdebar hebat," lanjutnya dengan menyentuh dadanya. 


"Di saat itu juga, kau hanya terpusat pada orang yang kau sukai, meski orang yang kau sukai itu buruk dimata orang lain. Tanpa ragu, kau akan melakukan apapun yang dia mau,"


"Selagi melihat orang yang kau sukai tersenyum, maka hatimu juga akan merasa nyaman. Sulit untuk melupakan orang yang telah kau cintai meski perpisahan memisahkan kalian," Lin Aurora memalingkan wajahnya. 


Ia berkata dalam hati, "Dan aku sedang merasakan itu padamu, Chen. Apakah aku kena tulah sendiri?" 


Chen menyentuh dadanya, mencoba merasakan apa yang dikatakan oleh Lin Aurora. Kemudian, ia memejamkan mata, dan mengingat akan kedua orang tuanya, bukan lagi seorang Puspa.